Perang Saudara Tiongkok

Basis Pengetahuan Terbuka Wikipedia Indonesia
Perang Saudara Tiongkok
Bagian dari Periode antarperang, Revolusi Komunis Tiongkok dan Perang Dingin di Asia
Searah jarum jam dari kiri atas:
Tanggal
  • 1 Agustus 1927 – 26 Desember 1936 (Fase pertama)[1]
    (9 tahun, 4 bulan, 3 minggu dan 4 hari)
  • 10 Agustus 1945 – 7 Agustus 1950 (Fase kedua)
    (4 tahun, 11 bulan dan 4 minggu)
  • 7 Agustus 1950 – 9 Februari 1961 (Fase ketiga)
    (10 tahun, 6 bulan dan 2 hari)
LokasiTiongkok Daratan (termasuk Hainan) dan pesisirnya, perbatasan Tiongkok–Myanmar
Hasil

Kemenangan Partai Komunis Tiongkok

Perubahan
wilayah
  • Kontrol Partai Komunis Tiongkok atas Tiongkok Daratan, termasuk Hainan
  • Proklamasi Republik Rakyat Tiongkok di Tiongkok Daratan
  • Pemerintah Republik Tiongkok melakukan evakuasi ke Pulau Taiwan
  • Kelompok nasionalis menduduki sebagian wilayah Perbatasan Tiongkok–Myanmar
  • Pihak terlibat
    1927–1936
    Kuomintang
    1927–1936
    Partai Komunis Tiongkok
    Pemerintah Soviet Minxi [zh] (1929–1931)
    Pemerintahan Rakyat Fujian (1933–1934)
    Pemerintah Soviet Qiongya [zh] (1928–1934)
    1945–1950

    Kuomintang

    Republik Tiongkok (1912–1949) Republik Tiongkok
    1945–1950

    Partai Komunis Tiongkok

    Yan'an Soviet (1937–1950)
    Pasukan pra-PLA dan milisi
    Republik Rakyat Mongolia Dalam (1945–1945)
     Republik Rakyat Tiongkok (1949)

    1950–1961:
     Republik Tiongkok

    1950–1961:
     Republik Rakyat Tiongkok

    Tokoh dan pemimpin
    Kekuatan
    • 2 juta pasukan reguler
    • 2,3 juta milisi (Agustus 1948)[2][3][4]
    • 1,2 juta pasukan reguler
    • 2,6 juta milisi (Juli 1945)[3][5]
    Korban
    • 263.800 tewas
    • 190.000 hilang
    • 850.000 terluka (fase kedua)[9][8]
    • total lebih dari 1,3 juta (fase kedua)
    • perkiraan 7 juta (fase pertama)[10]
    • perkiraan 2,5 juta (fase kedua) [11]
    • hingga total 6 juta (fase kedua)[8]
    Perang Saudara Tiongkok
    Hanzi tradisional: 國共內戰
    Hanzi sederhana: 国共内战
    Makna harfiah: Perang saudara Kuomintang-Komunis

    Perang Saudara Tiongkok[a] (Hanzi sederhana: 国共内战; Hanzi tradisional: 國共內戰; Pinyin: Guó-Gòng Nèizhàn) adalah perang sipil di Tiongkok dengan pertempuran antara pasukan yang loyal kepada pemerintah Republik Tiongkok pimpinan Kuomintang (KMT), dan pasukan yang loyal kepada Partai Komunis Tiongkok (PKT).[12] Perang ini dimulai pada bulan Agustus 1927, bersamaan dengan Ekspedisi Utara Chiang Kai-Shek, dan secara esensial berakhir ketika pertempuran aktif utama berhenti pada tahun 1950.[13] Konflik ini pada akhirnya menghasilkan dua negara de facto, Republik Tiongkok di Taiwan dan Republik Rakyat Tiongkok di Tiongkok daratan, masing-masing secara resmi mengklaim sebagai pemerintahan Tiongkok yang sah.

    Perang ini merepresentasikan perpecahan ideologis antara pihak Komunis PKT dan KMT yang mengusung Nasionalisme, yang berlangsung terputus-putus sampai akhir tahun 1937, ketika kedua belah pihak bersatu untuk membentuk Front Persatuan Kedua untuk melawan invasi Jepang dan mencegah Jepang memperluas invasi yang sudah masuk sebelumnya ke Manchuria pada tahun 1931. Perang Saudara Tiongkok dalam skala penuh berlanjut kembali pada tahun 1946, setahun setelah berakhirnya pertempuran dengan Jepang. Empat tahun kemudian terjadi gencatan pertempuran militer besar, dengan baru saja berdirinya Republik Rakyat Tiongkok yang mengendalikan Tiongkok daratan (termasuk Hainan) dan yurisdiksi Republik Tiongkok terbatas untuk Taiwan, Penghu, Kinmen, Matsu dan beberapa pulau terpencil.

    Sampai saat ini tidak ada gencatan senjata atau perjanjian damai yang pernah ditandatangani, dan terdapat perdebatan mengenai apakah perang saudara ini telah berakhir secara resmi.[14] Hubungan Lintas Selat telah terhalang oleh ancaman militer dan tekanan politik dan ekonomi, khususnya atas status politik Taiwan, dengan kedua pemerintahan secara resmi berpegang pada "kebijakan Satu Tiongkok". Republik Rakyat Tiongkok secara aktif masih mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan terus mengancam Republik Tiongkok dengan invasi militer jika Republik Tiongkok secara resmi mendeklarasikan kemerdekaan dengan mengganti namanya dan mendapatkan pengakuan internasional sebagai "Republik Taiwan". Sebaliknya, Republik Tiongkok membalas dengan mengklaim Tiongkok daratan, dan mereka berdua melanjutkan pertarungan atas pengakuan diplomatik. Saat ini perang sepertinya terjadi pada front politik dan ekonomi dalam bentuk hubungan lintas selat; tetapi, kedua negara de facto terpisah ini memiliki hubungan ekonomi yang erat.[15]

    Latar belakang

    [sunting | sunting sumber]

    Setelah keruntuhan Dinasti Qing dan Revolusi Xinhai, Sun Yat-sen menjabat sebagai Presiden Republik Tiongkok yang baru berdiri dan tidak lama kemudian digantikan oleh Yuan Shikai yang menyalahgunakan kekuasaannya dan mencoba menjadi kaisar namun akhirnya gagal.[16] Setelah Yuan meninggal pada 1916, Tiongkok dilanda perebutan kekuasaan.

    Kuomintang yang dipimpin oleh Sun Yat-sen kemudian membentuk pemerintahan baru di Guangzhou untuk menyaingi para panglima perang yang menguasai Tiongkok pada saat itu dan menghambat pembentukan pemerintah pusat yang kuat dan solid.[17] Setelah gagal mendapatkan dukungan dari negara-negara barat, Sun berpaling ke Uni Soviet. Pada 1923, Sun dan perwakilan Uni Soviet Adolph Joffe bertemu di Shanghai dimana Uni Soviet menjanjikan dukungan kepada Sun Yat-sen dalam menyatukan Tiongkok di Manifesto Sun-Joffe, sebuah deklarasi kerjasama antara Kuomintang, Komintern dan Partai Komunis Tiongkok (CCP).[18] Agen Komintern Mikhail Borodin tiba di Tiongkok pada 1923 untuk membawa bantuan dan mereorganisasi Partai Komunis Tiongkok dan Kuomintang berdasarkan model yang diterapkan oleh Partai Komunis Uni Soviet. Partai Komunis Tiongkok yang awalnya masih berbentuk sebagai sebuah kelompok studi dan Kuomintang secara resmi berkoalisi di Front Persatuan Pertama.[17][18]

    Pada 1923, Sun mengutus Chiang Kai-shek untuk bersekolah di Moskow dalam ilmu politik dan militer selama beberapa bulan.[19] Chiang kemudian kembali dan menjadi kepala sekolah Akademi Militer Whampoa yang kemudian mengajari generasi-generasi pemimpin militer yang baru. Uni Soviet memberikan materi pembelajaran, organisasi dan juga materi seperti munisi.[19] Mereka juga memberikan pendidikan tentang berbagai teknik mobilisasi massa. Dengan bantuan ini, Sun membentuk "pasukan partai" yang berdedikasi, yang dengannya ia berharap dapat mengalahkan para panglima perang secara militer. Anggota PKT juga hadir di akademi tersebut, dan banyak dari mereka menjadi instruktur, termasuk Zhou Enlai, yang diangkat menjadi instruktur politik.[20]

    Anggota Partai Komunis Tiongkok juga diperbolehkan untuk bergabung dengan Kuomintang secara basis individu.[21] PKT masih merupakan partai kecil dengan jumlah anggota 300 pada 1922 dan hanya 1,500 pada tahun 1925.[22] Pada 1923, Kuomintang memiliki 50,000 anggota.[22]

    Namun setelah Sun meninggal dunia pada 1925, Kuomintang terpecah menjadi dua secara haluan politik, yakni Kuomintang Kiri dan Kanan. Anggota Kuomintang khawatir bahwa Uni Soviet akan mencaplok Kuomintang dari dalam dengan menggunakan PKT. Partai Komunis Tiongkok kemudian mulai menggerakan oposisi terhadap Ekspedisi ke Utara, mengesahkan resolusi menentangnya dalam rapat partai.

    Kemudian, pada Maret 1927, KMT mengadakan rapat partai kedua di mana Soviet membantu mengesahkan resolusi menentang Ekspedisi dan membatasi kekuasaan Chiang. Tak lama kemudian, KMT akan terpecah belah dengan jelas.

    Pembantaian Shanghai dan Ekspedisi Utara

    [sunting | sunting sumber]

    Pada awal 1927, persaingan antara KMT dan CCP menyebabkan pemecahan di kalangan revolusioner. CCP dan KMT sayap kiri memindahkan ibukota mereka dari Guangzhou ke Wuhan, dimana pengaruh terhadap komunisme sangat kuat.[22] Kuomintang sayap kanan pimpinan Chiang Kai-shek dan Li Zongren yang baru saja mengalahkan pasukan pimpinan Sun Chuanfang pindah ke arah timur menuju Jiangxi. Penganut kiri Kuomintang menolak permintaan Chiang untuk mengusir Partai Komunis Tiongkok dan menghapus pengaruhnya di dalam Kuomintang, sementara Chiang mengecam politikus Kuomintang kiri karena mereka telah mengkhianati Tiga Prinsip Rakyat yang dicetuskan oleh Sun Yat-sen dengan mengambil perintah dari Uni Soviet. Menurut Mao Zedong, toleransi Chiang terhadap komunis perlahan-lahan menurun sembari kekuatannya meningkat.[23]

    Pada tanggal 7 April, Chiang dan beberapa pemimpin KMT lainnya mengadakan pertemuan, di mana mereka mengusulkan bahwa kegiatan Komunis mengganggu tatanan sosial dan ekonomi dan harus dihentikan agar revolusi Nasionalis dapat berjalan. Pada tanggal 12 April, banyak komunis di dalam KMT dibersihkan di Shanghai melalui ratusan penangkapan dan eksekusi atas perintah Jenderal Bai Chongxi.[17][24] Partai Komunis Tiongkok menyebut insiden ini sebagai Pembantaian Shanghai, Insiden 12 April, atau awal mulainya Teror Putih.[25] Insiden ini juga memperburuk hubungan Chiang dengan Wang Jingwei yang saat itu memimpin Kuomintang sayap kiri. Sayap kiri Kuomintang juga mengeluarkan para komunis keluar dari pemerintahan saingan mereka di Wuhan, dan kemudian mereka digulingkan oleh Chiang. Kuomintang kemudian melanjutkan ekspedisi mereka untuk menyatukan Tiongkok dan mereka menduduki Beijing pada Juni 1928.[26] Kemudian, mayoritas Tiongkok Timur berada di kendali Pemerintahan Nasionalis yang berpusat di Nanjing dan kemudian secara cepat diakui sebagai Tiongkok oleh negara-negara internasional. Kuomintang pimpinan Chiang Kai-shek kemudian mengumumkan, dengan kesesuaian dengan keinginan Sun Yat-sen, melaksanakan tiga fase revolusi: persatuan militer, pengawasan politik, dan demokrasi konstitusional.[27]

    Pemberontakan Komunis (1927–1937)

    [sunting | sunting sumber]

    Pada 1 Agustus 1927, Partai Komunis melancarkan pemberontakan di Nanchang melawan Pemerintahan Nasionalis di Wuhan. Konflik ini menjadi momen kelahiran Tentara Merah Buruh dan Petani Tiongkok.[1][28] Pada tanggal 4 Agustus, pasukan utama Tentara Merah meninggalkan Nanchang dan menuju ke selatan untuk menyerang Guangdong. Pasukan Nasionalis dengan cepat merebut kembali Nanchang sementara anggota PKT yang tersisa di Nanchang bersembunyi.[1] Pertemuan PKC pada 7 Agustus menegaskan tujuan partai adalah merebut kekuasaan politik dengan kekerasan, tetapi PKT dengan cepat ditindas keesokan harinya oleh pemerintah Nasionalis di Wuhan, yang dipimpin oleh Wang Jingwei. Pada 14 Agustus, Chiang Kai-shek mengumumkan pengunduran dirinya sementara, karena faksi Wuhan dan faksi Nanjing dari Kuomintang kembali bersekutu dengan tujuan bersama untuk menindas PKT setelah perpecahan sebelumnya. Wang Jingwei mengambil alih kepemimpinan KMT setelah Chiang.

    Upaya kemudian dilakukan oleh pihak komunis untuk menguasai kota-kota seperti Changsha, Shantou dan Guangzhou. Tentara Merah, yang terdiri dari mantan tentara Tentara Revolusioner Nasional (NRA) yang memberontak serta petani bersenjata, menguasai beberapa wilayah di Tiongkok selatan.[28] Pasukan Kuomintang tetap berupaya untuk meredam pemberontakan komunis.[28] Kemudian, pada bulan September, Wang Jingwei dipaksa keluar dari Wuhan. Bulan September juga terjadi pemberontakan bersenjata di pedesaan yang gagal, yang dikenal sebagai Pemberontakan Panen Musim Gugur, yang dipimpin oleh Mao Zedong.[29] Borodin kembali ke Uni Soviet pada Oktober via Mongolia. Pada November, Chiang pergi ke Shanghai dan mengundang Wang Jingwei untuk masuk ke pemerintahannya. Pada tanggal 11 Desember, PKT memulai Pemberontakan Guangzhou, mendirikan sebuah negara soviet di sana keesokan harinya, namun kehilangan kota tersebut pada tanggal 13 Desember karena serangan balik di bawah perintah Jenderal Zhang Fakui. Pada 16 Desember, Wang Jingwei melarikan diri ke Prancis. Sekarang ada tiga ibu kota di Tiongkok: ibu kota republik yang diakui secara internasional di Beijing, ibu kota Partai Komunis Tiongkok dan KMT sayap kiri di Wuhan, dan rezim KMT sayap kanan di Nanjing, yang akan tetap menjadi ibu kota KMT selama dekade berikutnya.[30][31]

    Hal ini menandai dimulainya perjuangan bersenjata selama sepuluh tahun, yang dikenal di daratan Tiongkok sebagai "Perang Saudara Sepuluh Tahun" (十年内战) yang berakhir dengan Insiden Xi'an, ketika Chiang Kai-shek terpaksa membentuk Front Persatuan Kedua melawan pasukan penyerang dari Kekaisaran Jepang. Pada tahun 1930, Perang Zhongyuan pecah sebagai konflik internal KMT; diluncurkan oleh Feng Yuxiang, Yan Xishan, dan Wang Jingwei. Perhatian dialihkan untuk membasmi sisa-sisa kegiatan PKT dalam serangkaian lima kampanye pengepungan.[32] Kampanye pertama dan kedua gagal, dan kampanye ketiga dibatalkan karena Insiden Mukden. Kampanye militer keempat (1932–1933) mencapai beberapa keberhasilan awal, namun tentara Chiang mengalami kekalahan telak ketika mereka mencoba menembus jantung Republik Soviet Tiongkok pimpinan Mao. Selama kampanye ini, pasukan KMT menyerang dengan cepat wilayah PKT, namun dengan mudah direbut oleh wilayah pedesaan yang luas dan tidak mampu mengkonsolidasikan pijakan mereka.

    Akhirnya, pada akhir tahun 1934, Chiang melancarkan kampanye kelima yang melibatkan pengepungan sistematis wilayah Soviet Jiangxi dengan benteng pertahanan.[33] Strategi blockhouse ini dirancang dan dilaksanakan sebagian oleh para penasihat Nazi yang baru direkrut.[34] Tidak seperti kampanye-kampanye sebelumnya di mana mereka melakukan penetrasi mendalam dalam satu serangan, kali ini pasukan KMT dengan sabar membangun benteng-benteng, masing-masing berjarak sekitar delapan kilometer (lima mil), untuk mengepung wilayah Komunis dan memutus pasokan dan sumber makanan mereka.[33]

    Jika Tiongkok akan jatuh ke imperialisme, kita mungkin masih berdiri sebagai bangsa yang diduduki. Tapi jika itu jatuh ke komunis, kita bakal ditolak bahkan status budak!

    —Chiang Kai-shek, telegram kepada Zhang Xueliang Nanchang, 22 Agustus 1931[35]

    Perang Tiongkok-Jepang Kedua (1937–1945)

    [sunting | sunting sumber]

    Pada 1937, Jepang melancarkan invasi skala penuh melawan Tiongkok dan pasukannya yang berperalatan lengkap menyerbu para pembela KMT di wilayah utara dan pesisir Tiongkok. Setelah serangan Jepang di Pearl Harbor pada 7 Desember 1941, Perang Tiongkok-Jepang menjadi bagian dari Perang Dunia II.

    Persekutuan antara Kuomintang dan Komunis hanya dalam nama saja.[36] Tidak seperti Kuomintang yang berperang dengan perang konvensional, pihak komunis memilih untuk berperang dengan Jepang dengan perang gerilya. Tingkat koordinasi antara Kuomintang dan komunis selama Perang Dunia II sangat minim.[36] Meskipun berada di Front Persatuan Kedua, kedua pihak masih saja bersaing atas kekuasaan terhadap "Tiongkok Bebas" (yakni, wilayah yang tidak dikuasai Jepang secara langsung atau dikuasai oleh negara boneka seperti Manchukuo. Yang semakin memperparah perpecahan di Tiongkok adalah terbentuknya rezim Wang Jingwei, sebuah pemerintahan boneka yang disponsori Jepang dan dipimpin oleh Wang Jingwei (sebelumnya seorang pemimpin penting KMT), yang didirikan untuk memerintah wilayah Tiongkok yang berada di bawah pendudukan Jepang.

    Situasi bagi kedua pihak memanas pada akhir 1940 dan awal 1941 saat kedua pihak mulai kembali berperang antar diri mereka. Pada Desember 1940, Chiang memerintahkan Angkatan Darat Keempat Baru yang berada dibawah komunis untuk mengevakuasi Anhui dan Jiangsu karena provokasi dan pelecehan terhadap pasukan KMT di daerah ini. Di bawah tekanan yang kuat, komandan Angkatan Darat Keempat Baru menurutinya. Tahun berikutnya mereka disergap oleh pasukan KMT selama evakuasi, yang menyebabkan ribuan kematian.[37] Sebagai reaksi, Partai Komunis mengakhiri kesepakatan mereka dengan Kuomintang dibawah Front Persatuan Kedua.[37]

    Untuk menghindari terjadinya perang saudara ditengah krisis nasional melawan Jepang, Amerika Serikat dan Uni Soviet mencoba meyakinkan Chiang dan Mao untuk kembali bekerja sama. Setelah insiden Angkatan Darat Keempat Baru, Presiden Franklin Delano Roosevelt mengutus seorang utusan khusus, Lauchlin Currie untuk berbicara dengan Chiang dan jajaran Kuomintang menyatakan kekhawatiran Amerika mengenai konflik Kuomintang dengan komunis dan berargumen bahwa konflik yang dimulai Chiang hanya akan memberi manfaat kepada Jepang. Sementara itu, Uni Soviet yang lebih pro-PKT mengirimkan sebuah telegram perintah kepada Mao pada 1941 untuk memeringati bahwa konflik antar Kuomintang dan komunis hanya akan memanfaatkan Jepang. Berkat upaya komunitas internasional, perang saudara ditengah perang besar dapat terhindari. Chiang mengkritik PKT pada tahun 1943 dengan artikel propaganda Takdir Tiongkok, yang mempertanyakan kekuatan PKT setelah perang, sementara PKT sangat menentang kepemimpinan Chiang dan menyebut rezimnya sebagai fasis dalam upaya untuk menghasilkan citra publik yang negatif. Kedua pemimpin tahu bahwa pertempuran mematikan telah dimulai di antara mereka.[38]

    Pada bulan Juli 1944, medan perang Tiongkok-Jepang Kedua mengalami ketegangan yang signifikan ketika pasukan Jepang melancarkan Operasi Ichi-Go, yang mengakibatkan kerugian teritorial yang besar bagi pemerintah Nasionalis. Pada periode yang sama, hubungan antara pemerintah Nasionalis dan Amerika Serikat menjadi semakin tegang karena persoalan komando militer dan koordinasi masa perang.

    Amerika yang memberikan mayoritas bantuan materi eksternal kepada Tiongkok memaksa Tiongkok untuk melakukan reorganisasi militer dan meminta agar Chiang menyerahkan komando tinggi kepada Jenderal Joseph Stilwell, komandan AS di palangan Burma-India-Tiongkok. Tuntutan ini bertepatan dengan perdebatan internal dalam pemerintahan Nasionalis mengenai kedaulatan dan kendali operasi militer. Saat yang sama, Amerika melaksanakan Misi Dixie untuk mengontak pihak komunis. Kedua hal ini mencerminkan penilaian ulang yang lebih luas terhadap kebijakan Amerika terhadap Tiongkok. Perkembangan ini terjadi bersamaan dengan memburuknya kondisi medan perang dan meningkatnya tekanan ekonomi di wilayah yang dikuasai kaum Nasionalis.[39][40]

    1. ^ Di Tiongkok daratan dewasa ini, tiga tahun terakhir perang (1947–1949) umumnya dikenal sebagai Perang Pembebasan (解放战争), dengan nama lengkap resmi Perang Pembebasan Rakyat Tiongkok (中国人民解放战争), atau nama alternatif Perang Revolusioner Internal Ketiga (第三次国内革命战争). Di Taiwan, perang ini dikenal dengan nama Perang Menumpas Pemberontakan dan Melawan Komunis (反共戡亂戰爭) sebelum tahun 1991 atau umumnya dikenal dengan nama Perang Sipil Nasionalis-Komunis (國共內戰/国共内战) di kedua belah pihak

    Referensi

    [sunting | sunting sumber]
    1. ^ a b c Li, Xiaobing (2012). China at War: An Encyclopedia. Bloomsbury. hlm. 295. ISBN 978-1-598-84415-3 – via Google Books. Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama "Li2012" didefinisikan berulang dengan isi berbeda
    2. ^ Li, Xiaobing (2007). A History of the Modern Chinese Army. University Press of Kentucky. ISBN 978-0-813-17224-8.
    3. ^ a b Hsiung, James C. (1992). China's Bitter Victory: The War With Japan, 1937–1945. M. E. Sharpe. ISBN 1-563-24246-X.
    4. ^ a b Sarker, Sunil Kumar (1994). The Rise and Fall of Communism. Atlantic. ISBN 978-8-171-56515-3.
    5. ^ Cao Qianfa (曹前发). 毛泽东的独创:"兵民是胜利之本". People's Daily (dalam bahasa Tionghoa). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 October 2020. Diakses tanggal 26 October 2020.
    6. ^ a b Ho. Studies in the Population of China. hlm. 253.
    7. ^ White, Matthew (2011). Atrocities. W. W. Norton. hlm. 381. ISBN 978-0-393-08192-3.
    8. ^ a b c Lynch, Michael (2010). The Chinese Civil War 1945–49. Osprey.
    9. ^ The History of the Chinese People's Liberation Army. Beijing: People's Liberation Army Press. 1983.
    10. ^ "Twentieth Century Atlas – Death Tolls". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 March 2011. Diakses tanggal 26 July 2017.
    11. ^ "Twentieth Century Atlas – Death Tolls". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 March 2011. Diakses tanggal 26 July 2017.
    12. ^ Gay, Kathlyn. [2008] (2008). 21st Century Books. Mao Zedong's China. ISBN 0-8225-7285-0. pg 7
    13. ^ Hutchings, Graham. [2001] (2001). Modern China: A Guide to a Century of Change. Harvard University Press. ISBN 0-674-00658-5.
    14. ^ Leslie C. Green. The Contemporary Law of Armed Conflict. hlm. 79.
    15. ^ So, Alvin Y. Lin, Nan. Poston, Dudley L. Contributor Professor, So, Alvin Y. [2001] (2001). The Chinese Triangle of Mainland China, Taiwan and Hong Kong. Greenwood Publishing. ISBN 0-313-30869-1.
    16. ^ So, Alvin Y.; Lin, Nan; Poston, Dudley, ed. (2001). The Chinese Triangle of Mainland China, Taiwan, and Hong Kong: Comparative Institutional Analyses. Contributions in Sociology. Vol. 133. Westport, CT: Greenwood. ISBN 978-0-313-30869-7. ISSN 0084-9278. OCLC 45248282.
    17. ^ a b c "Milestones: 1945–1952 – Office of the Historian". history.state.gov. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 May 2017. Diakses tanggal 2021-10-28.
    18. ^ a b March, G. Patrick. Eastern Destiny: Russia in Asia and the North Pacific. (1996). Greenwood. ISBN 0-275-95566-4. p. 205.
    19. ^ a b H. H. Chang, Chiang Kai Shek: Asia's Man of Destiny (Doubleday, 1944; reprint 2007 ISBN 1-4067-5818-3). p. 126.
    20. ^ Ho, Alfred Kuo-liang. (2004). China's Reforms and Reformers. Greenwood. ISBN 0-275-96080-3. p. 7.
    21. ^ March, G. Patrick. Eastern Destiny: Russia in Asia and the North Pacific. (1996). Greenwood. ISBN 0-275-95566-4. p. 205.
    22. ^ a b c Fairbank, John King. (1994). China: A New History. Harvard University Press. ISBN 0-674-11673-9.
    23. ^ Zedong, Mao. Thompson, Roger R. (1990). Report from Xunwu. Stanford University Press. ISBN 0-8047-2182-3.
    24. ^ Brune, Lester H. Dean Burns, Richard Dean Burns. (2003). Chronological History of U.S. Foreign Relations. Routledge. ISBN 0-415-93914-3.
    25. ^ Zhao, Suisheng. (2004). A Nation-state by Construction: Dynamics of Modern Chinese Nationalism. Stanford University Press. ISBN 0-8047-5001-7.
    26. ^ Guo, Xuezhi. (2002). The Ideal Chinese Political Leader: A Historical and Cultural Perspective. Greenwood. ISBN 0-275-97259-3.
    27. ^ Theodore De Bary, William. Bloom, Irene. Chan, Wing-tsit. Adler, Joseph. Lufrano Richard. Lufrano, John. (1999). Sources of Chinese Tradition. Columbia University Press. ISBN 0-231-10938-5. p. 328.
    28. ^ a b c Lee, Lai to. Trade Unions in China: 1949 To the Present. (1986). National University of Singapore Press. ISBN 9971-69-093-4.
    29. ^ Blasko, Dennis J. (2006). The Chinese Army Today: Tradition and Transformation for the 21st Century. Routledge. ISBN 0-415-77003-3.
    30. ^ Esherick, Joseph. (2000). Remaking the Chinese City: Modernity and National Identity, 1900–1950. University of Hawaii Press. ISBN 0-8248-2518-7.
    31. ^ Clark, Anne, Klein, Donald. eds. (1971). Biographic Dictionary of Chinese Communism (Harvard University Press), p. 134.
    32. ^ Lynch, Michael. Clausen, Søren. (2003). Mao. Routledge. ISBN 0-415-21577-3.
    33. ^ a b Manwaring, Max G. Joes, Anthony James. (2000). Beyond Declaring Victory and Coming Home: The Challenges of Peace and Stability operations. Greenwood. ISBN 0-275-96768-9. p. 58.
    34. ^ Karl, Rebecca E. (2010). Mao Zedong and China in the twentieth-century world: a concise history. Durham, NC: Duke University Press. hlm. 46. ISBN 978-0-8223-4780-4.
    35. ^ "蒋中正 - 维基语录,自由的名人名言录". zh.wikiquote.org (dalam bahasa Tionghoa). Diakses tanggal 2025-12-25.
    36. ^ a b Buss, Claude Albert. (1972). Stanford Alumni Association. The People's Republic of China and Richard Nixon. United States.
    37. ^ a b Schoppa, R. Keith. (2000). The Columbia Guide to Modern Chinese History. Columbia University Press. ISBN 0-231-11276-9.
    38. ^ Chen, Jian. (2001). Mao's China and the Cold War. The University of North Carolina Press. ISBN 0-807-84932-4.
    39. ^ "Vinegar Joe and the Generalissimo". Hoover Institution (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-25.
    40. ^ Yang, Changfa (1996-01-01). "The conflicts between Chang Kai-shek and Joseph Stilwell during World War Two". Theses, Dissertations and Capstones.

    Pranala luar

    [sunting | sunting sumber]