Kosmologi Hindu
| Bagian dari seri |
| Agama Hindu |
|---|
| Bagian dari seri |
| Mitologi Hindu |
|---|
| Portal Agama Hindu |
Kosmologi Hindu adalah pengetahuan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan alam semesta menurut filsafat Hindu. Dalam ajaran kosmologi Hindu, alam semesta dibangun dari lima unsur, yakni: tanah (zat padat), air (zat cair), udara (zat gas), api (plasma), dan ether. Kelima unsur tersebut disebut Pancamahabhuta atau lima unsur materi.
Purusa dan Prakerti
[sunting | sunting sumber]Dalam ajaran Hindu, Purusa dan Prakerti merupakan dua unsur pokok yang terkandung dalam setiap materi di alam semesta. Purusa dan Prakerti merupakan unsur yang bersifat kekal, halus, dan tidak dapat dipisahkan. Purusa adalah unsur yang bersifat kejiwaan sedangkan Prakerti adalah unsur yang bersifat kebendaan atau material. Pada penciptaan alam semesta, Prakerti berevolusi menjadi Pancatanmatra yaitu lima benih yang belum berukuran. Pancatanmatra setelah melalui evolusi yang panjang akhirnya menjadi Pancamahabhuta, yakni lima unsur materi. Lima unsur materi ini kemudian membentuk anggota alam semesta, seperti misalnya matahari, bumi, bulan, bintang-bintang, planet-planet, dan lain-lain.
Penciptaan Alam Semesta
[sunting | sunting sumber]Dalam Weda
[sunting | sunting sumber]"Pada waktu itu, tidak ada makhluk (eksistensi) maupun non makhluk (non eksistensi); pada waktu itu tidak ada atmosfir dan juga tidak ada lengkung langit di luarnya. Pada waktu itu apakah yang menutupi, dan di mana? Apakah air yang tak terduga dalamnya yang ada di sana." (RgVeda X.129.1)
"Waktu itu tidak ada kematian, pun juga tidak ada kehidupan (makhluk), tidak ada tanda yang menandakan siang dan malam. Yang Maha Esa bernafas tanpa nafas menurut kekuatannya sendiri. Bernafas menurut kekuatan-Nya sendiri. Diluar dia tidak ada apapun juga." (RgVeda X.129.2)
"Pada mula pertama kegelapan ditutupi kegelapan. Semua yang ada ini adalah keterbatasan yang tak dapat dibedakan. Yang ada pada waktu itu adalah kekosongan dan yang tanpa bentuk. Dengan tapas (tenaga panas) yang luar biasa lahirlah kesatuan yang kosong." (RgVeda X.129.3)
"Pada awal mulanya keinginan (Tuhan) menjadi bermanifestasi yang merupakan benih awal dan benih semangat. Para rsi setelah meditasi dalam hatinya menemukan dengan kearifannya hubungan antara eksistensi dan non eksistensi." (RgVeda X.129.4)
"Sinarnya terentang keluar, apakah ia melintang, apakah ia di bawah atau di atas. Kemudian ada kemampuan memperbanyak diri dan kekuatan yang luar bisa dahsyatnya, materi gaib ke sini dan energi ke sana." (RgVeda X.129.5)
"Siapa yang sungguh-sungguh mengetahui dan memaparkannya di sini, dari manakah datangnya alam semesta yang menjadi ada ini? Orang-orang bijaksana lebih belakang dari ciptaan alam semesta ini, karena itu siapakah yang mengetahui dari mana munculnya (ciptaan) ini." (RgVeda X.129.6)
"Sesungguhnya Dia telah menciptakan alam semesta ini, serta mengendalikannya (di dalam kekuasaan-Nya). Dia yang mengawasi alam semesta ini berada di atas angkasa yang tak terhingga, sesungguhnya Dia mengetahui alam semesta ini seluruhnya dan “wahai manusia” janganlah mengakui eksistensi lain yang mana pun sebagai Pencipta alam semesta ini." (RgVeda X.129.7)
Menurut filsafat Hindu dalam Regweda, elemen dasar dunia adalah Asat atau ketiadaan yang sama dengan Aditi yaitu ketidakterbatasan. Semua yang ada adalah Diti yaitu yang terikat. Ajaran dalam Regweda juga menyatakan bahwa alam semesta diciptakan oleh Brahman dari unsur yang sudah ada. Hiranyagharba atau "Janin Emas" muncul dari lautan yang memenuhi angkasa lalu dari dalamnya muncul Brahma yang membangun dunia yang masih kacau tanpa bentuk agar teratur rapi.
Mereka yang agung menjadi pemilik langit di mana para Dewa masa lampau, para Sadhya berada. Sloka-sloka dalam pustaka suci Rgveda X.90.1—16 menjelaskan bahwa sesungguhnya Purusa adalah semuanya, dari Purusa lahir, matahari, bulan, planet-planet, Deva-Deva, empat arah mata angin, catur varna, serta yang lain. Jadi, para orang suci mengadakan pemujaan kepada Purusa.
- nāsadāsīnno sadāsīttadānim nāsīdrajo no vyomā paro yat,
- kim āvarīvah kuha kasya śarmannam bhah kimāsīdgahanam gabhīram.
- Artinya:
Tidak ada yang abadi, demikian pula dunia tidak akan abadi, tidak abadi pula dengan cakrawala, maupun yang ada di atas Bagaimana di sana ada tempat yang tertutup, dan di mana? Apakah kebahagiaan yang besar di sana? Bagaimana terdapat air yang tidak dapat diduga?
na mrtyurāsīdamrtam na tarhi na rātryā ahna āsītpraketah,
ānīdavātam svadhayā tadekam tasmād dhānyanna parah kim canāsa.
Artinya:
Kematian bukanlah suatu masa yang abadi, tidak ada petunjuk mengenai siang dan malam; dia yang tunggal bernapas dengan kekuatannya sendiri, di sisi lain tidak ada yang lainnya.
tama āsīttamasā gūlhamagre`prakeram Salilam sarvamā idam
Tucchyenābhavapihitam yadāsītta Pasastanmahinājāyataikam.
Artinya:
Terdapat kegelapan yang menutupi kegelapan pada permulaan, dunia ini semua adalah air yang tidak begitu jelas; yang kosong bersatu yang tertutup dengan suatu apa pun, yang diperoleh melalui kekuatan yang benar.
kāmastadagre samavartatādhi manaso retah prathamam yadāsīt
sato badhumasati niravindanhrdi pratīsyā kavayo manīsā.
Artinya:
Di awal keinginan, yang pertama berada pada pikiran; orang bijak melakukan meditasi di dalam hatinya guna menutupi kebijaksanaan yang berkaitan dengan keberadaan yang tidak dapat diketahui.
tiraścīno vitato raśmiresāmadhah svidāsī-dupari svidāsīt,
retodhā āsanmahimāna āsantsvadhā avastātprayatih parastāt.
Artinya:
Sinarnya yang sangat kuat keluar, apakah itu melintas, atau mengarah ke bawah, atau ke atas, mengeluarkan adalah kekuatan, makanan adalah bagian yang terendah, pemakan adalah yang paling tinggi.
ko addhā veda ka iha pra vocatkuta ājātā kuta iyam visrstih,
arvāgdevā asya visarjanenāthā ko veda yata ābabhūva.
Artinya:
Siapa yang benar-benar mengetahui? Siapa yang mengumumkan keberadaan dunia ini? Kapan penciptaan ini terjadi, kapan itu dilakukan? Para Dewa yang berikut pencipta dunia sehingga siapa yang mengetahui kapan itu mulai ada?
iyam visrstiryata ābabhūva yadi vā dadhe yadi vā na
yo asyādhyaksah parame vyomantso anga veda yadi vā na veda.
Artinya:
Dia menciptakan untuk siapa, semoga Dia yang mengendalikannya, atau Dia mungkin tidak; Dia yang mengawasinya di surga yang paling tinggi, dia sebenarnya mengetahui, atau jika Dia tidak mengetahui, tiada seorang pun yang melakukan itu.
~ Rgveda X.129.1—7
sahasraśīrsā purusah sasasrāksah sahasrapāt,
sa bhūmim viśvato vrtvātyatisthaddaśāngulam.
Artinya:
Purusa yang memiliki seribu kepala, seribu mata, seribu kaki, menginjak bumi dari berbagai arah, memenuhinya hanya dengan ukuran sepuluh jari.
purusa evedam sarvam yadbhūtam yacca bhavyam,
utāmrtatvasyeśāno yadannenātirohati.
Artinya:
Purusa sesungguhnya adalah semua yang ada di alam semesta, yang pernah ada dan yang akan ada: ia juga adalah penguasa kekekalan; karena ia melakukan hal di luar kemampuan untuk kehidupan semua makhluk hidup.
etāvānasya mahimāto jyāyāmśca pūrusah,
pādosya viśvā bhūtāni tripādasyāmrtam divi.
Artinya:
Demikianlah keagungan-Nya; dan Purus.a bahkan melebihi ini. Semua makhluk digabungkan menjadi satu hanya seperempat diri-Nya; Tiga perempat bagian yang lain ada di langit, sebagai makhluk kekal.
tripādūrdhva udaitpurusah
padosyehabhavatpunah tato visvan
vyakramatsasananasane abhi.
Artinya:
Tiga perempat bagian dari Purus.a naik ke langit; seperempatnya lagi tinggal di bumi melakukan aktivitas secara berulang-ulang, dan terbagi dalam berbagai wujud, dalam dua kelompok, yaitu yang bergerak dan yang tidak bergerak.
tasmādvirālajāyata virāji adhi pūrusah
sa jāto atyaricyata paścadbhūmimatho purah.
Artinya:
Darinya lahir Virāj dan dari Virāj lahir Purus.a; ia, segera setelah lahir, termanifestasikan dan kemudian menciptakan bumi dan segala isinya.
yatpurus.ena havisā devā yajñamatanvata,
vasanto asyāsīdājyam grīsma idhmah śaradbhavih.
Artinya:
Ketika para Dewa melakukan upacara persembahan dengan Purusa sebagai persembahan, musim semi adalah Ghee-nya, musim panas minyaknya, dan musim gugur persembahannya.
tam yajñam barhis.i prauks.an-purusam
jātamagratah tena devā
ayajanta sādhyā rs.ayaśca ye.
Artinya:
Mereka mempersembahkan Purus.a di rumput suci sebagai persembahan, terlahir sebelum penciptaan; dengannya para Dewa adalah para Sadhya dan mereka yang adalah para Rsi dipersembahkan.
tasmādyajñātsarvahutah sambhrtah prsadājyam
paśūntāmścakre vāyavyānāranyān grāmyāśca ye.
Artinya:
Dari korban itulah, yang di dalamnya seluruh alam semesta dipersembahkan, campuran mentega dan kacang dihasilkan, dan ia membuat binatang yang dikepalai oleh vāyu, mereka yang liar dan juga jinak.
tasmādyajñātsarvahuta rcah sāmāni jajñire
chandāmsi jajñire tasmādyajustasmādajāyata.
Artinya:
Dari kurban itu, yang mana seluruh semesta dipersembahkan, para Rsi dan Saman dihasilkan; darinya semua Metre terlahir; darinya semua Yaju terlahir.
tasmādaśvā ajāyanta ye ke cobhayādatah
gāvo ha jajñire tasmāt tasmājjātā ajāvayah.
Artinya:
Darinya terlahir kuda-kuda dan binatang apa saja yang memiliki dua baris gigi; sapi-sapi lahir darinya; dan darinya juga lahir kambing dan domba.
yatpurus.am vyadadhuh katidhā
vyakalpayan mukham kimasya kau
bāhū kā ūrū pādā ucyate.
Artinya:
Ketika mereka mempersembahkan Purus.a, ke dalam berapa bagian mereka bisa membaginya? Dinamakan apa mulutnya, dinamakan apa tangan, paha, dan kakinya?
brāhmanosya mukhamāsīd bāhū rājanyah krtah
ūrū tadasya yadvaiśyah pudbhyām śūdro ajāyata.
Artinya:
Mulut-Nya menjadi Brahmana, tangan-Nya menjadi Rajanya, paha-Nya menjadi Vaisya, dan Sudra lahir kaki-Nya.
candramā manaso jātaścaksoh sūryo ajāyata
mukhādindraścā-gniśca prānādvāyurajāyata.
Artinya:
Bulan terlahir dari pikiran-Nya, matahari lahir dari mata-Nya, Indra dan Agni lahir dari mulut-Nya, dan Vāyu dari napas-Nya.
nābhyā āsīdantariksam śīrsno dyauh samavartata
padbhyām bhūmirdiśah śrotrāttathā lokām akalpayan.
Artinya:
Dari pusar-Nya muncul ruang angkasa, dari kepala-Nya dilahirkan langit, bumi dari kaki-Nya, empat penjuru arah dari telinga-Nya, demikianlah semuanya membentuk seluruh bumi ini.
saptāsyāsan paridhayastrah sapta samidhah krtāh
devā yadyajñam tanvānā abadhnanpurusam paśum.
Artinya:
Ada tujuh kelompok persembahan yang dibuat, dua puluh tujuh bagian kayu bakar disiapkan, ketika para Dewa merayakan persembahan ini, dengan mempersembahkan Purusa sebagai kurbannya.
yajñena yajñamayajanta devāstāni dharmāni prathamānyāsan
te ha nākam mahimānah sacanta yatra pūrve sādhyāh santi devāh.
Artinya:
Dengan persembahan para Dewa memuja-Nya yang mana mereka juga adalah bagian dari kurban; itu adalah tugas pertama.
~ Rgveda X.90.1—16
Bhagavad Gita
[sunting | sunting sumber]
karma-jaḿ buddhi-yuktā hi
phalaḿ tyaktvā manīṣiṇaḥ
janma-bandha-vinirmuktāḥ
padaḿ gacchanty anāmayām
Dengan menekuni bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa seperti itu, resi-resi yang mulia dan penyembahku membebaskan asep
diri dari hasil pekerjaan di dunia material. Dengan cara demikian mereka dibebaskan dari perputaran kelahiran dan kematian dan mencapai keadaan di luar segala kesengsaraan (hukum alam).
Bhagvad Gita (II, 51)[1]
Taittirya Upanisad
[sunting | sunting sumber]
...
tasmadva etasmadatmana akasah sambhutah
akasadvayuh
vayoragnih
agnerapah
adbhyah prthivi
prthivya osadhayah
osadhibhyo'nnam
annatpurusah
sa va esa puruso'nnnarasamayah
tasyedameva sirah
ayam daksinah paksah
ayamuttarah paksah
ayamatma
idam puccham pratistha
tadapyesa sloko bhavati
Dari situlah Brahman, yang merupakan Diri, menghasilkan akasa. Dari akasa muncul bayu. Dari bayu lahirlah teja. Dari teja tercipta apah. Dari apah muncul perthiwi. Dari perthiwi lahir tumbuhan. Dari tumbuhan itu dihasilkan makanan. Dari makanan lahir manusia. Manusia itu adalah produk dari esensi makanan.
Taittirya Upanisad (II.1.1)[2]
Purana
[sunting | sunting sumber]Menurut kepercayaan Hindu, alam semesta terbentuk secara bertahap dan berevolusi. Penciptaan alam semesta dalam kitab Upanisad diuraikan seperti laba-laba memintal benangnya tahap demi tahap, demikian pula Brahman menciptakan alam semesta tahap demi tahap. Brahman menciptakan alam semesta dengan tapa. Dengan tapa itu, Brahman memancarkan panas. Setelah menciptakan, Brahman menyatu ke dalam ciptaannya.
Menurut kitab Purana, pada awal proses penciptaan, terbentuklah Brahmanda. Pada awal proses penciptaan juga terbentuk Purusa dan Prakerti. Kedua kekuatan ini bertemu sehingga terciptalah alam semesta. Tahap ini terjadi berangsur-angsur, tidak sekaligus. Mula-mula yang muncul adalah Citta (ingatan/memori di alam pikiran),yang sudah mulai dipengaruhi oleh keinginan Triguna, yaitu Sattwam, Rajas dan Tamas. Tahap selanjutnya adalah terbentuknya Triantahkarana, yang terdiri dari Buddhi (naluri); Manah (akal pikiran); Ahamkara (rasa keakuan). Selanjutnya, munculah Pancabuddhindria dan Pancakarmendria, yang disebut pula Dasendria (sepuluh indria).
| Dasendria | |
|---|---|
| Pancabuddhindria | Pancakarmendria |
|
|
Setelah timbulnya Pancabuddhindria dan Pancakarmendria, maka sepuluh indria tersebut berevolusi menjadi Pancatanmatra, yaitu lima benih unsur alam semesta yang sangat halus, tidak berukuran. Lima benih tersebut dijelaskan sebagai berikut:
- Sabdatanmatra (benih suara)
- Rupatanmatra (benih penglihatan)
- Rasatanmatra (benih perasa)
- Gandhatanmatra (benih penciuman)
- Sparsatanmatra (benih peraba)
Pancatanmatra merupakan benih saja. Pancatanmatra berevolusi menjadi unsur-unsur benda materi yang nyata. Unsur-unsur tersebut dinamai Pancamahabhuta, atau Lima Unsur Zat Alam. Kelima unsur tersebut yaitu:
- Pertiwi (zat padat, tanah, logam)
- Apah (zat cair)
- Teja (plasma, api, kalor)
- Bayu (zat gas, udara)
- Akasa (ether)
Pancamahabhuta berbentuk Paramānu, atau benih yang lebih halus daripada atom. Pada saat penciptaan, Pancamahabhuta bergerak dan mulai menyusun alam semesta dan mengisi kehampaan. Setiap planet dan benda langit tersusun dari kelima unsur tersebut, tetapi kadang kala ada salah satu unsur yang mendominasi. Unsur Teja mendominasi matahari, sedangkan bumi didominasi Pertiwi dan Apah.
Agnipurana
[sunting | sunting sumber]Dalam pustaka suci Agni Purān.a 17.1—16, digambarkan bagaimana proses penciptaan alam semesta sebagai berikut.
Agni bersabda:
Aku akan menjelaskan sekarang penciptaan alam semesta, yang merupakan dari krida Sang Hyang Visnu. Beliaulah yang menciptakan surga dan lain-lain. Pada permulaan ciptaan dan dilengkapi dengan sifat-sifat dan tanpa sifat-sifat. Brahma, yang tidak menampakkan diri, sesungguhnya yang ada. Saat itu, tidak ada langit, siang atau malam, dan lain-lain. Sang Hyang Visnu masuk ke dalam Prakriti dan Purusa dan menggerakkannya.
Pada saat penciptaan, yang pertama kali terpancar adalah mahat. Kemudian, terwujudlah ahamkara, selanjutnya disusul pertama dari keadaan natural, kilauan cahaya unsur-unsur alam, dan sebagainya. Kemudian, meluaplah ether (Ākāśa) yang merupakan unsur dasar suara dari ahamkara. Kemudian, angin (vāyu) merupakan unsur dasar sentuhan (sparsa) dan api (teja) sebagai unsur dasar warna (rupa) menjadi ada daripadanya. Air (āpah) sebagai unsur dasar rasa (rāsa/menjadi ada) dari padanya. Tanah (prithivī) sebagai unsur bau (gandha). Dari kegelapan, lahirlah ego, indriya (menjadi ada) yang tampak berkilauan.
Evolusi selanjutnya adalah terciptanya 10 kahyangan dan pikiran, sebelas indriya. Selanjutnya, muncullah Sang Hyang Svayambhu (yang ada dengan sendirinya), yakni Sang Hyang Brahma yang berkeinginan menciptakan berbagai tipe makhluk hidup. Sang Hyang Brahma menciptakan air yang pertama karena hal itu merupakan ciptaan spirit yang tertinggi. Dari pergerakannya yang pertama karenanya Ia disebut Narayana. Kemudian, mengambang telur di atas air yang warnanya keemasan.
Sang Hyang Brahma lahir dengan keinginannya sendiri. Oleh karenanya, kita mengenalnya dengan sebutan Svayambhu. Hidup sepanjang tahun disebut Hiranyagarbha, kemudian menjadikan telur itu dua bagian, yaitu menjadi surga dan bumi. Di antara kedua bagian itu, Tuhan Yang Maha Esa menciptakan langit. Sepuluh penjuru menyangga bumi yang mengambang di atas air. Kemudian, Sang Hyang Prajapati berkeinginan mencipta, menciptakan waktu, pikiran, perkataan, keinginan, kemarahan, keterikatan, dan lain-lain. Dari cahaya, Ia menciptakan petir dan mendung, dan burung-burung. Ia pertama menciptakan Indra. Kemudian, menciptakan Rcah, Yajumsi, dan Samani untuk menyelesaikan yajña-Nya.
Mereka yang ingin menyelesaikan (yajña), memuja para devata dengan (merapalkan) mantram-mantram tersebut. Makhluk hidup yang tinggi dan rendah diciptakan-Nya. Ia menciptakan Sanatkumara dan Rudra, yang lahir dari kemarahan-Nya. Kemudian, Ia menciptakan para Rsi Marici, Atri, Angirasa, Pulastya, Pulaha, Kratu, Vasistha, yang diyakini sebagai putra-putra yang lahir dari pikiran Sang Hyang Brahma.
Oh, Yang Mulia! Para Rsi tersebut melahirkan (banyak) makhluk hidup, membagi diri-Nya atas dua bagian, separuh menjadi laki-laki dan separuh lagi menjadi perempuan. Selanjutnya, Brahma melahirkan anak-anak-Nya melalui separuh bagiannya yakni bagian yang perempuan. Sloka dalam pustaka suci Agni Purān.a 17.1—16, menjelaskan bahwa alam semesta merupakan hasil krida Sang Hyang Visnu yang masuk ke dalam prakriti dan purus.a serta menggerakkan, sehingga terjadi penciptaan alam semesta ini.
Struktur Alam Semesta
[sunting | sunting sumber]| Lapisan Atas | Lapisan Bawah |
|---|---|
|
|
Lapisan Atas Alam Semesta
[sunting | sunting sumber]Menurut agama Hindu, bagian atas alam semesta terdiri dari tujuh lapisan. Tujuh lapisan tersebut dikenal dengan istilah Saptaloka (tujuh alam). Bhurloka adalah lapisan yang paling bawah yang didiami para butha,dan raksasa; Bhuwahloka adalah lapisan alam di atasnya yang didiami oleh para manusia;tempat bumi berada. Swahloka atau Swargaloka atau surga adalah kediaman para dewa yang dipimpin oleh dewa Indra; Mahaloka adalah kediaman Resi Bhrigu; Janaloka adalah kediaman Sapta Resi; Tapaloka merupakan kediaman ras makhluk yang disebut Weragi; Satyaloka atau Brahmaloka merupakan kediaman penguasa satu alam semesta yakni dewa Brahma.[3]
Tujuh Hari dan Benda Semesta
[sunting | sunting sumber]Saptawara atau tujuh hari yang masing-masing memiliki benda semesta:
| No. | Indonesia | Inggris | Surya-siddhanta | Bali | Benda Semesta |
|---|---|---|---|---|---|
| 1. | Senin | Monday | Soma | Soma | Bulan |
| 2. | Selasa | Tuesday | Angaraka | Anggara | Mars |
| 3. | Rabu | Wednesday | Buddha | Buda | Merkurius |
| 4. | Kamis | Thursday | Brhaspati | Wraspati | Jupiter |
| 5. | Jumat | Friday | Sukra | Sukra | Venus |
| 6. | Sabtu | Saturday | Saniscara | Saniscara | Saturnus |
| 7. | Minggu | Sunday | Aditya | Radite | Matahari |
Ketujuh benda angkasa tersebut berada di Bhurloka.[4] Saptaloka bukan merupakan tujuh lapisan langit, sebab loka berarti alam dan di dalam satu loka terdapat banyak planet. Lapisan langit disebut Akasha (IAST: Ākāśa) yang berarti angkasa.
Lapisan Bawah Alam Semesta
[sunting | sunting sumber]Menurut agama Hindu, di bawah Bhurloka terdapat tujuh lapisan alam bawah yang dihuni oleh makhluk dengan unsur kasar. Saptapatala terdiri dari: Atala, Witala, Sutala, Talatala, Mahatala, Rasatala, Patala. Atala identik dengan Mahamaya; Witala dipimpin oleh manifestasi Siwa yang disebut Hatakeswara; Sutala dipimpin oleh raksasa Bali; Talatala dipimpin oleh Maya; Mahatala kediaman ular raksasa; Rasatala dihuni para Detya dan Danawa; Patala dipimpin oleh Basuki, raja para naga. Planet-planet naraka atau neraka berada di Patala. Dengan demikian satu alam semesta menurut Weda terdiri dari 14 lapisan alam.[3]
Usia Alam Semesta
[sunting | sunting sumber]Dalam kitab-kitab suci Hindu disebutkan bahwa alam semesta diciptakan, dimusnahkan, dan dibuat ulang menurut suatu siklus yang berputar abadi. Siklus tersebut disebut Kalpa atau masa seribu Yuga. Satu Kalpa sama dengan 4.320.000.000 tahun bagi manusia sedangkan bagi Brahma satu Kalpa sama dengan satu hari. Dalam kosmologi Hindu, alam semesta berlangsung selama satu Kalpa dan setelah itu dihancurkan oleh unsur api atau air. Pada saat itu, Brahma istirahat selama satu malam, yang lamanya sepanjang satu hari baginya. Proses itu disebut Pralaya (Katalismik) dan berulang-ulang selama seratus tahun bagi Brahma (311 Triliun tahun bagi manusia) yang merupakan umur Brahma.
Menurut pandangan umat Hindu, alam semesta sedang berada pada tahun ke-51 bagi Brahma atau 155 Triliun tahun telah berlangsung semenjak Brahma lahir. Setelah Brahma melewati usianya yang ke-100, siklus yang baru dimulai lagi dan segala ciptaan yang sudah dimusnahkan diciptakan kembali. Proses ini merupakan siklus abadi yang terus berulang-ulang dan tak akan pernah berhenti.
Masa hidup Brahma dibagi setiap satu siklus Mahayuga. Yuga terdiri dari empat bagian, yang mana dalam setiap bagian merupakan zaman yang memiliki karakter berbeda-beda. Mahayuga memiliki 71 Divisi, dan setiap divisi merupakan 14 Manvantara (1000) tahun. Setiap Mahayuga berlangsung 4.320.000 tahun. Manwantara adalah siklus Manu, leluhur manusia menurut kepercayaan Hindu.
Catatan kaki
[sunting | sunting sumber]- ^ Prabhupada, Bhaktivedanta Swami (1986). Bhagavad Gita As It Is (dalam bahasa Inggris). Bhakti Vedanta Book Trust. hlm. 169–171.
- ^ Taittiriya Upanisad 2.1.1, Sri Adi Sankaracarya, Part 1 (dalam bahasa Inggris), diakses tanggal 1 Mei 2019
- ^ a b Wikana, Ngurah Heka: "Loka", 2010:2
- ^ http://narayanasmrti.com/2010/07/misteri-di-balik-nama-nama-hari/
Bacaan lebih lanjut
[sunting | sunting sumber]- Ajaran ketuhanan dan kosmologi dalam Veda, oleh: Drs. I Gede Sura.
- Wikana, Ngurah Heka. 2010. Merekonstruksi Hindu, Merangkai Kembali Filsafat Weda yang Terdistorsi. Yogyakarta: Narayana Smrti Press
- Upadesa.