Jejak karbon

Basis Pengetahuan Terbuka Wikipedia Indonesia
Penjelasan jejak karbon

Jejak karbon secara historis didefinisikan sebagai total emisi karbon yang dilepaskan ke atmosfer, yang dihasilkan oleh individu, peristiwa, organisasi, atau produk, dinyatakan dalam karbon dioksida ekuivalen.[1][2][3] Gas-gas rumah kaca (GRK), termasuk karbon dioksida, dapat dipancarkan melalui pembukaan lahan dan produksi dan konsumsi makanan, bahan bakar, barang-barang manufaktur, material, kayu, jalan, bangunan, transportasi, dan jasa-jasa lainnya.[4] Jejak karbon biasanya dilaporkan dalam ton emisi (setara CO2) per unit perbandingan. Unit tersebut dapat berupa misalnya ton CO2-eq per tahun, per kilogram protein untuk konsumsi, per kilometer perjalanan, per potong pakaian, dan sebagainya. Jejak karbon suatu produk mencakup emisi untuk seluruh siklus hidupnya. Ini dimulai dari produksi di sepanjang rantai pasokan hingga konsumsi dan pembuangan akhir.

Ada beberapa metodologi dan alat daring untuk menghitung jejak karbon, yang bergantung pada apakah fokusnya pada negara, organisasi, produk, atau individu. Misalnya, jejak karbon suatu produk dapat membantu konsumen memutuskan produk mana yang akan dibeli jika mereka ingin sadar akan iklim. Untuk kegiatan mitigasi perubahan iklim, jejak karbon dapat membantu membedakan kegiatan ekonomi dengan jejak karbon tinggi dari kegiatan dengan jejak karbon rendah. Jadi, konsep jejak karbon memungkinkan setiap orang untuk membandingkan dampak iklim dari individu, produk, perusahaan, dan negara. Hal ini juga membantu orang merancang strategi dan prioritas untuk mengurangi jejak karbon.

Meskipun begitu, total jejak karbon tidak dapat dihitung secara tepat dalam kebanyakan kasus karena pengetahuan dan data yang tidak memadai tentang interaksi kompleks antara proses-proses yang berkontribusi, termasuk pengaruh proses-proses alami yang menyimpan atau melepaskan karbon dioksida. Untuk alasan ini, Wright, Kemp, dan Williams, telah mengemukakan untuk mendefinisikan jejak karbon sebagai:

Suatu ukuran total jumlah emisi karbon dioksida (CO2) dan metana (CH4) dari populasi, sistem atau aktivitas tertentu, dengan mempertimbangkan semua sumber, penyerap, dan penyimpanan yang relevan dalam batas spasial dan temporal populasi, sistem, atau aktivitas yang menjadi perhatian. Dihitung dalam "karbon dioksida ekuivalen" yang menggunakan potensi pemanasan global 100 tahun yang relevan (GWP100).[5]

Dari definisi tersebut, penghitungan jejak karbon merangkum semua emisi gas rumah kaca, tidak hanya karbon dioksida, baik dari segi kegiatan ekonomi, acara, organisasi, maupun pelayanan.[6] Namun dalam beberapa definisi, hanya emisi karbon dioksida yang diperhitungkan dalam beberapa definisi dan tidak termasuk gas rumah kaca lainnya, seperti metana dan dinitrogen oksida. Hal ini disebabkan karena IPCC menilai bahwa gas rumah kaca selain karbondioksida lebih sulit untuk dikuantifikasi akibat potensi pemanasan globalnya yang berbeda.[7][8] Mereka juga menyatakan bahwa penyertaan semua gas rumah kaca akan membuat indikator jejak karbon kurang praktis.[9] Namun, pendekatan ini memiliki beberapa kekurangan. Salah satu kekurangan dari tidak memasukkan metana adalah bahwa beberapa produk atau sektor yang memiliki jejak metana tinggi seperti peternakan[10] tampak kurang berbahaya bagi iklim daripada yang sebenarnya.[11]Beberapa organisasi telah menggunakan istilah jejak gas rumah kaca atau jejak iklim[12] untuk menekankan bahwa semua gas rumah kaca lain seperti metana (CH4), dinitrogen oksida (N2O), hidrofluorokarbon (HFC), perfluorokarbon (PCF), sulfur heksafluorida (SF6) dan nitrogen trifluorida (NF3) juga dimasukkan seperti yang tercakup dalam Protokol Kyoto.[13] Umumnya, mereka memasukkan beberapa gas rumah kaca yang penting, yang dapat membandingkan berbagai gas rumah kaca dengan menggunakan setara karbon dioksida dalam skala waktu yang relevan, seperti 100 tahun.

An artistic representation of a carbon footprint, shows a green, cartoon foot over a cartoon map of the world.
Gambaran visual dari jejak karbon.

Sebagian besar emisi jejak karbon untuk rata-rata rumah tangga Amerika Serikat berasal dari sumber-sumber "tidak langsung", misalnya bahan bakar yang dibakar untuk menghasilkan barang yang jauh dari konsumen akhir. Ini dibedakan dari emisi yang berasal dari pembakaran bahan bakar secara langsung di mobil atau kompor seseorang, yang biasa disebut sebagai sumber-sumber "langsung" jejak karbon konsumen.[14]

Nama konsep jejak karbon berasal dari jejak ekologis, diskusi,[15] yang dikembangkan oleh William E. Rees dan Mathis Wackernagel pada tahun 1990-an. Pendekatan akuntansi ini membandingkan berapa banyak permintaan orang dibandingkan dengan apa yang dapat diperbarui oleh planet ini. Ini memungkinkan untuk menilai jumlah "bumi" yang akan diperlukan jika setiap orang di planet ini mengonsumsi sumber daya pada tingkat yang sama dengan orang yang menghitung jejak ekologisnya. Jejak karbon merupakan salah satu bagian dari jejak ekologis. Bagian karbon dipopulerkan oleh sebuah kampanye besar BP pada tahun 2005.[16]

Perhitungan

[sunting | sunting sumber]

Berbagai metode untuk menghitung jejak karbon ada, dan ini mungkin sedikit berbeda untuk entitas yang berbeda. Untuk lembaga, praktik umum adalah menggunakan Protokol Gas Rumah Kaca, yang mencakup tiga cakupan emisi karbon. Cakupan 1 mengacu pada emisi karbon langsung. Cakupan 2 dan 3 mengacu pada emisi karbon tidak langsung. Cakupan emisi 3 adalah emisi tidak langsung yang dihasilkan dari aktivitas suatu organisasi tetapi berasal dari sumber yang tidak mereka miliki atau kendalikan.[17]

Umumnya, beberapa negara menggunakan akuntansi emisi berbasis konsumsi untuk menghitung jejak karbon mereka untuk tahun tertentu. Akuntansi berbasis konsumsi menggunakan analisis masukan-keluaran yang didukung oleh superkomputer memungkinkan untuk menganalisis rantai pasokan global. Beberapa negara juga menyiapkan inventaris gas rumah kaca nasional untuk UNFCCC[18][19], dimana hanya berasal dari aktivitas di negara itu sendiri, sehingga pendekatan ini disebut akuntansi berbasis teritorial atau akuntansi berbasis produksi yang tidak memperhitungkan produksi barang dan jasa yang diimpor atas nama penduduk. Akuntansi berbasis konsumsi mencerminkan emisi dari barang dan jasa yang diimpor dari negara lain.

Oleh karena itu, akuntansi berbasis konsumsi lebih komprehensif, termasuk cakupan emisi 3, dinilai mampu mengatasi kesenjangan sistem saat ini, mengingat inventaris gas rumah kaca negara-negara untuk UNFCCC tidak mencakup transportasi internasional.[20] Pelaporan jejak karbon komprehensif melihat permintaan akhir emisi, ke tempat konsumsi barang dan jasa terjadi.[21]

Jenis emisi karbon

[sunting | sunting sumber]

Emisi karbon langsung (primer)

[sunting | sunting sumber]

Emisi ini merujuk pada total emisi karbon yang berasal dari pembakaran bahan bakar fosil, yang diidentifikasikan sebagai hasil langsung dari konsumsi bahan bakar fosil dalam aktivitas sehari-hari, seperti penggunaan energi untuk memasak dan perjalanan transportasi.[22][23] Dalam penghitungan emisi gas rumah kaca, nilai kalor atau konversi energi, jumlah pemakaian bahan bakar, serta faktor emisi seperti jenis dan jumlah bahan bakar juga dilibatkan.[24]

Emisi karbon tidak langsung (sekunder)

[sunting | sunting sumber]

Emisi ini merujuk pada total emisi karbon yang dilepaskan secara tidak langsung, seperti pembelian listrik, panas, atau uap yang digunakan di suatu tempat, seperti perangkat elektronik atau yang lainnya, dimana berpotensi menghasilkan karbondioksida, belerang dioksida, nitrogen oksida. dan metana, dan nitrogen oksida.[22][23][24]. Emisi karbon dibagi menjadi emisi karbon hulu (meliputi transportasi material dan bahan bakar, energi apa pun yang digunakan di luar fasilitas produksi, dan limbah yang dihasilkan di luar fasilitas produksi)[25], dan emisi karbon hilir (meliputi proses atau pengolahan akhir masa pakai, transportasi produk dan limbah, dan emisi yang terkait dengan penjualan produk)[26], dimana penghitungan emisi ini penting bagi Protokol Gas Rumah Kaca meski ada kemungkinan ada ada penghitungan ganda karena emisi hulu dari pola konsumsi seseorang dapat menjadi emisi hilir orang lain.

Emisi karbon tidak langsung lainnya

[sunting | sunting sumber]

Emisi ini adalah yang berasal dari aktivitas suatu lembaga yang berasal dari sumber yang tidak mereka miliki atau kendalikan.[17] Standar Akuntansi dan Pelaporan Rantai Nilai Perusahaan dalam Protokol Gas Rumah Kaca memungkinkan perusahaan untuk menilai dampak emisi seluruh rantai nilai mereka dan mengidentifikasi di mana harus memfokuskan kegiatan pengurangan.[27]

Sumber emisi ini meliputi emisi dari pemasok dan pengguna produk, yang dikenal sebagai rantai nilai. Transportasi barang, dan emisi tidak langsung lainnya juga merupakan bagian dari lingkup ini.[28] Pada tahun 2022 sekitar 30% perusahaan Amerika Serikat melaporkan emisi Lingkup 3.[29] Dewan Standar Keberlanjutan Internasional sedang mengembangkan rekomendasi untuk memasukkan emisi ini dalam semua pelaporan gas rumah kaca.[30]

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. ^ "What is a carbon footprint?". Diarsipkan dari asli tanggal 11 May 2009. Diakses tanggal 24 July 2009.
  2. ^ Fuchen Shi (2013). "Countermeasures for Controlling Greenhouse Gas Emission and Preventing Global Warming". Journal of Low Carbon Economy (dalam bahasa Inggris). Hans Publishers. CO2 is the main component of greenhouse gas, and its contribution to global warming is over 50%.
  3. ^ Fuchen Shi (2013). "Countermeasures for Controlling Greenhouse Gas Emission and Preventing Global Warming". Journal of Low Carbon Economy (dalam bahasa Inggris). Hans Publishers. CO2 is the main component of greenhouse gas, and its contribution to global warming is over 50%.
  4. ^ "The CO2 list (and original sources cited therein)". Diakses tanggal 18 March 2011.
  5. ^ Wright, L.; Kemp, S.; Williams, I. (2011). "'Carbon footprinting': towards a universally accepted definition". Carbon Management. 2 (1): 61–72. doi:10.4155/CMT.10.39.
  6. ^ "What is a carbon footprint". www.conservation.org. Diakses tanggal 2023-05-28.
  7. ^ IPCC, 2022: Annex I: Glossary Diarsipkan 13 March 2023 di Wayback Machine. [van Diemen, R., J.B.R. Matthews, V. Möller, J.S. Fuglestvedt, V. Masson-Delmotte, C. Méndez, A. Reisinger, S. Semenov (eds)]. In IPCC, 2022: Climate Change 2022: Mitigation of Climate Change. Contribution of Working Group III to the Sixth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change Diarsipkan 2 August 2022 di Wayback Machine. [P.R. Shukla, J. Skea, R. Slade, A. Al Khourdajie, R. van Diemen, D. McCollum, M. Pathak, S. Some, P. Vyas, R. Fradera, M. Belkacemi, A. Hasija, G. Lisboa, S. Luz, J. Malley, (eds.)]. Cambridge University Press, Cambridge, UK and New York, NY, USA. DOI:10.1017/9781009157926.020
  8. ^ Wiedmann, T.; Minx, J. (2008). "A Definition of 'Carbon Footprint'". Dalam Pertsova, C. C. (ed.). Ecological Economics Research Trends. Hauppauge: Nova Science Publishers. hlm. 1–11.
  9. ^ Wiedmann, T.; Minx, J. (2008). "A Definition of 'Carbon Footprint'". Dalam Pertsova, C. C. (ed.). Ecological Economics Research Trends. Hauppauge: Nova Science Publishers. hlm. 1–11.
  10. ^ Ritchie, Hannah; Roser, Max; Rosado, Pablo (2020-05-11). "CO₂ and Greenhouse Gas Emissions". Our World in Data.
  11. ^ "How New Zealand is reducing methane emissions from farming". www.bbc.com. 15 December 2023. Diakses tanggal 2024-02-10.
  12. ^ Wright, Laurence A; Kemp, Simon; Williams, Ian (2011). "'Carbon footprinting': towards a universally accepted definition". Carbon Management (dalam bahasa Inggris). 2 (1): 61–72. Bibcode:2011CarM....2...61W. doi:10.4155/cmt.10.39. ISSN 1758-3004. S2CID 154004878.
  13. ^ "Corporate Standard Greenhouse Gas Protocol". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 July 2022. Diakses tanggal 29 July 2022.
  14. ^ "Graph of the Average Carbon Footprint of a U.S. Household". Diakses tanggal 4 May 2012.
  15. ^ Safire, William (17 February 2008). "Footprint". The New York Times. Diakses tanggal 28 April 2010.
  16. ^ Safire, William. "William Safire - On Language - Grammar - Usage - English Language" (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-10-17.
  17. ^ a b Green Element Ltd., What is the Difference Between Scope 1, 2 and 3 Emissions? Diarsipkan 11 November 2020 di Wayback Machine., published 2 November 2018, accessed 11 November 2020
  18. ^ Ritchie, Hannah; Roser, Max (2024-03-18). "How do CO2 emissions compare when we adjust for trade?". Our World in Data.
  19. ^ Eggleston, H. S.; Buendia, L.; Miwa, K.; Ngara, T.; Tanabe, K. (2006-07-01). "2006 IPCC Guidelines for National Greenhouse Gas Inventories". IPCC National Greenhouse Gas Inventories Programme (dalam bahasa English). Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  20. ^ "Emissions from fuels used for international aviation and maritime transport". UNFCCC. Diakses tanggal 2023-06-11.
  21. ^ Tukker, Arnold; Pollitt, Hector; Henkemans, Maurits (2020-04-22). "Consumption-based carbon accounting: sense and sensibility". Climate Policy (dalam bahasa Inggris). 20 (sup1): S1 – S13. Bibcode:2020CliPo..20S...1T. doi:10.1080/14693062.2020.1728208. hdl:1887/3135062. ISSN 1469-3062. S2CID 214525354.
  22. ^ a b "Product Life Cycle Accounting and Reporting Standard" (PDF). GHG Protocol. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-02-25.
  23. ^ a b Bellassen, Valentin (2015). Accounting for Carbon Monitoring, Reporting and Verifying Emissions in the Climate Economy. Cambridge University Press. hlm. 6. ISBN 978-1-316-16226-2.
  24. ^ a b Husnatarina, Fitria (2024). Pengantar Akuntansi Karbon. Malang: Literasi Nusantara. ISBN 9786231272065. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  25. ^ "Scope 2 Calculation Guidance" (PDF). GHG Protocol. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 21 October 2020. Diakses tanggal 25 February 2019.
  26. ^ EPA, OA, US (2015-12-23). "Overview of Greenhouse Gases | US EPA". US EPA (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 August 2016. Diakses tanggal 2017-11-01.
  27. ^ "Corporate Value Chain (Scope 3) Standard | Greenhouse Gas Protocol". ghgprotocol.org. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 December 2021. Diakses tanggal 2021-12-09.
  28. ^ "Corporate Value Chain (Scope 3) Accounting and Reporting Standard". Greenhouse Gas Protocol. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 31 January 2021. Diakses tanggal 2016-02-28.
  29. ^ Bokern, D. (March 9, 2022). "Reported Emission Footprints: The Challenge is Real". MSCI (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2023-01-22.
  30. ^ Molé, P. (2022-11-01). "ISSB Votes to Include Scope 3 Greenhouse Gas (GHG) Emission Disclosures in Updates to Draft Standards". VelocityEHS (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2023-01-22.

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]

Carbon Management di Curlie (dari DMOZ)

Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil
Pemerintah Kota
Samarinda
Kontak
© 2026 Pemerintah Kota SamarindaAll Rights Reserved
Dikembangkan olehEnter(Wind)