Bekasi Lautan Api

Basis Pengetahuan Terbuka Wikipedia Indonesia

Peristiwa Bekasi Lautan Api terjadi pada tanggal 13 Desember 1945 ketika pasukan India dibawah pimpinan Britania membakar kota Bekasi sebagai aksi pembalasan atas pembantaian penumpang tentara dan awak dari pesawat yang jatuh di akhir bulan November. Kesatuan resimen Punjab ke-16 melangsungkan aksi ini, dan mencapai Bekasi setelah bertempur dengan pejuang Indonesia sebelumnya.

Latar belakang

[sunting | sunting sumber]

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, sejumlah laskar-laskar terkait pemuda nasionalis mulai bermunculan di wilayah sekitar Jakarta. Karena kosongnya pemerintahan setelah menyerahnya Jepang, laskar-laskar ini sering menjadi penguasa di wilayah-wilayah operasional mereka. Dua diantaranya adalah Laskar Hizbullah dan Barisan Banteng Hitam. Laskar-laskar ini pada umumnya berkerja sama untuk melawan kembalinya Belanda.[1][2]

Tentara sekutu, khususnya Britania Raya, mulai berdatangan di Jakarta pada bulan September 1945. Awalnya, pemerintah Indonesia memiliki hubungan yang cukup baik dengan tentara Britania karena mereka tidak dianggap menjadi ancaman terhadap kemerdekaan Indonesia.[3] Namun, hubungan ini memburuk setelah sejumlah baku tembak antara Britania dengan pemuda dan laskar, dan makin memburuk setelah tentara kolonial Belanda KNIL diaktifkan kembali.[4] Pada tanggal 10 November, pertempuran Surabaya telah pecah antara Indonesia dan Britania.[5] Untuk mengurangi ketegangan di Jakarta, Perdana Menteri Indonesia Sutan Sjahrir memerintahkan Tentara Keamanan Rakyat dan laskar-laskar yang berada di Jakarta untuk mundur ke wilayah sekitar pada tanggal 19 November.[6]

Peristiwa

[sunting | sunting sumber]

Pesawat jatuh

[sunting | sunting sumber]

Pada tanggal 23 November, pesawat Dakota milik Britania jatuh di dekat kota Bekasi (waktu itu berpenduduk ~10,000 orang) dengan penumpang 20 orang serdadu India. Semua penumpang dan awak pesawat selamat, namun ketika tim penjemputan Britania tiba di lokasi keesokan harinya, bangkai pesawat telah dibakar hangus dan mereka menemukan mayat salah satu penumpang yang telah dimutilasi.[7][6] Komandan tentara Britania di Jakarta, Philip Christison, langsung mengeluarkan ultimatum yang menuntut pengembalian penumpang dan awak pesawat ke Jakarta dalam 24 jam.[8]

Menurut Abdul Haris Nasution, ada 26 orang penumpang dan awak dalam pesawat Dakota. Setelah pesawat jatuh, ke-26 orang tersebut dikerumuni oleh warga desa sekitar yang penasaran. Tentara Britania melepaskan tembakan peringatan, yang menyebabkan para warga desa dan laskar untuk menyerang dan menangkap mereka. Tadinya, para penyintas akan diserahkan ke TKR, namun semuanya dieksekusi sebelum tiba di markas TKR "entah oleh siapa".[6] Sejarawan Britania Richard McMillan menyatakan bahwa eksekusi dilakukan oleh anggota Barisan Banteng Hitam pada tanggal 26 atau 27 November.[7]

Pertempuran Sasak Kapuk

[sunting | sunting sumber]
Konvoi resimen Punjab ke-16 dekat Bekasi.

Pada tanggal 29 November, sekelompok besar tentara Britania yang terutama berasal dari resimen Punjab ke-16 dengan dukungan tank berangkat ke Bekasi untuk mencoba lagi menjemput penyintas. Konvoi ini dihadang oleh sekitar 100 orang dari Laskar Hizbullah pimpinan Noer Ali yang sebagian bersenjatakan senapan dan sebagian lagi bersenjatakan golok atau bambu runcing.[9] Pertempuran pecah di jembatan Sasak Kapuk, dan setelah baku tembak Laskar Hizbullah mundur dengan korban 30 orang tewas, 20 luka-luka, dan 15 tertawan. Menurut laporan Britania, hanya 1 orang tentara India yang terluka.[7][10]

Setibanya di Bekasi (menurut sejumlah laporan, kelompok lain di tanggal 9-10 Desember),[6][10] tentara Britania bertempur dengan Barisan Banteng Hitam yang mencoba bertahan namun "semuanya tewas". Setelah diberitahu oleh bekas tahanan keturunan Ambon yang dilepaskan, tentara Britania menemukan jasad-jasad penumpang dan awak pesawat di pinggir sungai.[7] Sekitar waktu pertempuran ini, sekitar 200 rumah di dekat lokasi pesawat jatuh dibakar tentara Britania.[7]

Bekasi Lautan Api

[sunting | sunting sumber]

Setelah mengetahui nasib para awak dan penumpang, Christison memerintahkan prajurit dibawah komandonya untuk membumihanguskan kota Bekasi.[7] Operasi pembalasan diluncurkan pada tanggal 13 Desember dengan dukungan pesawat tempur De Havilland Mosquito dan meriam QF 25 pon yang membombardir Bekasi setelah fajar. Sebelum operasi tersebut dimulai, warga sipil dan prajurit TKR telah meninggalkan kota Bekasi. Tentara Britania di Bekasi juga melangsungkan razia untuk mencari gudang senjata dan amunisi. Sekitar 600 rumah dibakar di Bekasi pada tanggal 13 Desember. Sebelum meninggalkan kota, tentara Britania memasang sejumlah perangkap dan ranjau di bangunan-bangunan pemerintah di Bekasi, meskipun hari itu juga perangkap dan ranjau dibersihkan oleh TKR setelah kembali.[6]

Kelanjutan

[sunting | sunting sumber]

Aksi Christison dikecam oleh Perdana Menteri Sutan Sjahrir, dan sejumlah surat kabar Barat. Atasan Christison, Louis Mountbatten, "kecewa" atas peristiwa tersebut dan secara publik menyayangkan bahwa ia tidak diberitahu lebih dulu sebelum perintah Christison.[7][8] Dalam laporannya belakangan, Mountbatten menuliskan bahwa "meskipun pembalasan pasti ada [...] tidak sepantasnya dilakukan dengan berdarah dingin". Mountbatten juga menyebut Barisan Banteng Hitam sebagai "teroris".[11]

Tugu Agus Salim di Jl. H. Agus Salim kota Bekasi memperingati peristiwa ini, dan dihiasi dengan selongsong peluru senapan, peluru artileri, dan granat.[12] Peristiwa ini sering dibandingkan dengan peristiwa Bandung Lautan Api yang terjadi beberapa bulan kemudian.[12][13]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. ^ Cribb, R. B. (1991). Gangsters and revolutionaries : the Jakarta People's Militia and the Indonesian revolution, 1945-1949 (dalam bahasa Inggris). Honolulu: University of Hawaii Press. hlm. 75–76. ISBN 978-0-8248-1395-6.
  2. ^ Boonstra, Sadiah; et al. (2025). Rethinking Histories of Indonesia: Experiencing, Resisting and Renegotiating Coloniality (dalam bahasa Inggris). ANU Press. hlm. 211–212. ISBN 978-1-76046-698-5.
  3. ^ McMillan, Richard (17 Mei 2006). The British Occupation of Indonesia: 1945-1946: Britain, The Netherlands and the Indonesian Revolution (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 13–17. ISBN 978-1-134-25428-6.
  4. ^ McMillan 2006, hlm. 21–24.
  5. ^ McMillan 2006, hlm. 54–55.
  6. ^ a b c d e Wirayudha, Randy (12 December 2024). "Setelah Inggris Menjadikan Bekasi Lautan Api". Historia.ID. Diakses tanggal 2 January 2026.
  7. ^ a b c d e f g McMillan 2006, hlm. 70–71.
  8. ^ a b Wirayudha, Randy (13 December 2018). "Bekasi Lautan Api di Mata Dua Saksi". Historia.ID. Diakses tanggal 2 January 2026.
  9. ^ Ningtyas, G.A.; Mulyatari, D. (2023). "Peranan Jawara dalam Revolusi kemerdekaan di Bekasi 1945–1949". Pattingalloang: Jurnal Pemikiran Pendidikan dan Penelitian Kesejarahan. 10 (1). Depok: Universitas Indonesia: 1–12. doi:10.26858/JP.V10I1.37276. ISSN 2355-2840.
  10. ^ a b "Pertempuran Sasak Kapuk, Bentrokan Berdarah dalam Memperjuangkan Kemerdekaan di Bekasi". Tribun Jakarta. 15 August 2021. Diakses tanggal 2 January 2026.
  11. ^ Mountbatten, Louis (1969). Post Surrender Tasks: Section E of the Report to the Combined Chiefs of Staff (dalam bahasa Inggris). H.M. Stationery Office. hlm. 295. ISBN 978-0-11-770224-0.
  12. ^ a b "Peristiwa Bekasi Lautan Api, Bukti Gigihnya Perjuangan Rakyat Bekasi yang Buat Sekutu Geram". iNews.id. 8 Agustus 2023. Diakses tanggal 2 Januari 2026.
  13. ^ "NEWS STORY: Bekasi Lautan Api & Gentle-nya Hukuman Inggris". Okezone.com. 25 September 2016. Diakses tanggal 2 Januari 2026.