Zaman Kegelapan Kamboja
Bagian dari seri mengenai |
|---|
| Sejarah Kamboja |
| Sejarah awal |
| Zaman Kegelapan |
| Zaman kolonial |
| Zaman kontemporer |
|
| Garis waktu |
Istilah Zaman Kegelapan Kamboja, juga Periode Pertengahan[1] atau Isolasionisme Kamboja merujuk kepada era dalam sejarah dari awal abad ke-15 sampai 1863, tahun yang menandai permulaan Protektorat Kamboja Prancis. Pada saat itu, sumber sejarah yang dapat dipercaya (khususnya mulai abad ke-15 dan 16) sangat jarang ditemukan, juga penjelasan meyakinkan yang masih ada berhubungan dengan peristiwa nyata yang menunjukkan mundurnya Kerajaan Khmer, yang diakui secara bulat oleh komunitas ilmiah, juga belum dibuat. Namun demikian, sebagian besar sejarawan modern memiliki pendekatan yang menunjukkan beberapa perubahan berbeda dan bertahap yang bersifat agamais, dinasti, pengelolaan dan ketentaraan, masalah dan ketidakseimbangan lingkungan bertepatan dengan pergeseran kekuasaan di Semenanjung Indochina dan semuanya perlu perhitungan untuk membuat penafsiran. Dalam beberapa tahun terakhir, fokus para cendekiawan semakin bergeser ke arah hubungan timbal balik saling memengaruhi antara manusia—lingkungan dan dampaknya, termasuk bencana alam seperti banjir dan kekeringan.
Prasasti batu di kuil-kuil (candi-candi), yang merupakan sumber utama sejarah bangsa Khmer, sudah langka sepanjang abad ke-13, berakhir pada dekade ketiga abad ke-14, dan tidak dilanjutkan hingga pertengahan abad ke-16. Pencatatan Kronologi (Urutan Peristiwa) Kerajaan terputus pada masa pemerintahan Raja Jayawarman IX Parameshwara (atau Jayavarma-Paramesvara) yang memerintah dari tahun 1327 hingga 1336. Tidak ada satu pun catatan sezaman yang menunjukkan nama raja yang memerintah selama lebih dari 200 tahun. Pembangunan dan pemeliharaan bangunan kuil atau candi-candi penting telah berhenti setelah masa pemerintahan Raja Jayawarman VII. Menurut seorang penulis bernama Michael Vickery, sumber-sumber yang menjelaskan tentang perkembangan Kerajaan Kamboja pada abad ke-15 hanya berasal dari luar, seperti Ming Shilu dari Tiongkok (bermakna "Catatan Sejati") dan kronik awal Kerajaan Ayutthaya, yang harus ditelaah secara lebih berhati-hati.
Peristiwa tunggal yang cermin kenyataannya tidak diragukan lagi, titik acuan utama selama abad ke-15, adalah campur tangan bangsa Siam yang sifatnya tidak diungkapkan di ibukota Yaśodharapura (Angkor Thom) sekitar tahun 1431. Sejarawan mengaitkan peristiwa tersebut dengan pergeseran pusat politik pemerintahan ke selatan, menuju wilayah pelabuhan sungai Phnom Penh dan kemudian Longvek.
Sumber dari abad ke-16 lebih banyak, meskipun masih berasal dari luar Kamboja. Ibukota baru kerajaan terletak di Longvek, dekat Sungai Mekong, yang berkembang sebagai bagian tak terpisahkan dari jaringan perdagangan maritim Asia abad ke-16. Lewat jaringan perdagangan inilah pertama kali terjalin kontak dengan penjelajah dan petualang Eropa. Persaingan dengan Kerajaan Ayutthaya menyebabkan seringnya terjadi konflik, termasuk penaklukan Longvek oleh bangsa Siam pada tahun 1594. Selain itu, perluasan wilayah Vietnam ke selatan telah mencapai daerah Prei Nokor/Saigon di Delta Mekong pada abad ke-17. Peristiwa ini memulai proses lambat hilangnya akses Kamboja ke laut dan perdagangan maritim sendiri.
Peran serta Siam dan Vietnam meningkat selama abad ke-17 dan 18, memicu pergolakan kekuasaan yang sering terjadi karena kedaulatan kuasa raja Khmer menurun hingga menjadi negara bawahan. Secara bergantian, kedua negara penguasa tersebut meminta kepatuhan dan pembayaran upeti dari istana Kamboja. Pada pertengahan abad ke-19, saat kedua bangsa berdamai dan mapan dari konflik, Kamboja ditetapkan di bawah kekuasaan bersama Siam-Vietnam, menyebabkan Kerajaan Kamboja semakin kehilangan kedaulatan akan negaranya. Seorang agen Inggris, John Crawfurd, mengatakan, "...sang raja dari kerajaan kuno tersebut telah siap menyerahkan diri di bawah perlindungan negara Eropa mana pun...". Pada saat Raja Ang Duong berkuasa, ia ingin menyelamatkan negaranya dari kekuasaan bersama tersebut dengan menyetujui tawaran perlindungan yang ditawarkan oleh Pemerintah Kolonial Prancis, yang resmi berlaku sejak penandatanganan dan pengakuan resmi protektorat Prancis oleh Raja Norodom Prohmbarirak pada tanggal 11 Agustus 1863.
Perjuangan Kamboja untuk bangkit, 1432–1863
[sunting | sunting sumber]Kontak Pertama dengan Dunia Barat
[sunting | sunting sumber]
Rujukan mengenai Kamboja pertama dalam dokumen Eropa adalah pada 1511 oleh Portugis. Raja Ang Chan (1516–1566), salah satu dari beberapa penguasa Khmer terbesar pada periode pasca-Angkorian, memindahkan ibu kota dari Phnom Penh ke Lovek. Para Penjelajah Portugis dan Spanyol yang berkunjung ke kota tersebut, yang terletak di tepi Tonle Sab, sebuah sungai di utara Phnom Penh, menyatakan bahwa tempat tersebut sejahtera. Pada akhir abad keenam belas dan awal abad ketujuh belas, Lovek dibanjiri komunitas perdagangan asing Tionghoa, Nusantara, Melayu, Jepang, Arab, Spanyol, dan Portugis. Pada abad tersebut, mereka menjalin hubungan dengan Inggris dan Belanda.
Pada masa tersebut (1555-1556), bruder Portugis Gaspar da Cruz melakukan upaya pertama untuk memperkenalkan Kekristenan di negara tersebut. Menurut catatannya sendiri, upayanya sangat gagal karena kepercayaan "Bramene" yang kuat dari raja dan kelas pemerintahan.[2]
Perang Kamboja-Belanda
[sunting | sunting sumber]Di Sungai Mekong, bangsa Kamboja mengalahkan Perusahaan Hindia Belanda dalam sebuah perang laut dari tahun 1643-44 dengan 1,000 korban tewas dari pihak pasukan Kamboja, dan 156 korban tewas dari 432 prajurit pihak Belanda dan beberapa kapal perang Belanda jatuh ke tangan Kamboja.[3][4][5][6][7] Duta Besar Perusahaan Hindia Belanda terbunuh bersama dengan Pierre de Rogemortes.[8]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ^ "Murder and Mayhem in Seventeenth Century Cambodia - The so-called middle period of Cambodian history, stretching from... - Reviews in History". School of Advanced Study at the University of London. February 28, 2009. Diarsipkan dari asli tanggal 2015-06-15. Diakses tanggal 14 Juni 2015.
- ^ Boxer, Charles Ralph; Pereira, Galeote; Cruz, Gaspar da; Rada, Martín de (1953), South China in the sixteenth century: being the narratives of Galeote Pereira, Fr. Gaspar da Cruz, O.P. [and] Fr. Martín de Rada, O.E.S.A. (1550-1575), Issue 106 of Works issued by the Hakluyt Society, Printed for the Hakluyt Society, hlm. lix, 59–63
- ^ Kiernan 2008, p. 157.
- ^ Kiernan 2002, p. 253.
- ^ Cormack 2001, p. 447.
- ^ Reid 1999, p. 36.
- ^ Chakrabartty 1988, p. 497.
- ^ Fielding 2008, p. 27.
- Chakrabartty, H. R. (1988). Vietnam, Kampuchea, Laos, Bound in Comradeship: A Panoramic Study of Indochina from Ancient to Modern Times, Volume 2. Patriot Publishers. ISBN 8170500486. Diakses tanggal 16 February 2014.
- Cormack, Don (2001). Killing Fields, Living Fields: An Unfinished Portrait of the Cambodian Church - The Church That Would Not Die. Contributor Peter Lewis (Edisi reprint). Kregel Publications. ISBN 0825460026. Diakses tanggal 16 February 2014. ;
- Fielding, Leslie (2008). Before the Killing Fields: Witness to Cambodia and the Vietnam War (Edisi illustrated). I.B.Tauris. ISBN 1845114930. Diakses tanggal 16 February 2014.
- Kiernan, Ben (2008). Blood and Soil: A World History of Genocide and Extermination from Sparta to Darfur. Melbourne Univ. Publishing. ISBN 052285477X. Diakses tanggal 16 February 2014.
- Kiernan, Ben (2002). The Pol Pot Regime: Race, Power, and Genocide in Cambodia Under the Khmer Rouge, 1975-79 (Edisi illustrated). Yale University Press. ISBN 0300096496. Diakses tanggal 16 February 2014.
- Osborne, Milton (2008). Phnom Penh : A Cultural History: A Cultural History. Oxford University Press. ISBN 0199711739. Diakses tanggal 16 February 2014.
- Reid, Anthony (1999). Charting the shape of early modern Southeast Asia. Silkworm Books. ISBN 9747551063. Diakses tanggal 16 February 2014.