Kapinis laut
| Kapinis laut | |
|---|---|
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | Animalia |
| Filum: | Chordata |
| Kelas: | Aves |
| Klad: | Strisores |
| Ordo: | Apodiformes |
| Famili: | Apodidae |
| Genus: | Apus |
| Spesies: | A. pacificus
|
| Nama binomial | |
| Apus pacificus (Latham, 1801)
| |
Kawasan berbiak (peta persebaran hanyalah perkiraan)
Kawasan berbiak dari tiga bekas subspesies Luar musim berbiak | |
Kapinis laut (Apus pacificus) adalah salah satu spesies burung yang merupakan bagian dari famili Walet. Burung ini berbiak di Asia Timur. Spesies ini merupakan burung yang sangat aktif bermigrasi, menghabiskan musim dingin belahan bumi utara di Asia Tenggara dan Australia. Bentuk tubuh secara umum dan bulunya yang kehitaman mengingatkan pada kerabatnya, kapinis biasa, tetapi dapat dibedakan dari adanya garis putih pada bagian tunggir dan bagian bawah tubuh yang memiliki corak tegas. Kedua jenis kelamin memiliki penampilan yang identik, meskipun burung muda dapat dikenali dari pinggiran pucat pada bulu sayap yang tidak ditemukan pada burung dewasa. Kicauan utama kapinis ini adalah lengkingan khas familinya. Spesies ini merupakan bagian dari kelompok kapinis Asia yang berkerabat dekat dan sebelumnya dianggap sebagai satu spesies.
Kapinis laut dapat ditemukan di berbagai zona iklim dan habitat. Spesies ini berbiak di lokasi yang terlindung seperti gua, celah batu alami, atau di bawah atap rumah. Sarangnya berbentuk setengah mangkuk yang terbuat dari rumput kering dan bahan halus lainnya yang dikumpulkan saat terbang, direkatkan dengan air liur, dan ditempelkan pada permukaan vertikal. Dua atau tiga telur berwarna putih dierami selama kurang lebih tujuh belas hari hingga menetas. Setelah itu, anak burung akan melalui periode di dalam sarang yang panjang namun bervariasi sebelum mereka dapat terbang sepenuhnya. Ketika induknya tidak dapat menemukan makanan yang cukup saat cuaca buruk, anak burung dapat bertahan hidup selama berhari-hari tanpa diberi makan dengan cara memetabolisme lemak tubuhnya.
Seperti semua anggota familinya, kapinis laut hanya memangsa serangga yang ditangkap saat terbang. Burung ini cenderung berburu di tempat yang lebih tinggi dibandingkan dengan kebanyakan kerabatnya, selain kapinis-jarum asia. Kapinis laut memiliki populasi yang besar dan kawasan berbiak yang luas, serta menghadapi sedikit ancaman dari predator maupun aktivitas manusia. Spesies ini diklasifikasikan sebagai spesies risiko rendah oleh Uni Internasional untuk Konservasi Alam.[1] Penyebarannya telah menjangkau wilayah yang jauh seperti Amerika Serikat dan Selandia Baru, dan merupakan burung pengembara yang sangat langka di Eropa.
Taksonomi
[sunting | sunting sumber]Burung walet dan kapinis membentuk famili burung Apodidae, yang terbagi menjadi beberapa genera. Kapinis laut termasuk dalam genus Dunia Lama Apus, yang memiliki ciri khas berupa bulu gelap dan mengilap, ekor bercabang, dan sayap yang sangat runcing.[2] Hingga saat ini, kapinis laut dianggap memiliki lima subspesies,[3] tetapi tiga di antaranya kini telah dinaikkan statusnya menjadi spesies penuh sebagai bagian dari spesies super "kapinis ekor-garpu". Usulan nama untuk spesies super tersebut sebelumnya merupakan sinonim dari kapinis laut.[4]
Sebuah studi tahun 2011 mengusulkan perlakuan berikut. Burung berekor panjang dari Dataran Tinggi Tibet dengan bercak tenggorokan putih sempit dipisahkan sebagai kapinis Salim Ali, A. salimali, kapinis kecil dengan tunggir putih sempit dari Himalaya di India, Nepal, dan Bhutan menjadi kapinis Blyth, A. leuconyx, dan populasi yang berbiak di gua batu gamping di Asia Tenggara bagian utara, yang dicirikan oleh pendaran warna-warni hijau dan cabang ekor yang dangkal, dipisahkan menjadi kapinis Cook, A. cooki.[4] Subspesies yang tersisa adalah nominotipe A. p. pacificus dan ras selatan A. p. kanoi (sebelumnya dikenal sebagai kurodae).[a][3] Susunan ini telah diterima oleh Komite Ornitologi Internasional (IOC), tetapi tidak oleh Uni Internasional untuk Konservasi Alam.[1][6] Sebuah makalah tahun 2012 menunjukkan bahwa cooki berkerabat dekat dengan kapinis tunggir-gelap, A. acuticauda, yang karenanya harus dimasukkan ke dalam klade pacificus, tetapi tidak memberikan rekomendasi taksonomi lebih lanjut.[7]
Kapinis ini pertama kali dideskripsikan oleh John Latham pada tahun 1801 sebagai Hirundo pacifica.[8] Scopoli memisahkan kapinis dari burung layang-layang ke dalam genus Apus pada tahun 1777.[9] Apus, seperti halnya Apodidae, berasal dari bahasa Yunani απους, apous, yang berarti "tanpa kaki", merujuk pada kaki kecil dan lemah dari burung yang paling banyak menghabiskan waktunya di udara ini,[10][11] dan pacificus merujuk pada Samudra Pasifik.[12]
Deskripsi
[sunting | sunting sumber]
Dengan panjang 17–18 cm (6,7–7,1 in), kapinis laut merupakan spesies terbesar dari kapinis Apus.[3] Burung ini memiliki rentang sayap 43 hingga 54 cm (17 hingga 21 inci).[13] Betina sedikit lebih berat daripada jantan, dengan rata-rata 445 g (15,7 oz) berbanding 425 g (15,0 oz).[14] Bentuk tubuhnya secara umum mirip dengan kapinis biasa, meskipun sayapnya sedikit lebih panjang dan kepalanya lebih menonjol. Cabang ekornya lebih dalam, dan tunggirnya lebih lebar. Bagian atas tubuhnya berwarna hitam, selain dari pita tunggir putih dan kepala yang agak lebih abu-abu. Bagian bawah tubuhnya berwarna hitam, meskipun pinggiran putih pada bulunya memberikan perutnya tampilan seperti bersisik bila terlihat jelas dari bawah. Ekor dan bagian atas sayap berwarna hitam, dan bagian bawah sayap berwarna cokelat.[3] Matanya berwarna cokelat dan paruhnya yang kecil serta kakinya yang sangat pendek berwarna hitam.[13] Kedua jenis kelamin memiliki warna bulu yang identik, dan burung muda hanya berbeda dari burung dewasa pada bulunya yang menunjukkan pinggiran pucat, terutama pada sayap. Subspesies selatan, A. p. kurodae, memiliki tunggir putih yang lebih sempit (15 mm/0,6 inci berbanding dengan bentuk nominotipe yang berukuran 20 mm/0,8 inci), tenggorokan berwarna abu-abu, dan bagian bawah tubuh yang lebih hitam.[3] Burung muda dari kapinis Apus yang bermigrasi mengalami peluruhan bulu sebagian sebelum bermigrasi, tetapi mempertahankan bulu sayap yang lebih besar. Peluruhan bulu ini diselesaikan di tempat pemusatan musim dingin, di mana burung dewasa mengalami peluruhan bulu secara keseluruhan.[15]
Spesies ini biasanya mudah untuk diidentifikasi. Kapinis tunggir-putih mirip dengan kapinis laut, tetapi tubuhnya yang ramping serta ekornya yang panjang dan bercabang dalam membuatnya tampak sangat berbeda dari kerabatnya yang bertubuh lebih kekar ini.[3] Kesalahan identifikasi yang mungkin terjadi adalah pada kapinis biasa dengan leukisme parsial yang memiliki tunggir putih. Kapinis laut dapat dibedakan dengan saksama dari cabang ekornya yang lebih dalam, sayap yang lebih panjang, kepala yang lebih besar, bercak putih di tenggorokan yang lebih besar, dan bagian bawah tubuh yang bercorak.[16] Di beberapa bagian Asia Tenggara, kapinis laut yang bermigrasi melewati kawasan menetap dari bekas subspesiesnya, dan pengamatan yang jelas karenanya diperlukan untuk memastikan identifikasi yang benar.[3]
Suara
[sunting | sunting sumber]Kicauan yang dikeluarkan oleh kawanan di dekat kawasan berbiak merupakan lengkingan khas kapinis, termasuk getaran tsiririri atau suara spee-eer yang lebih parau. Kicauan ini menyerupai teriakan kapinis biasa, tetapi lebih lembut dan tidak terlalu mendesah.[13] Kapinis laut jarang bersuara di tempat pemusatan musim dinginnya, tetapi menghasilkan berbagai macam cicitan dan dengungan.[17]
Persebaran dan habitat
[sunting | sunting sumber]Subspesies nominotipe, A. p. pacificus, berbiak di Asia Timur mulai dari Sungai Ob ke timur laut hingga Kamchatka dan ke timur hingga Kepulauan Kuril, Sakhalin, dan Jepang.[3] Burung ini sangat aktif bermigrasi, menghabiskan musim dingin di wilayah selatan Indonesia, Melanesia, dan Australia, termasuk Tasmania. Burung ini merupakan burung migran yang umum dijumpai di pesisir Malaysia, Sumatra, dan Jawa dengan "jumlah yang sangat besar" melintasi Selat Malaka.[5] Subspesies A. p. kurodae berbiak mulai dari tenggara Tibet melintasi Tiongkok timur hingga Jepang bagian selatan, Taiwan, dan Pulau Orchid. Subspesies ini merupakan burung migran jarak pendek, yang menghabiskan musim dingin di Filipina, Malaysia, dan Indonesia bagian utara.[5][13]
Sebagai burung migran jarak jauh yang tangguh, subspesies nominotipe dari kapinis laut pernah ditemukan sebagai burung pengembara yang jauh dari kawasan normalnya. Burung ini telah tercatat di Brunei, Maladewa, Selandia Baru, dan Pulau Macquarie, serta terdapat beberapa kejadian penampakan di Seychelles. Di Amerika Serikat, spesies ini sesekali terlihat di Pribilof dan Kepulauan Aleut;[3] klaim penampakan pada tahun 2010 dari Yukon akan menjadi yang pertama bagi Kanada dan daratan utama Amerika Utara jika disahkan.[18][19] Di Amerika Selatan, terdapat sebuah catatan pada tahun 1959 dari Kolombia.[20] Terdapat 13 catatan Eropa hingga tahun 2013, yaitu dari Denmark (dua), Spanyol, Swedia (empat), dan Inggris (tujuh). Ada kemungkinan bahwa hal ini melebih-lebihkan jumlah burung pengunjung yang sebenarnya. Semua negara yang disebutkan memiliki catatan penampakan pada tanggal yang berbeda pada musim panas tahun 2013 yang dapat disebabkan oleh satu ekor burung yang mengembara. Empat catatan terbaru dari Inggris pada tahun 2005, 2008, 2011, dan 2013 semuanya mencakup penampakan di Spurn, Yorkshire Timur, dan kemungkinan merujuk pada satu individu yang sama yang kembali.[21]
Sebagai spesies yang sebagian besar menghabiskan waktunya di udara, kapinis ini tidak terbatas pada habitat darat atau zona iklim tertentu; spesies ini berbiak dari wilayah Arktik hingga Tiongkok subtropis, dan dari permukaan laut hingga setidaknya ketinggian 3,000 m (9,843 ft) di Jepang. Burung ini sering ditemukan di sekitar permukiman manusia. Spesies ini cenderung menghabiskan musim dingin di dataran rendah,[3] dan di Australia dapat ditemukan di daerah kering maupun di perkotaan dan di kawasan pesisir. Kawanan berjumlah ribuan ekor dapat muncul ketika terjadi angin kencang yang panas. Kapinis laut sering bepergian dan mencari makan bersama kapinis-jarum asia. Kapinis laut kemungkinan tidur saat terbang ketika tidak sedang bersarang, perilaku yang diketahui terjadi pada kapinis biasa dan diduga pada spesies Apus lainnya, tetapi terdapat sebuah catatan dari Australia mengenai kawanan kapinis ini yang bertengger di pohon, dan sesekali terlihat mendarat sebentar di tanah atau di permukaan vertikal.[22]
Perilaku
[sunting | sunting sumber]Berbiak
[sunting | sunting sumber]
Kebanyakan spesies kapinis Apus bersarang di daerah berbatu, dan mayoritas akan menerima bangunan buatan manusia sebagai pengganti situs alami. Kapinis laut adalah spesies kolonial yang bersarang di lokasi terlindung seperti gua, celah di permukaan batu vertikal (termasuk tebing laut), atau di bawah atap rumah. Sarangnya berbentuk setengah mangkuk yang terbuat dari bulu, rumput kering, dan vegetasi ringan lainnya yang dikumpulkan saat terbang, direkatkan dengan air liur dan ditempelkan ke birai batu atau permukaan vertikal dengan zat yang sama. Dua atau tiga telur merupakan jumlah satu sarang yang normal, jumlahnya bervariasi sesuai dengan lokasi geografis. Di daerah di mana tiga telur merupakan hal yang umum, sesekali dapat ditambahkan telur keempat; tidak ada jumlah telur yang lebih banyak dalam satu sarang yang diketahui sejauh ini.[23] Telurnya berwarna putih, seperti semua jenis kapinis,[24] dan berukuran 24–27,5 × 16–17 mm (0,95–1,08 × 0,63–0,67 inci). Telur tersebut dierami oleh kedua induknya selama sekitar 17 hari sebelum menetas menjadi anak burung altrisial yang tidak berbulu dan buta.[3][24] Kedua induk mengerami dan memberi makan anak burung, yang akan siap terbang dalam waktu rata-rata 40,5 hari.[3]
Famili kapinis memiliki jumlah telur per sarang yang lebih sedikit dan waktu pengeraman serta waktu siap terbang yang jauh lebih lama dan bervariasi daripada burung pengicau dengan ukuran telur yang sama, menyerupai burung hidung-tabung dalam faktor perkembangannya ini. Burung muda mencapai berat maksimum yang lebih berat dari induknya; mereka dapat bertahan tanpa diberi makan dalam waktu yang lama, dan menunda pertumbuhan bulunya ketika kekurangan asupan makanan. Kapinis dan burung laut umumnya memiliki lokasi sarang yang aman, namun sumber makanannya tidak dapat diandalkan, sedangkan burung pengicau rentan saat berada di dalam sarang tetapi makanannya biasanya melimpah.[25][26] Adaptasi ini berarti bahwa ketika kondisinya menguntungkan, tingkat kelangsungan hidupnya menjadi sangat tinggi. Salah satu koloni besar di Laut Kuning memiliki tingkat keberhasilan menetas sebesar 73,5%, dengan 63,6% anakannya berhasil mencapai tahap siap terbang. Rata-rata produktivitasnya adalah 1,24 burung muda yang berhasil terbang per pasangan per tahun.[3]
Makanan
[sunting | sunting sumber]Semua burung kapinis memangsa serangga yang ditangkap saat terbang, dan kapinis laut telah tercatat memangsa lebah, tawon, rayap, ngengat, dan lalat.[3][14] Sebuah studi di Tiongkok menemukan bahwa burung ini menangkap berbagai macam mangsa serangga dan menganggap bahwa sebagian besar spesies yang dimakan merupakan hama bagi pertanian atau kehutanan, yang mengarah pada peningkatan hasil pertanian di sejumlah wilayah geografis.[27] Kapinis laut cenderung berburu di tempat yang lebih tinggi dibandingkan dengan kapinis simpatrik, berbagi ruang udaranya terutama dengan kapinis-jarum asia. Burung ini biasanya mencari makan pada ketinggian hingga 300 m (980 ft), dan hanya terbang mendekati permukaan tanah saat cuaca buruk. Kapinis laut sering mencari makan di dekat daerah bertekanan rendah, yang berfungsi untuk mengangkat serangga dari tanah sekaligus memberikan gaya angkat tambahan bagi kapinis. Burung-burung kapinis terbang berputar-putar melintasi kawanan serangga dalam kelompok yang biasanya terdiri dari puluhan atau ratusan burung, meskipun terkadang bisa mencapai puluhan ribu ekor di Australia. Di Siberia, kapinis laut mencari makan pada senja hari hingga berjam-jam lebih lama dibandingkan dengan kapinis biasa, terkadang hingga tengah malam,[3][22] dan burung migran terlihat terbang bersama kelelawar di Filipina.[28] Anak burung diberi makan gumpalan serangga yang direkatkan dengan air liur. Selama cuaca buruk, persaingan yang meningkat menyebabkan kekurangan gizi dalam populasi, di mana burung kapinis muda sering kali tidak diberi makan selama berhari-hari dan bertahan hidup dengan mengandalkan lemak tubuh yang tersimpan.[29]
Pemangsa dan parasit
[sunting | sunting sumber]Kapinis menghabiskan sebagian besar waktunya dengan terbang. Hanya sedikit burung yang memiliki kecepatan dan kelincahan yang diperlukan untuk menangkapnya, dengan pengecualian utama adalah alap-alap walet. Lokasi sarangnya biasanya cukup sulit diakses sehingga tidak dapat dijangkau oleh ular atau mamalia pemangsa.[30]
Kapinis ini menjadi inang bagi tungau bulu termasuk Eustathia cultrifera, Chauliacia canarisi, dan C. securigera.[31] Parasit penggigit meliputi lalat kutu Crataerina pacifica,[32] kutu kelelawar, dan tungau pengisap.[33] Kutu pengunyah yang menyerang burung ini mencakup dua spesies yang pertama kali diidentifikasi pada kapinis ini.[34] Cacing pita Davaineidae telah ditemukan sebagai parasit internal.[33]
Status
[sunting | sunting sumber]Kapinis laut memiliki wilayah sebaran yang sangat luas, melebihi 10.000.000 km2 (3.800.000 mi2).[35] Populasinya tidak diketahui secara pasti, meskipun burung ini umum ditemukan di seluruh kawasan berbiaknya tanpa adanya bukti penurunan jumlah. Oleh karena itu, spesies ini diklasifikasikan oleh Uni Internasional untuk Konservasi Alam sebagai spesies risiko rendah.[1] Tampaknya tidak ada ancaman yang berarti bagi burung ini;[35] tingkat pemangsaannya rendah, dan kapinis ini tidak bergantung pada habitat tertentu. Beberapa burung mungkin mati karena kecelakaan atau kelelahan saat tersesat ketika bermigrasi (catatan pertama untuk kawasan Palaearktik Barat ditemukan sedang beristirahat di sebuah anjungan gas di Laut Utara),[36] tetapi secara umum burung kapinis memiliki tingkat kelangsungan hidup yang tinggi dan berumur panjang. Kapinis biasa, kerabat dekat dari kapinis laut, telah tercatat dapat mencapai usia 21 tahun.[30]
Catatan
[sunting | sunting sumber]- ^ Leader menemukan bahwa kurodae, yang sebelumnya dianggap sebagai sinonim dari pacificus, dapat dibedakan dari bentuk tersebut tetapi tidak dari kanoi. Kurodae adalah nama yang lebih tua dan menjadi prioritas. The Clements Checklist of Birds of the World kini juga menggunakan Apus pacificus kurodae.[4][5]
Rujukan
[sunting | sunting sumber]- ^ a b c d BirdLife International (2019). "Apus pacificus" e.T22686845A155438660. doi:10.2305/IUCN.UK.2016-3.RLTS.T22686845A155438660.en. ; ;
- ^ Chantler & Driessens (2000) hlm. 219.
- ^ a b c d e f g h i j k l m n o Chantler & Driessens (2000) hlm. 235–237.
- ^ a b c Leader, P J (2011). "Taxonomy of the Pacific Swift Apus pacificus Latham, 1802, complex". Bulletin of the British Ornithologists' Club. 131: 81–93.
- ^ a b c "Updates & Corrections – August 2011". The Clements Checklist. Cornell Laboratory of Ornithology. Diarsipkan dari asli tanggal 8 January 2012. Diakses tanggal 26 June 2013.
- ^ "Swifts, hummingbirds & allies". World bird list version 3.3. International Ornithologists' Union. Diarsipkan dari asli tanggal 20 January 2012. Diakses tanggal 22 June 2013.
- ^ Päckert, Martin; Martens, Jochen; Wink, Michael; Feigl, Anna; Tietze, Dieter Thomas (2012). "Molecular phylogeny of Old World swifts (Aves: Apodiformes, Apodidae, Apus and Tachymarptis ) based on mitochondrial and nuclear markers". Molecular Phylogenetics and Evolution. 63 (3): 606–616. doi:10.1016/j.ympev.2012.02.002. PMID 22361213.
- ^ Latham (1801) hlm. lviii.
- ^ Scopoli (1777) hlm. 483 Diarsipkan 2 April 2016 di Wayback Machine..
- ^ Jobling (2010) hlm. 50–51.
- ^ Kaufman (2001) hlm. 329.
- ^ Jobling (2010) hlm. 288.
- ^ a b c d Brazil (2009) hlm. 272.
- ^ a b Chantler (1999) hlm. 455.
- ^ Chantler & Driessens (2000) hlm. 38–39.
- ^ van Duivendijk (2011) hlm. 224.
- ^ Simpson & Day (2010) hlm. 163.
- ^ "2010: Third Quarter". North American Rare Bird Alert. Diarsipkan dari asli tanggal 10 July 2013. Diakses tanggal 10 July 2013.
- ^ Eckert, Cameron D (2011). "Sightings Report – Summer 2010" (PDF). Yukon Warbler: Newsletter of the Yukon Bird Club: 11. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 22 December 2015.
- ^ de Schauensee, Rodolphe Meyer (1959). "Additions to the "Birds of the Republic of Colombia"". Proceedings of the Academy of Natural Sciences of Philadelphia. 111: 53–75. JSTOR 4064506.
- ^ Smith, Ian (2013). "The Pacific Swift sightings in East Yorkshire, Lincolnshire and Suffolk". Birding World. 26 (6): 244–247.
- ^ a b "Apus pacificus – Fork-tailed Swift". Species Profile and Threats Database. Department of Sustainability, Environment, Water, Population and Communities. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 February 2014. Diakses tanggal 7 July 2013.
- ^ Lack, David (1956). "A review of the genera and nesting habits of swifts". The Auk. 73 (1): 1–32. doi:10.2307/4081635. JSTOR 4081635.
- ^ a b Chantler & Driessens (2000) hlm. 19.
- ^ Lack, David; Lack, Elizabeth (1951). "The breeding biology of the Swift Apus apus". Ibis. 93 (4): 501–546. doi:10.1111/j.1474-919X.1951.tb05457.x.
- ^ Boersma, P Dee (1982). "Why some birds take so long to hatch". The American Naturalist. 120 (6): 733–750. doi:10.1086/284027. JSTOR 2461170. S2CID 83600491.
- ^ Cheng, Zhaoqin; Zhou, Benxiang (1987). "Diet analyses of the large white-rumped swift, Apus pacificus, at Chenlushan Island in the Yellow Sea and examination of their pattern of activities by radar". Acta Zoologica Sinica. 33: 180–186.
- ^ Nuytemans, H (1998). "Notes on Philippine birds: interesting records from northern Luzon and Batan Island" (PDF). Forktail. 14: 39–42. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 22 February 2014. Diakses tanggal 22 July 2013.
- ^ Chantler & Driessens (2000) hlm. 32–35.
- ^ a b Chantler & Driessens (2000) hlm. 36–37.
- ^ Peterson et al. (2007) hlm. 136.
- ^ Iwasa, M (2001). "A new species of the genus Crataerina von Olfers (Diptera, Hippoboscidae) with reduced wings from Apus pacificus (Apodiformes, Apodidae) in Japan". Entomological Science. 4 (4): 191–194. ISSN 1343-8786. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 January 2014. Diakses tanggal 17 August 2013.
- ^ a b Sangvaranond, Arkom; Suthecha, Kaset; Jittapalapong, Sathaporn; Chimnoi, Wisanuwat (2009). "Helminths and ectoparasites of Pacific Swift (Fork-tailed Swift) birds (Apus pacificus) from Maehongson Province" (PDF). Kasetsart Veterinarians (dalam bahasa Thai and Inggris). 19 (1): 48–59. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 6 February 2015. Diakses tanggal 23 June 2013.
- ^ Nakagawa, Hiroshi (1959). "Two new Mallophaga from the large white-rumped swift Apus pacificus pacificus (Latham), 1801". Japanese Journal of Sanitary Zoology. 10 (3): 164–168. doi:10.7601/mez.10.164. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 February 2015. Diakses tanggal 17 August 2013.
- ^ a b "Fork-tailed Swift Apus pacificus". Species factsheet. BirdLife International. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 31 October 2013. Diakses tanggal 25 June 2013.
- ^ Parker, Mike (February 1990). "Pacific Swift: new to the Western Palearctic". British Birds. 83 (2): 43–46. Diarsipkan dari asli tanggal 21 June 2020. Diakses tanggal 4 February 2020.
Teks dikutip
[sunting | sunting sumber]- Brazil, Mark (2009). Birds of East Asia. London: A & C Black. ISBN 978-0-7136-7040-0.
- Chantler, Phillip (1999). "Family Apodidae (Swifts)". Dalam del Hoyo, Josep; Elliott, Andrew; Sargatal, Jordi (ed.). Handbook of the Birds of the World. Vol. 5: Barn-owls to Hummingbirds. Barcelona, Spain: Lynx Edicions. ISBN 84-87334-25-3.
- Chantler, Phillip; Driessens, Gerard (2000). Swifts: A Guide to the Swifts and Treeswifts of the World. London: Pica Press. ISBN 1-873403-83-6.
- van Duivendijk, Nils (2011). Advanced Bird ID Handbook: The Western Palearctic. London: New Holland. ISBN 978-1-78009-022-1.
- Jobling, James A (2010). The Helm Dictionary of Scientific Bird Names. London: Christopher Helm. ISBN 978-1-4081-2501-4.
- Kaufman, Kenn (2001). Lives of North American Birds. Oxford: Houghton Mifflin Harcourt. ISBN 0-618-15988-6.
- Latham, John (1801). Supplementum indicis ornithologici sive systematis ornithologiae (dalam bahasa Latin). Londoni: Leigh et Sotheby.
- Peterson, Paul; Atyeo, Warren T; Moss, W Wayne (2007). Feather Mite Family Eustathiidae (Acarina: Sarcoptiformes): Monographs of The Academy of Natural Sciences of Philadelphia, No. 21. Philadelphia: Academy of Natural Sciences. ISBN 978-1-4223-1927-7.
- Scopoli, Giovanni Antonio (1777). Introductio ad Historianum naturalem (dalam bahasa Latin). Prague: Wolfgangum Gerle.
- Simpson, Ken; Day, Nicolas (2010). A Field Guide to the Birds of Australia, 8th Edition. London: Penguin. ISBN 978-0-670-07231-6.
Pranala luar
[sunting | sunting sumber]
Media terkait Apus pacificus di Wikimedia Commons
Informasi terkait dengan Apus pacificus dari Wikispecies.