Singojuruh, Banyuwangi

Basis Pengetahuan Terbuka Wikipedia Indonesia
Singojuruh
Kebo-keboan Alasmalang
Kebo-keboan Alasmalang
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Timur
KabupatenBanyuwangi
Pemerintahan
 • CamatDrs. Anas Sugiarto
Populasi
 (2024)
 • Total53.471 jiwa
Kode pos
68464
Kode Kemendagri35.10.12 Suntingan nilai di Wikidata
Kode BPS3510140 Suntingan nilai di Wikidata
Luas59,89 km²
Desa/kelurahan11
Peta
PetaKoordinat: 8°18′44″S 114°14′1″E / 8.31222°S 114.23361°E / -8.31222; 114.23361

Singojuruh adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Banyuwangi. Singojuruh terletak di jalan strategis yang menghubungkan Rogojampi dengan Genteng, keduanya merupakan pusat ekonomi penting di Banyuwangi. Kecamatan Singojuruh sendiri berada tepat di barat Rogojampi. Pusat kecamatan ini berada di Desa Singojuruh yang terdapat Stasiun Singojuruh dan ruang terbuka hijau (RTH). Pada tahun 1982, Singojuruh bagian utara dimekarkan menjadi kecamatan baru bernama Songgon.[1]

Kecamatan Singojuruh memiliki kekayaan budaya yang masih dilestarikan sampai sekarang terutama adat Suku Osing seperti Kebo-Keboan di Desa Alasmalang serta Angklung Caruk dari Desa Singojuruh.[2] Sedangkan dari segi kuliner, terdapat masakan khas bernama Geseng asal Desa Singolatren yang terbuat dari daging entok.[3] Salah satu sentra masakan tradisional di Singojuruh adalah Pasar Wit-witan di Desa Alasmalang yang buka setiap minggu pagi.[4]

Peta lokasi Kecamatan Singojuruh

Singojuruh adalah kecamatan di Kabupaten Banyuwangi. Geografinya berupa dataran rendah yang didominasi areal persawahan. Sebelumnya wilayah Singojuruh memanjang hingga lereng Gunung Raung, tetapi sekarang mengecil akibat pemekaran Kecamatan Songgon pada tahun 1982.

Batas wilayah Kecamatan Singojuruh adalah sebagai berikut:[5]

Utara Kecamatan Songgon
Timur Kecamatan Kabat dan Kecamatan Rogojampi
Selatan Kecamatan Srono
Barat Kecamatan Sempu

Daftar desa dan dusun

[sunting | sunting sumber]

Kecamatan Singojuruh terdiri dari 11 desa yang dibagi menjadi beberapa dusun / dukuh / lingkungan. Sebelumnya juga terdapat Desa Gendoh yang bergabung dengan Kecamatan Sempu pada tahun 1995.[6] Desa dan dusun di Singojuruh saat ini yakni sebagai berikut:

No. Nama Desa Nama Dusun atau Dukuh Ref
1 Alasmalang Krajan, Bangunrejo, Garit, Garit Wetan, Karangasem, Wonorekso [5]
2 Benelan Kidul Cawang, Gebang, Gombol, Padang Bulan, Suko, Sumberloh, Tabanan [5]
3 Cantuk Cantuk Kidul, Cantuk Lor, Kelampokan, Rampan [5]
4 Gambor Krajan, Sidorejo [5]
5 Gumirih Krajan, Gayam Kidul, Gayam Lor, Kumbo, Tegalmojo [5]
6 Kemiri Kemiri, Kedungliwung, Rukem [5]
7 Lemahbangkulon Krajan Kidul, Krajan Lor, Sukorejo, Talangrejo [5]
8 Padang Krajan, Andongsari, Gentengan, Padang Kidul [5]
9 Singojuruh Krajan Barat, Krajan Timur, Krajan Selatan, Juruh, Kemiren, Klatakan, Kunir, Pasinan Barat, Pasinan Timur, Welut [5][7]
10 Singolatren Krajan, Andong, Blumbang, Cermean, Pengastulan, Wijenan Kidul, Wijenan Lor [5]
11[a] Sumberbaru Kendal, Paeloan, Payung, Sere, Sumbertarung, Susukan, Umbulrejo [5]
  1. ^ Sumberbaru merupakan pemekaran dari Desa Kemiri, awalnya berstatus desa persiapan pada tahun 1998.[8]

Tempat terkenal

[sunting | sunting sumber]
Stasiun Singojuruh (2019)
  • RTH Singojuruh
  • Pasar Wit-witan Alasmalang - sentra wisata kuliner tradisional di Desa Alasmalang
  • Stasiun Singojuruh - tidak lagi melayani naik turun penumpang
  • Warung Seblang
  • Situs Lastono - petilasan Syekh Siti Jenar
  • Puskesmas Singojuruh

Kebudayaan

[sunting | sunting sumber]
Kebo-keboan di kubangan lumpur

Kebo-keboan

[sunting | sunting sumber]

Kebo-Keboan adalah tradisi turun-temurun suku Osing di Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh. Kebo-keboan adalah pawai dengan pemeran yang berdandan layaknya kerbau berwarna hitam, dilengkapi dengan tanduk buatan dan lonceng kayu. Para kebo juga berkubang ketika bertemu dengan lumpur. Tradisi ini awalnya berupa ritual untuk menolak hama pertanian tapi kemudian berkembang menjadi festival untuk mengungkapkan rasa syukur masyarakat atas hasil bumi yang melimpah sekaligus ikon wisata. Kebo-keboan digelar setiap awal bulan Sura atau Muharram. Pada tahun-tahun tertentu juga terdapat tokoh-tokoh tambahan seperti kebo putih, kebo mas, dan Dewi Sri (dewi padi) yang membuat acara makin meriah.[9][2]

Angklung caruk

[sunting | sunting sumber]

Angklung adalah alat musik dari bambu yang umumnya dikenal berasal dari wilayah Sunda. Namun ternyata angklung juga sudah berkembang sejak lama (sekitar 1940-an) dan terus dilestarikan hingga sekarang oleh masyarakat Suku Osing. Angklung caruk adalah bentuk pertunjukan angklung yang diadakan di Banyuwangi. Salah satu desa yang masih mempertahankan tradisi ini adalah Desa Singojuruh. Bahkan desa ini mendeklarasikan daerahnya sebagai "Bumi Angklung".[10]

Geseng bangsong atau juga disebut geseng saja adalah makanan khas Banyuwangi yang sekarang kian langka. Kuliner ini berasal dari Desa Singolatren, terutama Dusun Wijenan Kidul. Geseng terbuat dari daging entok yaitu unggas sejenis bebek / itik yang dimasak dengan bumbu-bumbu seperti kemiri, cabai, dan kunyit. Selain itu juga terdapat tambahan irisan daun wadung sehingga timbul cita rasa yang unik dibandingkan hidangan lainnya. Geseng di Wijenan Kidul disajikan pada hari-hari besar, bahkan menjadi pengganti opor ayam atau gule yang dihidangkan di desa lainnya.[3] Selain disajikan saat hari besar, masakan ini juga dijual di sentra kuliner tradisional Pasar Wit-witan di Desa Alasmalang.[4]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. ^ "Peraturan Pemerintah (PP) No. 7 Tahun 1982 tentang Pembentukan Kecamatan Songgon Di Kabupaten Daerah Tingkat II Banyuwangi, Kecamatan Megaluh, Kecamatan Bandarkedungmulyo, Kecamatan Jogoroto Di Kabupaten Daerah Tingkat II Jombang, Kecamatan Tempursari Di Kabupaten Daerah Tingkat II Lumajang, Kecamatan Nonggunong, Kecamatan Talango, Dan Kecamatan Giligenting Di Kabupaten Daerah Tingkat II Sumenep Dalam Wilayah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur".
  2. ^ a b Zenba Bimbi Galuh Permata (2025-07-18). "Ritual Kebo-Keboan Merekatkan Nilai Spritual, Tradisi Agraris dan Kebersamaan". ALIANSI MASYARAKAT ADAT NUSANTARA (AMAN).
  3. ^ a b Ira Rachmawati (2016-07-13). "Geseng, Hidangan Lebaran yang Langka dari Desa Singolatren Banyuwangi". KOMPAS.
  4. ^ a b Ribut Wijoto (2019-11-01). "Geseng Bangsong, Kuliner Banyuwangi yang Selalu Dinanti". BERITA JATIM.
  5. ^ a b c d e f g h i j k l Kabupaten Banyuwangi Dalam Angka 2025. BPS Kabupaten Jember. 2025-02-28.
  6. ^ "PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 1995 TENTANG PEMBENTUKAN 6 (ENAM) KECAMATAN DI WILAYAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II PONOROGO, BANYUWANGI DAN JEMBER DALAM WILAYAH PROPINSI DAERAH TINGKAT I JAWA TIMUR".
  7. ^ Haya (2025-06-15). "Desa Tematik Bumi Angklung, Warga Sembilan Dusun Gelar Kirab Budaya". BANYUWANGI 1 TV.
  8. ^ "Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Timur Nomor 81 tahun 1998 tentang Pengesahan Pembentukan Desa Persiapan Sumberbaru Sebagai Pemecahan Desa Kemiri Kecamatan Singojuruh Kab. Daerah Tingkat Ii Banyuwangi" (PDF).
  9. ^ Budi Candra Setya (2023-07-30). "Menyaksikan Tradisi Kebo-keboan Alas Malang". TEMPO.
  10. ^ Rochman Ainur Rofiq (2025-06-15). "Bumi Angklung Ternyata Jadi Identitas Desa Singojuruh Banyuwangi, Begini Penjelasan Seniman Muda". ADATAH.
Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil
Pemerintah Kota
Samarinda
Kontak
© 2026 Pemerintah Kota SamarindaAll Rights Reserved
Dikembangkan olehEnter(Wind)