Kehendak (Buddhisme)
| Terjemahan dari cetanā | |
|---|---|
| Indonesia | kehendak, niat |
| Inggris | volition, intention, directionality of mind, attraction, urge |
| Pali | cetanā |
| Sanskerta | चेतना (cetanā) |
| Tionghoa | 思 |
| Tibet | སེམས་པ། (Wylie: sems pa; THL: sempa) |
| Myanmar | စေတနာ |
| Thai | เจตนา (RTGS: chettana) |
| Khmer | ចេតនា (UNGEGN: chétânéa; ALA-LC: cetanā; IPA: [ceːtanaː]) |
| Daftar Istilah Buddhis | |
| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme |
|---|
Dalam Buddhisme, kehendak, niat, intensi, atau volisi (Pali, Sanskerta: cetanā; Wylie Tibet: sems pa) didefinisikan sebagai faktor mental yang menggerakkan atau mendesak batin ke arah tertentu, menuju objek atau tujuan tertentu.[1][2] Faktor mental ini merupakan faktor mental paling penting dalam menentukan kualitas suatu karma (perbuatan berkehendak) sebagai baik atau buruk.[3] Cetanā diidentifikasi dalam ajaran Buddha sebagai berikut:
- Salah satu dari tujuh faktor mental universal dalam Abhidhamma aliran Theravāda.
- Salah satu dari sepuluh mahā-bhūmika dalam Abhidharma aliran Sarvāstivāda.
- Salah satu dari lima faktor mental universal dalam Abhidharma aliran Mahayana.
- Faktor mental paling penting yang terlibat dalam penciptaan karma.
Theravāda
[sunting | sunting sumber]| Bagian dari Abhidhamma Theravāda |
| 52 faktor mental (cetasika) |
|---|
| Buddhisme Theravāda |
Definisi
[sunting | sunting sumber]Dalam terjemahannya atas kitab Abhidhammatthasaṅgaha, Bhikkhu Bodhi menyatakan:
- Cetanā... adalah faktor mental yang berkenaan dengan aktualisasi suatu tujuan, yakni aspek konatif atau kehendak dari kognisi. Maka dari itu, cetanā diartikan sebagai kehendak (volition). Kitab komentar menjelaskan bahwa cetanā mengatur faktor-faktor mental yang terkait dalam bertindak atas objek. Ciri khasnya adalah keadaan berkehendak, fungsinya adalah mengumpulkan (kamma), dan manifestasinya adalah koordinasi. Penyebab langsungnya adalah keadaan-keadaan terkait. Seperti halnya seorang kepala murid membacakan pelajarannya sendiri dan juga meminta murid-murid yang lain membacakan pelajaran mereka sendiri, demikian pula ketika kemauan mulai bekerja pada objeknya, ia mengatur keadaan-keadaan yang terkait untuk melakukan tugasnya juga...[3]
Dalam terjemahannya atas kitab Abhidhammatthasaṅgaha, Ashin Kheminda menjelaskan bahwa cetanā didefinisikan dalam empat batasan:[4]
- Karakteristik: berkehendak (cetayitalakkhaṇa).
- Fungsi: mengoordinasi (āyūhanarasa).
- Manifestasi: pengaturan (saṃvidahanapaccupaṭṭhāna).
- Sebab-terdekat: dhamma-dhamma yang berasosiasi dengannya.
Lebih lanjut, dijelaskan bahwa:
Pada saat kita berbicara tentang kamma, maka sesungguhnya kita sedang berbicara tentang faktor-mental kehendak yang mendasari setiap perbuatan, baik itu melalui tindakan, ucapan, maupun yang hanya melalui pikiran. Kehendak muncul di semua kesadaran. Dengan kata lain, kehendak muncul di setiap momen kehidupan. Akan tetapi, yang dimaksud dengan kamma hanyalah kehendak yang muncul di kesadaran yang baik (kusala-citta) dan kesadaran yang tidak baik (akusala-citta) [kehendak yang muncul di kesadaran resultan (vipāka-citta) dan fungsional (kiriya-citta) tidak bisa disebut sebagai kamma]. Hal ini terjadi karena kemampuan kehendak yang terkemuka dan menjadi pemimpin (padhāna) dari semua formasi-formasi batin (saṅkhāra) dalam hal mengoordinasi dan mengakumulasikan perbuatan baik maupun perbuatan tidak baik yang telah terjadi di masa lalu. Kehendak bisa terlahir dari kontak-mata, kontak-telinga, kontak-hidung, kontak-lidah, kontak-tubuh dan kontak-batin.[4]
Kitab Atthasālinī (I, Bagian IV, Bab I, 111) menyatakan bahwa cetanā memiliki karakteristik mengoordinasikan dhamma terkait (citta dan cetasika lainnya) pada objek, dan fungsinya adalah 'menghendaki':
- ... Tidak ada yang namanya kehendak tanpa karakteristik pengoordinasian di keempat alam keberadaan; semua kehendak memiliki karakteristik/ciri pengoordinasian. Namun, fungsi 'berbuat' (dalam konteks karma) hanya ada pada kesadaran baik (kusala) dan tidak baik (akusala) [tidak ada pada kesadaran fungsional (kiriya)]... Ia memiliki 'pengarahan' sebagai manifestasinya. Ia muncul mengarahkan keadaan-keadaan yang berhubungan, seperti murid utama, kepala tukang kayu, dan sebagainya yang memenuhi tugas-tugas mereka sendiri dan orang lain.[5]
Hubungan dengan karma
[sunting | sunting sumber]Dalam tradisi Buddhis, cetanā dianggap sebagai faktor mental paling penting dalam menghasilkan karma.
Bhikkhu Bodhi menyatakan (dari sudut pandang Theravāda):
- Kehendak merupakan faktor mental yang paling penting dalam menghasilkan kamma karena kehendaklah yang menentukan kualitas etika suatu tindakan.[3]
Mahāyāna
[sunting | sunting sumber]Definisi
[sunting | sunting sumber]Geshe Tashi Tsering menyatakan:[6]
- Niat [...] juga disebut kemauan. Inilah unsur yang mengoordinasikan dan mengarahkan kegiatan setiap unsur lain di dalam pikiran utama berkenaan dengan objeknya. Begitu perasaan hadir, niat menggerakkan pikiran kita ke arah tertentu.
- Niat merupakan faktor yang mengaktualisasikan perasaan yang telah dicetuskan. Bila perasaan yang timbul setelah bersentuhan dengan suatu benda adalah ketertarikan, maka niat menggerakkan pikiran maju ke arah benda tersebut. Misalnya, saya mencium aroma mangga matang di toko yang saya lewati, dan timbullah perasaan tertarik. Niat adalah perubahan dalam proses mental ke arah pembelian.
Abhidharma-samuccaya menyatakan:
- Apa itu cetanā? Ini adalah aktivitas mental yang mendorong pikiran ke depan. Ia memiliki fungsi untuk membuat pikiran menetap pada apa yang positif, negatif, atau tidak pasti.[2]
- Ia merupakan suatu peristiwa mental yang membangkitkan dan mendesak pikiran beserta peristiwa-peristiwa terkaitnya terhadap suatu objek. Dari semua peristiwa mental, peristiwa ini dikatakan sebagai yang paling penting karena kekuatan peristiwa mental ini mengarahkan pikiran dan setiap peristiwa mental pada objek. Sama seperti besi yang tidak bisa tidak tertarik oleh magnet, demikian pula pikiran tidak bisa tidak tertuju pada suatu objek melalui peristiwa mental ini.[2]
- Kehendak (sems-pa) menyebabkan aktivitas mental menghadapi suatu objek atau bergerak ke arahnya. Secara umum, ia menggerakkan kontinum mental untuk mengambil suatu objek secara kognitif. Kontinum mental (sems-rgyud, arus batin) adalah rangkaian momen aktivitas mental yang bersifat individual dan abadi.[7]
Mipham Rinpoche menyatakan:
- Cetanā menggambarkan proses pikiran [perhatian] bergerak menuju dan terlibat dengan suatu objek. Dari segi pendukungnya ada enam, seperti cetanā pada saat mata bertemu [yaitu antara objek, indra dan kesadaran], dan seterusnya.[1]
Cetanā beroperasi dengan enam dukungan, atau sepanjang enam saluran:[1][2]
- Cetanā yang didukung situasi penglihatan/visual
- Cetanā yang didukung situasi pendengaran
- Cetanā yang didukung situasi pembauan
- Cetanā yang didukung situasi pengecapan
- Cetanā yang didukung situasi penyentuhan/perabaan
- Cetanā yang didukung situasi pikiran
Hubungan dengan karma
[sunting | sunting sumber]Alexander Berzin menjelaskan (dari sudut pandang Mahayana):
- [Menurut pandangan Asanga], karma (bahasa Tibet: las) adalah dorongan mental. Ini sinonim dengan faktor mental dari suatu dorongan (Tibet: sems-pa). Dorongan adalah faktor mental yang menyertai setiap momen pengalaman kita. Itulah faktor mental yang membawa kita ke arah pengalaman tertentu, entah sekadar melihat atau mendengarkan sesuatu, atau, dalam kasus ini, melakukan sesuatu terhadapnya, mengatakannya, atau memikirkannya. Baik karma fisik, verbal, maupun mental, dorongan karma adalah faktor mental berupa hasrat untuk melakukan, mengatakan, atau memikirkan sesuatu. Seperti dorongan untuk memukul seseorang, untuk mengatakan kebenaran, atau memikirkan kerinduan terhadap orang yang dicintai. Itu juga merupakan dorongan mental untuk terus melakukan, mengatakan, atau memikirkan sesuatu, serta dorongan mental untuk berhenti terlibat di dalamnya dan melakukan, mengatakan, atau memikirkan sesuatu yang lain. Biasanya, kita tidak menyadari sama sekali dorongan atau impuls mental ini. Dalam terminologi Barat, kita akan mengatakan mereka biasanya "tidak sadar".[8]
Terjemahan alternatif
[sunting | sunting sumber]- Atrraction (Erik Pema Kunsang)
- Directionality of mind (Herbert Guenther)
- Urge (Alexander Berzin)
- Volition (Bhikkhu Bodhi)
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]Referensi
[sunting | sunting sumber]- ^ a b c Erik Pema Kunsang (translator) (2004). Gateway to Knowledge, Vol. 1. North Atlantic Books. hlm. 23.
- ^ a b c d Herbert V. Guenther & Leslie S. Kawamura, Mind in Buddhist Psychology: A Translation of Ye-shes rgyal-mtshan's "The Necklace of Clear Understanding" Dharma Publishing. Kindle Edition. (Kindle Loc. 386-392).
- ^ a b c Bhikkhu Bodhi (2003), hlm. 80
- ^ a b Kheminda, Ashin (2019-09-01). Manual Abhidhamma: Bab 2 Faktor-Faktor-Mental. Yayasan Dhammavihari. hlm. 40–41. ISBN 978-623-94342-7-4. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Gorkom (2010), Definition of volition
- ^ Geshe Tashi Tsering 2006, Kindle Loc. 648-653.
- ^ Berzin (2006)
- ^ Berzin (2008)
Sumber
[sunting | sunting sumber]- Berzin, Alexander (2006), Primary Minds and the 51 Mental Factors
- Berzin, Alexander (2008), Clearing Away Extraneous Conceptions about Karma
- Bhikkhu Bodhi (2003), Comprehensive Manual of Abhidhamma, Penerbitan Pariyatti
- Geshe Tashi Tsering (2006), Buddhist Psychology: The Foundation of Buddhist Thought, Volume III, Perseus Books Group, Kindle Edition
- Guenther, Herbert V. & Leslie S. Kawamura (1975), Mind in Buddhist Psychology: A Translation of Ye-shes rgyal-mtshan's "The Necklace of Clear Understanding" karya Ye-shes rgyal-mtshan, Dharma Publishing. Edisi Kindle.
- Kunsang, Erik Pema (penerjemah) (2004). Gateway to Knowledge, Vol. 1 . Buku Atlantik Utara.
- Nina van Gorkom (2010), Cetasikas, Zolag