Abdullah bin Ummi Maktum
| Abdullah bin Ummi Maktum | |
|---|---|
| Lahir | Makkah |
| Meninggal | 636 Al-Qadisiyyah |
| Dikenal atas | Sahabat Nabi, Muazin |
| Orang tua | Qais bin Zaidah (ayah) Ummi Maktum Atikah binti Abdullah (ibu) |
| Kerabat | Khadijah binti Khuwailid (sepupu) |
| Keluarga | Bani Amir bin Lu'ay |
Abdullah bin Ummi Maktum (bahasa Arab: عبد الله بن أم مكتوم) adalah seorang tuna netra yang tergolong sahabat Nabi Muhammad. Yang karena dialah, Nabi Muhammad mendapat teguran dari Allah, melalui surah Abasa,[1] sewaktu Nabi Muhammad berbicara dengan para pembesar Quraisy, dengan harapan mereka bisa memeluk Islam. Para pembesar Quraisy adalah: Utbah bin Rabi'ah, Abu Jahal, Abbas bin Abdul Muthalib, Ubay bin Khalaf dan Umayyah bin Khalaf.[2]
Nasab
[sunting | sunting sumber]Nama asli Abdullah bin Ummi Maktum adalah Abdullah sementara pendapat lain mengatakan Amr.[3] Ia berasal dari klan Bani Amir bin Lu'ay dari kabilah suku Quraisy.[4] Silsilahnya adalah Abdullah bin Qais bin Zaidah bin al-Asham bin Hadam bin Rawahah bin Hujr bin Abdu bin Mu'ish bin Amir bin Lu'ay. Bibi Abdullah, Fatimah binti Zaidah, adalah ibu Khadijah binti Khuwailid. Dengan demikian, ia merupakan sepupu dari pihak ibu Khadijah.[5] Ibunya yang bernama Ummi Maktum berasal dari Bani Makhzum dan nama aslinya adalah Atikah binti Abdullah bin Ankatsah bin Amir bin Makhzum bin Yaqazhah.[6]
Keislaman
[sunting | sunting sumber]Abdullah bin Ummi Maktum memiliki kekurangan, yaitu dia adalah seorang tuna netra tetapi hal ini tidak mengurangi keinginannya untuk memeluk dan belajar agama Islam. Ia memiliki status sosial yang biasa-biasa saja pada awalnya.[1] Saat hijrah, Abdullah mengikuti rombongan kedua yang mencapai Madinah.[7] Ia kemudian menjadi muazin Nabi bergantian dengan Bilal bin Rabah.[1] Bilal biasa mengumandangkan azan subuh, maka muslimin masih bisa makan dan minum hingga Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan azan, dan tidaklah ia mengumandangkan azan kecuali dikatakan kepadanya,"Kita telah memasuki waktu subuh."[1]
Saat Pertempuran Uhud, Madinah diserahkan kepada Ibnu Ummi Maktum sekaligus imam solat, juga saat pengepungan Bani Nadhir, Pertempuran Handak hingga Perjanjian Hudaibiyah Nabi sering mewakilkan pada Ibnu Ummi Maktum selaku pimpinan Madinah.[8]
Kematian
[sunting | sunting sumber]Sebagai seorang Muslim yang taat, sebenarnya Ibnu Ummi Maktum berkeinginan untuk mendapatkan mati syahid melalui pertempuran. Akhirnya, ia dapat mengikuti pertempuran dalam Pertempuran al-Qadisiyyah dengan menggunakan baju zirah dan memegang panji Islam di antara dua barisan, di bawah komando Sa'ad bin Abi Waqqash dan mendapatkan mati syahid pada tahun 15 H / 636 M.[7]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ^ a b c d Muhammad Raji Hassan, Kinas (2012). Ensiklopedia Biografi Sahabat Nabi. Jakarta: Penerbit Zaman. ISBN 978-979-024-295-1
- ^ Ath-Thabaqat (4/1/153) dan Al-Bidayah wan Nihayah Ibnu Katsir Jilid 5 hal 5
- ^ Ahmad Husain Fahasbu (3 November 2022). Dan `Arsy Pun Berguncang! (Bukel). diva Press group. hlm. 49. ISBN 9786232937277, 6232937279.
- ^ Ibnu Hazm. Jamharah Ansab al-Arab (dalam bahasa Arab). hlm. 170. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2024-12-03. Diakses tanggal 2025-06-27.
- ^ Ibnu Hazm. Jamharah Ansab al-Arab (dalam bahasa Arab). hlm. 171.
- ^ "ترجمة الصحابي الجليل عبد الله بن أم مكتوم" [Biografi sahabat Abdullah bin Ummi-Maktum]. islamweb.net (dalam bahasa Arab). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-09-07. Diakses tanggal 2025-06-27.
- ^ a b Dzahabi, Imam (2017). Terjemah Siyar A'lam an-Nubala. Jakarta: Pustaka Azzam. ISBN 978-602-236-270-8
- ^ Syaikh, Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri (2012). Sirah Nabawiyah. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. ISBN 978-602-98968-3-1