Suku Mamasa
To Mamasa | |
|---|---|
Tari Tondok, tarian khas suku Toraja Mamasa. | |
| Jumlah populasi | |
| 133.659[1] | |
| Daerah dengan populasi signifikan | |
| Sulawesi Barat (Kabupaten Mamasa) | |
| Bahasa | |
| Mamasa | |
| Agama | |
| Kekristenan (terutama Protestan), Islam | |
| Kelompok etnik terkait | |
| Toraja dan Kalumpang |
Suku Toraja Mamasa (Toraja Mamasa: To Mamasa) adalah kelompok etnis yang mendiami wilayah pegunungan tengah Pulau Sulawesi, tepatnya di Kabupaten Toraja Mamasa, Sulawesi Barat. Masyarakat suku Toraja Mamasa tersebar di hampir seluruh kecamatan di Kabupaten Toraja Mamasa. Secara adat istiadat dan budaya, masyarakat Toraja Mamasa merupakan sub-suku Toraja.
Sejarah
[sunting | sunting sumber]Asal-usul suku Toraja Mamasa menurut sebuah cerita rakyat yang terpelihara di kalangan masyarakat Toraja Mamasa, menceritakan bahwa Nene' Torije'ne (nenek moyang) datang dari laut dan Nene' Pongkapadang (kakek moyang) datang dari sebelah timur pegunungan (Sa'dan di Tana Toraja) Pulau Sulawesi. Mereka bertemu satu sama lain kemudian pindah ke Buntu Bulo di Tabulahan. Menurut para peneliti,[siapa?] orang Toraja Mamasa ini dahulunya berasal dari orang-orang Toraja Sa'dan yang bermigrasi ke wilayah Toraja Mamasa dan kemudian tumbuh dan berkembang menjadi suatu kelompok etnis yang sekarang lebih umum dikenal sebagai orang Toraja Mamasa.
Kepercayaan
[sunting | sunting sumber]Masyarakat Toraja Mamasa secara mayoritas adalah pemeluk agama Kristen, khususnya aliran Protestan dan sebagian lainnya beraliran Katolik. Perkembangan agama Kristen diterima oleh masyarakat Toraja Mamasa sekitar awal tahun 1900-an, oleh misionaris dari Belanda. Kemudian juga sebagian masih ada yang mempraktikkan tradisi dari agama tradisional leluhur orang Toraja Mamasa, yang disebut Ada' Mappurondo atau Aluk Tomatua. Tradisi agama tradisional ini tetap terpelihara dan terus terwariskan ke generasi berikutnya. Tradisi dari Ada' Mappurondo ini dilaksanakan terutama setelah panen padi berakhir, sebagai ucapan syukur atas hasil panen mereka. Ada satu tradisi dari agama tradisional orang Toraja Mamasa, yang unik dan mungkin tidak ada di daerah lain, yaitu tradisi penguburan orang yang telah mati, tapi dengan membuat sang jenazah berjalan dengan sendirinya menuju kuburan yang telah disiapkan.[2] Mereka percaya bahwa semua mayat dari sebuah keluarga atau kerabat akan berada di tempat yang sama dalam kehidupan sesudahnya.[3]
Budaya
[sunting | sunting sumber]Bahasa
[sunting | sunting sumber]Orang Toraja Mamasa berbicara dalam bahasa Mamasa. Bahasa Mamasa ini dikelompokkan ke dalam rumpun dari bahasa Toraja, karena banyak terdapat kesamaan bahasa antara bahasa Toraja Mamasa dan bahasa Toraja. Bahasa Toraja Mamasa umumnya diucapkan di daerah sepanjang Sungai Mamasa di perbatasan Kabupaten Mamasa dan kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat.
Bahasa Toraja Mamasa memiliki beberapa dialek, yaitu:
- Mamasa Utara
- Mamasa Tengah
- Pattae' (Mamasa Selatan, Patta' Binuang, Binuang, Tae', Binuang-Paki-Batetanga-Anteapi)
Rumah adat
[sunting | sunting sumber]Masyarakat Toraja Mamasa memiliki rumah adat yang berfungsi sebagai rumah tinggal di masa lalu maupun sebagai tempat penyimpanan hasil panen. Rumah adat Toraja Mamasa ini sangat unik, yang menurut mereka menyerupai bentuk kapal, seperti kapal-kapal para nenek moyang mereka ketika berangkat dari negeri asal, menyeberangi laut dan berhenti di daerah ini melalui hulu sungai. Rumah adat Toraja Mamasa memiliki ciri khas tersendiri serta memiliki kemiripan dengan rumah adat suku Toraja. Kemiripan ini dikarenakan memang asal-usul orang Toraja Mamasa dan Toraja adalah berasal dari satu rumpun.[4]
Berikut ini jenis-jenis rumah adat (banua) Toraja Mamasa:
- Banua layuk, berasal dari kata banua yang berarti 'rumah' dan kata layuk yang berarti 'tinggi', maka banua layuk dapat diartikan sebagai 'rumah tinggi'. Rumah ini berukuran sangat besar dan tinggi, biasanya pemilik rumah ini merupakan pemimpin dalam masyarakat atau seorang bangsawan.
- Banua sura, berasal dari kata sura yang berarti 'ukir', banua sura dapat diartikan sebagai 'rumah ukir'. Rumah ini berukuran besar dan tidak seperti banua (rumah) lain. Penghuni rumah ini merupakan pemimpin dalam masyarakat atau seorang bangsawan.
- Banua bolong, berasal dari kata bolong yang berarti 'hitam', rumah ini dapat diartikan sebagai 'rumah hitam'. Rumah ini dikunjungi oleh orang kaya dan seorang yang dianggap pemberani dalam masyarakat.
- Banua rapa, jenis rumah adat Toraja Mamasa dengan warna asli (tidak diukir dan tidak dihitamkan). Rumah ini umumnya dihuni oleh kalangan masyarakat biasa.
- Banua longkarrin, rumah Toraja Mamasa yang bagian tiang paling bawah dengan tanah dialas dengan kayu (longkarrin). Rumah ini juga umumnya dihuni oleh masyarakat biasa.
Perbandingan rumah adat Toraja Mamasa dan Toraja
[sunting | sunting sumber]Pada dasarnya rumah adat Toraja Mamasa hampir mirip dengan rumah adat Toraja, perbedaannya yaitu rumah adat Toraja Mamasa memiliki atap kayu yang berat dengan bentuk yang tidak terlalu melengkung sementara rumah adat Toraja memiliki atap kayu dengan bentuk seperti huruf [U].
Secara umum banua layuk yang terdiri atas tiga bagian, yakni atap, badan, dan kolong (rumah panggung), fungsional bentuk rumah panggung dapat digunakan untuk menghindari gangguan binatang buas, lantai dapat menampung hawa panas di malam hari, sehingga cocok untuk daerah dingin, dan kolong dapat bekerja praktis. Banua layuk sebagai rumah adat sarat dengan makna simbolik sebagai cerminan dari nilai-nilai budaya yang dianut oleh masyarakatnya. Simbol-simbol tersebut ditemukan pada struktur, ukiran, dan unsur-unsur lainnya yang terdapat pada banua layuk. Bentuk rumah adat di Toraja Mamasa saat ini adalah hasil perkembangan dari bentuk sebelumnya yang bermula dari banua pandoko dena, banua lentong appa, banua tamben, dan banua tolo' (sanda ariri). Dari bentuk rumah yang keempat (banua tolo') akhirnya menjadi ciri khas rumah adat Toraja Mamasa, khususnya banua layuk, pendiriannya ditentukan oleh lokasi, arah, dan bahan bangunan, dan waktu membangun bangunan.
Banua layuk merupakan simbol kepemimpinan tertinggi dalam struktur masyarakat Kampung Ballapeu'. Tidak diketahui dengan pasti sejak kapan banua layuk dibuat di Ballapeu'. Proses pembuatan banua layuk dari asal hingga bangunan siap untuk ditempati tidak terlepas dari kegiatan upacara ritual dengan mengorbankan kerbau atau babi. Struktur banua layuk yang terdiri atas bagian, yakni atap, rumah panggung, dan kolong (rumah panggung), selain itu pertimbangan fungsional pentas tiga makna filosofi. Fungsional rumah panggung adalah: bentuknya menghindarkan gangguan dari binatang buas, lantai dapat menampung hawa panas di malam hari, sehingga cocok untuk daerah dingin, dan bagian kolong dapat berfungsi praktis.
Sedang makna filosofi dibalik struktur banua layuk yang terdiri dari tiga bagian adalah simbol dari makrokosmos yang terdiri atas tiga lapisan yakni dunia atas, tengah, dan bawah. Terdapat beberapa persamaan di samping perbedaan antara banua layuk di Toraja Mamasa dengan tongkonan di Tana Toraja. Adanya persamaan dari keduanya karena memiliki akar budaya yang sama, dan adanya perbedaan yang disebabkan oleh kondisi lingkungan dan sosial budaya yang berbeda dari kedua rumah adat tersebut.
Pertanian
[sunting | sunting sumber]Masyarakat Mamasa hidup pada hasil pertanian, pada tanaman padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kacang hijau, kacang kedelai, sayur-sayuran, dan berbagai jenis buah-buahan. Mereka juga memiliki perkebunan yang ditanami kopi dan kakao yang dikelola dengan cara tradisional. Di luar bidang pertanian, mereka juga memelihara hewan ternak, seperti babi, kerbau, sapi, kuda, ayam dan bebek. Untuk memenuhi kebutuhan protein hewani, dan juga dijual untuk menambah penghasilan keluarga.
Kesenian
[sunting | sunting sumber]Masyarakat Mamasa memiliki kesenian yang khas dalam budayanya seperti beberapa tarian, alat musik, dan pakaian adat. Terdapat tiga tarian tradisional di Mamasa, yaitu dari tari bulu londong, tari malluya, dan tari burake. Alat musik yang dimiliki oleh masyarakat Toraja Mamasa, yaitu suling pompang.[5] Suling pompang merupakan alat musik yang terbuat dari bambu yang dimainkan dengan cara ditiup dan disajikan dalam bentuk ansambel. Lalu pakaian adat tradisional untuk laki-laki, yaitu baju pongko, celana toraja, dan sapu tangan, sedangkan perempuan mengenakan rok tenun dan tas tenun.[6]
Lihat juga
[sunting | sunting sumber]Referensi
[sunting | sunting sumber]- ^ Kewarganegaraan, Suku Bangsa, Agama dan Bahasa Sehari-hari Penduduk Indonesia Hasil Sensus Penduduk 2010. Badan Pusat Statistik. 2011. ISBN 9789790644175.
- ^ Yudvi, Tentry. "Mengenal Suku Mamasa yang Punya Kemampuan Membangkitkan Mayat". Okezone.com. Diakses tanggal 25 April 2021.
- ^ "Suku Mamasa, Kerabat Toraja". www.goodnewsfromindonesia.id. Diakses tanggal 25 April 2021.
- ^ "Membedah Rumah Adat Toraja dan Mamasa yang Serupa Tapi Tak Sama". sulsel.idntimes.com. Diakses tanggal 25 April 2021.
- ^ Muis, M. (2009). Pendefinisian lema alat musik di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. hlm. 54.
- ^ "Ekspedisi Mamasa". arsitekturhijau.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2021-04-28. Diakses tanggal 25 April 2021.