Eritromisin
| Data klinis | |
|---|---|
| Nama dagang | Erymed, Eryc, Eryra, Erythrocin, Narlecin, dll[1] |
| AHFS/Drugs.com | monograph |
| MedlinePlus | a682381 |
| License data |
|
| Kategori kehamilan | |
| Rute pemberian | Oral intravena, intramuskular, topikal, tetes mata |
| Kelas obat | Macrolide antibiotic |
| Kode ATC | |
| Status hukum | |
| Status hukum | |
| Data farmakokinetika | |
| Bioavailabilitas | Tergantung pada jenis ester; antara 30% dan 65% |
| Pengikatan protein | 90% |
| Metabolisme | Hati (di bawah 5% diekskresikan tidak berubah) |
| Waktu paruh eliminasi | 1.5 jam |
| Ekskresi | Empedu |
| Pengenal | |
| |
| Nomor CAS | |
| PubChem CID | |
| IUPHAR/BPS | |
| DrugBank | |
| ChemSpider | |
| UNII | |
| KEGG | |
| ChEBI | |
| ChEMBL | |
| Ligan PDB | |
| CompTox Dashboard (EPA) | |
| ECHA InfoCard | 100.003.673 |
| Data sifat kimia dan fisik | |
| Rumus | C37H67NO13 |
| Massa molar | 733,94 g·mol−1 |
| |
| |
| (verify) | |
Eritromisin merupakan salah satu jeni antibiotik dari golongan makrolida yang memiliki cincin lakton yang besar dalam rumus molekulnya.
Asal dan kimia
[sunting | sunting sumber]Eritromisin adalah antibiotik yang dihasilkan oleh strain Streptomyces erythreus. Zat ini berbentuk kristal berwarna kekuningan dan memiliki kelarutan dalam air sebesar 2 mg/ml.[3] Eritromisin lebih mudah larut dalam etanol atau pelarut organik dibandingkan air.
Antibiotik ini tidak stabil dalam kondisi asam dan kurang stabil pada suhu kamar, tetapi cukup tahan pada suhu rendah. Aktivitasnya paling tinggi saat berada dalam suasana basa (alkalis). Jika larutan eritromisin disimpan dalam kondisi netral pada suhu kamar, efektivitasnya akan menurun dalam beberapa hari. Namun, jika disimpan pada suhu sekitar 5°C, larutan ini bisa bertahan hingga beberapa minggu.
Aktivitas antimikroba
[sunting | sunting sumber]Eritromisin termasuk dalam golongan antibiotik makrolida. Obat ini bekerja dengan cara menghambat pembentukan protein pada bakteri, yaitu dengan berikatan secara reversible (dapat dilepas) dengan bagian ribosom subunit 50S. Efeknya bisa bersifat bakteriostatik (menghambat pertumbuhan bakteri) atau bakterisid (membunuh bakteri), tergantung pada jenis bakteri dan kadar obat yang digunakan.
Dalam uji laboratorium (in vitro), eritromisin paling efektif terhadap bakteri berbentuk bulat (kokus) gram positif, seperti Streptococcus pyogenes dan Streptococcus pneumoniae. Sementara Streptococcus viridans menunjukkan tingkat kepekaan yang bervariasi. Bakteri Staphylococcus aureus yang resisten terhadap eritromisin sering ditemukan di lingkungan rumah sakit (dikenal sebagai strain nosokomial).
Beberapa jenis bakteri batang gram positif yang masih peka terhadap eritromisin antara lain Clostridium perfringens, Corynebacterium diphtheriae, dan Listeria monocytogenes. Eritromisin umumnya tidak efektif terhadap sebagian besar bakteri gram negatif. Namun, ada beberapa pengecualian, seperti Neisseria gonorrhoeae, Campylobacter jejuni, Mycoplasma pneumoniae, Legionella pneumophila, dan Chlamydia trachomatis, yang cukup sensitif terhadap obat ini. Untuk Haemophilus influenzae, tingkat kepekaannya terhadap eritromisin bervariasi.
Resistensi
[sunting | sunting sumber]Resistensi terhadap eritromisin dapat terjadi melalui tiga mekanisme utama yang dipengaruhi oleh plasmid. Pertama, dinding sel bakteri menjadi kurang permeabel, sehingga eritromisin sulit masuk dan bekerja secara efektif. Kedua, struktur reseptor obat pada ribosom mengalami perubahan, sehingga eritromisin tidak lagi dapat berikatan dengan targetnya untuk menghambat sintesis protein. Ketiga, beberapa jenis bakteri, khususnya dari kelompok Enterobacteriaceae, menghasilkan enzim esterase yang mampu menguraikan eritromisin sebelum obat tersebut memberikan efeknya. Ketiga mekanisme ini menjelaskan bagaimana bakteri dapat mengembangkan ketahanan terhadap pengobatan dengan eritromisin.
Farmakonitetik
[sunting | sunting sumber]Eritromisin basa mudah rusak oleh asam lambung sehingga obat ini biasanya diberikan dalam bentuk tablet salut enterik atau dalam bentuk ester agar dapat bertahan dan diserap dengan baik melalui mulut. Setelah dikonsumsi secara oral, eritromisin dapat diserap secara cukup efektif oleh tubuh.
Setelah masuk ke dalam tubuh, eritromisin tersebar ke hampir seluruh cairan tubuh, kecuali cairan serebrospinal. Obat ini termasuk salah satu dari sedikit antibiotik yang dapat masuk ke dalam cairan prostat dan memiliki kemampuan untuk terkumpul di dalam sel makrofaga. Eritromisin juga cenderung menumpuk di hati. Jika terjadi peradangan, penyebaran obat ke jaringan tubuh menjadi lebih baik.
Dalam proses metabolisme, eritromisin mengalami pemecahan secara menyeluruh dan diketahui dapat menghambat proses oksidasi beberapa jenis obat lain melalui interaksinya dengan sistem enzim sitokrom P450.
Untuk proses pengeluaran dari tubuh, eritromisin terutama dibuang melalui empedu dalam bentuk aktif. Sebagian dari obat ini dapat diserap kembali melalui sirkulasi enterohepatik, yaitu proses daur ulang antara hati dan usus.
Efek samping
[sunting | sunting sumber]Eritromisin dapat menimbulkan beberapa efek samping. Efek yang paling sering terjadi adalah gangguan pada lambung bagian atas, seperti rasa tidak nyaman atau nyeri, yang sering kali menyebabkan pasien enggan melanjutkan pengobatan.
Efek samping lain yang lebih serius adalah ikterus kolestatik, terutama pada penggunaan eritromisin estolat. Reaksi ini biasanya muncul antara hari ke-10 hingga ke-20 setelah terapi dimulai. Gejalanya meliputi nyeri perut mirip dengan kolestasis akut, mual, muntah, diikuti dengan timbulnya warna kuning pada kulit dan mata (ikterus), demam, peningkatan jumlah sel darah putih (leukositosis), dan peningkatan eosinofil (eosinofilia). Pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar enzim hati (transaminase) dan bilirubin yang meningkat, meskipun pemeriksaan kolesistogram tidak menunjukkan kelainan.
Selain itu, eritromisin juga dapat menyebabkan ototoksisitas, yaitu gangguan pendengaran sementara, terutama jika digunakan dalam dosis tinggi.
Reaksi alergi juga mungkin terjadi, biasanya berupa demam, peningkatan eosinofil, dan ruam kulit (eksantem). Gejala ini umumnya akan hilang dengan cepat setelah pengobatan dihentikan.
Interaksi obat
[sunting | sunting sumber]Eritromisin dapat berinteraksi dengan berbagai jenis obat lain, dan beberapa kombinasi dapat menimbulkan efek samping yang merugikan. Jika dikonsumsi bersama obat asma yang berasal dari turunan teofilin, efek obat asma bisa meningkat secara berlebihan. Obat asma berfungsi membuka saluran udara di paru-paru dan membantu pernapasan, tetapi jika kadarnya terlalu tinggi, dapat menimbulkan gejala seperti mual, sakit kepala, pusing, mudah tersinggung, gemetar, sulit tidur, gangguan irama jantung (aritmia), detak jantung cepat (takhikardia), bahkan kejang.
Interaksi dengan karbamazepin, obat antikejang yang digunakan untuk mengatasi epilepsi, juga dapat meningkatkan kadar karbamazepin dalam tubuh. Akibatnya, pasien bisa mengalami efek samping seperti pusing, mual, nyeri perut, dan perasaan linglung.
Jika dikombinasikan dengan digoksin, obat yang digunakan untuk memperkuat fungsi jantung dan menstabilkan detak jantung, efek digoksin dapat meningkat. Hal ini dapat menyebabkan mual, hilangnya nafsu makan, gangguan irama jantung, serta detak jantung yang terlalu cepat (takhikardia) atau terlalu lambat (bradikardia).
Penggunaan eritromisin bersama dengan antibiotik lain seperti klindamisin atau linkomisin dapat menurunkan efektivitas kedua obat tersebut. Akibatnya, infeksi yang sedang diobati mungkin tidak sembuh sebagaimana mestinya.
Sementara itu, kombinasi eritromisin dengan antibiotik penisilin dapat menyebabkan efek yang tidak menentu, baik peningkatan maupun penurunan efektivitas setiap obat. Karena dampaknya sulit diprediksi, kombinasi ini sebaiknya dihindari.
Penggunaan klinik
[sunting | sunting sumber]Eritromisin digunakan untuk mengobati berbagai jenis infeksi bakteri. Pada kasus infeksi Mycoplasma pneumoniae, pemberian eritromisin sebanyak 500 mg empat kali sehari secara oral dapat membantu menurunkan demam dan mempercepat proses penyembuhan.
Untuk penyakit Legionnaire, yaitu pneumonia yang disebabkan oleh Legionella pneumophila, eritromisin menjadi pilihan utama. Dosis yang dianjurkan adalah 0,5–1 gram empat kali sehari secara oral, atau 1–4 gram per hari jika diberikan melalui infus.
Eritromisin juga digunakan sebagai alternatif tetrasiklin untuk mengatasi infeksi klamidia tanpa komplikasi, yang menyerang saluran kemih, leher rahim, rektum, atau epididimis. Dosisnya adalah 500 mg empat kali sehari selama tujuh hari. Obat ini sangat dianjurkan untuk wanita hamil dan anak-anak yang mengalami infeksi klamidia.
Pada kasus difteri, eritromisin efektif untuk membasmi bakteri penyebab, baik saat infeksi aktif maupun saat seseorang menjadi pembawa (carrier). Namun, perlu diingat bahwa antibiotik, termasuk eritromisin, tidak memengaruhi jalannya penyakit atau komplikasinya. Dalam hal ini, pemberian antitoksin tetap menjadi langkah utama.
Infeksi streptokokus seperti faringitis, demam scarlet, dan erisipelas yang disebabkan oleh Streptococcus pyogenes dapat diobati dengan eritromisin oral sebanyak 30 mg per kilogram berat badan per hari selama 10 hari. Pneumonia akibat Streptococcus pneumoniae juga dapat ditangani dengan dosis 250–500 mg empat kali sehari.
Untuk infeksi ringan oleh Staphylococcus aureus, termasuk yang resisten terhadap penisilin, eritromisin bisa menjadi alternatif. Namun, karena munculnya strain yang resisten terhadap eritromisin, efektivitasnya menjadi terbatas. Pada infeksi berat, lebih disarankan menggunakan penisilin yang tahan terhadap enzim penisilinase (seperti dikloksasilin atau flukloksasilin) atau antibiotik sefalosporin. Dosis eritromisin untuk infeksi kulit atau luka adalah 500 mg empat kali sehari selama 7–10 hari.
Gastroenteritis akibat Campylobacter jejuni dapat diobati dengan eritromisin sebanyak 250 mg empat kali sehari secara oral. Namun, saat ini antibiotik golongan fluorokuinolon lebih sering digunakan untuk infeksi ini.
Pada penderita tetanus yang alergi terhadap penisilin, eritromisin dapat digunakan untuk membasmi Clostridium tetani dengan dosis 500 mg empat kali sehari selama 10 hari. Meski begitu, pengobatan utama tetap meliputi pemberian antitoksin, obat kejang, dan perawatan luka.
Untuk sifilis stadium awal pada pasien yang tidak bisa menggunakan penisilin, eritromisin dapat diberikan dengan dosis 2–4 gram per hari selama 10–15 hari.
Eritromisin juga bisa digunakan untuk mengatasi gonore yang menyebar, khususnya pada wanita hamil yang alergi terhadap penisilin. Dosisnya adalah 500 mg empat kali sehari selama lima hari, meskipun tingkat kekambuhan mencapai sekitar 25%.
Dalam penggunaan pencegahan (profilaksis), eritromisin dapat digunakan sebagai pengganti penisilin bagi penderita demam reumatik yang alergi terhadap penisilin. Obat ini juga bisa diberikan sebelum pencabutan gigi pada pasien dengan risiko endokarditis bakterial. Dosisnya adalah 1 gram satu jam sebelum tindakan, dilanjutkan dengan 500 mg enam jam setelahnya.
Terakhir, eritromisin dapat mempercepat penyembuhan jika diberikan pada tahap awal infeksi pertusis (batuk rejan).
Daftar pustaka
[sunting | sunting sumber]- Ganiswara, G, Suliatia, dkk., 1995., Farmakologi Dan Terapi Edisi ke-4., Fakultas Kedokteran UI., Jakarta., 675-678
- J. Mycek, Mary, dkk., 2001., Farmakologi Ulasan Bergambar Edisi ke-2., Widya Medika., Jakarta., 321-323
- Harkness, Richard., 1984., Interaksi Obat., ITB., Bandung., 210-211
- Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia., ISO., Jakarta., 501
Rujukan
[sunting | sunting sumber]- ^ Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref>tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernamaAHFS2015 - ^ Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref>tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernamaAG2015 - ^ Parker, Sybil, P (1984). McGraw-Hill Dictionary of Biology. McGraw-Hill Company. hlm. 125. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)