Sejarah Samarinda
Halaman Lainnya
Sejarah Kota Samarinda
Menelusuri Jejak Peradaban di Tepian Sungai Mahakam
Etimologi: "Sama Rendah"
Nama Samarinda berasal dari istilah bahasa Melayu/Banjar yaitu "Sama Rendah". Istilah ini merujuk pada pemukiman awal berupa rumah-rumah rakit penduduk di atas air yang dibangun dengan ketinggian yang sama, mencerminkan kesetaraan derajat antar warga.
Tahun 1668: Titik Awal Berdirinya Kota
Sejarah modern Samarinda dimulai pada tahun 1668 ketika rombongan masyarakat Bugis Wajo yang dipimpin oleh La Maddukelleng (Daeng Mangkona) berlayar meninggalkan Sulawesi pasca Perjanjian Bungaya.
Atas izin Sultan Kutai Kartanegara, mereka diberikan wilayah untuk menetap di daerah yang kini dikenal sebagai Samarinda Seberang. Wilayah ini dipilih karena lokasinya yang strategis untuk pertahanan dan perdagangan.
Masa Kolonial dan Perkembangan Administrasi
Pada abad ke-19, pemerintah Hindia Belanda mulai menanamkan pengaruhnya karena potensi ekonomi di sepanjang Sungai Mahakam. Berikut adalah garis waktu penting:
- 1942: Pendudukan Jepang di Samarinda.
- 1959: Penetapan Samarinda sebagai Ibu Kota Provinsi Kalimantan Timur.
- 1960: Pembentukan Kotamadya Samarinda.
Samarinda di Era Modern
Memasuki abad ke-21, Samarinda bertransformasi dari pusat industri perkayuan dan batu bara menjadi "Kota Pusat Peradaban". Dengan posisinya yang berdampingan dengan Ibu Kota Nusantara (IKN), Samarinda kini berperan sebagai hub utama logistik, jasa, dan perdagangan di Kalimantan Timur.