Vaksin campak
Seorang anak yang sedang diberi vaksin campak | |
| Deskripsi vaksin | |
|---|---|
| Target | Virus campak |
| Jenis vaksin | Dilemahkan |
| Data klinis | |
| AHFS/Drugs.com | monograph |
| MedlinePlus | a601176 |
| Kode ATC | |
| Pengenal | |
| Nomor CAS | |
| ChemSpider |
|
| KEGG | |
| | |
Vaksin campak adalah vaksin yang memberikan perlindungan terhadap infeksi campak.[1] Hampir semua orang yang tidak membentuk kekebalan terhadap campak setelah dosis pertama vaksin, akan membentuk kekebalan pada dosis kedua.[1] Biasanya wabah campak tidak akan terjadi saat cakupan vaksinasi dalam sebuah populasi lebih besar dari 92%. Namun, wabah campak dapat kembali terjadi jika angka cakupan vaksinasi menurun.[1] Efektivitas vaksin ini berlangsung selama bertahun-tahun.[1] Belum diketahui secara pasti apakah efektivitas vaksin akan menurun seiring berjalannya waktu.[1] Vaksin ini juga dapat memberikan perlindungan terhadap campak jika diberikan dalam beberapa hari setelah terpapar campak.[2][1][3][4]
Vaksin ini secara umum bersifat aman, bahkan untuk mereka yang terinfeksi HIV.[1][5] Kebanyakan anak tidak mengalami efek samping vaksin apapun.[6] Jika terjadi efek samping, biasanya bersifat ringan (seperti demam, ruam, nyeri di titik penyuntikan, dan kekakuan sendi) serta berlangsung singkat.[1][6] Kasus anafilaksis tercatat terjadi dalam sekitar 3,5–10 kasus per satu juta dosis vaksin.[1] Jumlah penderita Sindrom Guillain–Barré, autisme, dan penyakit radang usus tidak tampak meningkat dengan pemberian vaksin campak.[1][7]
Vaksin ini tersedia dalam bentuk tunggal maupun dalam bentuk kombinasi dengan vaksin lain seperti pada vaksin MMR (kombinasi dengan vaksin rubela dan vaksin gondongan)[1] atau vaksin MMRV (kombinasi MMR dengan vaksin cacar air).[8][9][10] Semua formulasi vaksin campak bekerja sama baiknya dalam mencegah penyakit campak, tetapi kombinasi yang berbeda dapat memberikan efek samping yang berbeda-beda pula.[1][11] World Health Organization merekomendasikan agar vaksin ini diberikan pada bayi berusia sembilan bulan di wilayah-wilayah dunia yang masih terdapat banyak penderita penyakit campak . Di wilayah-wilayah yang jarang ditemukan kasus penyakit campak, vaksin dapat diberikan pada anak-anak saat berusia 12 bulan.[12][1] Vaksin campak terbuat dari galur virus campak hidup yang telah dilemahkan.[1] Vaksin tersedia dalam bentuk bubuk kering yang harus dicampur dengan pelarut khusus sebelum disuntikkan di bagian bawah kulit atau ke dalam otot.[1] Efektivitas vaksin dapat dipastikan melalui tes darah.[1]
Vaksin campak pertama kali diperkenalkan pada tahun 1963.[13] Pada tahun itu, galur virus campak Edmonston-B diubah menjadi vaksin oleh John Enders dan kolega-koleganya serta dilisensikan di Amerika Serikat.[14][15] Pada tahun 1968, vaksin campak yang telah diperbaiki dan berasal dari virus yang lebih dilemahkan lagi berhasil dikembangkan oleh Maurice Hilleman dan kolega-koleganya. Di tahun yang sama, vaksin ini mulai didistribusikan dan menjadi satu-satunya vaksin campak yang digunakan di Amerika Serikat sejak tahun 1968.[16][14][15] Pada tahun 2018, tercatat sekitar 86% anak-anak di seluruh dunia telah menerima setidaknya satu dosis vaksin, namun angka ini turun menjadi 84% pada tahun 2024.[17][18] Pada tahun 2021, setidaknya 183 negara memberikan dua dosis vaksin dalam jadwal rutin imunisasi mereka.[19] Vaksin campak masuk ke dalam Daftar Obat Esensial WHO.[20] Karena wabah campak mudah terjadi pada populasi dengan cakupan vaksin yang rendah, tidak adanya prevalensi penyakit campak dipandang sebagai suatu alat uji tercapainya cakupan vaksinasi dalam suatu populasi.[21][22]
Efektivitas
[sunting | sunting sumber]


Pemberian satu dosis vaksin memberikan efektivitas sekitar 93% dalam mencegah campak, sedangkan dua dosis vaksin memberikan efektivitas sekitar 97%.[5] Sebelum luasnya penggunaan vaksin, kasus campak sangat umum terjadi sampai di titik di mana infeksi campak dianggap sebagai suatu hal yang "pasti terjadi seperti halnya kematian dan pajak."[23] Di Amerika Serikat, laporan kejadian kasus campak turun dari 3–4 juta dengan 400–500 kematian ke puluhan ribu kasus per tahun setelah diperkenalkannya dua vaksin campak pada tahun 1963 (keduanya adalah vaksin inaktif dan vaksin hidup yang dilemahkan (galur Edmonston B) yang diberikan lisensi untuk digunakan secara massal, lihat grafik di sisi kanan).[5][24] Peningkatan penggunaan vaksin setelah kejadian wabah tahun 1971 dan 1977 menurunkan angka kejadian ke angka ribuan kasus per tahun di tahun 1980-an. Wabah tahun 1990 yang mencapai hampir 30.000 kasus menyebabkan adanya dorongan baru terhadap vaksinasi dan penambahan dosis kedua dalam rekomendasi jadwal imunisasi. Sejak tahun 1997 sampai 2013, tidak lebih dari 220 kasus yang dilaporkan setiap tahunnya, dan campak dipercaya tidak lagi menjadi endemi di Amerika Serikat.[25][26][27] Pada tahun 2014, dilaporkan terjadi 667 kasus.[28]
Cakupan vaksinasi campak dosis pertama di seluruh dunia pada tahun 2018 adalah sebesar 86%, tetapi angka ini turun menjadi 84% pada tahun 2024.[17][18] Cakupan dosis kedua vaksin tahun 2024 adalah sebesar 76%.[18] Di Indonesia sendiri, menurut data dari Kementerian Kesehatan, angka cakupan vaksin campak dosis pertama turun dari 92% pada tahun 2024 menjadi 82% pada tahun 2025 dan cakupan dosis kedua juga turun dari 82,3% menjadi 77,6% di periode yang sama.[29]
Manfaat vaksin campak dalam mencegah penyakit, disabilitas, dan kematian telah terdokumentasikan dengan baik. Dalam 20 tahun pertama sejak vaksin campak memperoleh lisensi di AS, vaksin campak telah mencegah terjadinya 52 juta kasus campak, 17.400 kasus disabilitas intelektual, dan 5.200 kematian.[30] Dari tahun 1999 sampai 2004, strategi dari WHO dan UNICEF berhasil meningkatkan cakupan vaksin campak yang berhasil mencegah sekitar 1,4 juta kematian akibat campak di seluruh dunia.[31] Vaksin campak mengakibatkan hampir tereliminasinya campak secara penuh di Amerika Serikat dan negara-negara maju lainnya.[32] Walaupun vaksin ini dibuat dari virus hidup yang dapat menimbulkan efek samping, kejadian tersebut jauh lebih jarang terjadi dan sifatnya lebih ringan dibandingkan dengan penyakit dan kematian akibat campak itu sendiri. Efek samping yang dapat terjadi berkisar dari ruam hingga, dalam kasus yang jarang, kejang, dan hanya dialami oleh sebagian kecil penerima vaksin.[[33]
Menurut laporan World Health Organization, vaksin campak mencegah terjadinya 57 juta kematian akibat campak antara tahun 2000–2022.[34]
Walaupun campak diumumkan berhasil dieliminasi dari AS pada tahun 2000, dibutuhkan angka cakupan vaksinasi campak yang cukup dan komunikasi yang baik dengan pihak-pihak antivaksin untuk mencegah terjadinya wabah dan mempertahankan status eliminasi campak.[35] Dari 66 kasus campak yang dilaporkan terjadi di AS tahun 2005, lebih dari setengahnya terkait dengan satu remaja yang tidak menerima vaksin campak, yang terinfeksi saat berkunjung ke Rumania.[36] Orang ini kembali ke dalam sebuah komunitas yang berisi banyak anak-anak yang tidak menerima vaksin campak. Hal ini menyebabkan terjadinya wabah yang menginfeksi 34 orang, umumnya anak-anak, dan semua yang terinfeksi adalah orang-orang yang tidak menerima vaksin; tiga di antara mereka harus dirawat di rumah sakit. Respons kesehatan masyarakat mengharuskan dilakukannya hampir 5.000 panggilan telepon sebagai bagian dari pelacakan kontak, penjadwalan dan pengambilan sampel pemeriksaan sesuai kebutuhan, dan penjadwalan vaksinasi darurat untuk orang-orang yang berkontak dengan individu tersebut.[35] Para pembayar pajak dan organisasi kesehatan lokal kemungkinan mengeluarkan biaya lebih dari $167.000 untuk mencegah meluasnya wabah ini.[35] Epidemi besar berhasil dicegah karena tingginya angka vaksinasi di komunitas sekitarnya.[35]
Vaksin ini juga memiliki efek non-spesifik seperti mencegah terjadinya infeksi saluran pernapasan, yang mungkin memberikan dampak lebih besar dibandingkan dengan mencegah campak itu sendiri.[37] Manfaat-manfaat ini lebih besar jika vaksin diberikan sebelum usia satu tahun.[38] Vaksin dengan titer yang tinggi menghasilkan akibat yang lebih buruk pada anak-anak perempuan, sehingga tidak direkomendasikan oleh WHO.[39]
Respons imun terhadap vaksin campak dapat terganggu oleh adanya infeksi parasit seperti helmintiasis.[40]
Jadwal pemberian
[sunting | sunting sumber]World Health Organization (WHO) merekomendasikan pemberian dua dosis vaksin untuk seluruh anak-anak.[1] Di negara-negara dengan risiko tinggi kejadian campak, dosis pertama vaksin harus diberikan pada usia sekitar sembilan bulan.[1] Vaksin juga bisa diberikan pada usia 12 bulan.[1] Dosis kedua vaksin harus diberikan setidaknya satu bulan setelah pemberian dosis pertama vaksin.[1] Dosis kedua biasanya diberikan saat anak berusia 15 sampai 18 bulan.[1] Pemberian dosis pertama di usia sembilan bulan menghasilkan 85% kekebalan terhadap campak, sedangkan pemberian di usia 12 bulan menghasilkan 95% kekebalan terhadap campak.[13]
Di Indonesia, vaksin campak masuk ke dalam program imunisasi rutin pemerintah dan dapat diperoleh secara gratis di unit layanan kesehatan pemerintah.[41][42] Dalam program imunisasi rutin pemerintah, vaksin campak diberikan sebanyak tiga kali, seperti halnya rekomendasi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).[42][43] IDAI merekomendasikan pemberian vaksin campak (dalam bentuk kombinasi MR) dosis pertama pada usia 9 bulan; vaksin dapat diberikan di usia 12 bulan (dalam bentuk kombinasi MR atau MMR) jika anak belum menerima vaksin. Dosis kedua diberikan pada usia 15–18 bulan, dan dosis ketiga pada usia 5–7 tahun.[43]
Di Amerika Serikat, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan agar anak-anak berusia enam sampai sebelas bulan yang bepergian ke luar Amerika Serikat menerima dosis pertama vaksin MMR mereka sebelum keberangkatan[44] dan selanjutnya menerima dua dosis tambahan; satu dosis pada usia 12–15 bulan (12 bulan untuk anak-anak yang berada di area berisiko tinggi campak) dan dosis kedua setidak-tidaknya empat minggu kemudian.[45] Selain itu, dosis pertama vaksin umumnya diberikan pada usia 12–15 bulan dan dosis kedua pada usia 4–6 tahun.[45]
Di Inggris, National Health Service (NHS) merekomendasikan dosis pertama vaksin diberikan pada usia sekitar 13 bulan dan dosis kedua diberikan pada usia 3 tahun dan 4 bulan.[46][47]
Efek samping
[sunting | sunting sumber]Efek samping terkait vaksin MMR meliputi demam, ruam, nyeri di titik penyuntikan, dan, dalam kasus yang jarang terjadi, perubahan warna kulit menjadi kemerahan atau keunguan yang dikenal sebagai purpura trombositopenik, atau kejang terkait demam (kejang demam).[48][49]
Klaim palsu seputar autisme
[sunting | sunting sumber]Pada tahun 1998, Andrew Wakefield et al. memublikasikan sebuah karya ilmiah palsu, yang saat ini sudah ditarik, yang berisi keterkaitan vaksin MMR dengan autisme dalam jurnal The Lancet. Karya ilmiah palsu ini menyebabkan turunnya angka vaksinasi.[50][51][52] Di kemudian hari, Wakefield terbukti "tidak jujur" oleh General Medical Council, sebuah lembaga regulator dokter Inggris, dan dilarang untuk berpraktik di Inggris.[53] Banyak penelitian-penelitian dan tinjauan pustaka selanjutnya yang dilakukan oleh berbagai organisasi seperti Centers for Disease Control and Prevention, Institute of Medicine, NHS dan Cochrane Library tidak menemukan adanya hubungan antara vaksin MMR dan autisme.[54][55][56] Kontroversi yang menyelubungi publikasi Wakefield menyebabkan penurunan jumlah vaksinasi MMR dan peningkatan kasus campak di Inggris.[57] Di Jepang, di mana vaksin MMR tidak digunakan sebagai vaksin kombinasi, angka autisme tidak terpengaruh dengan pemberian vaksin; hal ini semakin membuktikan ketidakbenaran hipotesis Wakefield.[58]
Walaupun Robert F. Kennedy Jr.—Menteri Kesehatan dan Layanan Masyarakat Amerika Serikat— secara publik mendukung teori tidak terbukti dari Wakefield bahwa vaksin menyebabkan autisme,[59] dan walaupun dia adalah pendiri gerakan anti-vaksin Children's Health Defense, pada 28 Februari, selama wabah campak di barat daya AS tahun 2025, dia mengumumkan bahwa dia akan mengirimkan 2.000 dosis vaksin MMR ke Texas bersama dengan sumber daya pendukung lainnya.[60] Sebuah artikel New York Times melaporkan kematian seorang anak di Texas akibat campak—yang merupakan kematian pertama akibat campak di Amerika Serikat dalam sepuluh tahun terakhir, dan mengatakan bahwa gerakan antivaksin telah meningkat dalam beberapa tahun belakangan ini.[61]
Kontraindikasi
[sunting | sunting sumber]Beberapa orang tidak dapat menerima vaksin campak atau MMR, seperti pada kasus-kasus:
- Kehamilan: Vaksin MMR dan komponen-komponennya tidak boleh diberikan kepada wanita hamil.[62] Wanita-wanita dalam usia subur harus berkonsultasi dengan dokter pribadi mereka terkait vaksin sebelum mereka merencanakan kehamilan.[10]
- Anak-anak terinfeksi HIV; mereka dapat menerima vaksin campak jika kadar limfosit CD4+ mereka lebih dari 15%.[63]
- Sistem imun yang lemah akibat HIV/AIDS atau terapi medis tertentu[10]
- Memiliki riwayat keluarga berupa orang tua atau saudara dengan riwayat masalah imunitas[10]
- Kondisi yang menyebabkan pasien mudah memar atau berdarah[10]
- Riwayat transfusi darah baru-baru ini[10]
- Tuberkulosis[10]
- Menerima vaksin lain dalam jangka waktu 4 minggu ke belakang[10]
- Penyakit sedang atau berat. Namun, penyakit-penyakit ringan (misalnya, batuk pilek biasa) biasanya tidak menjadi kontraindikasi.[10]
Sejarah
[sunting | sunting sumber]

John Franklin Enders, yang merupakan salah satu penerima Penghargaan Nobel dalam Bidang Kedokteran untuk kerjanya dalam virus polio, mengirim Thomas C. Peebles ke Fay School di Massachusetts, tempat di mana wabah campak sedang terjadi. Peebles berhasil mengisolasi virus campak dari sampel darah dan usapan tenggorokan. Kemudian, dia berhasil mengulturkan virus tersebut dan membuktikan bahwa campak dapat ditularkan ke monyet yang diinokulasi dengan bahan yang telah dia dapatkan.[32] Enders menggunakan virus yang telah dikultivasi untuk mengembangkan vaksin campak di tahun 1963 dengan metode pelemahan virus melalui kulturasi bahan yang Peebles isolasi ke fibroblas embrio ayam.[65][66]
Pada akhir tahun 1950-an dan awal tahun 1960-an, hampir dua kali lipat lebih banyak anak meninggal karena campak dibandingkan karena polio.[67] Vaksin yang dikembangkkan Enders didasarkan pada galur Edmonston dari virus campak hidup yang dilemahkan. Nama galur diambil dari seorang anak berusia 11 tahun, David Edmonston, seorang murid Fay School, yang dari dirinya Peebles memperoleh kultur yang menyebabkan virus dapat dikembangbiakkan.[68]
Setelah terjadinya epidemi lainnya, sebuah percobaan berskala besar dilakukan di bulan September dan Oktober 1962, di Kota New York dengan bantuan WHO: 131 anak menerima galur virus hidup yang telah dilemahkan Edmonston B dan globulin gamma, 130 anak menerima vaksin "yang telah lebih dilemahkan lagi" tanpa globulin gamma, dan 173 anak bertindak sebagai subjek kontrol untuk kedua kelompok sebelumnya. Uji coba ini mengonfirmasi bahwa vaksin "yang telah lebih dilemahkan lagi" lebih unggul dibandingkan vaksin Edmonston B dan mengakibatkan kasus demam dan diare dalam jumlah yang jauh lebih sedikit secara signifikan. 2.000 anak di wilayah tersebut divaksinasi dengan vaksin hidup yang telah lebih dilemahkan.[69][70]
Maurice Hilleman di Merck & Co., seorang pionir dalam pengembangan berbagai vaksin, mengembangkan versi vaksin campak yang telah diperbaiki pada tahun 1968 dan kemudian vaksin MMR pada tahun 1971, yang merupakan vaksin untuk campak, gondongan dan rubela dalam satu suntikan diikuti oleh dosis penguat.[14][33][71] Satu bentuk vaksin dinamakan "Attenuvax".[72] Komponen campak dari vaksin MMR menggunakan Attenuvax,[73] yang ditumbuhkan di kultur sel embrio anak ayam menggunakan strain Edmonston dari Enders yang telah dilemahkan.[73] Setelah rilis rekomendasi Komite Penasihat dalam Praktik Imunisasi (ACIP), Merck memutuskan untuk tidak melanjutkan produksi Attenuvax sebagai vaksin campak tunggal pada 21 Oktober 2009.[74]
Sebuah penelitian di American Economic Journal pada tahun 2022 menemukan bahwa penggunaan vaksin campak menyebabkan peningkatan pendapatan sebesar 1,1% dan efek positif pada lapangan kerja karena lebih besarnya produktivitas orang-orang yang menerima vaksin.[75]
Jenis-jenis
[sunting | sunting sumber]
Vaksin campak jarang diberikan dalam bentuk tunggal dan sering diberikan dalam bentuk kombinasi dengan vaksin rubela, gondongan, atau cacar air.[1] Di bawah ini adalah daftar vaksin-vaksin yang mengandung vaksin campak:
- Vaksin campak (vaksin campak tunggal)
- Vaksin campak dan rubela (vaksin MR)
- Kombinasi vaksin gondongan, campak, dan rubela (vaksin MMR)[73][76][77]
- Kombinasi vaksin gondongan, campak, rubela, dan cacar air (vaksin MMRV)[9]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v "Measles vaccines: WHO position paper – April 2017" (PDF). Weekly Epidemiological Record. 92 (17): 205–27. April 2017. hdl:10665/255377. PMID 28459148. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 23 Januari 2023. Diakses tanggal 23 September 2020.
- ^ "Measles Vaccination and Infection: Questions and Misconceptions". ASM.org (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 April 2022. Diakses tanggal 29 April 2022.
- ^ "Summary of the WHO position on Measles Vaccine- April 2017" (PDF). who.int. 20 Juli 2017. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 8 Maret 2022.
- ^ "Measles". www.who.int (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 Juni 2019. Diakses tanggal 29 April 2022.
- ^ a b c "About Measles Vaccination | Vaccination and Immunizations | CDC". www.cdc.gov (dalam bahasa American English). 9 Januari 2020. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 April 2020. Diakses tanggal 30 April 2020.
- ^ a b CDC (2 Agustus 2019). "Measles and the Vaccine (Shot)". Centers for Disease Control and Prevention (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 Januari 2020. Diakses tanggal 30 April 2020.
- ^ "Measles, Mumps, and Rubella (MMR) Vaccination | CDC". www.cdc.gov (dalam bahasa American English). 5 April 2021. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 April 2020. Diakses tanggal 29 April 2022.
- ^ Mitchell D (2013). The essential guide to children's vaccines. New York: St. Martin's Press. hlm. 127. ISBN 978-1-4668-2750-9. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 September 2017.
- ^ a b "ProQuad- measles, mumps, rubella and varicella virus vaccine live injection, powder, lyophilized, for suspension". DailyMed. 26 September 2019. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 April 2020. Diakses tanggal 29 Januari 2020.
- ^ a b c d e f g h i "MMR Vaccination | What You Should Know | Measles, Mumps, Rubella | CDC". www.cdc.gov (dalam bahasa American English). 24 Desember 2019. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 April 2020. Diakses tanggal 30 April 2020.
- ^ "Information Sheet Observed Rate of Vaccine Reactions" (PDF). World Health Organization (WHO). Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 19 Desember 2019. Diakses tanggal 1 Desember 2018.
- ^ "MEASLES VACCINE - Essential drugs". medicalguidelines.msf.org. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 Desember 2021. Diakses tanggal 28 April 2022.
- ^ a b Centers for Disease Control and Prevention (2014). CDC health information for international travel 2014 the yellow book. Oxford University Press. hlm. 250. ISBN 978-0-19-994850-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 September 2017.
- ^ a b c CDC (5 November 2020). "History of Measles". Centers for Disease Control and Prevention (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 April 2020. Diakses tanggal 9 Februari 2021.
- ^ a b "Measles History". U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). 5 Februari 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 April 2020. Diakses tanggal 28 Januari 2020.
Artikel ini memuat teks dari sumber tersebut, yang berada dalam ranah publik.
- ^ "Vaccine History: Developments by Year". The Children's Hospital of Philadelphia. 20 November 2014. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 April 2022. Diakses tanggal 28 April 2022.
- ^ a b "Measles Fact Sheet - WHO". World Health Organization (WHO). 20 Maret 2023. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 November 2022. Diakses tanggal 29 Mei 2023.
- ^ a b c "WHO Immunization Data portal - Detail Page". Immunization Data (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 24 April 2026.
- ^ "Immunization Coverage - WHO". World Health Organization (WHO). 14 Juli 2022. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 Februari 2018. Diakses tanggal 29 Mei 2023.
- ^ The selection and use of essential medicines, 2025: WHO Model List of Essential Medicines, 24th list. Geneva: World Health Organization. 2025. doi:10.2471/B09474. hdl:10665/382243. License: CC BY-NC-SA 3.0 IGO.
- ^ "Measles". www.who.int (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 Juni 2019. Diakses tanggal 28 April 2022.
- ^ Abramson BD (2025). "Ch. 15-Specific Vaccines". Vaccine, Vaccination, and Immunization Law, Third Edition. Bloomberg Law. hlm. 29. ISBN 979-8-34170-407-7.
- ^ Babbott FL, Gordon JE (September 1954). "Modern measles". The American Journal of the Medical Sciences. 228 (3): 334–61. doi:10.1097/00000441-195409000-00013. PMID 13197385.
- ^ "Measles Prevention: Recommendations of the Immunization Practices Advisory Committee (ACIP)". www.cdc.gov. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 Mei 2012. Diakses tanggal 27 April 2020.
- ^ Centers for Disease Control and Prevention (CDC) (1994). "Summary of notifiable diseases, United States, 1993". MMWR. Morbidity and Mortality Weekly Report. 42 (53): i–xvii, 1–73. PMID 9247368. Diarsipkan dari asli tanggal 9 Maret 2010.
- ^ Centers for Disease Control and Prevention (CDC) (Juli 2007). "Summary of notifiable diseases, United States, 2007". MMWR. Morbidity and Mortality Weekly Report. 56 (53): 1–94. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 Juni 2018. Diakses tanggal 10 September 2017.
- ^ Wallace G, Leroy Z (2015). "Measles". Dalam Hamborsky J, Kroger A, Wolfe S (ed.). Epidemiology and Prevention of Vaccine-Preventable Diseases (Edisi 13). Washington D.C.: Public Health Foundation. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 Februari 2015. Diakses tanggal 30 April 2019.
- ^ "Measles Cases and Outbreaks". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 Februari 2015. Diakses tanggal 30 November 2018.
- ^ "Kasus Campak di Indonesia Meningkat, Mari Cegah dengan Vaksinasi Campak". Kalbemed. Diakses tanggal 24 April 2026.
- ^ Bloch AB, Orenstein WA, Stetler HC, Wassilak SG, Amler RW, Bart KJ, et al. (Oktober 1985). "Health impact of measles vaccination in the United States". Pediatrics. 76 (4): 524–32. doi:10.1542/peds.76.4.524. PMID 3931045. S2CID 6512947.
- ^ Centers for Disease Control and Prevention (CDC) (Maret 2006). "Progress in reducing global measles deaths, 1999-2004". MMWR. Morbidity and Mortality Weekly Report. 55 (9): 247–9. PMID 16528234. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 Oktober 2007.
- ^ a b Martin D (4 Agustus 2010). "Dr. Thomas C. Peebles, Who Identified Measles Virus, Dies at 89". The New York Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 April 2020. Diakses tanggal 11 Februari 2017.
- ^ a b Collins H (30 Agustus 1999). "The Man Who Saved Your Life - Maurice R. Hilleman - Developer of Vaccines for Mumps and Pandemic Flu". The Philadelphia Inquirer. Diarsipkan dari asli tanggal 6 Maret 2009. Diakses tanggal 28 Januari 2020.
- ^ "Measles". www.who.int (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 21 Agustus 2024.
- ^ a b c d Parker AA, Staggs W, Dayan GH, Ortega-Sánchez IR, Rota PA, Lowe L, et al. (Agustus 2006). "Implications of a 2005 measles outbreak in Indiana for sustained elimination of measles in the United States". The New England Journal of Medicine. 355 (5): 447–55. doi:10.1056/NEJMoa060775. PMID 16885548.
- ^ Centers for Disease Control and Prevention (CDC) (Desember 2006). "Measles--United States, 2005". MMWR. Morbidity and Mortality Weekly Report. 55 (50): 1348–51. PMID 17183226. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 Maret 2015.
- ^ Mina MJ (Juni 2017). "Measles, immune suppression and vaccination: direct and indirect nonspecific vaccine benefits". The Journal of Infection. 74 (Suppl 1): S10 – S17. doi:10.1016/S0163-4453(17)30185-8. PMID 28646947.
- ^ Nic Lochlainn LM, de Gier B, van der Maas N, van Binnendijk R, Strebel PM, Goodman T, et al. (November 2019). "Effect of measles vaccination in infants younger than 9 months on the immune response to subsequent measles vaccine doses: a systematic review and meta-analysis". The Lancet. Infectious Diseases (dalam bahasa English). 19 (11): 1246–1254. doi:10.1016/S1473-3099(19)30396-2. PMC 6838663. PMID 31548081. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
- ^ Sankoh O, Welaga P, Debpuur C, Zandoh C, Gyaase S, Poma MA, et al. (Juni 2014). "The non-specific effects of vaccines and other childhood interventions: the contribution of INDEPTH Health and Demographic Surveillance Systems". International Journal of Epidemiology. 43 (3): 645–653. doi:10.1093/ije/dyu101. PMC 4052142. PMID 24920644.
- ^ Natukunda A, Zirimenya L, Nassuuna J, Nkurunungi G, Cose S, Elliott AM, et al. (September 2022). "The effect of helminth infection on vaccine responses in humans and animal models: A systematic review and meta-analysis". Parasite Immunology. 44 (9) e12939. doi:10.1111/pim.12939. PMC 9542036. PMID 35712983.
- ^ "Imunisasi Measles Rubella Lindungi Anak Kita". kemkes.go.id. 19 Juli 2017. Diakses tanggal 26 April 2026.
- ^ a b Kementerian Kesehatan (2017). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2017 Tentang Penyelenggaraan Imunisasi. Diakses tanggal 26 April 2026 dari https://peraturan.bpk.go.id/Download/102930/Permenkes%20Nomor%2012%20Tahun%202017.pdf
- ^ a b "IDAI | Jadwal Imunisasi Anak Usia 0-18 Tahun, Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia tahun 2024". www.idai.or.id. Diakses tanggal 26 April 2026.
- ^ "Vaccine (Shot) for Measles". Centers for Disease Control and Prevention (CDC). 2 Agustus 2019. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 Januari 2020. Diakses tanggal 29 Januari 2020.
Artikel ini memuat teks dari sumber tersebut, yang berada dalam ranah publik.
- ^ a b "Birth-18 Years Immunization Schedule". Centers for Disease Control and Prevention (CDC). 5 Februari 2019. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 Maret 2016. Diakses tanggal 29 Januari 2020.
Artikel ini memuat teks dari sumber tersebut, yang berada dalam ranah publik.
- ^ "Measles". National Health Service UK. 20 Oktober 2017. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 Maret 2019. Diakses tanggal 11 Maret 2019.
- ^ "MMR vaccine overview". National Health Service UK. 8 Oktober 2019. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 31 Januari 2013. Diakses tanggal 29 Januari 2020.
- ^ "Information Sheet: Observed Rate of Vaccine Reactions: Measles, Mumps and Rubella Vaccines" (PDF). World Health Organization (WHO). Mei 2014. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 17 Desember 2019. Diakses tanggal 1 Desember 2018.
- ^ Di Pietrantonj C, Rivetti A, Marchione P, Debalini MG, Demicheli V (November 2021). "Vaccines for measles, mumps, rubella, and varicella in children". The Cochrane Database of Systematic Reviews. 2021 (11) CD004407. doi:10.1002/14651858.CD004407.pub5. PMC 8607336. PMID 34806766.
- ^ Wakefield AJ, Murch SH, Anthony A, Linnell J, Casson DM, Malik M, et al. (Februari 1998). "Ileal-lymphoid-nodular hyperplasia, non-specific colitis, and pervasive developmental disorder in children". Lancet. 351 (9103): 637–641. doi:10.1016/S0140-6736(97)11096-0. PMID 9500320. S2CID 439791. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 September 2007. Diakses tanggal 5 September 2007. (Dicabut, lihat http://retractionwatch.com/the-retraction-watch-leaderboard/top-10-most-highly-cited-retracted-papers/ Retraction Watch)
- ^ The Editors of The Lancet (Februari 2010). "Retraction—Ileal-lymphoid-nodular hyperplasia, non-specific colitis, and pervasive developmental disorder in children". Lancet. 375 (9713): 445. doi:10.1016/S0140-6736(10)60175-4. PMID 20137807. S2CID 26364726.
- ^ Triggle N (2 Februari 2010). "Lancet accepts MMR study 'false'". BBC News. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 November 2021. Diakses tanggal 11 Juni 2022.
- ^ Jardine C (29 Januari 2010). "GMC brands Dr Andrew Wakefield 'dishonest, irresponsible and callous'". The Telegraph. London. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 Januari 2022. Diakses tanggal 31 Januari 2015.
- ^ Di Pietrantonj C, Rivetti A, Marchione P, Debalini MG, Demicheli V (November 2021). "Vaccines for measles, mumps, rubella, and varicella in children". The Cochrane Database of Systematic Reviews. 2021 (11) CD004407. doi:10.1002/14651858.CD004407.pub5. PMC 8607336. PMID 34806766.
- ^ "Measles, Mumps, Rubella (MMR) Vaccine". U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). 24 Agustus 2018. Diarsipkan dari asli tanggal 28 November 2022. Diakses tanggal 28 November 2022.
- ^ "Autism and Vaccines - Vaccine Safety". U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). 24 Agustus 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 November 2022. Diakses tanggal 28 November 2022.
- ^ Thomas J (2010). "Paranoia strikes deep: MMR vaccine and autism". Psychiatric Times. 27 (3): 1–6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 Maret 2010.
- ^ Honda H, Shimizu Y, Rutter M (Juni 2005). "No effect of MMR withdrawal on the incidence of autism: a total population study". Journal of Child Psychology and Psychiatry, and Allied Disciplines. 46 (6): 572–579. CiteSeerX 10.1.1.579.1619. doi:10.1111/j.1469-7610.2005.01425.x. PMID 15877763. S2CID 10253998.
- ^ Korecki N (29 Januari 2025). "Autism community fears RFK Jr. would set back decades of progress". NBC News. Diakses tanggal 1 Maret 2025.
- ^ "Kennedy Jr backtracks and says US measles outbreak is now a 'top priority' for health department". The Guardian. 1 Maret 2025. Diakses tanggal 1 Maret 2025.
- ^ Rosenbluth T, Rios D (28 Februari 2025). "In Texas Measles Outbreak, Signs of a Riskier Future for Children". The New York Times. ISSN 0362-4331. Diakses tanggal 1 Maret 2025.
- ^ "Guidelines for Vaccinating Pregnant Women". Centers for Disease Control and Prevention. Agustus 2016. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 April 2020. Diakses tanggal 30 April 2019.
- ^ "Contraindications and Precautions". Vaccine Recommendations and Guidelines of the ACIP. Centers for Disease Control and Prevention. 23 April 2020. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 Mei 2019. Diakses tanggal 30 April 2019.
- ^ "Over a hundred million infants receive measles vaccines annually, protecting them and communities against a deadly disease". Our World in Data (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 25 Mei 2025.
- ^ "Work by Enders Brings Measles Vaccine License". The Hartford Courant. 22 Maret 1963. Diarsipkan dari asli tanggal 3 November 2012.
Sebuah galur virus campak diisolasi pada tahun 1954 oleh Dr. Thomas C. Peebles, instruktor di bagian pediatri di Harvard, dan Enders, membentuk dasar dari perkembangan vaksin di zaman sekarang
- ^ Griffin DE (Maret 2018). "Measles Vaccine". Viral Immunol. 31 (2): 86–95. doi:10.1089/vim.2017.0143. PMC 5863094. PMID 29256824.
- ^ "The Measles Vaccine". The New York Times. 28 Maret 1963. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 April 2019. Diakses tanggal 30 April 2019.
- ^ Hilleman MR (Juli 1992). "Past, present, and future of measles, mumps, and rubella virus vaccines". Pediatrics. 90 (1 Pt 2): 149–53. doi:10.1542/peds.90.1.149. PMID 1603640. S2CID 33115842.
- ^ Morley DC, Woodland M, Krugman S, Friedman H, Grab B (1964). "Measles and Measles Vaccination in an African Village". Bulletin of the World Health Organization. 30 (5): 733–9. PMC 2554995. PMID 14196817.
- ^ Pritchard J (13 November 1997). "Obituary: Dr C. A. Pearson". The Independent. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 Februari 2014. Diakses tanggal 29 Januari 2014.
- ^ Sullivan P (13 April 2005). "Maurice R. Hilleman Dies; Created Vaccines (washingtonpost.com)". The Washington Post. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 Oktober 2012. Diakses tanggal 21 Juli 2009.
- ^ Ovsyannikova IG, Johnson KL, Naylor S, Poland GA (Februari 2005). "Identification of HLA-DRB1-bound self-peptides following measles virus infection". Journal of Immunological Methods. 297 (1–2): 153–67. doi:10.1016/j.jim.2004.12.020. PMID 15777939.
- ^ a b c "M-M-R II- measles, mumps, and rubella virus vaccine live injection, powder, lyophilized, for suspension". DailyMed. 24 September 2019. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 April 2020. Diakses tanggal 29 Januari 2020.
- ^ "Q&As about Monovalent M-M-R Vaccines". Centers for Disease Control and Prevention (CDC). 26 Oktober 2009. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 Oktober 2019. Diakses tanggal 18 Oktober 2019.
- ^ Atwood A (2022). "The Long-Term Effects of Measles Vaccination on Earnings and Employment". American Economic Journal: Economic Policy (dalam bahasa Inggris). 14 (2): 34–60. doi:10.1257/pol.20190509. ISSN 1945-7731. S2CID 248468606.
- ^ "M-M-RVaxPro EPAR". European Medicines Agency (EMA). 17 September 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 April 2020. Diakses tanggal 29 Januari 2020.
- ^ "Priorix - Summary of Product Characteristics (SmPC)". (emc). 14 Januari 2020. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 April 2020. Diakses tanggal 29 Januari 2020.
Bacaan lebih lanjut
[sunting | sunting sumber]- The immunological basis for immunization series: module 7: measles - Update 2009. Geneva, Swiss: World Health Organization. 2009. hdl:10665/44038. ISBN 978-92-4-159755-5.
- Ramsay M, ed. (2019). "Chapter 21: Measles". Immunisation against infectious disease. London, Inggris: Public Health England. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 November 2019. Diakses tanggal 22 Desember 2019.
- Hall E, Wodi AP, Hamborsky J, Morelli V, Schillie S, ed. (2021). "Chapter 13: Measles". Epidemiology and Prevention of Vaccine-Preventable Diseases (Edisi 14). Washington D.C.: U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 Desember 2016. Diakses tanggal 22 Desember 2019.
- Gastanaduy PA, Redd SB, Clemmons NS, Lee Adria D, Hickman CJ, Rota PA, et al. (2019). "Chapter 7: Measles". Dalam Roush SW, Baldy LM, Hall MH (ed.). Manual for the surveillance of vaccine-preventable diseases. Atlanta, Georgia: U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 Agustus 2020. Diakses tanggal 22 Desember 2019.
Pranala luar
[sunting | sunting sumber]- "MMR (Measles, Mumps, & Rubella) Vaccine Information Statement". U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). 22 Oktober 2019.
- "MMRV (Measles, Mumps, Rubella & Varicella) Vaccine Information Statement". U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). 22 Oktober 2019.
- MeSH Vaccine Measles Vaccine