Danau Poso
| Danau Poso | |
|---|---|
| Letak | Sulawesi Tengah, Indonesia |
| Koordinat | 1°55′28″S 120°37′0″E / 1.92444°S 120.61667°E |
| Jenis perairan | Tektonik |
| Bagian dari | DAS Poso |
| Aliran masuk utama | Kodina, Koro Meko, Koro Salukaia |
| Aliran keluar utama | Sungai Poso |
| Terletak di negara | Indonesia |
| Area permukaan | 323.2 km² |
| Kedalaman maksimal | 450 m |
| Volume air | 216 gigaliter |
| Ketinggian permukaan | 485 m |
| Pemukiman | Poso |
![]() Peta interaktif Danau Poso | |
Danau Poso (bahasa Inggris: Poso Lake), merupakan sebuah danau yang terletak di Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah, Indonesia; dan merupakan danau terdalam ketiga di Indonesia. Danau ini memiliki panjang 32 km dan lebar 16 km.
Festival Danau Poso diadakan di Tentena, kota di pinggir danau ini.
Hidrologi DAS
[sunting | sunting sumber]Daerah sekitar Danau Poso memiliki topografi perbukitan dan pegunungan dengan elevasi antara 400 – 1200 mdpl dengan kemiringan lereng antara 15 – 40%. Danau Poso memiliki luas sebesar ± 36.677 ha (366,77 km2), dengan ketinggian 600 mdpl, serta kedalaman maksimum hingga 384,6 meter. Luas daerah tangkapan air danau ini mencapai 148.546 ha (1.485,46 km2). Angka tersebut merujuk pada area tangkapan air yang secara geografis dibatasi oleh pegunungan di sekitarnya yaitu: pegunungan Verbeek di bagian selatan, pegunungan Fennema di sebelah barat dan pegunungan Pompangeo di sebelah timur.[1]
Sejarah
[sunting | sunting sumber]Hingga tahun 1865, orang Eropa hanya mendengar kabar tentang keberadaan danau besar di tengah pedalaman Poso di Sulawesi Tengah, dan tidak ada orang Belanda atau Eropa lainnya yang membuktikan dan melihatnya secara langsung.[2] Pada tahun yang sama, seorang pejabat pemerintah Karesidenan Manado, Johannes Cornelis Wilhelmus Diedericus Adrianus van der Wyck, berniat untuk membuktikan keberadaan danau ini, tetapi dia membutuhkan usaha keras untuk mendapatkan penerjemah dan pemandu di sana. Ia sepenuhnya bergantung pada kehendak tokoh masyarakat sekitar, perihal apakah mereka mengizinkan atau melarang ekspedisi yang akan dilakukannya.[2] Pada akhirnya, van der Wyck berhasil membuktikan keberadaan Danau Poso, dan segera melakukan pemetaan seperlunya.[2] Meskipun demikian, keterbatasan waktu dan alat menjadikan peta yang dibuatnya tidak sempurna. Langkah ini dilakukan kembali pada tahun 1867. Willem Jan Maria Michielsen, seorang pejabat pemerintah muda lainnya melakukan perjalanan yang sama, tetapi dia juga hanya bisa membuat sketsa peta yang "cacat".[2]
Geografi
[sunting | sunting sumber]Kota Pendolo terletak di bagian selatan danau, dan kota Tentena terletak di bagian utara, sedangkan beberapa desa kecil berada di pesisir pantai. Danau ini mengalir menuju Sungai Poso di Tentena, yang terus hingga ke Teluk Tomini di Kota Poso. Sebuah taman yang berisi anggrek liar terletak di dekat desa Bancea. Di sekitar hutan yang mengelilingi danau juga masih dapat ditemukan anoa (sapi hutan) dan babirusa (atau babi rusa), seekor babi jenis ruminan. Dua spesies yang terancam punah ini merupakan salah satu dari fauna endemik yang hanya terdapat di pulau Sulawesi.
Biodiversitas
[sunting | sunting sumber]Danau ini merupakan habitat dari sejumlah ikan, termasuk Sidat Kembang (Anguilla marmorata) yang bermigrasi antara danau dan laut,[3] dan 11 spesies ikan endemik yang hanya terdapat di danau ini, di antaranya Adrianichthys, Mugilogobius amadi, M. sarasinorum, Nomorhamphus celebensis, Oryzias nebulosus, Oryzias nigrimas, dan Oryzias orthognathus, yang semuanya berada dalam keadaan terancam (dalam beberapa kasus kemungkinan telah punah).[4][5]
Di sini juga banyak terdapat siput air tawar endemik Tylomelania,[6] dan juga beberapa udang endemik Caridina[7][8] dan kepiting Parathelphusidae (umumnya Migmathelphusa, Parathelphusa dan Sundathelphusa).[9]
Danau Prioritas Nasional
[sunting | sunting sumber]Danau Poso masuk dalam daftar 15 Danau Prioritas Nasional yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia melalui Peraturan Presiden (Perpres) No. 60 Tahun 2021[10] karena mengalami degradasi ekosistem yang parah, terutama akibat konversi lahan di sekitarnya dan pembangunan proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
Kerusakan Daerah Tangkapan Air (DTA)
[sunting | sunting sumber]Konversi hutan di sekitar danau menjadi lahan perkebunan, seperti kelapa sawit dan perkebunan kecil lainnya, telah merusak Daerah Tangkapan Air (DTA). Hilangnya hutan sebagai penyangga alami mengakibatkan erosi dan sedimentasi yang parah. Sedimen-sedimen ini masuk ke danau dan menyebabkan pendangkalan, mengurangi kapasitas tampung air, dan berpotensi mempersingkat umur danau. Dengan menyusutnya hutan, fungsi penahan banjir menjadi berkurang. Hal ini menyebabkan frekuensi banjir di wilayah sekitar danau meningkat, yang merugikan masyarakat, termasuk para petani.[11][1][12][13]
Penurunan keanekaragaman hayati
[sunting | sunting sumber]Danau Poso adalah rumah bagi spesies endemik yang tidak ditemukan di tempat lain, menjadikannya situs konservasi global (Alliance for Zero Extinction/AZE). Namun, keanekaragaman hayati ini terancam oleh berbagai faktor seperti, pengerukan sungai dan pengerjaan proyek PLTA merusak habitat ikan, terutama ikan sidat atau sogili, yang merupakan komoditas penting bagi nelayan lokal. Bendungan PLTA menghalangi migrasi sidat dari danau ke laut dan sebaliknya, mengganggu siklus hidup alami spesies tersebut. Pelepasan ikan predator di danau juga menjadi ancaman serius bagi kelestarian spesies endemik yang ada.[11][1][12]
Pencemaran dan penurunan kualitas air
[sunting | sunting sumber]Meskipun beberapa penelitian pada tahun 2021 dan 2022 menunjukkan kualitas air Danau Poso masih dalam kondisi yang relatif baik, ada ancaman pencemaran yang terus meningkat. Danau Poso tercemar oleh limbah rumah tangga, pertanian, dan industri, termasuk limbah B3 dari aktivitas perusahaan. Penelitian menemukan kandungan mikroplastik di dalam air danau, yang menimbulkan ancaman bagi ekosistem dan kesehatan.[14][15]
Konflik sosial akibat pembangunan PLTA
[sunting | sunting sumber]Pembangunan PLTA Poso yang dilakukan oleh PT Poso Energi menimbulkan dampak negatif pada masyarakat dan lingkungan. Proyek PLTA menaikkan permukaan air danau, yang mengakibatkan lahan pertanian dan penggembalaan milik masyarakat terendam. Diketahui elevasi air untuk operasional bendungan PLTA Poso 1 di alur sungai outlet Danau Poso akan berada di antara 510 hingga 512,2 meter di atas permukaan laut (mdpl). Titik terendah ketinggian permukaan air Danau Poso adalah 509 mdpl. Rata-rata elevasi air Danau Poso akan berada di 511,7 mdpl. Pengerukan sungai oleh perusahaan merusak alat tangkap tradisional nelayan, memengaruhi mata pencaharian mereka.[11][16]
Tantangan tata kelola dan penegakan hukum
[sunting | sunting sumber]Upaya penyelamatan Danau Poso terhambat oleh tata kelola yang terfragmentasi, penegakan hukum yang lemah, kapasitas institusional yang terbatas, dan pendanaan yang tidak memadai. Hukum nasional sering kali tidak memiliki ketentuan spesifik yang relevan dengan ekosistem danau, sementara peraturan daerah kurang ditegakkan.[17]
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]- Daerah aliran sungai di Indonesia
- Danau Matano
- Danau tapal kuda (oxbow)
- Danau Towuti
- Daerah Aliran Sungai Poso
- Daya rusak air
- Hidrologi pegunungan
- Konservasi daerah aliran sungai
- Kelangkaan air
- Sumber daya air
- Wilayah Sungai dan pembagiannya di Indonesia
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ^ a b c Mamondol, Marianne Reynelda (2018-08-29), Fungsi Strategis Danau Poso, Gangguan Keseimbangan Ekosistem, dan Upaya Penanggulangannya, doi:10.31227/osf.io/9v8kg, diakses tanggal 2025-09-20
- ^ a b c d Adriani 1919, hlm. 34.
- ^ Haryani & Hehanussa 2000, hlm. 75.
- ^ Kottelat, M. (1990). Synopsis of the endangered buntingi (Osteichthyes: Adrianichthyidae and Oryziidae) of Lake Poso, Central Sulawesi, Indonesia, with a new reproductive guild and descriptions of three new species. Ichthyological Exploration of Freshwaters 1: 49-67
- ^ Parenti & Soeroto 2004, hlm. 10-11.
- ^ von Rintelen, T., K. von Rintelen, and M. Glaubrecht (2010). The species flock of the viviparous freshwater gastropod Tylomelania (Mollusca: Cerithioidea: Pachychilidae) in the ancient lakes of Sulawesi, Indonesia: the role of geography, trophic morphology and colour as driving forces in adaptive radiation. pp. 485-512 in: Glaubrecht, M., and H. Schneider, eds. (2010). Evolution in Action: Adaptive Radiations and the Origins of Biodiversity. Springer Verlag, Heidelberg, Jerman.
- ^ von Rintelen & Cai 2009, hlm. 347.
- ^ Klotz, Werner; Rintelen, Thomas von; Wowor, Daisy; Lukhaup, Chris; Rintelen, Kristina von (2021-01-04). "Lake Poso's shrimp fauna revisited: the description of five new species of the genus Caridina (Crustacea, Decapoda, Atyidae) more than doubles the number of endemic lacustrine species". ZooKeys (dalam bahasa Inggris). 1009: 81–122. doi:10.3897/zookeys.1009.54303. ISSN 1313-2970. PMC 7801368. PMID 33505196. Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link) Pemeliharaan CS1: Format PMC (link)
- ^ Chia & Ng 2006, hlm. 381.
- ^ Peraturan Presiden (PERPRES) Nomor 60 Tahun 2021 - Penyelamatan Danau Prioritas Nasional
- ^ a b c "2 Tahun Terendam, Ratusan Petani Danau Poso Ingin Kembali Menggarap Sawah". VOA Indonesia. 2022-01-02. Diakses tanggal 2025-09-20.
- ^ a b Sigit, Ridzki (2025-02-11). "Rusaknya Danau Poso dan Ancaman Hilangnya Keragaman Spesies Endemik Air Tawar". Mongabay.co.id. Diakses tanggal 2025-09-20.
- ^ Siruyu, Pian (2024-05-06). "Hutan Menyusut, Poso dan Sulteng Dikepung Banjir". mosintuwu.com. Diakses tanggal 2025-09-20.
- ^ Liputan6.com (2022-11-13). "Temuan Mikroplastik di Danau Poso dan Anomali Danau Prioritas Nasional". liputan6.com. Diakses tanggal 2025-09-20. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
- ^ Heri (2024-07-22). "Darurat Mikroplastik di Danau Poso dan Anomali Danau Prioritas Nasional". rindang.ID. Diakses tanggal 2025-09-20.
- ^ Media, Kompas Cyber (2022-02-25). "Penggembala hingga Nelayan Danau Poso Jadi Korban Proyek PLTA Halaman all - Kompas.com". KOMPAS.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-20.
- ^ Palipadang, Lembang; Sulbadana, Sulbadana; Purnamasari, Andi Intan; Supriyadi, Supriyadi (2025-04-08). "PRESERVING LAKE POSO THROUGH THE INTEGRATED AND COMPREHENSIVE LEGAL POLICIES". Cepalo. 9 (1): 25–36. doi:10.25041/cepalo.v9no1.3704. ISSN 2598-3105.
Daftar pustaka
[sunting | sunting sumber]- Adriani, Nicolaas (1913). "Verhaal der ontdekkingsreis van Jhr. J. C. W. A. van der Wyck naar het Posso-Meer, 16-22 October 1865". De Indische Gids. Vol. 35 (2). Amsterdam: J. H. de Bussy. hlm. 843–862. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)

- Chia, Oliver K. S.; Ng, Peter K. L. (2006). "The freshwater crabs of Sulawesi, with descriptions of two new genera and four new species (Crustacea: Decapoda: Brachyura: Parathelphusidae)". The Raffles Bulletin of Zoology. 54 (2). Universitas Nasional Singapura: 381–428. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)

- Haryani, Gadis Sri; Hehanussa, P. E. (2000). "Preliminary Study of Eel Fish in Lake Poso, Sulawesi Island, Indonesia". Repository Suwa Hydrobiology. 12. Universitas Shinshu: 75–80. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)

- Parenti, Lynne R.; Soeroto, Bambang (2004). "Adrianichthys roseni and Oryzias nebulosus, two new ricefishes (Atherinomorpha: Beloniformes: Adrianichthyidae) from Lake Poso, Sulawesi, Indonesia". Ichthyological Research. 51. The Ichthyological Society of Japan: 10–19. doi:10.1007/s10228-003-0187-1. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)

- von Rintelen, Kristina; Cai, Yixiong (2009). "Radiation of endemic species flocks in ancient lakes: systematic revision of the freshwater shrimp Caridina H. Milne Edwards, 1837 (Crustacea: Decapoda: Atyidae) from the ancient lakes Of Sulawesi, Indonesia, with the description of eight new species". The Raffles Bulletin of Zoology. 57 (2). Universitas Nasional Singapura: 343–452. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)

Sumber
[sunting | sunting sumber]- Adriani, Nicolaas (1919). Posso (Midden-Celebes). Onze Zendingsvelden (2). Den Haag: Boekhandel van den Zendingsstudie-Raad. OCLC 568759182. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
- Paulus, Jozias (1935). Stibbe, David Gerhard; Sandbergen, Frans Johan Wilhelm Henri (ed.). Encyclopædie van Nederlandsch-Indië. Vol. 7 (Edisi 2). Den Haag: Martinus Nijhoff. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)

