Jaang Tinjau Titik Titik Biang Banjir

3 Juli 2018   61 Kali
-

Dapur Rumah Makan di JL DI Pandjaitan berdiri Diatas Anak Sungai
SAMARINDA.KOMINFO. Walikota Samarinda Syaharie Jaang langsung memimpin kunjungan lapangan penanganan banjir di kota Samarinda yang difokuskan terhadap titik titik biang banjir, yang mana penyumbat aliran arus air menuju ke Sungai.

Didampingi Sekda Sugeng Chairuddin, Asisten II Endang Liansyah, Kepala Dinas PUPR Hero Mardanus, kepala Bappeda Asli Nuryadin, kepala Diskominfo Aji Syarif Hidayatulah, kepala Satpol PP Ruskan bersama staf teknis bidang terkait, kunjungan diawali di Jl DI Pandjaitan, Senin (2/7).
Tim langsung melihat anak sungai di sepanjang Jl DI Pandjaitan yang kerap kali meluap dengan deras hingga jalan raya karena tidak lancarnya air mengalir menuju sungai Karang Mumus.
Bahkan Jaang mengaku kecewa dengan warga yang bangunan rumahnya berdiri di atas sungai, dan lebih parah lagi ada salah satu rumah makan besar di Jl DI Pandjaitan yang dapurnya berdiri di atas sungai.


“Di sepanjang sungai ini, saya minta Dinas PUPR untuk melakukan perawataan alur anak sungai ini, sehingga mengalirnya air di saat hujan deras tidak lambat ke Sungai Karang Mumus (SKM) dan meluap ke jalanan. Tentunya juga dilakukan penertiban terhadap bangunan di atas air,” tegas Jaang.
Menurut Jaang, seharusnya warga mendukung pemerintah, dengan membangun diatas sungai bahkan ada rumah yang di pintu keluar anak sungai menuju SKM, sehingga terjadi pelambatan turunnya air ke SKM.


“Kita akan tertibkan bangunan ini untuk kepentingan masyarakat Samarinda juga. Tidak bisa kita biarkan begitu, hancur Samarinda,” tegasnya lagi.


Dari Jl DI Pandjaitan, Jaang meninjau sungai Karang Mumus dari sisi Perumahan Griya Mukti. Di sini, ia memerintahkan Dinas PUPR untuk membersihkan enceng gondok dan rumput liar di SKM.
Kemudian di simpang Sempaja Jaang mengaku heran dimana tahun lalu telah dilakukan proyek pengendalian banjir dengan membangun gorong gorong/drainase untuk menuju ke drainase GOR Madya Sempaja, namun banjir tetap saja terjadi.


Jaang juga menelusuri drainase di samping Stadion Sempaja atau pas di belakang Pos Pemadam Kebakaran dan Puskesmas Sempaja. Yang mana saat ini, di drainase itu sedang dilakukan pengerukan/normalisasi.


Usai dari sini, Jaang yang bertemu dengan salah satu warga yang mengetahui kondisi jalannya air saat hujan dan banjir, termasuk penyebab terjadinya banjir juga solusi yang disarankannya.
Bersama warga ini, Jaang diajak meninjau drainase di lingkungan GOR Madya Sempaja. Jaang melihat langsung drainase lingkungan GOR Madya yang perlu dilakukan pengerukan sehingga bisa lancar mengalirkan air dari simpang Sempaja.


Tidak cukup disini, Jaang bersama jajaran diajak melihat kondisi polder di belakang GOR Sempaja, yang mana dari sini juga mengalirkan ke SKM. Ternyata kondisi polder di sini perlu dilakukan pengerukan karena terjadi pendangkalan.


Selanjutnya diajak ke drainase di Jl PM Noor, dimana disarankan agar dibuatkan crossing air untuk menyebrang ke seberang jalur. Warga ini juga mengajak ke titik penyumbatan air lainnya di pencucian Jl PM Noor dekat jembatan. Dimana ada tiang listrik berdiri diatas gorong gorong sekitar 25 meter, sehingga menggangu jalannya air ke SKM.


“Sebenarnya beberapa titik banjir yang kita tinjau tadi merupakan titik yang sudah kita ketahui. Makanya untuk APBD Perubahan dan APBD 2019 ada hal hal strategis yang bisa kita lakukan untuk mengurangi. Saat sekarang kita lagi kerja sesuai perencanaan yang ada,” ungkap Jaang
Menurutnya, ada hal hal sederhana yang dilihatnya dari tinjauan titik banjir tadi. “Seperti saya katakan tadi, itu bahasanya bahasa kenyataan. Informasi sesuai kondisi di lapangan yang dilihat oleh masyarakat. Oh airnya tidak bisa mengalir karena begini, dia ini bukan orang teknik. Artinya, mari kita padukan dari Dinas PUPR dengan informasi dari masyarakat. Seperti ini buntu, kita buat tidak buntu, ini airnya tergenang tidak tersalur karena tidak mengalir, kita buat crossing dan parit,” ungkap Jaang. 
Disebutkan Jaang ini kondisi alam yang ada di lapangan yang harus didengar juga. “Walaupun dia bukan orang teknik, tapi dia mengamati setiap saat karena rumahnya banjir, lingkungannya banjir. Dia ikutin terus air, kenapa tidak ngalir. Airnya tergenang dia ikutin kemana larinya air. Dia tahu kondisi simpang empat itu sampai ke DI Pandjaitan. Dia tahu dimana ada yang numpuk, dimana ada yang nyempit parit parit, dia tahu. Dari ujung simpang empat sampai ke sungai, dia tahu kondisi paritnya. Harusnya orang teknik kita tahu dan ini tidak besar mengeluarkan biaya, tapi ada manfaatnya. Kita tidak bicara 100 persen, tapi cukup bisa mengurangi. Ini contoh kasus simpang empat Sempaja, tidak menutup kemungkinan di lainnya begitu,” tandas Jaang.


Untuk itu ia meminta kepada Sekda untuk konsentrasi di simpang Empat Sempaja dan DI Pandjaitan, apa yang dilakukan, baik di APBD Perubahan maupun APBD 2019.


Selain titik tadi, Jaang meninjau ke Batu Cermin dan juga Batu Besaung melihat jalan alternative menuju Bandara APT Pranoto ketika banjir di DI Pandjaitan.


Kemudian ke Polder Air Hitam melihat system saluran polder dan pompa air. Begitu di Jl Cermai, Kampung Jawa melihat drainase yang hanya berfungsi di drainase lama, sementara di gorong gorong baru, tidak dialiri air kecuali sudah meluap air dari drainase lama. Kondisi ini juga membuat Jl Merbabu banjir 1 jam hingga 2 jam, termasuk terimbas di Jl Merapi.(kmf2)

KIRIM PESAN

Silahkan Kirim Pertanyaan, Kritik maupun Saran untuk kami melalui formulir berikut.