Muara Gusik, Bongan, Kutai Barat

Basis Pengetahuan Terbuka Wikipedia Indonesia
Muara Gusik
Kantor petinggi Muara Gusik
Kantor kepala kampung Muara Gusik
Negara Indonesia
ProvinsiKalimantan Timur
KabupatenKutai Barat
KecamatanBongan
Kodepos
75772
Kode Kemendagri64.07.12.2009 Suntingan nilai di Wikidata
Luas... km²
Jumlah penduduk... jiwa


Muara gusik adalah sebuah kampung yang berada di pesisir sungai bongan kiri atau sungai nungan kiri, “Muara gusik” nama ini berasal dari nama sungai gusiq yang bermuara pada sungai bongan. sungai gusik memiliki dua cabang yaitu gusiq kanan dan gusiq kiri atau teban, yang terletak sekitar 6 kilo dari kampung yang sekarang.

Sejarah Kampung

[sunting | sunting sumber]

Berasal dari keturunan Lamin Beliang Kaluq, yang berlokasi di gunung batu bulatn, tutunan tersebut pindah ke sungai Gusiq kanan di Muara Saka meaq dan membuat lamin Pakaeq, kemudian pindah lagi ke Lamin Sanggaq, Lamin Bentas, Lamin Kiluq, Lamin Gunung Lepeng semua lamin tersebut berada di Sungai Gusiq kanan.

Bersamaan dengan adanya Lamin tersebut diatas di sungai Teban gusiq kiri juga ada beberapa Lamin serupa seperti di sungai kelemiran yang berlokasi di Muara sungai Pembay, Lamin Kenduaq, Lamin Gunung Petung dan terakhir pindah ke Gunung Yangger dan mendirikan Lamin Yangger dan Lamin Geronggong serta Lamin Penjiwan yang berlokasi di daerah Sungai Emprodan dan meliputi sampai Lamin Jono.

Dengan beberapa turunan tersebut secara lahiriah danbatiniah terjadilah percampuran darah, sehingga tidak terputus-putus dengan wilayah hukum adat tersebut dengan wilayah yang bersangkutan terbentuklah suatu kesatuan masyarakat hokum dengan pembaharuan pindah ke Sungai Nungan Kiri yang pada mulanya akan berlokasi di Sungai Nungan-Mapai yaitu gabungan Kampung Muara Gusik dengan Kampung Jambuk pada tahun 1905.

Dengan beberapa pertimbangan oleh tokoh-tokoh dan pengurus kampong dipindahkan lokasi tempat tinggal tetap diarahkan pada asal keluarga keturunan mereka bermula tempat tinggal yaitu Muara Gusik, cabang sungai Nungan Kiri atau Kedang Kiwa, dan dinamakanlah Kampung Muara Gusik karena disekitar Muaranya banyak terdapat keresik ( pasir ) dan diperkirakaan penetapan Kampung secara defenitif oleh orang tua dulu pada tahun 1905.

Awal nya Masyarakat asli Muara gusik tinggal di hutan belantara mengikuti sunggai gusiq dan pendaratan sehingga orang-orang benuaq dahulu menyebut orang gusiq dengan sebutan bawo (Orang-orang yang tinggal di hutan belantara dan gunung-gunung), ini di tandakan dengan banyak nya berdiri lamin lamin (Rumah panjang tradisonal dayak) yang tinggal menyisakan tiang-tiang nya saja di pesisir sungai/hutan gusiq kanan dan gusiq kiwa.

Orang-orang pertama yang mendiami wilayah Gusiq/Muara gusik di sebut orang asli suku benuaq bawo/Dayak benuaq Bawo yang berbahasa benuaq bawo dan orang-orang kutai sehingga saat ini bahasa yang di gunakan adalah bahasa kutai berdialek benuaq, bahasa benuaq dan bawo. Awal nya tepat pada kampung muara gusik ini tidak ada penduduk yang tinggal sehingga di perkirakan pada tahun 1960-han setelah beberapa kali perpindahan orang-orang dalam gusiq hingga pendaratan gusiq di pindahkan tetap oleh TNI ke tempat yang sekarang di karena kan untuk melindungi masyarakat dari gerakan separatis Ibnu Hajar yang di sebut gerombolan.

Di perkirakan penduduk asli gusiq terbagi luas masing masing keluarga yang mendiami lamin gusiq kiwa, gusiq kanan nama daerah tersebut berupa

Guha, Enteu, Kehes, Gerongong, Tihang, Teban, Empare, Banggiq, Kaliq, Kenduaq, berombong, Saka meaq, Liang nayuq, Nyender, Yangger, Saka duaq, Kiluq, Empatung, Apar telihan, Batang buku, Labuq, Kanganau, Kangimat, Peris, Pridan, Bentas, Batu bulan, Muara bahan, Bangkai kuli, Kelemairan, Mblour, Arum, Prodan, Tempuro, Munyau, Pemangkuq, Slongseng, Penjiwan, Kelimas, Jemulau, Loh kunyit, Lamant, Roga, Pembay, Payang, Derungan, Telinga bensa, Kelideng, Tengkong, Layang, Sembul, Kekeq, Merijeng, Tebelon, Lebaho terap, Kramuq, Arumate, Nyabeu, Gunung belimbing, Keledang, Tempudau, Burit lutung, Leang, Kakah bungkat, Kombat, Pucuk mukaq, (Dll)


Jarang di dengar kisah sejarah yang ada di muara gusik namun banyak cerita yang sebenar nya menarik bukan hanya adat yang kental seperti upacara beliant, buang bangkai dll, tapi juga ada sejarah kerajaan-kerajaan kecil seperti kerajaan arum, telingga bensa, kerajaan penjiwan, Lamatn Dll.

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]


Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil
Pemerintah Kota
Samarinda
Kontak
© 2026 Pemerintah Kota SamarindaAll Rights Reserved
Dikembangkan olehEnter(Wind)