Notasi gamelan

Basis Pengetahuan Terbuka Wikipedia Indonesia

Notasi gamelan adalah penggunaan notasi musik dan partitur dalam penciptaan komposisi musik gamelan (gendhing). Dalam sejarahnya, notasi gamelan sangat sedikit memainkan peranan penting dalam sejarah, karena pada masa lampau, gendhing (komposisi musik) dalam gamelan lebih mengandalkan tradisi lisan. Namun, di Jawa dan Bali, semenjak abad ke-19, notasi gamelan mulai diciptakan; meski mulanya digunakan hanya sebatas untuk pengarsipan saja.

Gamelan Jawa

[sunting | sunting sumber]

Pada awalnya, musik gamelan Jawa berkembang dalam tradisi lisan yang sangat kuat. Para pengrawit mempelajari gendhing melalui proses mendengar, menghafal, dan menirukan tanpa menggunakan sistem notasi tertulis. Hal ini membuat karawitan bersifat fleksibel, hidup, dan selalu mengalami perubahan sesuai dengan interpretasi para pemainnya. Tradisi lisan ini juga mencerminkan nilai estetika Jawa yang menekankan rasa dan pengalaman langsung dalam bermusik, bukan sekadar ketepatan teknis.[1]

Masuknya pengaruh Barat pada abad ke-19 membawa perubahan penting dalam dunia karawitan, khususnya dalam hal pencatatan musik. Interaksi budaya antara masyarakat Jawa dan Eropa memperkenalkan konsep notasi sebagai teknologi tulis yang sebelumnya tidak dikenal dalam tradisi gamelan. Notasi Barat yang bersifat preskriptif—mengatur secara rinci bagaimana musik harus dimainkan—memberikan inspirasi bagi masyarakat Jawa untuk mulai mengembangkan sistem pencatatan sendiri, meskipun dengan pendekatan yang berbeda.[1]

Notasi Kepatihan

[sunting | sunting sumber]
Contoh melodi dalam laras slendro dengan notasi Kepatihan.[2]

Pada akhir abad ke-19, berbagai sistem notasi mulai dikembangkan di pusat-pusat kebudayaan Jawa seperti Surakarta dan Yogyakarta. Dari berbagai sistem tersebut, notasi Kepatihan menjadi yang paling bertahan hingga saat ini. Keberhasilan ini disebabkan oleh kesederhanaan sistemnya, yang menggunakan angka untuk merepresentasikan nada, serta fleksibilitasnya dalam pengembangan. Notasi ini tidak hanya digunakan sebagai alat dokumentasi, tetapi juga sebagai media pembelajaran, komunikasi antar-wiyaga, dan bahkan sebagai alat analisis dalam kajian ilmu karawitan. Notasi ini dikembangkan sejak awal abad ke-20, di kompleks Kepatihan Keraton Surakarta Hadiningrat dan dibuat menurut notasi Galin-Paris-Chevé, yang didatangkan pada abad ke-19 oleh misionaris Kristen untuk menulis notasi kidung gereja.[3] Perkembangan notasi Kepatihan juga tidak terlepas dari peran lembaga dan tokoh penting dalam dunia karawitan. Transkripsi awal balungan gendhing oleh para pengrawit keraton, serta penerbitan buku-buku pembelajaran gamelan pada awal abad ke-20, menjadi tonggak penting dalam penyebaran sistem ini. Selanjutnya, lembaga pendidikan formal seperti KOKAR (Konservatori Karawitan Indonesia) dan ASKI (Akademi Seni Karawitan Indonesia) memperkuat penggunaan notasi Kepatihan sebagai bagian dari kurikulum pembelajaran. Meskipun demikian, penggunaan notasi dalam karawitan Jawa memiliki karakter yang berbeda dengan musik Barat.[4] Notasi karawitan bersifat deskriptif, artinya hanya memberikan gambaran umum tentang struktur dan melodi dasar (balungan), bukan aturan mutlak tentang bagaimana musik harus dimainkan. Hal ini sejalan dengan sifat karawitan yang terbuka terhadap variasi, improvisasi, dan kreativitas dalam setiap pertunjukan.[1]

Notasi gamelan Keraton Surakarta gaya rantai.[2]

Dalam notasi kepatihan, balungan menjadi fokus utama dalam membaca notasi gamelan. Balungan dapat dipahami sebagai kerangka atau "tulang punggung" melodi yang menjadi dasar bagi pengembangan permainan alat musik lain dalam gamelan. Instrumen seperti saron dan slenthem biasanya memainkan balungan secara langsung, sementara instrumen lain seperti gendèr, rebab, dan bonang mengembangkan variasi berdasarkan kerangka tersebut. Cara membaca notasi Kepatihan relatif sederhana, yaitu dengan mengenali angka-angka yang mewakili nada dalam sistem laras slendro (1, 2, 3, 5, 6) atau pelog (1, 2, 3, 4, 5, 6, 7). Angka-angka tersebut dibaca sesuai urutan waktu, dengan tanda-tanda tambahan seperti titik atau garis untuk menunjukkan oktaf dan nilai ketukan. Namun, membaca notasi saja tidak cukup; pemain juga harus memahami konteks pathet, wirama, dan struktur gendhing agar dapat menafsirkan musik dengan tepat.[5]

Notasi Andha (K.R.T. Wiroguno).[2]

Berbeda dengan sistem notasi Barat, notasi gamelan hanya berfungsi sebagai alat bantu ingatan (mnemonik). Dalam praktiknya, seorang pengrawit tidak terpaku pada notasi, tetapi menggunakan pengalaman musikal dan rasa untuk menghidupkan gendhing. Oleh karena itu, pembelajaran karawitan tetap menekankan praktik langsung dan interaksi antarpemain, bukan sekadar membaca partitur. Perkembangan penggunaan notasi Kepatihan juga membawa dampak tertentu, seperti kecenderungan standardisasi dalam penyajian karawitan. Hal ini dianggap bertentangan dengan sifat dasar karawitan yang menghargai keberagaman gaya. Oleh karena itu, peneliti seperti Rusdiyantoro menyatakan agar notasi gamelan digunakan secara bijak, terutama sebagai alat dokumentasi dan pembelajaran, tanpa menghilangkan kebebasan interpretasi dalam praktik musik.[6]

Notasi gamelan lainnya

[sunting | sunting sumber]

Terdapat delapan jenis notasi gamelan Jawa yang telah dikembangkan. Di luar notasi Kepatihan, terdapat notasi gamelan lainnya yang juga telah dikembangkan, di antaranya notasi Kadipaten Pakualaman, notasi andha (K.R.T. Wiroguno), notasi Soerjopoetran, notasi Djajadipoeran, notasi Sariswara (oleh Ki Hadjar Dewantara), notasi rantai, dan notasi angka Bagoes Soelardi. Tujuan utama pengembangan ini adalah untuk mendokumentasikan gendhing agar tidak hilang serta membantu proses pembelajaran yang semakin berkembang di lingkungan keraton dan lembaga pendidikan.[7]

Mencocokkan dengan notasi Barat

[sunting | sunting sumber]
Contoh konversi ke tangga nada Barat.[2] Play

Notasi Kepatihan banyak digunakan dalam studi etnomusikologi gamelan, terkadang disertai dengan transkripsi laras pelog dan slendro dan konversi ke notasi balok Barat, baik dengan maupun tanpa berbagai simbol mikroton. Keunggulan konversi notasi Kepatihan ke notasi balok masih diperdebatkan, karena ketukan pertama dalam satu birama dicocokkan dengan ketukan keempat pada notasi gamelan.

Contoh kasus yang dapat dikaji adalah Walter Spies. Ia sempat memimpin Kraton Orkest Djocja, sebuah orkestra yang dibentuk di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat hingga 1927. Sebelum meninggalkan Keraton dan memilih untuk pindah ke Bali, ia meninggalkan beberapa adaptasi notasi gamelan ke piano. Di Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, gendhing gati, sebuah komposisi musik yang memadukan gamelan dengan alat musik Barat, menjadi salah satu contoh upaya konversi dari notasi gamelan ke notasi Barat.[8]

Fon komputer untuk notasi gamelan

[sunting | sunting sumber]

Non-Unicode

[sunting | sunting sumber]

Rupa huruf pertama untuk notasi gamelan adalah Kepatihan, sebuah rupa huruf PostScript (dapat digunakan pada Mac) yang dikembangkan oleh komponis Amerika Serikat Carter Scholz pada tahun 1987. Rupa huruf ini menggunakan notasi non-Unicode yang telah menjadi umum. Fon ini menggunakan "logika papan tik": fon tersebut seharusnya/dapat digunakan dengan driver papan tik Amerika Serikat, dan simbol-simbolnya ditemukan pada tombol yang masuk akal menurut tata letak papan tik pada umumnya. Misalnya, "oktaf bawah" dengan "titik di bawah" dapat diakses dengan tombol Q-W-E-R-T-Y-U karena tombol tersebut berada satu baris "di bawah" tombol angka.[9]

KepatihanPro sekarang[kapan?] merupakan fon komputer yang kini banyak digunakan untuk notasi gamelan. Awalnya, fon ini bernama "Kepatihan" yang dikembangkan oleh Matthew Arciniega pada tahun 1994, berbasis PostScript; fon ini menggunakan "logika papan tik" yang sama dengan fon Scholz, tetapi memiliki set karakter yang jauh lebih luas sehingga memungkinkan notasi lengkap rebab, vokal, dan kendang. Pada tahun 2000, Raymond Weisling mengonversi fon tersebut ke TrueType (yang dapat digunakan di Windows dan Mac) dan mengganti namanya menjadi "KepatihanPro" (agar dapat berdampingan dengan fon asli Scholz).[9] Pada saat itu, komputer Apple masih jarang di Indonesia, tetapi adopsi komputer berbasis Windows untuk pengolah kata menyebar dengan cepat. Oleh karena itu, ketersediaan fon untuk Windows sangat meningkatkan adopsi.[10]

Pada 24 Juli 2020, Kawedanan Kridhamardawa, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, meluncurkan fon baru, Kridhamardawa. Fon ini diturunkan dari KepatihanPro dan menggunakan titik kode "logika papan tik" yang sama. Perubahan utamanya bersifat tipografi: tanda titik dipertebal (dihitamkan) untuk meningkatkan keterbacaan dan tinggi baris dikurangi secara signifikan (agar menghemat ruang halaman). Fon baru ini juga menambahkan simbol tambahan.[9][11]

Pada awal tahun 2000-an, beberapa bentuk sederhana dari fon Kepatihan banyak digunakan untuk notasi angka himne gereja di seluruh Indonesia, dan dilaporkan bahkan menyebar ke Tiongkok.

Kode Unicode

[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 2014, SIL International menerbitkan Duolos SIL Cipher, yang menetapkan kode-kode notasi gamelan ke lokasi Unicode standar. Kode titik diharapkan dihasilkan oleh tata letak papan tik khusus. Fon ini juga mendukung notasi Jianpu.[12]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. ^ a b c Rusdiyantoro 2018, hlm. 137.
  2. ^ a b c d Lindsay, Jennifer (1992). Javanese Gamelan, p.43-45. Oxford and New York: Oxford University Press. ISBN 0-19-588582-1.
  3. ^ Gamelan: Cultural Interaction and Musical Development in Central Java (1995) by Sumarsam, ISBN 0-226-78010-4 (cloth) 0226780112 (paper)
  4. ^ Rusdiyantoro 2018, hlm. 139.
  5. ^ Sadra, I. Wayan; Diamond, Jody; Solehuddin, Ayi; Rohlck, Theresa (1991). ""Komposisi Baru": On Contemporary Composition in Indonesia". Leonardo Music Journal. 1 (1): 19–24. doi:10.2307/1513116. ISSN 0961-1215.
  6. ^ Rusdiyantoro 2018, hlm. 136.
  7. ^ Rusdiyantoro 2018, hlm. 138.
  8. ^ Surtihadi 2014, hlm. 36-37.
  9. ^ a b c Schwartz, Ethan. "Rantai, Tangga, Sandi, dan Glif: Pengembangan dan Standardisasi Notasi Gamelan Jawa Tengah [MUSC 510]" (PDF).
  10. ^ "American Gamelan Institute Library". www.gamelan.org.
  11. ^ "Keraton Yogyakarta Luncurkan Font Baru Untuk Notasi Gendhing Gamelan | Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat - Kraton Jogja". Diarsipkan dari asli tanggal 2020-07-24. Diakses tanggal 2020-07-23.
  12. ^ "Doulos SIL Cipher". SIL Language Technology. 23 April 2019.

Daftar pustaka

[sunting | sunting sumber]
Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil
Pemerintah Kota
Samarinda
Kontak
© 2026 Pemerintah Kota SamarindaAll Rights Reserved
Dikembangkan olehEnter(Wind)