Selasa, 06 Desember 2016

 

Nusyirwan Garansi Kemudahan Izin Bagi Investor di Samarinda

 

SAMARINDA. Wakil Walikota (Wawali) Samarinda meminta kepada kepada para pengusaha baik asing maupun lokal untuk tidak ragu menanamkan modalnya di Samarinda. Selain aman, nyaman, dan memiliki potensi pasar yang besar, juga terdukung oleh ragulasi yang baik. Termasuk dalam hal kemudahan proses perizinan. Bahkan ia memastikan tidak ada proses izin yang berbelit-belit di Kota Samarinda dengan maksud untuk meyakinkan para pengusaha agar tidak ragu menanamkan investasinya di Kota Tepian.

 

"Kita sudah berkomitmen untuk mempermudah proses izin bagi setiap investor yang ingin masuk dan menanamkan modalnya di Samarinda. Bagi yang sudah berinvestasi, silahkan diberitahu ke rekan-rekan bisnisnya yang lain. Bahwa investasi di Samarinda sangat menjanjikan, dan proses izinnya tidak berbelit-belit," ujar Nusyirwan dalam Grand Opening Terminal Bahan Bakar Minyak (BBM) milik salah satu perusahaan asing di Simpang Pasir, Palaran, Selasa (6/12/2016) siang.

 

Mewakili Walikota Samarinda Syaharie Jaang dan segenap warga kota ini, Nusyirwan menyampaikan terimakasih atas kepercayaan perusahaan asing dimaksud untuk menanamkan modalnya di kota ini. Kehadiran perusahaan dimaksud di Palaran menurutnya sejalan dengan visi pembangunan Pemkot Samarinda yang telah menetapkan Palaran sebagai kawasan Industri yang telah dituangkan secara jelas dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Samarinda. Tentunya pilihan Kota Samarinda sebagai sasaran usaha bukannya tanpa alasan kuat.

 

"Kedepan kami berharap agar perusahaan ini bisa terus maju. Karena majunya perusahaan di kota ini juga merupakan kemajuan bagi Kota Samarinda," tegasnya.

 

Kontribusi perusahaan yang paling nyata menurut dia, adalah ikut menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD). Di samping itu, juga diharapkan bisa ikut menyerap tenaga kerja lokal sehingga secara otomatis ikut menekan angka pengangguran.Terutama ia berpesan agar minimal ada warga Palaran yang bisa terserap dan bekerja di perusahaan dimaksud. Tentunya juga harus disesuaikan dengan kemampuan dan skill yang dimiliki.

 

"Juga yang tidak kalah penting, kami berharap semoga nanti bisa dikembangkan dalam program CSR (Corporate Social Responsibility, Red) untuk ikut membangun kota ini. Karena tidak bisa sepenuhnya mengharapkan APBD. Apalagi APBD kita yang biasanya di atas Rp 3 triliun lebih, tahun ini hanya menjadi Rp 1,7 triliun karena tidak ada dana perimbangan dari pusat. Jadi kita berharap semua pihak ikut berpartisipasi dalam pembangunan. Termasuk partisipasi dari pihak swasta," pungkas Nusyirwan. (hms6)