Modernisasi ekologis
Modernisasi ekologis adalah teori dalam sosiologi lingkungan yang menganalisis hubungan antara perkembangan institusional (lembaga-lembaga sosial, politik, ekonomi, dan hukum yang membentuk struktur masyarakat) dan isu-isu lingkungan, dengan menekankan perlunya restrukturisasi ekologis dalam produksi dan konsumsi di masyarakat modern untuk mencapai keberlanjutan.[1] [2] Dalam pendekatan ini, lembaga dan proses politik dapat dimodernisasi agar mampu mengarahkan perekonomian menuju perbaikan lingkungan.[3]
Modernisasi ekologis merupakan pendekatan dalam menangani permasalahan lingkungan yang berpendapat bahwa krisis ekologis dapat diselesaikan melalui jalur politik, ekonomi, dan teknologi, tanpa harus merombak institusi atau struktur kekuasaan yang telah ada, serta tetap mempertahankan pertumbuhan ekonomi.[3][4] Konsep ini pertama kali muncul pada awal tahun 1980-an dan berfokus pada peran negara dan pasar dalam mendorong reformasi lingkungan.[5][6]
Sejarah
[sunting | sunting sumber]Gagasan tentang modernisasi ekologis pertama kali muncul pada awal tahun 1980-an dan diperkenalkan oleh sekelompok akademisi yang berafiliasi dengan Free University dan Social Science Research Centre di Berlin.[7] Tokoh-tokoh awal yang berperan penting dalam merumuskan teori ini antara lain Joseph Huber, Martin Jänicke, dan Udo E. Simonis. Gagasan ini muncul sebagai upaya rekonsiliasi antara agenda pertumbuhan ekonomi dengan tuntutan keberlanjutan lingkungan, dengan pendapat bahwa modernisasi ekologis adalah tahap yang tidak dapat dihindari dalam evolusi masyarakat industri.[8] Konsep ini mengusung proposisi utama bahwa pertumbuhan ekonomi dapat diadaptasi untuk memenuhi tujuan-tujuan lingkungan. Selain itu, kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan diyakini memiliki kapasitas untuk memperbaiki, bahkan membalikkan, kerusakan lingkungan yang timbul akibat proses pertumbuhan ekonomi itu sendiri.[9][10]
Konsep
[sunting | sunting sumber]Modernisasi Ekologis merupakan proses inovasi dan penyebaran teknologi yang berdampak positif terhadap lingkungan serta meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya. Konsep ini menekankan transisi dari struktur teknologi yang menghasilkan polusi tinggi menuju basis teknologi ekonomi yang lebih ramah lingkungan. Proses modernisasi ekologis dipengaruhi oleh kebijakan publik dan orientasi pasar. Dalam kajian kebijakan lingkungan, istilah ini digunakan untuk menjelaskan kebijakan yang tidak hanya mengendalikan polusi, tetapi juga mendorong inovasi industri hijau. [11][12]
Tujuan utama dari modernisasi ekologis adalah memisahkan pertumbuhan ekonomi dari kerusakan lingkungan, sehingga pembangunan ekonomi tidak selalu diikuti oleh degradasi lingkungan. Beberapa konsep serupa yang digunakan saat ini antara lain pembangunan hijau, inovasi hijau, pertumbuhan ekonomi hijau, Green New Deal, dan transisi menuju ekonomi hijau.[13][14][15]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ^ "Ecological Modernization - an overview | ScienceDirect Topics". www.sciencedirect.com. Diakses tanggal 2025-09-25.
- ^ Satoh, Keiichi (2025-03-20). Almeida, Paul (ed.). Ecological Modernization Theory and Climate Action (dalam bahasa Inggris) (Edisi 1). Oxford University Press. doi:10.1093/oxfordhb/9780197762097.013.0005. ISBN 978-0-19-776209-7.
- ^ a b Gibbs, David (2017). Ecological Modernization (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons, Ltd. hlm. 1–13. doi:10.1002/9781118786352.wbieg0434. ISBN 978-1-118-78635-2.
- ^ Ali, Mohammad (2013-01-01). Ali, Mohammad (ed.). Chapter 5 - Issues of Sustainability Assessment. Boston: Academic Press. hlm. 59–71. ISBN 978-0-12-407196-4.
- ^ Murphy, Joseph (2000-02-01). "Ecological modernisation". Geoforum. 31 (1): 1–8. doi:10.1016/S0016-7185(99)00039-1. ISSN 0016-7185.
- ^ Hajer, Maarten A. (1997-09-18). The Historical Roots of Ecological Modernization. Oxford University PressOxford. hlm. 73–103. ISBN 0-19-829333-X.
- ^ Wang, Huiping; Huang, Yuezhan (2025-03-01). "Spatial correlation network of Chinese-style ecological modernization and its influencing factors". Ecological Indicators. 172: 113297. doi:10.1016/j.ecolind.2025.113297. ISSN 1470-160X.
- ^ Bakari, Mohamed El-Kamel (2017-09-05). The Dilemma of Sustainability in the Age of Globalization: A Quest for a Paradigm of Development (dalam bahasa Inggris). Bloomsbury Publishing USA. hlm. 90–91. ISBN 979-8-216-32720-2. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Huber, Joseph (2000). <269::aid-jepp58>3.0.co;2-u "Towards industrial ecology: sustainable development as a concept of ecological modernization". Journal of Environmental Policy and Planning. 2 (4): 269–285. doi:10.1002/1522-7200(200010/12)2:4<269::aid-jepp58>3.0.co;2-u. ISSN 1523-908X.
- ^ Giorgi, Liana; Redclift, Michael (2000-01). <12::aid-eet213>3.0.co;2-# "European environmental research in the social sciences: research into ecological modernization as a 'boundary object'". European Environment. 10 (1): 12–23. doi:10.1002/(sici)1099-0976(200001/02)10:1<12::aid-eet213>3.0.co;2-#. ISSN 0961-0405.
- ^ Walz, Rainer (2015): Green Industrial Policy in Europe. Intereconomics 50 (3), hlm. 145–152
- ^ Altenburg, Tilman; Assmann, Claudia (2017): Green Industrial Policy. Concept, Policies, Country Experiences. Geneva, Bonn: UN Environment; German Development Institute
- ^ UNEP (United Nations Environment Programme) (2011): Towards a Green Economy: Pathways to Sustainable Development and Poverty Eradication. Geneva: UNEP.
- ^ OECD (2011): Towards Green Growth. Paris: OECD
- ^ Jörgens, Helge; Knill, Christoph, ed. (2023). Routledge Handbook of Environmental Policy. Erscheinungsort nicht ermittelbar: Taylor & Francis. hlm. 69–70. ISBN 978-0-367-48992-2. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)