Samarinda Jadi Rujukan, Pemkot Bitung Studi Tiru Tata Kelola Perumda Tirta Kencana
Samarinda Jadi Rujukan, Pemkot Bitung Studi Tiru Tata Kelola Perumda Tirta Kencana

SAMARINDA.KOMINFONEWS-Kota Bitung, Sulawesi Utara, rupanya melirik Samarinda sebagai salah satu daerah percontohan dalam pengelolaan perusahaan air minum daerah (Perumda). Hal itu dibuktikan dengan kunjungan studi tiru rombongan Pemerintah Kota (Pemkot) Bitung ke Perumda Tirta Kencana Kota Samarinda, Kamis (4/6/2026) di kantor Perumda Tirta Kencana Jalan Tirta Kencana.
Rombongan Pemkot Bitung dipimpin langsung oleh Dewan Pengawas Perumda Air Minum Duasudara Kota Bitung, Dr Drs Jeffry Wowiling, didampingi Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kota Bitung, John Michael Toar Sondakh, serta Kepala Bagian Hukum Pemkot Bitung, Budi Kristiarso, Kabag Ekonomi Karlintje Lefina Monareh beserta jajaran pegawai.
Di Samarinda, rombongan diterima langsung oleh Direktur Perumda Tirta Kencana, H Nor Wahid Hasyim, bersama Dewan Pengawas Perumda Tirta Kencana dan Kepala Bagian Ekonomi Setda Kota Samarinda, Nadya Turisna.
Meski disambut sebagai daerah yang dianggap berhasil, Nor Wahid justru merespons dengan rendah hati. Ia mengakui bahwa Perumda Tirta Kencana masih terus berbenah dan belum lepas dari berbagai persoalan klasik yang dialami hampir seluruh PDAM di Indonesia.
“Kami merasa tersanjung atas kunjungan studi tiru ini. Namun jika dikatakan sangat sukses, kami masih terus berbenah. Salah satu tantangan yang hingga kini masih menjadi pekerjaan rumah adalah persoalan Non Revenue Water (NRW) atau Air Tak Berekening,” ujarnya.
NRW atau air yang telah diproduksi namun tidak menghasilkan pendapatan memang masih menjadi momok bagi hampir seluruh perusahaan air minum daerah di Indonesia, tak terkecuali Tirta Kencana Samarinda.
Saat ini jelas dia, Perumda Tirta Kencana melayani sekitar 190 ribu pelanggan. Sesuai arahan Wali Kota Samarinda, perusahaan menargetkan cakupan layanan 100 persen pada 2029. Untuk mengejar target itu, kapasitas produksi air saat ini mencapai 3.570 liter per detik dengan kapasitas terpasang sebesar 3.435 liter per detik.
Tantangan operasional pun tidak kecil. Kondisi geografis Samarinda yang didominasi wilayah berbukit membuat konsumsi listrik menjadi komponen biaya terbesar, yakni sekitar Rp6 miliar per bulan.
Guna menekan beban tersebut, perusahaan menerapkan strategi pengaturan produksi pada jam beban puncak listrik, yakni pukul 17.00–22.00 WITA. Pada rentang waktu itu, produksi dikurangi namun pasokan air tetap dijaga melalui reservoir yang telah diisi sebelumnya, sehingga pelayanan kepada pelanggan tidak terganggu.
“Efisiensi operasional menjadi penting agar pelayanan tetap berjalan optimal. Perumda pada prinsipnya adalah operator yang diberi tugas menyediakan layanan air bersih kepada masyarakat,” kata Nor Wahid.
Salah satu hal yang menjadi perhatian utama rombongan Bitung adalah kebijakan pemberian insentif bagi Kuasa Pemilik Modal (KPM), Dewan Pengawas, dan Direksi. Nor Wahid menjelaskan bahwa Pemkot Samarinda telah mengatur hal tersebut melalui regulasi daerah lantaran belum adanya aturan teknis yang rinci dari pemerintah pusat.
“Sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi dan tidak ada larangan dari pemerintah pusat, maka daerah memiliki ruang untuk mengatur kebutuhan tersebut melalui regulasi daerah,” jelasnya.
Kepala Bagian Ekonomi Setda Kota Samarinda, Nadya Turisna, menambahkan bahwa secara prinsip insentif KPM telah diatur dalam Peraturan Daerah, sedangkan ketentuan teknis besaran insentif ditetapkan melalui Peraturan Wali Kota Nomor 20 yang hingga kini masih berlaku dan tidak pernah menimbulkan persoalan dalam proses pemeriksaan maupun pengawasan.
Plh Asisten II ini juga memaparkan bahwa kinerja Perumda Samarinda secara keseluruhan menunjukkan tren positif, ditandai dengan konsistennya perolehan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dalam laporan keuangan perusahaan.
“Perusahaan juga mampu menghasilkan laba yang berkontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah. Berdasarkan ketentuan yang berlaku, sebesar 25 persen laba bersih perusahaan disetorkan sebagai kontribusi kepada PAD,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa sejak 2021, perluasan cakupan layanan air bersih menjadi salah satu prioritas pembangunan daerah. Sebagian besar investasi perusahaan pun diarahkan pada pembangunan infrastruktur dan pengembangan kapasitas layanan.
Tak hanya soal insentif dan kinerja, sesi diskusi juga menyentuh aspek kemitraan bisnis. Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kota Bitung, John Michael Toar Sondakh, secara khusus menanyakan pola kerja sama Perumda Tirta Kencana dengan pihak ketiga.
Nor Wahid menjelaskan bahwa kerja sama yang dijalin selama ini terutama dilakukan bersama bank daerah, baik dalam hal pengelolaan keuangan maupun layanan pembayaran kepada pelanggan. Pola kemitraan ini dinilai efektif sekaligus selaras dengan semangat penguatan ekosistem BUMD di tingkat daerah.
Jeffry Wowiling mengungkapkan bahwa kunjungan ini membawa banyak referensi berharga bagi Bitung. Perumda Air Minum Duasudara saat ini melayani sekitar 50 ribu pelanggan dengan kapasitas produksi 400 liter per detik, namun masih menghadapi tantangan dalam memperluas jangkauan layanan.
“Kami memperoleh banyak referensi mengenai perkembangan dan keberhasilan Perumda Tirta Kencana, sehingga Samarinda menjadi salah satu daerah yang kami jadikan rujukan untuk belajar,” kata Jeffry.
Sementara itu, Kepala Bagian Hukum Pemkot Bitung, Budi Kristiarso, secara khusus menggali informasi mengenai sumber air baku yang digunakan Tirta Kencana serta kebijakan daerah terkait pemanfaatan air tanah oleh masyarakat dan pelaku usaha.
Kunjungan studi tiru ini ditutup dengan sesi serah terima cenderamata antara Perumda Tirta Kencana Samarinda dan rombongan Pemerintah Kota Bitung. Momen tersebut menjadi simbol terjalinnya hubungan baik antara dua daerah yang berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas tata kelola BUMD dan pelayanan air minum bagi masyarakat.(FER.KMF-SMR)
