Prasasti Pagaruyung V

Basis Pengetahuan Terbuka Wikipedia Indonesia
Prasasti Pagaruyung V
JenisPrasasti
Bahan bakuBatu andesit
UkuranTinggi: 27 cm
Lebar: 46 cm
Tebal: 19,5 cm
Sistem penulisanAksara Pasca Pallawa
PeriodePada masa pemerintahan Raja Adityawarman
Tempat ditemukanNagari Pagaruyung, Kec.Tanjung Emas, Kab. Tanah Datar, Sumatera Barat
Lokasi sekarangKompleks Prasasti Adityawarman
Koordinat0°27′35″S 100°36′28″E / 0.4597310°S 100.6077240°E / -0.4597310; 100.6077240
BahasaBahasa Jawa Kuna
KebudayaanBudaya Pagaruyung
Prasasti Pagaruyung V di Sumatra
Pagaruyung V
Pagaruyung V
Prasasti Pagaruyung V (Sumatra)
Peta
Tentang OpenStreetMaps
Maps: ketentuan penggunaan
1km
0.6mil
Pagaruyung V
Paguruyung V
Lokasi Paguruyung V

Prasasti Pagaruyung V adalah sebuah prasasti yang ditemukan di Ponggongan, Nagari Pagaruyung, Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.[1][2] Prasasti ini diperkirakan berasal dari masa pemerintahan Raja Adityawarman, yang berkuasa antara tahun 1347 hingga 1374 M di Kerajaan Melayu—pendahulu Kerajaan Pagaruyung—yang berpusat di Kabupaten Tanah Datar. Prasasti Pagaruyung V ditemukan dalam bentuk pecahan batu berukuran tinggi 27 cm, lebar 46 cm, dan tebal 19,5 cm.[3] Prasasti ini ditulis dalam bahasa Jawa Kuno dengan menggunakan aksara Pasca-Pallawa.[4][5]

Isi prasasti menyebutkan pembangunan sebuah taman oleh seorang bernama si Satra, yang dilengkapi dengan tempat duduk untuk Raja Adityawarman. Hal ini menjadikan Prasasti Pagaruyung V unik, karena merupakan satu-satunya prasasti peninggalan Adityawarman yang mencatat tentang taman dan suasana kehidupan istana. Prasasti ini juga memperlihatkan adanya pengaruh budaya Jawa melalui penggunaan bahasa dan penamaan tokoh yang disebutkan di dalamnya.[6][7]

Saat ini, Prasasti Pagaruyung V disimpan dan dilestarikan bersama beberapa prasasti dan artefak lainnya di Kompleks Prasasti Adityawarman di Pagaruyung, dengan nomor inventaris 26/BCB-TB/SMB. Prasasti ini telah ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya Nasional sejak tahun 2019.[1][3]

Latar belakang

[sunting | sunting sumber]

Prasasti Pagaruyung V telah tercatat dalam laporan pemerintah Hindia Belanda, dalam Inventaris der Oudheden in de Padangsche Bovenlanden (Inventarisasi Purbakala di Dataran Tinggi Padang) yang disusun oleh N.J. Krom. Laporan tersebut ditulis berdasarkan data lapangan yang dikumpulkan oleh Asisten Residen L.C. Westenek di Fort de Kock, yang sekarang adalah Kota Bukittinggi.[8] Dalam laporan tersebut, Krom mengelompokkan prasasti di daerah Kabupaten Tanah Datar sebagai bagian dari Adityawarman-inscripties atau prasasti Adityawarman, yaitu prasasti yang langsung menyebutkan nama Raja Adityawarman. Selain itu, terdapat juga kelompok yang menggunakan aksara serupa yang dikelompokkan sebagai Adityawarman-schrift (aksara Adityawarman).[8]

Menurut Krom, prasasti tersebut ditemukan di daerah Ponggongan, yang di masa kolonial termasuk dalam wilayah Onderafdeeling Fort van der Capellen.[9] Selanjutnya, prasasti tersebut dipindahkan ke lokasi yang sekarang menjadi Kompleks Prasasti Adityawarman.[10][11]

Prasasti ini merupakan satu-satunya prasasti yang menjelaskan tentang pembangunan taman, dan hal tersebut tak lazim ditemukan dalam prasasti-prasasti pada masa pemerintahan Raja Adityawarman.[12] Prasasti Pagaruyuang V juga menjadi satu-satunya prasasti yang memberikan gambaran tentang suasana kehidupan pada masa kerajaan Adityawarman.[13]

Deskripsi

[sunting | sunting sumber]

Prasasti Pagaruyung V terbuat dari batu andesit yang berukuran tinggi 27 cm, lebar 46 cm, dan tebal 19,5 cm.[1] Prasasti ini terdiri dari lima baris tulisan yang menggunakan aksara Pascapallawa dan bahasa Jawa Kuno.[1][14] Kondisi Prasasti Pagaruyung V sangat rusak sehingga hanya 50% dari tulisan yang dapat terbaca. Pada baris kelima prasasti ini, tertulis nama Adityawarman.[15]

Selain rusak, terdapat pecahan di bagian atas dan bawah prasasti. Memang, berdasarkan hasil kajian terhadap tulisan prasasti, yang pada bagian atas bukan merupakan kalimat atau tulisan awal sebuah prasasti. Demikian pula dengan bagian bawah yang tidak menunjukkan sebagai akhir atau penutup sebuah prasasti.[14] Artinya, prasasti ini merupakan fragmen dari prasasti yang lebih panjang.[16]

Alihaksara

[sunting | sunting sumber]

Berikut adalah alihaksara menurut beberapa penulis.

Menurut Boechari Menurut Kusumadewi (2012)[1]
  1. tani saha ta ---- ya smra ---- ita
  2. sadya matata si Satra ---- (ta)naya-- ra
  3. satwascaskaraga sapata(?) ----- wana ma-
  4. parama taratwa sahannira ma --- nara puspa
  5. ---- (a)sana adityyawar(mman) ---- nata wa
  1. tan☐i saha ta ...
  2. sadya matata si śatra
  3. satwaśacaśkaraga sapata ...
  4. paramā taratwa sahannira m, ā ...
  5. ... (a)san☐am ādittyawar[mman ...

Alihbahasa

[sunting | sunting sumber]

Dari alihaksara di atas, berikut adalah alihbahasa dari beberapa penulis.

Menurut Budi Istiawan (2006)[17]
berdasarkan alihaksara Boechari
Menurut Kusumadewi (2012)[1]
  1. tanah /pertanian dengan...
  2. (yang) bersedia menata (adalah) si Satra .... anak...
  3. bunga gunung yang indah. Sumpah (?)...
  4. terutama (yang berderet-deret ?) dengannya .... bunga
  5. ... (tempat duduk) Adityyawarmman ...nata
  1. tanah (pertanian) dengan ...
  2. (yang) bersedia menata (adalah) si Satra.... anak
  3. bunga gunung yang indah. Sumpah ...
  4. terutama (yang berderet-deret) dengannya ... bunga
  5. tempat duduk Adityawarmman..nata

Interpretasi

[sunting | sunting sumber]

Budi Istiawan (2006) berpendapat bahwa isi Prasasti Pagaruyung V ini belum dapat dipahami secara pasti.[18] Namun, berdasarkan hasil alih aksara dan alih bahasa yang berhasil diterjemahkan, dapat disimpulkan dari potongan kata-kata di dalamnya tentang pembuatan sebuah taman oleh seseorang bernama si Sastra.[19] Penggunaan sebutan 'si' sebelum nama Sastra secara mengindikasikan bahwa tokoh tersebut berasal dari kalangan masyarakat biasa atau rakyat jelata. Selain itu, pemilihan nama Sastra serta penggunaan partikel 'si' memperkuat dugaan adanya pengaruh budaya Jawa, mengingat pola penamaan tersebut umum ditemukan dalam teks-teks Jawa Kuno."[18]

Prasasti ini juga merupakan satu-satunya prasasti peninggalan Raja Adityawarman yang mencatat tentang pembuatan sebuah taman. Taman tersebut digambarkan dihiasi dengan bunga-bunga yang diambil dari daerah pegunungan, serta dilengkapi pula dengan tempat duduk bagi Adityawarman. Dengan melihat kenyataan tersebut, maka kemungkinan taman yang dibangun merupakan taman yang cukup besar dan indah, sehingga pembangunannya perlu diabadikan dengan sebuah prasasti.[19][18]

Prasasti Pagaruyung V menegaskan penggunaan beragam bahasa dalam prasasti-prasasti peninggalan Raja Adityawarman—Sanskerta, Melayu Kuno, dan Jawa Kuno—yang kadang bercampur dalam satu prasasti, kadang hadir terpisah. Keragaman ini mencerminkan latar belakang Adityawarman: pengaruh Jawa dari Majapahit, Sanskerta sebagai bahasa kaum bangsawan dan brahmana, serta Melayu sebagai bahasa lokal di Sumatra. Pemakaian bahasa Jawa Kuno di prasasti ini menunjukkan bahwa unsur budaya Jawa ikut menembus lingkup kultural Melayu bersama kehadirannya sebagai penguasa, yang menghubungkan tradisi Jawa dengan Sumatra.[20]

Upaya pelestarian

[sunting | sunting sumber]

Prasasti Pagaruyung V termasuk salah satu tinggalan arkeologis penting dari masa pemerintahan Adityawarman di Kerajaan Malayapura. Upaya pelestarian terhadap prasasti ini dilakukan terutama oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah III Sumatera Barat, Riau, dan Kepulauan Riau yang secara berkala melakukan pendokumentasian, pemantauan kondisi fisik, serta pencatatan tingkat pelapukan batu andesit yang menjadi bahan utama prasasti.[21] Prasasti ini telah terdaftar sebagai Cagar Budaya berdasarkan keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor SK 77/M/2019 tertanggal 12 Maret 2019, sehingga memperoleh perlindungan hukum dari negara.[3]

Selain pelestarian fisik, lembaga penelitian seperti Balai Arkeologi Sumatera Barat (sekarang tergabung dalam BRIN)[22] dan sejumlah perguruan tinggi di daerah tersebut juga melakukan kegiatan penelitian epigrafi serta pendokumentasian ulang inskripsi untuk kepentingan akademis dan publikasi ilmiah.[23] Sosialisasi mengenai nilai sejarah Prasasti Pagaruyung V terus dilakukan oleh Perguruan Tinggi, BPK, dan Dinas Kebudayaan Kabupaten dan Provinsi agar peninggalan ini tetap terjaga sebagai sumber pengetahuan bagi generasi muda.[13][24] Prasasti ini telah dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan sejarah, budaya, mitos, dan folklor oleh masyarakat setempat.[25]

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. ^ a b c d e f Kusumadewi 2012, hlm. 28.
  2. ^ Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau Sumatera Barat 2000, hlm. 169.
  3. ^ a b c Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. "Prasasti Pagarruyung V". Diakses tanggal 2025/10/26.
  4. ^ Utomo 2007, hlm. 70.
  5. ^ Kusumadewi 2012, hlm. 77.
  6. ^ Kusumadewi 2012, hlm. 53-59.
  7. ^ Istiawan, Budi 2006, hlm. 16.
  8. ^ a b Krom, N.J. 1912, hlm. 33.
  9. ^ Krom, N.J. 1912, hlm. 41-42.
  10. ^ Istiawan, Budi 2006, hlm. 3.
  11. ^ Griffiths 2012, hlm. 198-199.
  12. ^ Kurnia 2015, hlm. 42-43.
  13. ^ a b Media, Kompas Cyber (2023-01-03). "Prasasti Pagaruyung V". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2025-10-19.
  14. ^ a b Budi 2006, hlm. 15-16.
  15. ^ Suhadi 1990, hlm. 218-232.
  16. ^ Kozok 2015, hlm. 37.
  17. ^ Istiawan 2006, hlm. 15.
  18. ^ a b c Istiawan 2006, hlm. 16.
  19. ^ a b Kusumadewi 2012, hlm. 28-29.
  20. ^ Istiawan 2006, hlm. 15-16.
  21. ^ bpk3sumbar [@Instagram] (2025-09-04). "Observasi Keterawatan Prasasti di Kabupaten Tanah Datar" [Observation of Inscription Preservation in Tanah Datar Regency] – via Instagram. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
  22. ^ Alfarizi, M. Khory (5 Januari 2022 | 10.02 WIB). "Balai Arkeologi Melebur ke BRIN, Pegawai Honorer Diberhentikan". Tempo. Diakses tanggal 2026-03-25.
  23. ^ Rahmawati, Nadia; Retno Susanti, Lr; Hudaidah (2024). "Warisan Kerajaan Pagaruyung: Studi Historis-Antropologis". Banda Historia : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Studi Budaya. 2 (2). doi:https://doi.org/10.62176/bastoria.v2i2.456. ;
  24. ^ Malinda, Des; Aisiah (2021). "Potensi Sumber-Sumber Sejarah Lokal Batusangkar Sebagai Sumber Belajar Di Sma". Kronologi: Masa Lalu Untuk Masa Kini. 3 (4). doi:https://doi.org/10.24036/jk.v3i4.93. ;
  25. ^ Kurnia 2015, hlm. 9-59.

Bacaan lanjutan

[sunting | sunting sumber]