Gedangkulut, Cerme, Gresik
Gedangkulud | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Negara | |||||
| Provinsi | Jawa Timur | ||||
| Kabupaten | Gresik | ||||
| Kecamatan | Cerme | ||||
| Kode pos | 61171[1] | ||||
| Kode Kemendagri | 35.25.11.2008 | ||||
| Luas | 4,74 km² | ||||
| Jumlah penduduk | 5.257 jiwa[2] | ||||
| Kepadatan | 1.109 jiwa/km² | ||||
| |||||
Gedangkulud adalah sebuah desa yang berada di wilayah Kecamatan Cerme, Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur, Indonesia.[3][4] Merupakan salah satu desa yang memiliki wilayah terluas di Kecamatan Cerme. Desa ini berada di sebelah selatan kota Gresik dan memiliki lokasi yang strategis karena letaknya yang berada di ujung kecamatan Cerme dan menjadi perbatasan dengan kecamatan Benjeng dan kecamatan Duduk Sampeyan.
Berdasarkan Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan dari Kemendagri, Desa Gedangkulud mempunyai kode 35.25.11.2008.[4]
Demografi
[sunting | sunting sumber]Adapun menurut data BPS Kab. Gresik yang dipublikasikan dalam Kecamatan Cerme dalam Angka 2025[2], Desa Gedangkulud memiliki jumlah penduduk laki-laki : 2.611 jiwa, dan jumlah penduduk perempuan : 2.646 jiwa.
Sejarah Desa Gedang Kulut
[sunting | sunting sumber]Alkisah... dahulu kala tersebutlah suatu pasukan islam dalam sebuah partempuran mengalami kekalahan, mereka dikejar-kejar oleh bala tentara Buddha. Dalam pengejaran panjang sampailah pasukan islam tersebut pada sebuah tempat bernama NGGEMBYANG (sekarang desa sebelah timur terminal giri). Bala tentara Buddha terus mengejar mereka hingga pasukan islam terdesak ke arah barat dan beristirahat disebuah tempat yg bernama SENGKRENG ( sekarang PASAR PON PADEG).[butuh rujukan]
Namun tentara Buddha tidak menghentikan pengejaran mereka hingga pasukan islam merangsek terus kebarat dan bersmbunyi disuatu tempat yang sekarang bernama Padeg. Dalam masa persembunyian mereka menyusun strategi agar dapat lolos dari pengepungan Buddha, maka pada suatu malam pasukan islam tersebut menyusuri sungai hingga sampailah mereka disuatu tempat yg sekarang bernama PENTASAN. Merasa situasi telah aman pasukan islam tersebut melanjutkan perjalanan kearah selatan dan beristirahat secara berurutan ditempat yg bernama SIKEPYAK dan SIWEDUS.
Cerita berlanjut hingga mereka sampai pada pemukiman kecil tak bernama. Pasukan islam kehabisan bekal dan meminta air minum pada penduduk disana. Namun penduduk kampung tersebut tidak memberikanya, mereka sangat kikir hingga membuat sang pemimpin pasukan islam igit-igitan dan menyebut mereka orang-orang sigit artinya orang-orang kikir ( mohon maaf ini cuma dongeng tempo doeloe ) Disini sang pemimpin islam berniat mendirikan masjid tetapi oleh penduduk sigit menyertakan syarat masjid sudah harus selesai sebelum ayam jantan berkokok (seperti cerita Roro Jonggrang).
Maka bekerja giatlah pasukan islam untuk menyelesaikan bangunan masjid dalam waktu satu malam. Namun upaya mereka gagal, pekerjaan belum selesai ayam jantan sudah berbunyi (kini sisa-sisa batu bata masih dapat dijumpai disigit). Karena upaya gagal pergilah mereka kearah timur, Sang pmimpin lalu bersemedi meminta pertolongan dari Yang maha kuasa, maka diperintahkanya membuat sumur yg akan dipergunakanya untuk bersuci atau berwudlu, Dengan sekali hujaman kaki ketanah maka jadilah sumur yang berlapis-lapis dan mengeluarkan air yang jernih. Tersebutlah tempat itu dgn nama sumur SUCEN(sekarang rw 4 sebelah utara) dan pasukan islam mendirikan langgar disana yg disebut langgar CANGKRING atau langgar yang disangga tiang-tiang yang tinggi (lokasi rw 4 sblah selatan timur). Langgar inilah yang diyakini sebagai langgar pertama di Gedang Kulut. Menetaplah mereka disana bertani berkebun dan menanam satu tanaman primadona yang sangat dikagumi oleh manca kampung yaitu PISANG EMAS, maka mulailah pemukiman tersebut dikenal orang dengan sebutan kampung GEDANG PULUT yang berarti pisang emas yang sangat lezat dan istimewa. Gedang Pulut masa itu terus mengalami perkembangan hingga bergeser kebarat, munculah perkampungan baru yang disebut DUKUHAN Gedang Pulut (sekarang rw 6). Selanjutnya mereka membuat tatanan pemerintahan kala itu yang dipimpin oleh pimpinan pasukan islam. Dalam riwayat diceritakan sang pemimpin islam tidak memiliki keturunan, Dia kemudian mengangkat anak dan dianugerahi empat orang cucu yang kemudian mereka hidup berpencar satu di Gedang Kulut satu di BENJENG satu di BALONG PANGGANG satu di LAMONGAN.
Menurut cerita sang pemimpin islam tersebut menetap dan meninggal disini, jasadnya dimakamkan di kuburan pertama Gedang Kulut (sekarang JARATAN), benar atau tidak wallohu a’lam bswb.... Kampung Gedang Pulut inilah yang sekarang menjadi desa Gedang Kulut yg kita cintai bersama.
Percaya atau tidak Gedang Kulut ternyata pernah menjadi masyarakat yang saya istilahkan animism, yaitu penganut kepercayaan pada roh-roh halus yang disebut danyang-danyang desa. Seperti era 40 an, pada zaman itu orang belum mengenal islam seperti sekarang, konon sekitar tahun 40 an hingga tahun 60 an mayoritas penduduk Gedang Kulut mempunyai tradisi memuja-muja tempat-tempat yang di yakini keramat (di huni danyang-danyang desa).
Dulu itu eskitar tahun 40 an ada tiga titik tempat yang diyakini masyarakat pada masa itu sebagai tempat berdiamnya para danyang-danyang desa, yaitu: 1. logo (skrg telaga Paloma) 2. seget 3. sucen Pada hari-hari tertentu mereka mengirimi tiga tempat tersebut dengan membakar merang padi sambil meminta doa, menurut cerita Telaga Paloma adalah tempat yang paling keramat dan paling banyak tempat pemujaanya, Telaga pengason ini memiliki tiga buah titik sakral berupa batu lumpang berukuran besar yang dinaungi oleh pohon asam besar pula.
Tradisi memuja muji tiga tempat ritual teresbut misalnya dilakukan oleh petani pengembala bahkan para pengantin baru, adat ini berlangsung lama hingga dihentikan karena pengaruh situasi politik nasional yakni runtuhnya paham komunisme di Indonesia.
Pemerintahan Desa
[sunting | sunting sumber]Gedang Kulut mulai mengenal jabatan kepala desa atau yang tempo dulu lazim disebut petinggi Adapun sejarah mengingat & mencatat nama-nama petinggi / lurah dari terbentuknya hingga sekarang adalah sbb: 1. Seno 2. Markaban 3. Kaslan 4. Satuman 5. Sarkawi 6. M. Ali Mas’ud 7. Ahmad
Fasilitas Umum
[sunting | sunting sumber]Waduk
[sunting | sunting sumber]```Waduk Gedang Kulut``` ini dibangun sejak pemerintahan Hindia Belanda tahun 1930-an [butuh rujukan] Pasca terjadinya Politik Etis atas usul dari Van de Venter. Salah satu isi dari Politik Etis adalah Irigasi yaitu Pengairan yang merata bagi penduduk Pribumi di Hindia Belanda, dan waduk Gedang Kulud adalah salah satunya.
didasarkan pada fakta bahwa selama abad ke-19 koloni Hindia Belanda telah mengumpulkan pajak yang kemudian dikirimkan ke Negeri Belanda guna membantu neraca anggaran belanja. Bagi Hindia Belanda pengakuan tentang Utang Budi dari Ratu Belanda tersebut penting artinya karena sebelumnya dana yang dikirimkan dari daerah ke pusat tidak ada yang kembali tetapi sejak politik Etis diterapkan pemerintah memberikan bantuan kepada Hindia Belanda.
Kedua, Belanda melihat adanya pemerintah di Hindia Belanda yang mengurus kemakmuran rakyat. Berarti pemerintah aktif menaikkan taraf hidup rakyat. Resep Politik Etis ada dalam semboyan tiga program, yaitu: pembangunan Irigasi, Edukasi, dan Emigrasi. Gubernur Jenderal Idenburg, yang diangkat (1916-1921). dari partai politik kristen. memiliki tugas utama melaksanakan Politik Etis karena kebijaksanaan sebelumnya telah menyebabkan kekurangan kemakmuran di Hindia Belanda.
Selain itu Perbaikan kesejahteraan penduduk Jawa juga dibicarakan oleh Roseboom, Gubernur Jenderal dengan Menteri Tanah Jajahan, Idenburg dalam Surat menyuratnya. Adapun inti pembicaraannya adalah tentang apa saja yang harus mendapatkan perhatian untuk memperbaiki ekonomi penduduk Jawa perhatian diutamakan pada soal Irigasi, edukasi, emigrasi, pertanian, perbaikan jalan-jalan, kredit pertanian dan memajukan peningkatan Industri
Di Desa Gedang Kulut ini terdapat waduk yang fungsikan oleh warga desa sebagai tempat tadah air hujan atau simpanan air yang digunakan untuk pengairan ke sawah-sawah warga desa.
Selain sebagai penampung air dan pengairan waduk desa Gedang Kulut ini juga di tanami benih ikan yang nantinya akan di panen dan hasilnya sebagai pemasukan desa.
Terdapat waduk yang cukup besar ada di desa Gedang Kulut ini yang kesemuanya sengaja di buat untuk memenuhi kebutuhan air warga masyarakat dan untuk persediaan air di musim kemarau.Keberadaan waduk di desa Gedang kulut menjadi potensi besar bagai warga desa karena dengan adanya waduk ini sangat dirasakan manfaatnya oleh warga masyarakat, karena dalam kegiatan petanian dapat melakukan panen sebanyak tiga kali selama setahun.
Sebenarnya Potensi Waduk Gedangkulut Ini perlu dikembangkan lagi, khusus nya oleh pemerintahan Desa dan Pemerintahan Daerah Gresik Juga bisa mengembangkan kawasan ini menjadi kawasan yang strategis dalam potensi pariwisata Desa.
Pranala luar
[sunting | sunting sumber]- (Indonesia) Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 050-145 Tahun 2022 tentang Pemberian dan Pemutakhiran Kode, Data Wilayah Administrasi Pemerintahan, dan Pulau tahun 2021
- (Indonesia) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 72 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan
- (Indonesia) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ^ "Cari Kode Pos". Pos Indonesia. Diakses tanggal 2025-12-18.
- ^ a b "Kecamatan Cerme dalam Angka 2025". BPS Kab. Gresik. Diakses tanggal 2025-12-07.
- ^ "Sirusa BPS" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2010-10-10. Diakses tanggal 2010-12-28.
- ^ a b "Indonesia Maju: Kode Desa". Diarsipkan dari asli tanggal 2010-07-06. Diakses tanggal 2010-12-28.
