Kursi

Basis Pengetahuan Terbuka Wikipedia Indonesia
Kursi lipat sederhana bergaya kontemporer.
Kursi dengan gaya pahat barok yang digunakan di Nusantara sekitar tahun 1750-an.

Kursi adalah sejenis mebel berupa tempat duduk yang terangkat dari lantai, berkaki, dan bersandaran.[1] Kursi dapat memiliki rupa yang sangat beragam dan dibuat dari berbagai bahan.

Etimologi

[sunting | sunting sumber]

Istilah Bahasa Indonesia "kursi" adalah serapan dari Bahasa Arab كرسي kursi.[2] Tidak diketahui persis kapan istilah kursi pertama digunakan di Nusantara, namun dapat diduga bahwa istilah tersebut sudah menjadi umum dalam Bahasa Melayu memasuki abad ke-16. Istilah ini tercatat dalam daftar kata Melayu yang disusun di Melaka sebelum tahun 1511 oleh penerjemah 楊林 Yáng Lín. Di antara 482 kata yang terdaftar, terdapat entri 椅 "kursi" yang disandingan dengan 孤路西 gūlùxī, ejaan hànzì yang paling mendekati pelafalan Melayu “kursi.”[3][4]

Dalam Bahasa Arab, kursi pada awalnya tidak merujuk pada jenis mebel tertentu namun tempat manapun yang dijadikan alas duduk.[5] Namun begitu istilah kursi juga dipahami sebagai takhta keagungan Illahi dalam آية ٱلكرسي Ayāt al-Kursī, petikan Qur’an yang umum digunakan dalam kaligrafi seantero dunia Islam termasuk Indonesia.[6] Besar kemungkinan, makna tinggi inilah yang pertama dipahami ketika kata “kursi” diserap oleh Bahasa Melayu sebagaimana terlihat dalam sejumlah sastra Melayu klasik seperti Sulalatus Salatin dan Hikayat Indraputra.[7][8][9] Istilah kursi baru mulai digunakan untuk merujuk perabot sehari-hari sekitar abad ke-18 M akibat pengaruh pemukim Eropa di Nusantara.[10]

Depiksi yang menyerupai kursi telah ditemukan pada gerabah Neolitikum yang digali di Eropa tenggara.[11] Dalam perkembangannya, kursi dikenal oleh berbagai budaya meski seringkali tidak menjadi kebutuhan sehari-hari sedari awal.[12][13][14] Sejumlah kursi Mesir kuno telah ditemukan di makam-makam firaun seperti Tutankhamun, namun diketahui dari seni mereka bahwa kebiasaan duduk sehari-hari Mesir kuno juga banyak berkutat pada lesehan.[15] Kebiasaan duduk masyarakat Tionghoa pada dinasti-dinasti paling kuno berkutat pada duduk lesehan sementara kursi baru umum digunakan sekitar dinasti Tang yang diperkenalkan oleh praktek biksu-biksu Buddha.[16] Masyarakat Eropa cenderung tidak mempraktekkan duduk lesehan, namun kursi sendiri relatif jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari digunakan dibanding dingklik dan bangku hingga abad ke-16 M.[17][18]

  1. ^ "kursi". Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), versi online/daring (dalam jaringan). Diakses tanggal 9 March 2026.cite web
  2. ^ Perdana 2026, hlm. 98.
  3. ^ Edwards & Blagden 1931, hlm. 734.
  4. ^ Hoogervorst 2024, hlm. 533.
  5. ^ Ibn Manẓūr, Muhammad ibn Mukarram ibn Alī ibn Ahmad (2003). Lisān Al-’Arab; لسان العرب. Beirut: Dar Shadir; دار صادر. hlm. 49.
  6. ^ Hooker, Virginia (2015). "Lines of Meaning: Three Calligraphic Paintings by Didin Sirojuddin". SUHUF. 4 (2): 328. doi:10.22548/shf.v4i2.59.
  7. ^ Perdana 2026, hlm. 98-99.
  8. ^ Cheah, Boon Kheng (2010). Sejarah Melayu: The Malay Annals. MBRAS. hlm. 68, 201.
  9. ^ Mulyadi, Sri Wulan Rujiati (1980). Hikayat Indraputra: A Malay Romance (PDF) (PhD thesis). London: School of Oriental and African Studies.
  10. ^ Perdana 2026, hlm. 101.
  11. ^ Cranz 1998, hlm. 32.
  12. ^ Massey 2011.
  13. ^ Wilhide & Wood 2000.
  14. ^ Zabalbeascoa Conca 2018.
  15. ^ Cranz 1998, hlm. 30-31.
  16. ^ Dampierre 2006, hlm. 34-32-42.
  17. ^ Cranz 1998, hlm. 34-42.
  18. ^ Bryson 2010, hlm. 57.

Daftar pustaka

[sunting | sunting sumber]

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]