Kamis, 15 Desember 2016

 

Bangun Monumen Samarendah, Walikota Pilih yang Paling Minim Biaya

 

SAMARINDA. Rencana Walikota Samarinda, Syaharie Jaang yang ingin mempercantik wajah Taman Samarendah di Jalan Bhayangkara tidak sekedar isapan jempol belaka. Tidak hanya fitnes outdoor serta fasilitas olahraga lainnya yang telah diwacanakan selama ini dengan maksud untuk memberikan kenyamanan bagi warga yang berkunjung pada taman rekreasi keluarga dimaksud.

 

Pemkot juga berencana membangun monumen Samarendah di tengah-tengah taman tersebut. Monumen itu sebagai bukti sejarah sekaligus untuk mengingatkan semua orang akan sejarah terbentuknya Kota Samarinda, asal usul nama Samarinda, para tokoh pendiri, serta pahlawan dan raja yang pernah berkuasa di daerah ini. Juga tentang SMPN 1 dan SMAN 1 sebagai peringatan bahwa lokasi tersebut sebelumnya merupakan lahan SMPN 1 dan SMAN 1 Samarinda yang selama ini telah banyak melahirkan alumni yang berkarir bagi daerah dan bangsa ini.

 

"Begitu pertama kami diminta untuk mendesain konsep monumen Samarendah ini, kami sebenarnya sangat tertantang meski kami juga senang atas kepercayaan yang diberikan ini. Yang pasti, tata letaknya sudah sangat bagus dan strategis, karena persis berada di tengah-tengah kota," ujar Egy, konsultan perencana yang juga alumnus SMAN 1 Samarinda itu saat presentasi di hadapan Walikota dan para pejabat Pemkot Samarinda, Kamis (15/12/2016) siang.

 

Diakuinya, untuk mendukung keberadaan taman rekreasi dimaksud, memang memerlukan sejumlah fasilitas penunjang. Selain fasilitas ibadah dan toilet, juga perlu disediakan jaringan internet agar pengunjung bisa lebih betah berada di lokasi tersebut. Ia lantas mengajukan tiga konsep bangunan monumen dengan luas di atas 500 meter persegi. 

 

Setelah menimbang dan memperhatikan atau per satu, Walikota lantas memutuskan konsep yang dipilih. Pilihan Walikota Samarinda pertama berlatar belakang swasta itu jatuh pada konsep bangunan rumah satu lantai dengan luas sekitar 500 meter persegi. Sedangkan dua konsep bangunan lainnya dengan gedung dua lantai serta sekilas lebih modern itu sengaja ia tinggalkan. Selain karena ingin menonjolkan kekhasan daerah, juga karena pertimbangan biaya. Dengan konsep yang sederhana tersebut, diharapkan nanti tidak banyak menyedot biaya dari APBD 2017. Bahkan dipastikan tidak terlalu banyak pula anggaran yang tersedia untuk biaya perawatan.

 

"Kita dengarkan presentasinya, nanti dipertimbangkan lebih lanjut soal konsep mana yang kita pilih. Tapi cenderung lebih pada konsep bangunan satu lantai itu. Biar sederhana dan kecil, yang terpenting pesan yang kita maksud bisa tersampaikan dan dipahami publik," ujar Walikota.

 

Namun Jaang berpesan agar monumen tersebut lebih banyak metonjolkan ornamen khas daerah. Di antaranya ukiran Kalimantan, Burung Enggang, motif sarung Samarinda, serta sejumlah ornamen khas lainnya.

 

"Saya juga sebelumnya punya janji dengan para alumnus SMAN 1 dan SMPN 1 Samarinda soal rencana pendirian monumen ini. Semoga awal 2017 nanti sudah bisa dimulai pembangunannya," harap Jaang. (hms6)