Raya (perusahaan otobus)
Bus antarkota antarprovinsi milik Raya saat berada di Terminal Tirtonadi. Bus ini menggunakan karoseri Legacy SR-2 produksi Laksana | |
| Didirikan | 1968 |
|---|---|
| Kantor pusat | Sukoharjo, Jawa Tengah, Indonesia |
| Wilayah layanan | Jawa |
| Jenis layanan |
|
| Trayek | 1 |
| Tujuan akhir | |
| Jenis bahan bakar | Diesel |
| Direktur Utama | Nata Laksana |
PT Dwi Raya Laksana adalah perusahaan otobus Indonesia yang berasal dari Sukoharjo, Jawa Tengah. Perusahaan otobus ini melayani bus antarkota (dalam provinsi dan antarprovinsi) serta bus pariwisata. Dikenal sebagai perintis penggunaan kursi setara pesawat udara, Raya sangat dikenal sebagai perusahaan otobus dengan tingkat kenyamanan terbaik pada masanya. Kantor pusat dan garasi utama perusahaan otobus ini terletak di Pandeyan, Grogol, Sukoharjo.
Sejarah
[sunting | sunting sumber]PO Raya berawal dari sebuah usaha transportasi barang yang dirintis pada tahun 1959 oleh dua kakak-beradik asal Kabupaten Sukoharjo, Witikno dan Ranu Widjaja. Pada masa awal berdirinya, usaha ini masih berfokus pada angkutan barang berbasis truk dengan wilayah layanan di kawasan Solo Raya dan pusat operasional di Sukoharjo.[1] Nama Radar dipilih sebagai identitas usaha mereka, yang pada saat itu belum menyentuh sektor angkutan penumpang. Langkah ini menjadi fondasi penting bagi perkembangan bisnis keluarga tersebut di dunia transportasi darat.[2]
Tiga tahun kemudian, Witikno dan Ranu Widjaja melakukan ekspansi dengan pergi ke Kota Bandung untuk membeli dua unit truk dari sebuah dealer di Jalan Raya Barat, yang kini dikenal sebagai Jalan Jenderal Sudirman. Dari nama jalan inilah kemudian muncul sebutan "Raya" yang kelak menjadi identitas baru perusahaan. Lima tahun berselang, kedua truk tersebut dijual, dan hasil penjualannya digunakan untuk membeli satu unit bus Dodge bekas milik PO Suka Mulja di Sukabumi. Pembelian bus ini menandai titik balik penting, karena menjadi awal peralihan usaha dari angkutan barang menuju layanan angkutan umum penumpang antarkota.[1]
Pada tahun 1968, bus yang sebelumnya masih menggunakan jenama Suka Mulja secara resmi diubah menjadi Raya dan mulai beroperasi sebagai perusahaan otobus antarkota. Seiring pertumbuhan usaha, Raya terus memperluas layanannya hingga pada tahun 1982 membuka trayek malam antarkota antarprovinsi (AKAP) Semarang/Solo–Jakarta. Untuk mendukung layanan tersebut, Raya menggunakan armada dengan sasis Mercedes-Benz yang kemudian dikaroserikan oleh berbagai perusahaan karoseri, mencerminkan keseriusan Raya dalam meningkatkan kualitas dan kenyamanan armadanya.[2]
Dengan standar pelayanan yang pada masanya dianggap setara dengan pesawat udara, Raya menjelma menjadi salah satu perusahaan otobus unggulan dan bergengsi. Pada tahun 1988, Raya menambah armadanya dengan membeli sejumlah bus Sedya Utama untuk melayani trayek bus ekonomi (bumel) Yogyakarta–Solo. Raya juga sempat membuka layanan AKAP lintas malam Solo–Jakarta melalui Yogyakarta, meskipun trayek ini tidak bertahan lama. Memasuki tahun 2000, perusahaan menghadapi masa transisi kepemimpinan setelah Witikno wafat, dan posisi pimpinan kemudian dipegang oleh putranya, Nata Laksana.[2][1]
Perubahan kepemimpinan berlanjut hingga akhir 2004, ketika Ranu Widjaja yang telah lanjut usia menyatakan tidak lagi mampu memimpin perusahaan dan menyerahkan pengelolaan sepenuhnya kepada Nata Laksana dan keluarganya. Di bawah kepemimpinan generasi berikutnya, Raya mulai melakukan diversifikasi usaha, termasuk membuka layanan bus pariwisata pada tahun 2006. Enam tahun kemudian, Raya kembali memperluas jaringan dengan membuka trayek AKDP Solo–Semarang melalui pembelian trayek PO Raya Indah.[1] Sejak 2010, garasi utama Raya resmi dipindahkan dari Jalan Brigjen Sudiarto, Surakarta, ke kawasan Lingkar Timur Kota Sukoharjo. Secara administratif, kompleks garasi ini terletak di Desa Pandeyan, Kecamatan Grogol, yang berbatasan langsung dengan wilayah Bulakrejo. Lokasinya berada sekitar 100 meter di sisi utara Jalan Raya Bulakrejo–Gentan atau Lingkar Timur Kota Sukoharjo, menandai babak baru dalam sejarah PO Raya.[1]
Armada
[sunting | sunting sumber]
PO Raya dikenal sangat konsisten dalam pemilihan sasis armadanya, dengan Mercedes-Benz sebagai tulang punggung utama seluruh bus yang dioperasikan. Pilihan ini didasari oleh reputasi sasis Mercedes-Benz yang terkenal tangguh, nyaman, serta memiliki performa mesin yang bertenaga namun tetap efisien dalam penggunaan bahan bakar.[3] Sepanjang perjalanannya, Raya banyak mengandalkan sasis-sasis kelas reguler seperti Mercedes-Benz OH 1518,[4] OH 1521,[3] OH 1525,[3] OH 1526,[4] hingga OH 1626, yang dinilai paling sesuai dengan karakter operasional perusahaan.[3] Meskipun sempat mempertimbangkan penggunaan sasis premium maupun tronton seperti Mercedes-Benz OH 1836 atau OC 500 RF 2542, pihak manajemen menilai bahwa perawatannya jauh lebih kompleks dan ketersediaan suku cadangnya tidak sepraktis sasis reguler.[4] Oleh karena itu, keputusan untuk tetap setia pada sasis Mercedes-Benz reguler mencerminkan pertimbangan matang antara performa, keandalan jangka panjang, serta kemudahan perawatan armada.[3]
Dalam hal karoseri, PO Raya juga menunjukkan konsistensi dengan memilih karoseri produksi Laksana sebagai mitra utama. Untuk armada terbaru, Raya menggunakan model-model karoseri modern seperti Legacy SR-2 HD Prime,[5] Legacy SR-3 Neo HD[6] Prime, serta Discovery, yang dikenal memiliki desain elegan, kenyamanan tinggi, dan kualitas pengerjaan yang baik.[7] Namun, pada masa lalu, Raya juga pernah menggunakan karoseri dengan desain unik yang populer pada era 1980-an, yaitu karoseri yang dijuluki "bus kapsul" atau "bus helikopter". Ciri khas desain ini terletak pada bagian depan bus yang dibuat menyerupai hidung helikopter, mengikuti tren yang saat itu dipelopori oleh karoseri MBM dan kemudian diadopsi oleh berbagai perusahaan karoseri lain, termasuk Laksana.[8][9]
Memasuki era modern, pada tahun 2023, Raya mulai memiliki unit dengan desain karoseri yang menyerupai Jetbus3+, melalui proses rombakan di garasi milik sendiri, menggunakan unit bekas milik Bigbird. Menurut Santo, salah satu teknisi andalan PO Raya, model Jetbus relatif mudah untuk dibuat atau ditiru karena bentuk bodinya sederhana. Sebaliknya, karoseri produksi Laksana, khususnya seri Legacy, memiliki tingkat kerumitan yang jauh lebih tinggi, terutama pada desain bagian depan yang sarat nilai artistik dan perhitungan aerodinamika. Hal tersebut membuat karoseri Legacy tergolong sulit untuk ditiru atau direplikasi dalam bentuk rombakan, sekaligus menegaskan komitmen Raya dalam menghadirkan armada dengan desain berkualitas dan berkarakter kuat.[7]
Trayek
[sunting | sunting sumber]Bus antarkota
[sunting | sunting sumber]
Lini bisnis utama PO Raya berfokus pada layanan bus antarkota, dengan trayek utama yang menjadi andalan hingga kini adalah antarkota antarprovinsi (AKAP) yang menghubungkan Kota Surakarta, Jawa Tengah dan DKI Jakarta. Trayek ini merupakan satu-satunya trayek utama non-langsiran yang dioperasikan Raya dan menjadi tulang punggung operasional perusahaan.[10] Selain layanan AKAP tersebut, Raya juga melayani trayek antarkota dalam provinsi (AKDP) antara Kota Surakarta dan Kota Semarang, yang berfungsi sebagai pelengkap jaringan layanan di Jawa Tengah.[1] Dalam hal pemesanan tiket, Raya tidak mengoperasikan situs web resmi, melainkan lebih aktif memanfaatkan media sosial, khususnya Instagram, serta tetap menganjurkan calon penumpang untuk membeli tiket secara konvensional melalui agen-agen bus.

Sejak awal kiprahnya, Raya dikenal memiliki pendekatan yang unik dan berbeda dalam penyediaan fasilitas pada armada busnya. Salah satu ciri paling khas adalah penggunaan kursi penumpang yang berasal dari bekas pesawat udara, sebuah inovasi yang mulai diterapkan sejak tahun 1984. Kursi pesawat ini awalnya digunakan pada kelas eksekutif dengan konfigurasi 28 tempat duduk, sebelum kemudian pada tahun 1986 Raya meluncurkan kelas Super Top yang menggunakan kursi lebar bekas pesawat DC-10. Pemilihan kursi bekas pesawat tersebut didasarkan pada pertimbangan ergonomi yang lebih baik dalam menopang tubuh penumpang, serta materialnya yang tidak mudah terasa panas, sehingga sangat cocok untuk perjalanan malam pada layanan AKAP dan memberikan tingkat kenyamanan yang lebih tinggi dibandingkan bus pada umumnya.[11]
Dalam operasional trayeknya, Raya menawarkan empat kelas perjalanan yang dibedakan berdasarkan jumlah kursi dan tingkat kenyamanan. Kelas dengan tingkat layanan paling dasar adalah Junior Eksekutif dengan kapasitas 34 tempat duduk, disusul kelas Eksekutif 28 tempat duduk dan Eksekutif 24 tempat duduk. Kelas tertinggi yang ditawarkan adalah Super Top dengan konfigurasi 20 tempat duduk yang mengedepankan kenyamanan maksimal.[11] Di luar PO Raya, masih dalam satu manajemen terdapat PT Sedya Tama Laksana yang beroperasi dengan nama Sedya Utama, yang melayani trayek Yogyakarta–Solo dan bersaing dengan sejumlah PO lain di koridor tersebut.[12]
Bus raya terpadu
[sunting | sunting sumber]PO Raya juga melebarkan perannya ke sektor transportasi perkotaan dengan menjadi satu-satunya perusahaan otobus asal Kabupaten Sukoharjo yang tergabung dalam konsorsium PT Tunggal Dara Sejahtera. Melalui konsorsium ini, Raya bekerja sama dengan sejumlah PO klasik asal Wonogiri yang masih aktif untuk mengoperasikan layanan bus raya terpadu Trans Jateng pada trayek Solo–Wonogiri. Keterlibatan Raya dalam program Trans Jateng menunjukkan kontribusinya tidak hanya pada layanan antarkota, tetapi juga pada pengembangan angkutan umum massal yang terintegrasi di tingkat regional, sekaligus memperkuat eksistensinya di jalur strategis Solo dan sekitarnya.[13]
Bisnis nontrayek
[sunting | sunting sumber]Di luar layanan trayek reguler, PO Raya dan Sedya Utama juga mengembangkan segmen nontrayek berupa bus pariwisata yang mulai beroperasi sejak tahun 2006.[1] Armada bus pariwisata yang digunakan pada dasarnya memiliki spesifikasi yang tidak jauh berbeda dengan bus antarkota milik Raya, baik dari sisi sasis maupun kualitas kenyamanan. Layanan bus pariwisata ini disewakan untuk berbagai keperluan, mulai dari perjalanan wisata keluarga, kegiatan perusahaan, hingga program karyawisata, sehingga menjadi salah satu sumber diversifikasi usaha Raya di luar layanan bus antarkota dan perkotaan.
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ^ a b c d e f g Riyanto, H. Arif. "Sejarah Perusahaan Otobus (PO) Raya Sukoharjo, Bermula dari Bisnis Truk di Kota Solo". Radar Magelang. Diakses tanggal 2 November 2025.
- ^ a b c Radityasani, M.F. (26 Maret 2021). "Mengenal PO Raya yang Konsisten Pakai Kursi Pesawat". Kompas.com. Diakses tanggal 2 November 2025.
- ^ a b c d e Media, Kompas Cyber (26 Januari 2023). "Alasan PO Raya Setia Pakai Sasis Mercedes-Benz". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2 November 2025.
- ^ a b c Media, Kompas Cyber (9 Februari 2023). "PO Raya Enggan Pakai Sasis Bus Premium, Ribet di Sparepart". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2 November 2025.
- ^ Media, Kompas Cyber (24 Januari 2023). "Merasakan Kabin Spesial PO Raya Junior 34, Pakai Bangku Bekas Pesawat". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2 November 2025.
- ^ Anshori, Luthfi. "PO Raya Luncurkan Bus Baru, Konsisten Pakai Livery Klasik dan Kursi Pesawat". detikoto. Diakses tanggal 2 November 2025.
- ^ a b Media, Kompas Cyber (11 Februari 2023). "Akhirnya Ada Bus PO Raya Bergaya Jetbus". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2 November 2025.
- ^ Okezone (22 Mei 2023). "Sejarah Bus Kapsul di Indonesia: Bodi Unik yang Pernah Berjaya dan Kini Ditinggalkan : Okezone Ototekno". https://ototekno.okezone.com/. Diakses tanggal 2 November 2025.
- ^ Muhammad Fathan Radityasani (4 Maret 2021). Azwar Ferdian (ed.). "Tidak Semua PO Bus Pakai Bodi Buatan Adiputro". Kompas.com. Diakses tanggal 27 Juli 2022.
- ^ Sari, J.P.I.; Ravel, S. (21 Maret 2025). "Daftar Harga Tiket Bus AKAP Jakarta - Solo Jelang Lebaran 2025". Kompas.com. Diakses tanggal 3 November 2025.
- ^ a b Media, Kompas Cyber (25 Januari 2023). "Keunikan PO Raya dengan Bangku Bekas Pesawat, Sudah dari 1980-an". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2 November 2025.
- ^ G.W., Pratama; Azizah, S.N. (13 Juni 2022). "Ini 5 PO Bus Yang Masih Bertahan Di Trayek Solo-Jogja, Ada Langgananmu?". Solopos. Diakses tanggal 16 November 2025.
- ^ Praditia, M.D. (23 Mei 2023). "Raya sampai Ismo, 7 PO Lokal Dilibatkan Kelola BRT Trans Jateng Solo-Wonogiri". espos.id. Diakses tanggal 9 Januari 2026.
Pranala luar
[sunting | sunting sumber]
Media terkait Raya buses di Wikimedia Commons- Raya di Instagram