Pemangsaan penyergapan
Pemangsaan penyergapan merupakan taktik pemangsaan dari hewan karnivora dengan cara sembunyi-sembunyi atau memikat mangsanya dan menangkapnya secara tiba-tiba. Pemangsa jenis ini memiliki karakteristik seperti pendekatan untuk menerjang mangsanya dalam waktu singkat, akselerasi dan kecepatan tinggi, serta menjaga kontrol terhadap dinamika serangan. Posisi keberadaan pemangsa juga harus luput dari pengamatan mangsa.[1]
Strategi
[sunting | sunting sumber]
Jebakan
[sunting | sunting sumber]Membuat jebakan adalah salah satu strategi yang dilakukan oleh beberapa pemangsa penyergap seperti undur-undur, laba-laba penenun jaring, dan lalat kadis. Pembuatan jebakan memiliki tujuan antara lain adalah membantu menaklukkan mangsa yang lebih besar atau bergerak cepat dan meningkatkan jangkauan serangan pemangsa penyergap.[2]

Mimikri agresif
[sunting | sunting sumber]Mimikri agresif merupakan strategi yang digunakan pemangsa atau parasit untuk menyerupai spesies tidak berbahaya, sehingga dapat menghindari deteksi oleh mangsa atau inang. Mimikri agresif berbeda secara mendasar dengan mimikri defensif. Peniru dalam mimikri defensif diuntungkan karena disangka sebagai makhluk berbahaya. Dalam mimikri agresif, peniru seperti pemangsa atau parasit, menyerupai mangsanya atau organisme lain yang dianggap bermanfaat atau tidak berbahaya oleh mangsa, sehingga memungkinkan mereka mendekati target tanpa dicurigai.[3] Salah satu contoh dari pemangsa penyergap yang memiliki strategi ini adalah belalang anggrek yang berusaha meniru bunga anggrek untuk menarik mangsanya, serangga penyerbuk, untuk datang kepada mereka.[4] Contoh lain pemangsa ini adalah kura-kura aligator yang memanfaatkan lidahnya yang berwarna merah muda dan mampu menggeliat untuk membuat mangsanya mengira bahwa lidah tersebut adalah cacing.[5]
Deteksi mangsa
[sunting | sunting sumber]Terdapat berbagai macam metode yang digunakan pemangsa penyergap untuk mendeteksi mangsanya seperti merasakan kehangatan mangsa atau menggunakan sensor mekanis. Ular bandotan berdekik mampu merasakan mangsanya melalui keahliannya dalam mengembangkan reseptor inframerah.[6] Reseptor tersebut berupa sepasang lubang yang berada di posisi bagian depan kepala dan dilengkapi oleh membran sensoris di setiap lubangnya.[7] Di sisi lain, terdapat hewan yang mengandalkan cara yang berbeda dalam mendeteksi mangsa, seperti Bathypterois grallator atau ikan tripod laut dalam yang mengandalkan penempatan sirip dadanya ke atas maupun ke depan untuk mengidentifikasi mangsanya. Ikan tersebut tidak mengandalkan matanya untuk menemukan mangsanya.[8]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ^ deVries, M. S.; Murphy, E. A. K.; Patek, S. N. (2012-12-15). "Strike mechanics of an ambush predator: the spearing mantis shrimp". Journal of Experimental Biology (dalam bahasa Inggris). 215 (24): 4374–4384. doi:10.1242/jeb.075317. ISSN 1477-9145.
- ^ Miler, K.; Scharf, I. (2022). "Wind impairs pit trap construction and hunting success in a pit-building predator". Journal of Zoology (dalam bahasa Inggris). 317 (3): 185–194. doi:10.1111/jzo.12973. ISSN 1469-7998.
- ^ Ramya N, Padala Vinod Kumar, Keerthi MC, Srinivasa N and Ramesh KB (2017). "Aggressive mimicry: A potential tool of Predators". Journal of Pharmacognosy and Phytochemistry. 6 (5): 1305–1307. ISSN 2278-4136. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
- ^ O’Hanlon, James C.; Holwell, Gregory I.; Herberstein, Marie E. (2014-01). "Pollinator Deception in the Orchid Mantis". The American Naturalist. 183 (1): 126–132. doi:10.1086/673858. ISSN 0003-0147.
- ^ Glorioso, Brad M.; Carr, John L.; Franklin, Carl J.; Gordon, Mandi; Johnson, Aaron C.; Kessler, Ethan J.; Munscher, Eric; Pearson, Luke; Ricardez, Viviana (2023-06-14). "Condition and Coloration of Lingual Lures of Alligator Snapping Turtles". Southeastern Naturalist. 22 (sp12). doi:10.1656/058.022.0sp1227. ISSN 1528-7092.
- ^ Shine, R.; Sun, L.-X. (2003). "Attack strategy of an ambush predator: which attributes of the prey trigger a pit-viper's strike?". Functional Ecology (dalam bahasa Inggris). 17 (3): 340–348. doi:10.1046/j.1365-2435.2003.00738.x. ISSN 1365-2435.
- ^ Goris, R. C.; Terashima, S. (1976-01-01). Iggo, A.; Ilyinsky, O. B. (ed.). The Structure and Function of the Infrared Receptors of Snakes. Somatosensory and Visceral Receptor Mechanisms. Vol. 43. Elsevier. hlm. 159–170.
- ^ Davis, Matthew P.; Chakrabarty, Prosanta (2011-04). "Tripodfish (Aulopiformes: Bathypterois ) locomotion and landing behaviour from video observation at bathypelagic depths in the Campos Basin of Brazil". Marine Biology Research (dalam bahasa Inggris). 7 (3): 297–303. doi:10.1080/17451000.2010.515231. ISSN 1745-1000.