Meong Palo Karellae
Meong Palo Karellae adalah sebuah kisah tradisional dalam kebudayaan Bugis di Sulawesi Selatan yang berkaitan dengan kepercayaan agraris, khususnya mengenai perlindungan terhadap tanaman padi dan hubungan manusia dengan hewan. Kisah ini dikenal sebagai bagian dari tradisi sastra Bugis yang tercatat dalam naskah-naskah lontara serta dalam epik mitos penciptaan La Galigo.[1][2] Dalam tradisi tersebut, Meong Palo Karellae digambarkan sebagai seekor kucing belang yang menjadi pengawal setia dewi padi, yaitu Sangiang Serri (atau Sangiasserri), tokoh mitologis yang melambangkan kesuburan dan kemakmuran.[3]
Latar belakang
[sunting | sunting sumber]Meong Palo Karellae merupakan tokoh dalam tradisi sastra Bugis yang berkaitan dengan mitologi padi dan figur Sangiang Serri, dewi padi dalam kosmologi masyarakat Bugis. Dalam masyarakat agraris Bugis tradisional, padi dipandang sebagai sumber kehidupan sehingga melahirkan berbagai mitos, cerita rakyat, dan ritual yang berkaitan dengan kesuburan serta keberhasilan panen.[4][5][6] Kisah Meong Palo Karellae dikenal melalui dua jalur pewarisan budaya, yaitu tradisi tulis dan tradisi lisan. Dalam tradisi tulis, cerita ini ditemukan dalam sejumlah manuskrip lontara di Sulawesi Selatan, termasuk naskah dari Kabupaten Soppeng yang ditulis menggunakan aksara Lontara dan bahasa Bugis. Naskah tersebut berukuran sekitar 20 × 10 cm dan terdiri dari puluhan halaman yang memuat kisah perjalanan Sangiang Serri bersama kucing pengawalnya.[7] Sementara itu dalam tradisi lisan, kisah tersebut sering disampaikan melalui pembacaan massureq, yaitu pembacaan atau pelantunan cerita epik Bugis yang dilakukan oleh penutur tradisional, terutama dalam konteks ritual pertanian.[8]
Isi cerita
[sunting | sunting sumber]Dalam cerita rakyat Bugis, Meong Palo Karellae digambarkan sebagai seekor kucing berbelang merah atau kuning yang setia menemani perjalanan Sangiang Serri. Ia berperan sebagai pelindung dan pengawal dewi padi dalam mencari tempat tinggal yang layak bagi padi di dunia manusia.[9] Beberapa versi cerita menggambarkan bahwa Sangiang Serri bersama Meong Palo Karellae berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain karena perilaku manusia yang dianggap tidak baik, seperti pertengkaran dalam keluarga, sifat kikir, atau perlakuan buruk terhadap makhluk hidup. Padi dipercaya tidak akan tinggal di tempat yang masyarakatnya tidak hidup rukun atau tidak menghormati makhluk lain. Dalam perjalanan tersebut mereka melewati berbagai daerah di Sulawesi Selatan seperti Lamuru, Soppeng (Pattojo, Mario, Tanete, Langkemme, Kessi), Mangkoso, Wettung, Lisu, dan berakhir di Barru. Sangiang Serri akhirnya menemukan tempat yang masyarakatnya memiliki sifat baik, seperti murah hati, sabar, dan saling menghormati. Di tempat semacam itu, Sangiang Serri bersedia menetap sehingga padi dapat tumbuh subur dan memberikan hasil panen yang melimpah. Salah satu episode yang umum diceritakan mengisahkan kemarahan padi terhadap seorang manusia yang memukul seekor kucing karena memakan ikan. Perbuatan tersebut dianggap sebagai tindakan tidak adil terhadap hewan yang sebenarnya membantu manusia dengan membasmi tikus. Kisah ini kemudian menjadi peringatan bahwa perlakuan buruk terhadap kucing dapat menyebabkan keberkahan padi hilang dari suatu rumah atau desa.[8][10]
Peran dalam ritual pertanian
[sunting | sunting sumber]Kisah Meong Palo Karellae juga berkaitan dengan berbagai ritual pertanian tradisional. Salah satunya adalah ritual Madoja Bine, yaitu upacara menjaga benih padi sebelum ditanam di sawah. Dalam ritual ini, masyarakat sering melakukan pembacaan cerita atau nyanyian tradisional yang dikenal sebagai massureq, yang memuat kisah-kisah dari La Galigo, termasuk kisah Meong Palo Karellae.[11][12]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ^ Slippy, Janeke Peggy; Karim, Abd; Nur, Muhammad; Hamid, Wardiah; Hamsiati, Hamsiati; Saputra, Muhammad Ali (2024-12-22). "The Discourse in Lontaraq Meongpalo Karellae: An Anthropological Perspective". Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya. 26 (2): 196–204. doi:10.25077/jantro.v26.n2.p196-204.2024. ISSN 2355-5963.
- ^ Farid, A. Zainal Abidin (2017-07-30). Capita Selecta: Kebudayaan Sulawesi Selatan. CV. Social Politic Genius (SIGn). ISBN 978-602-61833-1-6.
- ^ Hum, Wulansary, S. Sos , M. (2024-03-02). MANIFESTASI FOLKLOR DEWI PADI: Simbol Kearifan Lokal tentang Keberlanjutan Pangan. Penerbit Peneleh. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
- ^ "Riset: Tradisi Mappamula Ase Memperkuat Harmoni Alam dan Spiritualitas Petani Bugis Sidrap". LP2M. 2025-12-26. Diakses tanggal 2026-03-08.
- ^ Kompasiana.com (2014-01-18). "Dalam Beras Bugis, Ada Doa, Harapan, dan Rasa Syukur". KOMPASIANA. Diakses tanggal 2026-03-08.
- ^ Irmayani; Toaha, Sahabuddin; PB, Muh Ikbal (2023-01-13). EKSISTENSI NILAI-NILAI LOKAL PERTANIAN. uwais inspirasi indonesia. ISBN 978-623-227-868-4.
- ^ Harimansyah, Ganjar and Setiawan, Deni and Suladi, Suladi and Inayatusshalihah, Inayatusshalihah and Jalbi, Itman and Purwaningsih, Purwaningsih and Sianipar, Jonner and Handayani, Retno and Prihartono, Wawan and Nugroho, Mardi and Sudarmaji, Miranti and Susamto, Dina Amalia and Suharto, Prih and Hidayat, Rahmat and Prasetyawan Ps, Nur Ahid (2019) Menjaga bahasa, memuliakan bangsa: bunga rampai konservasi bahasa dan sastra daerah. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Jakarta. ISBN 9786024379773
- ^ a b Setyaningsih, Nina; Mulatsih, Sri; Kurniawati, Neni (2021-09-10). STRUKTURAL 2020: Proceedings of the 2nd International Seminar on Translation Studies, Applied Linguistics, Literature and Cultural Studies, STRUKTURAL 2020, 30 December 2020, Semarang, Indonesia (dalam bahasa Inggris). European Alliance for Innovation. ISBN 978-1-63190-314-4.
- ^ Berita antropologi. Facultas Sastra, Djurusan Antropologi, Universitas Indonesia. 1980. hlm. 57. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Rodent Outbreaks: Ecology and Impacts (dalam bahasa Inggris). Int. Rice Res. Inst. 2010. hlm. 135. ISBN 978-971-22-0257-5. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ S.H.,M.H, Defriatno (2023). IMPLEMENTASI NILAI KEARIFAN LOKAL BUGIS SIRI, GETTENG DAN ADA TONGENG: dalam mewujudkan pemerintahan yang baik. Penerbit Adab. ISBN 978-623-497-626-7.
- ^ Suhra, Sarifah; Rosita (2022-01-17). Halijah, Sarifah; Nursabaha, Sarifah (ed.). Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Ritual Maddoja Bine: Kontribusi Kearifan Lokal Petani Bugis dalam Mewujudkan Moderasi Beragama (dalam bahasa Inggris). Vol. Cet. 1. Tulungagung: Akademia Pustaka. ISBN 978-623-6364-52-9.