Harappa
Pemandangan Lumbung dan Aula Besar Harappa | |
| Lokasi | Distrik Sahiwal, Punjab, |
|---|---|
| Koordinat | 30°37′44″N 72°51′50″E / 30.62889°N 72.86389°E |
| Jenis | Permukiman |
| Luas | 150 ha (370 ekar) |
| Sejarah | |
| Periode | Harappa 1 hingga Harappa 5 |
| Budaya | Peradaban Lembah Indus |
| Catatan situs | |
| Kondisi | Reruntuhan |
| Pemilik | Publik |
| Pengelola | Pemerintah Punjab, Pakistan (Direktorat Jenderal Arkeologi) |
| Akses umum | Ya |
Harappa (pelafalan dalam bahasa Punjabi: [ɦəɽəˈpaː]) adalah sebuah situs arkeologi di Punjab, Pakistan, sekitar 24 kilometer (15 mil) di sebelah barat Sahiwal. Nama situs ini diambil dari nama desa modern yang terletak di dekat bekas aliran Sungai Ravi. Saat ini, Sungai Ravi mengalir sejauh delapan kilometer (lima mil) di sebelah utara.
Kota Harappa diyakini pernah dihuni oleh sebanyak 23.500 penduduk dan menempati wilayah seluas sekitar 150 hektare (370 ekar) dengan rumah-rumah dari batu bata lempung pada masa puncaknya selama fase Harappa Madya (2600 SM – 1900 SM); ukuran ini dianggap besar pada masanya.[1][2]
Kota kuno Harappa mengalami kerusakan parah di bawah pemerintahan Inggris ketika batu bata dari reruntuhan tersebut digunakan sebagai balas rel untuk membangun Jalur Kereta Api Lahore–Multan.[3] Desa Harappa saat ini berjarak kurang dari satu kilometer (5⁄8 mi) dari situs kuno tersebut. Meskipun Harappa modern memiliki warisan stasiun kereta api dari masa Raj, kota ini sekarang hanyalah sebuah kota persimpangan kecil berpenduduk 15.000 jiwa. Pada tahun 2004, situs ini ditambahkan ke dalam daftar tentatif Situs Warisan Dunia UNESCO.[2] Pada tahun 2005, sebuah rencana pembangunan taman hiburan yang kontroversial di situs tersebut dibatalkan ketika para pekerja bangunan menemukan banyak artefak arkeologi selama tahap awal pengerjaan konstruksi.[4]
Sejarah
[sunting | sunting sumber]Peradaban Harappa memiliki akar paling awal pada kebudayaan seperti Mehrgarh, sekitar tahun 6000 SM. Dua kota terbesarnya, Mohenjo-daro dan Harappa, muncul sekitar tahun 2600 SM di sepanjang lembah Sungai Indus di Punjab dan Sindh.[5] Peradaban ini, yang kemungkinan memiliki sistem tulisan, pusat-pusat perkotaan, infrastruktur drainase, serta sistem sosial dan ekonomi yang beragam, ditemukan kembali pada tahun 1920-an setelah dilakukan penggalian di Mohenjo-daro di Sindh dekat Larkana, dan di kota Harappa di Punjab bagian barat, selatan Lahore. Sejumlah situs lain yang membentang dari kaki Pegunungan Himalaya di Punjab Timur, hingga Gujarat di tenggara, dan Balochistan, Pakistan di barat daya, juga telah ditemukan dan diteliti.
Meskipun situs arkeologi di Harappa rusak pada tahun 1857 ketika para insinyur yang membangun jalur kereta api Lahore–Multan menggunakan batu bata dari reruntuhan sebagai alas rel, banyak artefak tetap berhasil ditemukan.
Akibat penurunan permukaan laut, beberapa wilayah ditinggalkan pada periode akhir Harappa. Pada tahap-tahap selanjutnya, peradaban Harappa kehilangan beberapa ciri khasnya seperti sistem tulisan dan teknik hidrolik.[6] Akibatnya, pemukiman di Lembah Sungai Gangga mulai berkembang dan kota-kota di sepanjang Sungai Gangga menjadi lebih menonjol.[6]
Situs-situs paling awal yang dapat dikenali sebagai Harappa diperkirakan berasal dari tahun 3500 SM. Fase awal ini berlangsung hingga sekitar tahun 2600 SM. Fase puncak peradaban terjadi antara tahun 2600 SM hingga 2000 SM, ketika kota-kota besar mencapai masa kejayaannya. Setelah itu, sekitar tahun 2000 SM, peradaban ini mulai mengalami kemunduran secara bertahap hingga sekitar tahun 1400 SM — periode yang biasanya disebut sebagai Harappa Akhir.[7]Tidak ada tanda-tanda bahwa kota-kota Harappa hancur akibat serangan dari luar. Bukti-bukti kuat menunjukkan bahwa penyebabnya bersifat alami. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa wilayah yang kini menjadi Gurun Thar dahulu jauh lebih lembap, dan iklimnya perlahan menjadi semakin kering.[8]
Masyarakat
[sunting | sunting sumber]Orang-orang Dravida yang diperkirakan merupakan pendiri kota kuno ini sendiri menjadi tanda tanya bagi para arkeolog. Riwayat mereka tak dapat ditelusuri hingga sekarang. Bahasa dan aksara yang mereka gunakan dalam artefak-artefak yang ditemukan di sana masih belum dapat dipecahkan hingga sekarang. Uniknya di kota tersebut tidak ditemukan bangunan untuk kegiatan religius dan tanda-tanda sistem kasta. Hal ini mengakibatkan para peneliti berspekulasi kalau masyarakat Mohenjo Daro dan Harappa merupakan peradaban yang hidup bergantung sepenuhnya pada ilmu pengetahuan (sudah meninggalkan praktik keagamaan) dan memiliki filosofi hidup yang tinggi (terlihat dari ketiadaan sistem kasta dalam hierarki sosial).[9]
Kehancuran
[sunting | sunting sumber]Adanya trauma dan penyakit menular yang terlihat jelas pada kerangka manusia yang diambil dari tiga pemakaman kota Harappa, salah satu kota terbesar di peradaban Indus. Mereka menemukan adanya pertumbuhan karakter masyarakat Indus dan sifat kehancurannya. Hasil yang ditemukan pada orang-orang yang diambil (sampel analisis) dari kuburan ternyata memiliki tingkat tertinggi kekerasan dan penyakit. Tingkat kekerasan berkisar 50 persen pada 10 sampel tengkorak, dan lebih dari 20 persen membuktikan bahwa orang-orang ini terbukti menderita infeksi kusta.
Hasil analisis sangat bertentangan dengan dugaan lama yang menyatakan bahwa peradaban Indus berkembang sebagai masyarakat damai, koperasi dan egaliter, tanpa perbedaan sosial, hierarki, atau perbedaan akses sumber daya dasar. Penduduk kota Harappa diduga menderita kusta selama fase pengembangan perkotaan Indus dan meningkat secara signifikan seiring waktu. Penyakit baru kemudian muncul seperti Tuberkulosis ditemukan pasca urbanisasi, cedera kekerasan (luka tengkorak) juga meningkat seiring waktu. Lingkungan perlahan mulai berubah, jaringan perdagangan semakin tidak terkendali, ketika digabungkan dengan perubahan sosial dan konteks budaya tertentu, maka semua kerjasama yang bertujuan untuk menciptakan situasi aman di semakin tidak bisa dipertahankan. Karena kekerasan dan penyakit meningkat pada level tertinggi, akhirnya manusia meninggalkan peradaban Indus di kota Harappa.
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]Referensi
[sunting | sunting sumber]- ^ Fagan, Brian (2003). People of the earth: an introduction to world prehistory. Pearson. hlm. 414. ISBN 978-0-13-111316-9.
- ^ a b Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref>tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernamaunesco - ^ Wright 2009, hlm. 6.
- ^ Tahir, Zulqernain (26 May 2005). "Probe body on Harappa park". Dawn. Diarsipkan dari asli tanggal 11 March 2007. Diakses tanggal 13 January 2006.
- ^ Beck, Roger B. (1999). McDougal Littell world history : patterns of interaction. Internet Archive. Evanston, Ill. : McDougal Littell. ISBN 978-0-395-87274-1.
- ^ a b McIntosh, Jane (2008). The Ancient Indus Valley: New Perspectives (dalam bahasa Inggris). Bloomsbury Academic. ISBN 978-1-57607-907-2.
- ^ Bryant, Edwin; Patton, Laurie, ed. (2004-08-02). Culture change during the Late Harappan period at Harappa: new insights on Vedic Aryan issues (dalam bahasa Inggris) (Edisi 0). Routledge. hlm. 33–61. doi:10.4324/9780203641880-7. ISBN 978-0-203-64188-0.
- ^ "Palaeoecology and the Harappan Civilisation of South Asia: a reconsideration | WorldCat.org". search.worldcat.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-10-22.
- ^ "Kota kuno Mohenjo Daro dan Harappa, India". Diarsipkan dari asli tanggal 2015-11-15. Diakses tanggal 2014-06-23.
Pranala luar
[sunting | sunting sumber]- (Inggris) Harappa Diarsipkan 2009-08-02 di Wayback Machine.
- Runtuhnya Kota Harappa, Peradaban Indus Kuno Diarsipkan 2014-01-22 di Wayback Machine.
- (Inggris) Geografi Harappa Diarsipkan 2019-11-15 di Wayback Machine.