Kehicap flores

Basis Pengetahuan Terbuka Wikipedia Indonesia

Kehicap flores
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Aves
Ordo: Passeriformes
Famili: Monarchidae
Genus: Symposiachrus
Spesies:
S. sacerdotum
Nama binomial
Symposiachrus sacerdotum
(Mees, 1973)
Sinonim
  • Monarcha sacerdotum
  • Symposiarchus sacerdotum

Kehicap flores (Symposiachrus sacerdotum) merupakan spesies burung endemik Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, Indonesia.[2] Kelompok burung ini merupakan anggota dari ordo Passeriformes dan famili Monarchidae.[2]

Morfologi

[sunting | sunting sumber]

Burung ini memiliki panjang tubuh 15,4 cm dengan tiga warna di tubuhnya. Tiga warna tersebut yaitu bulu berwarna hitam, abu-abu, dan putih, dengan warna hitam pada wajah dan dagu, warna abu-abu pada tubuh bagian atas, serta warna putih pada tubuh bagian bawah termasuk ekor bagian bawah.[3]

Kehicap flores memiliki karakteristik unik yaitu mengeluarkan suara dengungan serta suara berupa siulan yang nadanya naik sangat tinggi pada ujung siulannya.[2] Kehicap flores memiliki kebiasaan untuk bersama burung opior jambul (Lophozosterops dohertyi) dan burung opior paruh tebal (Heleia crassirostris).[4]

Habitat dan sebaran

[sunting | sunting sumber]

Habitat utama kehicap flores adalah Hutan Hujan Tropis Semi-hijau dan Hutan Monsun Lembap yang memiliki ketinggian sekitar 350 hingga 1.000 meter di atas permukaan laut. Populasi burung ini lebih banyak ditemukan di habitat hutan yang belum terganggu oleh aktivitas manusia, hutan-hutan tersebut adalah hutan Mbeliling, Sano-Nggoang, dan Nggorang-Bowosie.[5] Terkait populasi kehicap flores, diperkirakan burung ini berjumlah 2.500 hingga 9.999 ekor, namun hasil perhitungan pada tahun 2002 menunjukkan bahwa burung ini sekarang hanya 1.855 hingga 6.559 ekor.[5] Tingginya resiko kepunahan kehicap flores membuat burung ini masuk pada daftar The IUCN Red List of Threatened Species sejak tahun 1994 sebagai spesies yang terancam punah.[5]

Berkurangnya populasi kehicap flores tidak disebabkan oleh perburuan ilegal atau perdagangan ilegal melainkan karena aktivitas manusia yang merusak hutan habitat burung ini. Menurut The International Union for Conservation of Nature (IUCN), penebangan hutan, pembakaran, dan kemarau adalah penyebab hutan-hutan tersebut rusak.[5] Perubahan iklim, polusi udara, dan pencemaran tanah juga memperparah kondisi hutan-hutan tersebut sehingga kehicap flores yang habitatnya hanya di Hutan Hujan Tropis Semi-hijau dan Hutan Monsun Lembap, tidak bisa berpindah habitat.[5]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. ^ BirdLife International (2017). "Symposiachrus sacerdotum". 2017 e.T22707285A110053775. doi:10.2305/IUCN.UK.2017-1.RLTS.T22707285A110053775.en. ;
  2. ^ a b c "Symposiachrus sacerdotum: BirdLife International". IUCN Red List of Threatened Species. 2016-10-01. Diakses tanggal 2026-02-20.
  3. ^ "Kehicap flores - eBird". ebird.org (dalam bahasa in). Diakses tanggal 2026-02-20. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  4. ^ Nurdin, Nazar (2013-08-16). "Tujuh Lambang Kemegahan Flores Barat (II)". nationalgeographic.grid.id. Diakses tanggal 2026-20-02.
  5. ^ a b c d e "Symposiachrus sacerdotum: BirdLife International". IUCN Red List of Threatened Species. 2025-01-23. Diakses tanggal 2026-02-20.
Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil
Pemerintah Kota
Samarinda
Kontak
© 2026 Pemerintah Kota SamarindaAll Rights Reserved
Dikembangkan olehEnter(Wind)