Sejarah kontrafaktual

Sejarah kontrafaktual (juga disebut sejarah virtual) adalah bentuk historiografi yang berupaya menjawab pertanyaan "What if?" (“bagaimana jika?”) yang muncul dari kondisi kontrafaktual.[1] Sejarah kontrafaktual berusaha “membuat dugaan tentang apa yang tidak terjadi, atau apa yang mungkin telah terjadi, untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi”.[2] Pendekatan ini telah melahirkan sebuah genre sastra yang dikenal dengan berbagai sebutan, seperti sejarah alternatif, sejarah spekulatif, alohistori, dan sejarah hipotetis.[3][4]
Perkembangan
[sunting | sunting sumber]Salah satu buku awal yang membahas sejarah kontrafaktual adalah If It Had Happened Otherwise (1931), yang memuat esai “If Lee Had Not Won the Battle at Gettysburg” karya Winston Churchill, mengenai kemenangan Konfederasi yang bersifat fiktif dalam Pertempuran Gettysburg (1863).[5] Sebagai teks sejarah kontrafaktual yang ditulis oleh para sejarawan, If It Had Happened Otherwise berisi karya sejarah alternatif—penafsiran ulang fiktif terhadap peristiwa sejarah—karena gaya penulisannya cenderung ringan dan tidak menyertakan analisis sejarah maupun logika di balik skenario “bagaimana jika” tersebut.
Dalam Railroads and American Economic Growth: Essays in Econometric History, Robert Fogel menggunakan metode kuantitatif untuk membayangkan keadaan ekonomi Amerika Serikat pada tahun 1890 seandainya tidak ada jalur kereta api. Ia menyimpulkan bahwa tanpa kereta api, sistem kanal di Amerika akan diperluas dan jalan raya akan diperkeras serta ditingkatkan menjadi sistem transportasi yang andal; kedua hal ini akan mengurangi pentingnya kereta api secara sosial dan ekonomi, karena “tingkat pendapatan per kapita yang dicapai pada 1 Januari 1890 akan dapat dicapai pada 31 Maret 1890 jika kereta api tidak pernah ditemukan”.[6]
Upaya membawa sejarah kontrafaktual ke ranah akademik baru berkembang lagi setelah penerbitan Plausible Worlds: Possibility and Understanding in History and the Social Sciences (1991) oleh sosiolog Cambridge Geoffrey Hawthorn, yang secara cermat menelaah tiga skenario kontrafaktual.[7] Karya ini menginspirasi terbitnya Virtual History: Alternatives and Counterfactuals (1997), kumpulan esai yang mengeksplorasi berbagai skenario oleh sejumlah sejarawan, disunting oleh sejarawan Niall Ferguson. Ferguson menjadi salah satu pendukung penting sejarah kontrafaktual, menggunakan skenario semacam ini untuk menentang teori sejarah deterministik seperti Marxisme, serta menekankan pentingnya faktor kebetulan dalam sejarah, dengan gagasan bahwa beberapa perubahan kecil dapat menghasilkan dunia modern yang sangat berbeda. Seri buku What If? yang disunting oleh Robert Cowley memuat puluhan esai karya sejarawan dan penulis ternama tentang “bagaimana sedikit perubahan takdir pada momen menentukan dapat mengubah perjalanan sejarah”.[3]
Beberapa sarjana berpendapat bahwa sejarah kontrafaktual bukan sekadar membahas apa yang tidak terjadi di masa lalu, tetapi juga berkaitan dengan perbedaan pandangan mengenai peristiwa mana yang paling signifikan. Misalnya, William Thompson menggunakan rangkaian skenario kontrafaktual terhadap delapan kekuatan ekonomi utama yang telah mendorong proses globalisasi selama hampir seribu tahun—dari Dinasti Song di Tiongkok hingga Genoa, Venesia, Spanyol, Portugal, Belanda, Inggris, dan Amerika Serikat—dan berpendapat bahwa masing-masing kekuatan tersebut memainkan peran penting dalam membentuk struktur kepemimpinan yang semakin berskala global seiring waktu.[8]
Perbedaan dengan sejarah alternatif
[sunting | sunting sumber]Sejarah kontrafaktual bukanlah revisi sejarah maupun sejarah alternatif.
Sejarah kontrafaktual membedakan dirinya melalui fokus pada peristiwa yang dinegasikan oleh skenario kontrafaktual itu sendiri, dengan tujuan menilai seberapa penting peristiwa tersebut dalam konteks sejarah. Para sejarawan dalam bidang ini menyusun argumen mengenai perubahan-perubahan yang mungkin terjadi setelah peristiwa tersebut, tetapi hanya secara garis besar, karena fokus utamanya adalah pada arti dan dampak dari peristiwa yang dinegasikan.
Sebaliknya, penulis sejarah alternatif justru tertarik pada skenario hipotetis yang muncul akibat dari peristiwa yang dinegasikan. Seorang penulis fiksi bebas menciptakan detail peristiwa dan tokoh yang spesifik dalam sejarah yang dibayangkan.
Contoh pertanyaan kontrafaktual adalah: “Bagaimana jika serangan ke Pearl Harbor tidak terjadi?”; sementara penulis sejarah alternatif akan berfokus pada kemungkinan rangkaian peristiwa yang timbul dari skenario tersebut.
Batas antara keduanya terkadang kabur, karena sejarawan mungkin menciptakan garis waktu yang lebih rinci sebagai ilustrasi dari gagasan mereka tentang jenis perubahan yang mungkin terjadi. Namun umumnya jelas mana konsekuensi yang dianggap logis untuk diasumsikan, dan mana detail yang hanya digunakan sebagai ilustrasi dalam garis waktu imajiner.
Batas ini semakin kabur dengan munculnya novelis seperti Kim Stanley Robinson, yang dalam novel sejarah alternatifnya The Years of Rice and Salt menampilkan karakter yang berbicara tentang penggunaan kontrafaktual oleh para sejarawan dalam konteks sejarah alternatif novel tersebut. Tokoh itu menolak pendekatan tersebut dan menyebutnya sebagai “latihan yang tidak berguna”.[9]
Kritik
[sunting | sunting sumber]Sebagian besar sejarawan menganggap sejarah kontrafaktual mungkin menghibur, tetapi tidak memenuhi standar penelitian sejarah arus utama karena sifatnya yang spekulatif. Para pendukung sejarah kontrafaktual sering menanggapi bahwa semua pernyataan mengenai kausalitas dalam sejarah sebenarnya mengandung klaim kontrafaktual secara implisit—misalnya, pernyataan bahwa suatu keputusan militer membantu suatu negara memenangkan perang menyiratkan bahwa jika keputusan itu tidak diambil, perang mungkin akan lebih sulit dimenangkan atau berlangsung lebih lama.
Richard Evans memberikan kritik sistematis terhadap konsep ini dalam bukunya Altered Pasts. Menurut pandangannya, sebagian besar karya kontrafaktual ditulis oleh sejarawan berhaluan kanan yang terjebak dalam harapan pribadi, baik dengan menggambarkan kondisi masa kini yang diidamkan maupun dengan tujuan mendiskreditkan ideologi sayap kiri. Ia berpendapat bahwa penyederhanaan hasil sejarah menjadi satu penyebab tunggal mengabaikan kompleksitas berbagai faktor yang memengaruhi suatu peristiwa. Sebaliknya, Christopher Prendergast berpendapat bahwa kontrafaktual memiliki peran penting untuk menguji penjelasan tentang kausalitas sejarah dengan menelusuri implikasi dari alternatif yang mungkin terjadi.[10][11][12]
Aviezer Tucker juga mengajukan berbagai kritik terhadap pendekatan ini dalam kajiannya terhadap Virtual History karya Ferguson di jurnal History and Theory[13] serta dalam bukunya Our Knowledge of the Past: A Philosophy of Historiography. Tucker menolak penggunaan kontrafaktual yang bersifat multikausal dan menegaskan bahwa setiap kontrafaktual harus diajukan dengan prinsip ceteris paribus—yakni dengan asumsi bahwa semua hal lainnya tetap sama.[10]:115[14]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ^ Bunzl, Martin (June 2004). "Counterfactual History: A User's Guide". The American Historical Review (dalam bahasa Inggris). 109 (3): 845–858. doi:10.1086/530560. ISSN 0002-8762. JSTOR 10.1086/530560.
- ^ Black, Jeremy; MacRaild, Donald M. (2007). Studying History (Edisi 3rd). Palgrave Macmillan. hlm. 125. ISBN 9781403987341.
- ^ a b Arnold, Martin (December 21, 2000). "Making books: The 'What Ifs' that fascinate". The New York Times. Diarsipkan dari asli tanggal 3 April 2022. Diakses tanggal 25 June 2012.
- ^ Singles, Kathleen (2011-06-01). "'What If?' and Beyond: Counterfactual History in Literature". The Cambridge Quarterly (dalam bahasa Inggris). 40 (2): 180–188. doi:10.1093/camqtly/bfr007. ISSN 0008-199X.
- ^ Churchill, Winston. "If Lee Had Not Won the Battle of Gettysburg". The Churchill Centre. Diarsipkan dari asli tanggal January 5, 2009.
- ^ Davis, Lance E. (1 July 2000). "Project 2001: Significant Works in Twentieth-Century Economic History Railroads and American Economic Growth: Essays in Econometric History [Review]". Economic History Association. Diarsipkan dari asli tanggal 28 February 2006.
- ^ Smoler, Frederic (September 1999). "Past Tense". American Heritage. 50 (5). Diarsipkan dari asli tanggal 4 May 2022.
- ^ Thompson, William R. (May 2010). "The Lead Economy Sequence in World Politics (From Sung China to the United States): Selected Counterfactuals". Journal of Globalization Studies. 1 (1). Diarsipkan dari asli tanggal 28 October 2021.
- ^ Brooke, Keith (16 February 2002). "Kim Stanley Robinson: The Years of Rice and Salt – an infinity plus review". Infinity Plus. Diarsipkan dari asli tanggal 3 April 2022.
- ^ a b Evans, Richard (4 February 2014). Altered Pasts: Counterfactuals in History. Brandeis University Press. hlm. 34,58. ISBN 9-781611-685381.
- ^ Shook, Karen (27 March 2014). "Altered Pasts: Counterfactuals in History, by Richard J. Evans". Times Higher Education. Diarsipkan dari asli tanggal 27 February 2022.
- ^ Prendergast, Christopher (May 16, 2019). Counterfactuals: Paths of the Might have Ben. Bloomsbury Academic. hlm. 12. ISBN 978-1350090095.
- ^ Tucker, Aviezer (May 1999). "Historiographical Counterfactuals and Historical Contingency". History and Theory. 38 (2): 264–276. doi:10.1111/0018-2656.00090.
- ^ Tucker, Aviezer (2004). Our Knowledge of the Past: A Philosophy of Historiography. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-83415-5.