Labia mayor

Basis Pengetahuan Terbuka Wikipedia Indonesia
Labia mayor
Labia mayor manusia
Rincian
PendahuluPembengkakan labioskrotal
Bagian dariVulva
ArteriArteri pudenda eksternal dalam, arteri pudenda eksternal superfisial, arteri labial posterior
VenaVena labial posterior, vena pudenda internal
SarafCabang perineum dari saraf kutaneus femoral posterior, cabang genital dari saraf genitofemoral, saraf labial posterior, saraf labial anterior, saraf pudendal, saraf perineum
Pengidentifikasi
Bahasa Latinlabium majus pudendi
TA98A09.2.01.003
TA23549
FMA20367
Daftar istilah anatomi

Pada primata, dan khususnya pada manusia, labia mayor (tunggal: labium mayus), juga dikenal sebagai bibir luar atau labia luar, adalah dua lipatan kulit longitudinal yang menonjol yang memanjang ke bawah dan ke belakang dari mons pubis ke perineum.[1] Bersama dengan labia minora, keduanya membentuk labia dari vulva.

Labia mayor homolog dengan skrotum pada pria.[2]

Etimologi

[sunting | sunting sumber]

Labia mayor adalah bentuk jamak dalam Latin untuk bibir besar ("mayor"). Istilah Latin labium/labia digunakan dalam anatomi untuk sejumlah struktur paralel yang biasanya berpasangan, tetapi dalam bahasa Inggris (serta bahasa Indonesia), istilah ini sebagian besar diterapkan pada dua pasang bagian vulva—labia mayor dan labia minora. Secara tradisional, untuk menghindari kebingungan dengan struktur tubuh lain yang menyerupai bibir, labia vulva diistilahkan oleh para ahli anatomi dalam bahasa Latin sebagai labia majora (atau minora) pudendi.

Embriologi

[sunting | sunting sumber]

Secara embriologis, struktur ini berkembang dari lipatan labioskrotal.[3]

Setelah masa pubertas, labia mayor dapat berubah warna menjadi lebih gelap daripada kulit di sekitarnya dan ditumbuhi rambut kemaluan pada permukaan luarnya.

Fungsi dan struktur

[sunting | sunting sumber]

Fungsi utama labia mayor adalah untuk menutupi dan melindungi bagian-bagian lain dari vulva.[4] Labia mayor mencakup labia minora, sulkus interlabial, tudung klitoris, glans klitoris, frenulum klitoris, Garis Hart, dan vestibulum vulva, tempat bermuaranya lubang eksternal uretra dan vagina. Setiap labium mayus memiliki dua permukaan: permukaan luar, berpigmen dan ditutupi oleh rambut kemaluan yang kasar; serta permukaan dalam, yang halus dan dipenuhi folikel sebasea yang besar. Labia mayor dilapisi oleh epitel skuamosa. Di antara keduanya, terdapat sejumlah besar jaringan areolar dan lemak, selain pembuluh darah, saraf, dan kelenjar. Di bawah kulit labia mayor, terdapat jaringan yang disebut dartos muliebris, yang memberikan penampilan berkerut padanya.[5]

Celah pudendal

[sunting | sunting sumber]
Tampak depan vulva. Celah pudendal pada angka 3.

Labia mayor merupakan batas lateral dari celah pudendal. Celah pudendal, yang juga dikenal sebagai celah vulva atau celah Venus (rima vulvae atau rima pudendi dalam bahasa Latin),[6] adalah celah vertikal di antara labia mayor yang dimulai dari titik basal mons pubis. Setelah pubertas, tudung klitoris dan labia minora dapat menonjol ke dalam celah pudendal dengan derajat yang bervariasi.[7]

A) komisura anterior, B) fourchette, C) komisura posterior

Labia mayor lebih tebal di bagian depan, dan membentuk komisura labial anterior tempat keduanya bertemu di bawah mons pubis. Di bagian posterior, keduanya tidak benar-benar menyatu, melainkan tampak menghilang ke dalam integumen di sekitarnya, berakhir saling berdekatan dan hampir sejajar satu sama lain. Bersama dengan kulit penghubung di antara keduanya, bagian ini membentuk komisura lain, yaitu komisura labial posterior, yang juga merupakan batas posterior vulva. Jarak antara komisura posterior dan anus, dengan panjang 2,5 hingga 3 cm, merupakan perineum.[8] Daerah anterior perineum dikenal sebagai segitiga urogenital, yang memisahkannya dari daerah anal. Di antara labia mayor dan paha bagian dalam terdapat lipatan labiokrural. Di antara labia mayor dan labia minora terdapat sulkus interlabial. Labia mayor mengalami atrofi setelah menopause.

Pada primata non-manusia

[sunting | sunting sumber]

Meskipun labia mayor terdapat pada semua primata betina, banyak di antaranya memilikinya hanya hingga dewasa atau menjadi tidak mencolok pada masa tersebut.[9] Primata selain manusia yang selalu memiliki labia mayor yang tampak jelas adalah bonobo, strepsirini, tarsius, monyet cebid, dan owa.[10][11][12]

Pada betina mamalia non-primata, labia mayor tidak ada karena pembengkakan labioskrotal telah menghilang saat masih menjadi janin.[13] Oleh karena itu, celah pudendal merujuk pada celah di antara labia vulva pada mamalia tersebut.[14]

Penggunaan dalam cangkok

[sunting | sunting sumber]

Bantalan lemak dari labia mayor dapat digunakan sebagai cangkok, sering kali disebut sebagai "cangkok bantalan lemak labial Martius", dan dapat digunakan, misalnya, dalam uretrolisis.[15]

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. ^ Blüm, Volker (2012). Vertebrate Reproduction: A Textbook. Springer Berlin Heidelberg. hlm. 74. ISBN 978-3-64271-074-2. Diakses tanggal November 19, 2023.
  2. ^ "Sex Organ Homologies". www.meddean.luc.edu. Diakses tanggal 2020-08-09.
  3. ^ Manual of Obstetrics. (3rd ed.). Elsevier. pp. 1-16. ISBN 9788131225561.
  4. ^ Kinsey, Brian (2011). Human Body From A to Z. Marshall Cavendish Reference. hlm. 465. ISBN 978-0-76149-976-3. Diakses tanggal September 29, 2023.
  5. ^ Fahmy, Mohamed A. Baky (2021). Normal and Abnormal Scrotum. Springer International Publishing. hlm. 69. ISBN 978-3-03083-305-3. Diakses tanggal December 29, 2023.
  6. ^ Gould, George M. (1936). Brownslow, C. V (ed.). Gould's Pocket Pronouncing Medical Dictionary (Edisi 10). P. Blakinston's Son & C., Inc.
  7. ^ Hennekam, RC; Allanson, JE; Biesecker, LG; Carey, JC; Opitz, JM; Vilain, E (June 2013). "Elements of morphology: standard terminology for the external genitalia". American Journal of Medical Genetics. Part A. 161A (6): 1238–63. doi:10.1002/ajmg.a.35934. PMC 4440541. PMID 23650202.
  8. ^ Satu atau lebih kalimat di atas mencakup teks yang termasuk domain publik dari buku Gray's Anatomy edisi ke-20 (1918) halaman 1265.
  9. ^ Sheets-Johnstone, Maxine (2010). The Roots of Thinking. Temple University Press. hlm. 184. ISBN 978-1-43990-365-0. Diakses tanggal November 19, 2023.
  10. ^ Ankel-Simons, Friderun (2012). Primate Anatomy: An Introduction. Elsevier Science. hlm. 523. ISBN 978-0-08046-911-9. Diakses tanggal November 19, 2023.
  11. ^ Rosenblum, Leonard A. (2013). Primate Behavior: Developments in Field and Laboratory Research · Volume 2. Elsevier Science. hlm. 251. ISBN 978-1-48327-182-8. Diakses tanggal November 19, 2023.
  12. ^ Poiani, Aldo (2010). Animal Homosexuality: A Biosocial Perspective. Cambridge University Press. hlm. 156. ISBN 978-1-13949-038-2. Diakses tanggal November 19, 2023.
  13. ^ Kumar, M.S.A. (2015). Clinically Oriented Anatomy of the Dog & Cat. Linus Learning. hlm. 1254. ISBN 978-1-60797-552-6.
  14. ^ Studdert, Virginia P.; Gray, Clive C. (2011). Saunders Comprehensive Veterinary Dictionary E-Book. Elselvier Health Sciences. hlm. 1183. ISBN 978-0-70204-744-2.
  15. ^ Carey, J. M.; Chon, J. K.; Leach, G. E. (2003). "Urethrolysis with martius labial fat pad graft for iatrogenic bladder outlet obstruction". Urology. 61 (4): 21–25. doi:10.1016/S0090-4295(03)00117-1. PMID 12657357.

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]
Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil
Pemerintah Kota
Samarinda
Kontak
© 2026 Pemerintah Kota SamarindaAll Rights Reserved
Dikembangkan olehEnter(Wind)