Gedung Jangkung Majalengka
Artikel ini membutuhkan lebih banyak pranala ke artikel lain untuk meningkatkan kualitasnya. (Agustus 2025) |
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (Agustus 2025) |

Gedung Jangkung Majalengka adalah salah satu bangunan bersejarah yang merupakan bangunan rumah bergaya klasik yang berada di Jalan KH Abdul Halim.[1] Pemilik gedung tersebut merupakan salah satu orang terpandang di Majalengka.[2] Gedung ini terletak di persimpangan jalan antara Jalan Imam Bonjol, Jalan Trikora dan Jalan K.H. Abdul Halim, dan berada di wilayah Kecamatan Majalengka Kulon, Kecamatan Majalengka. Kabupaten Majalengka.[3]
Bangunan
[sunting | sunting sumber]Gedung Jangkung ini berdiri di atas tanah seluas 42x28 meter. Pada bagian depan dan samping rumah, terdapat taman yang menghadap ke jalan. Ada beberapa ruangan di dalam gedung tersebut yang memiliki plafon dan juga jendela-jendela yang cukup tinggi.[2]
Penyebutan gedung jangkung yang artinya gedung tinggi ini karena gedung ini memiliki menara yang terletak di sudut barat daya, menyesuaikan dengan sudut persimpangan.[3]
Pada pintu utama gedung ini terdapat porch, yakni beranda yang memiliki kerangka atap yang terbuat dari kayu, sementara atapnya sendiri terbuat dari seng.Pintu pada bagian depan merupakan pintu yang tinggi yang dilengkapi dengan dua daun pintu yang berpanel kaca dan dilengkapi dengan dua jendela pada bagian kanan dan kiri. Gedung ini juga dilengkapi dengan pintu-pintu lain pada bagian samping dan belakang.[3]
Sejarah
[sunting | sunting sumber]Gedung ini dibangun pada tahun 1913 oleh saudagar keturunan China yang usahanya bergerak di bidang hasil bumi yaitu Tjia Tjoe Bie, bapak dari salah seorang pendiri Astra Group yakni William Soeryadjaya[4] yang lahir pada tahun 1923.[5]
Tjia Tjoe Bie berwasiat kepada keluarganya agar rumahnya dipelihara dengan baik. Lalu pada tahun 1960-an, rumah peninggalannya dijual, sebelum William Soeryadjaya pergi ke Belanda. Rumah tersebut dibeli oleh H. Ali Saleh, dan diwariskan kepada salah seorang anaknya yaitu Neli Saleh.[1]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ^ a b citrust (2017-10-30). "Mengenal Rumah Bersejarah Tempat Kelahiran Konglomerat yang Disebut Gedong Jangkung". citrust.id. Diakses tanggal 2025-07-28.
- ^ a b Ibrahim, Aditya Ibnu. "Gedung Jangkung, Rumah Unik di Majalengka dari Masa Kolonial dengan Sebuah Menara yang Menginspirasi Namanya - Malang Network". Gedung Jangkung, Rumah Unik di Majalengka dari Masa Kolonial dengan Sebuah Menara yang Menginspirasi Namanya - Malang Network. Diakses tanggal 2025-07-28.
- ^ a b c diswayjateng.id. "Majalengka Memiliki Situs Bersejarah Yang Wajib Dikunjungi". diswayjateng.id. Diakses tanggal 2025-08-12.
- ^ citrust (2017-10-30). "Mengenal Rumah Bersejarah Tempat Kelahiran Konglomerat yang Disebut Gedong Jangkung". citrust.id. Diakses tanggal 2025-08-12.
- ^ "Ini 7 Gedung Heritage Bersejarah di Majalengka". SINDOnews Daerah. Diakses tanggal 2025-08-12.