Gereja Santo Petrus, Borobudur
| Gereja Santo Petrus | |
|---|---|
| Gereja Santo Petrus, Paroki Administratif Borobudur | |
| Informasi umum | |
| Lokasi | Borobudur, Magelang, Jawa Tengah |
| Negara | Indonesia |
| Denominasi | Gereja Katolik Roma |
| Sejarah | |
| Dedikasi | Santo Petrus |
| Arsitektur | |
| Status | Gereja paroki administratif |
| Status fungsional | Aktif |
| Tipe arsitektur | Gereja |
| Administrasi | |
| Keuskupan Agung | Semarang |
| Provinsi | Semarang |
| Klerus | |
| Uskup Agung | Robertus Rubiyatmoko |
Gereja Santo Petrus yang bernama resmi Gereja Paroki Administratif Santo Petrus, Borobudur adalah sebuah gereja paroki administratif Katolik yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Gereja ini didedikasikan kepada Santo Petrus. Gereja ini berada di bawah naungan yurisdiksi Keuskupan Agung Semarang.[1]
Sejarah
[sunting | sunting sumber]Gereja Santo Petrus Borobudur berawal dari karya misi dan R.P. Y.B. Palinkx, S.J. dan dan R.P. Martinus Van Den Elzen, S.J. yang datang pada 1859 dan pengutusan dan R.P. Petrus Hoevenaars, S.J. dan R.P. Franciscus Georgius Josephus van Lith, S.J. pada tahun 1896. Romo Van Lith berkarya di Muntilan, dan Romo Hoevenaars memilih untuk berkarya di Mendut. Lalu, pada tahun 1899, tercatat pembaptisan untuk pertama kalinya di kawasan Mendut, yakni di Gereja Santo Petrus dan Paulus Mendut. Perkembangan agama Katolik terus berkembang, diikuti dengan berdirinya sekolah untuk perempuan oleh suster-suster Fransiskan. Namun aset-aset misi pun hancur karena serangan Perang Dunia II serta Agresi Militer Belanda. Umat di Kawasan Borobudur pun mulai menghidupkan kembali karya-karya keagamaan. Jumlah umat pun juga terus meningkat. Gereja Santo Petrus Borobudur mulai dbangun pada tahun 1970, walaupun umat di Kawasan Borobudur sempat menghadapi kesulitan sebab kekosongan penggembalaan. Sementara itu, di Deyangan, umat yang dahulu pernah kehilangan gereja karena serangan Agresi Militer, mulai membangun sebuah kapel kecildi Dusun Jangkungan pada tahun 1959. Lalu mulai dibangun kapel permanen yang diresmikan pada tahun 1993. Pada masa penggembalaan R.D. Tarcisius Insaf Santosa (2005–2011) perhatian terhadap pengelolaan sekretariat paroki diperkuat, tetapi setelah pemindahannya, perhatian terhadap umat serta Gereja di Kawasan Borobudur berkurang. Tetapi pada masa penggembalaan R.D. Constantius Padmaka Sigid (2018–2022) penataan Kawasan pastoral Borobudur semakin intens, terlebih setelah pengembangan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Borobudur. Lalu, pada tanggal 22 Februari 2023, Paroki Administratif Santo Petrus Borobudur resmi berdiri sebagai paroki administratif yang mengelola administrasi serta harta benda secara mandiri. Saat ini, Paroki Administratif Santo Petrus Borobudur terus berkembang, dengan sarana pendukung pastoral yang semakin matang.