Festival Budaya Dayak Kenyah Pampang 2026 Resmi Dibuka, Wali Kota: Budaya Adalah Penjaga Identitas, Persatuan, dan Masa Depan Samarinda

Festival Budaya Dayak Kenyah Pampang 2026 Resmi Dibuka, Wali Kota: Budaya Adalah Penjaga Identitas, Persatuan, dan Masa Depan Samarinda

Kegiatan MasyarakatKamis, 25 Juni 2026Administrator PPID
Festival Budaya Dayak Kenyah Pampang 2026 Resmi Dibuka, Wali Kota: Budaya Adalah Penjaga Identitas, Persatuan, dan Masa Depan Samarinda

SAMARINDA, KOMINFONEWS – Festival Budaya Dayak Kenyah Kelurahan Budaya Pampang Tahun 2026 yang dirangkai dengan Syukuran Pasca Panen serta Peringatan Hari Ulang Tahun Desa Budaya Pampang ke-53 resmi dibuka oleh Wali Kota Samarinda, H. Andi Harun, di Lamin Adat Desa Budaya Pampang, Kecamatan Samarinda Utara, Kamis (25/6/2026).

Kegiatan yang menjadi salah satu agenda budaya tahunan Kota Samarinda tersebut dihadiri Wakil Wali Kota Samarinda H. Saefuddin Zuhri, unsur Forkopimda, Ketua Dewan Adat Dayak Kalimantan Timur Victor Yuan, Wali Kota Samarinda ke-9 H. Syaharie Jaang, Ketua dan Wakil Ketua TP PKK Kota Samarinda, para kepala OPD, camat, lurah, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta masyarakat adat Dayak Kenyah.

Dalam sambutannya, Wali Kota Andi Harun menegaskan bahwa Festival Budaya Pampang bukan sekadar agenda seremonial atau pertunjukan seni budaya, melainkan momentum penting untuk merawat identitas, menjaga memori kolektif, dan mewariskan peradaban kepada generasi mendatang.

Mengawali sambutannya dengan pantun bernuansa budaya, Andi Harun mengajak seluruh masyarakat untuk bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas terselenggaranya festival yang telah menjadi kalender event resmi Pemerintah Kota Samarinda tersebut.

Menurutnya, terdapat tiga makna mendasar yang harus dipahami dari penyelenggaraan Festival Budaya Dayak Kenyah Pampang yang setiap tahun dirangkai dengan syukuran panen dan peringatan hari jadi Desa Budaya Pampang.

“Yang pertama adalah perayaan identitas. Baju adat bisa berganti, perisai bisa dibuat kembali, tarian bisa berkembang, tetapi identitas yang dibawa oleh nilai-nilai luhur budaya Dayak Kenyah tidak boleh hilang,” ujarnya.

Andi Harun mengatakan, budaya Dayak Kenyah mengajarkan bagaimana masyarakat menjaga hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam melalui kehidupan yang sarat dengan nilai gotong royong, kebersamaan, serta rasa syukur.

Ia menilai festival budaya yang berlangsung setiap tahun merupakan ruang edukasi bagi masyarakat luas untuk memahami warisan nilai yang diwariskan para leluhur.

“Festival ini bukan hanya ruang pertemuan kebudayaan, tetapi juga ruang pendidikan. Kita belajar bagaimana leluhur menjaga kehidupan bersama, bekerja bersama, dan mensyukuri hasil kerja keras secara bersama-sama,” katanya.

Pada bagian kedua sambutannya, Andi Harun menyoroti pentingnya budaya sebagai sarana merawat memori kolektif masyarakat. Mengutip pandangan sosiolog Prancis Maurice Halbwachs, ia menjelaskan bahwa budaya menjadi jembatan yang menghubungkan generasi masa kini dengan generasi terdahulu.

“Kalau kita tidak terus merayakan dan mengenalkan budaya ini, maka generasi mendatang tidak akan mengetahui bagaimana para leluhur bekerja keras, menjaga kehidupan, dan membangun peradaban. Karena itu budaya harus terus dirawat agar nilai-nilai tersebut tidak terputus oleh zaman,” jelasnya.

Lebih lanjut, Wali Kota menekankan bahwa warisan terbesar yang ditinggalkan leluhur bukanlah sekadar tarian, rumah adat, sumpit, atau perisai, melainkan nilai-nilai peradaban yang terkandung di dalamnya. Ia mencontohkan bagaimana budaya Dayak mengajarkan manusia untuk hidup selaras dengan alam dan menjaga keseimbangan lingkungan.

“Peristiwa banjir dan longsor yang terjadi di berbagai daerah harus menjadi pelajaran bagi para pemimpin agar lebih bijaksana dalam mengelola sumber daya alam. Kita tidak hidup hanya untuk generasi hari ini, tetapi juga untuk generasi yang akan datang,” tegasnya.

Andi Harun mengingatkan bahwa pembangunan fisik semata tidak akan memiliki arti apabila tidak diiringi dengan penguatan nilai sosial dan budaya.

“Tidak ada gunanya kita membangun berbagai infrastruktur jika persatuan dan kerukunan masyarakat tidak terjaga. Budaya adalah fondasi yang menjaga kebersamaan dan menjadi perekat kehidupan sosial kita,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi peran para tetua adat, Dewan Adat Dayak, tokoh masyarakat, serta seluruh pihak yang selama ini konsisten menjaga keberlangsungan Festival Budaya Pampang sebagai identitas budaya Kota Samarinda. Menurutnya, masyarakat Dayak Kenyah telah memberikan contoh nyata tentang pentingnya merawat persatuan dan kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.

“Dari masyarakat Dayak Kenyah kita belajar bagaimana menjaga kohesivitas sosial, menjaga persatuan, dan membangun kehidupan yang harmonis. Nilai-nilai inilah yang harus terus kita wariskan kepada generasi berikutnya,” katanya.

Sementara itu, Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kalimantan Timur, Victor Yuan, menyampaikan apresiasi atas komitmen Pemerintah Kota Samarinda yang terus mendukung pelestarian budaya Dayak melalui berbagai program dan kegiatan budaya. Menurutnya, keberadaan Festival Budaya Dayak Kenyah Pampang memiliki peran strategis dalam menjaga eksistensi budaya lokal sekaligus memperkuat identitas masyarakat Kalimantan Timur di tengah arus modernisasi.

Victor Yuan menilai budaya tidak hanya berbicara mengenai simbol-simbol adat, tetapi juga tentang nilai kehidupan, kebersamaan, dan jati diri masyarakat yang harus terus dijaga. Ia berharap sinergi antara pemerintah, lembaga adat, dan masyarakat terus diperkuat agar pelestarian budaya dapat berjalan berkelanjutan serta menjadi kekuatan dalam mendukung pembangunan daerah.

Pada kesempatan yang sama, Tokoh Adat Dayak Kenyah Pampang, Esrom Palan menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya atas terselenggaranya festival budaya yang telah menjadi tradisi tahunan masyarakat Pampang. Ia menegaskan bahwa budaya merupakan warisan berharga dari para pendiri dan leluhur Desa Budaya Pampang yang harus dijaga bersama oleh masyarakat dan pemerintah.

“Kami merasa bangga dan bersyukur karena kegiatan budaya yang diwariskan oleh para orang tua dan perintis Desa Budaya Pampang hingga hari ini tetap berjalan dengan baik. Ini adalah tanggung jawab bersama untuk terus melestarikannya,” ujarnya.

Menurutnya, budaya telah terbukti menjadi alat pemersatu masyarakat yang hidup dalam keberagaman. Melalui budaya, masyarakat dapat membangun semangat gotong royong, persatuan, dan kerja sama untuk mendukung pembangunan daerah.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Samarinda, aparat keamanan, camat, lurah, serta seluruh pihak yang telah mendukung penyelenggaraan festival. Sebagai simbol persaudaraan dan ikatan kebersamaan, masyarakat adat Dayak Kenyah turut memberikan gelang adat “Leko” kepada para tamu undangan sebagai lambang hubungan erat antara masyarakat adat dengan pemerintah serta seluruh elemen masyarakat.

Sebelumnya, Ketua Panitia Festival Budaya Dayak Kenyah Pampang Tahun 2026 dalam laporannya menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dilaksanakan berdasarkan Peraturan Wali Kota tentang penyelenggaraan Festival Budaya Dayak Kenyah Desa Budaya Pampang, Keputusan Wali Kota tentang Desa Wisata Kota Samarinda, serta Surat Keputusan Lembaga Adat Dayak Kenyah Kelurahan Budaya Pampang tentang pembentukan panitia pelaksana.

Festival berlangsung selama empat hari, mulai 25 hingga 28 Juni 2026, dengan mengusung tema “Melestarikan Budaya Dayak Kenyah sebagai Warisan dan Daya Tarik Pariwisata Samarinda.”Panitia juga menyampaikan rangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan selama festival berlangsung.

Pada hari pertama, Kamis (25/6), dilaksanakan upacara pembukaan yang dilanjutkan dengan pagelaran seni tari dari berbagai daerah hingga malam hari.

Hari kedua, Jumat (26/6), diisi dengan perlombaan olahraga tradisional sumpit yang berlangsung sejak pagi hingga malam hari, diselingi berbagai pertunjukan seni tari.

Hari ketiga, Sabtu (27/6), masyarakat akan disuguhkan pagelaran budaya pernikahan adat Dayak Kenyah Pampang yang berlangsung pukul 14.00–17.00 WITA. Pada malam harinya akan digelar pertunjukan kesenian tradisional Jawa berupa Kuda Lumping dari Paguyuban Langgeng Mudho Budoyo Kelurahan Tanah Merah.

Sementara pada hari terakhir, Minggu (28/6), akan dilaksanakan acara penutupan mulai pukul 14.00 WITA hingga selesai dan dilanjutkan hiburan rakyat pada malam harinya.

Selain pertunjukan budaya, festival juga menghadirkan stan UMKM masyarakat, kerajinan lokal, serta berbagai kuliner khas Dayak Kenyah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung.

Panitia melaporkan total dukungan anggaran yang berhasil dihimpun hingga pelaksanaan kegiatan mencapai Rp356,6 juta, yang berasal dari bantuan Pemerintah Kota Samarinda melalui Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata, dukungan pribadi Wali Kota Samarinda H. Andi Harun, kontribusi sejumlah perusahaan, manajemen Airport APT Pranoto, PT Pegadaian Area Samarinda, serta dukungan anggota DPRD Kota Samarinda.

Melalui penyelenggaraan Festival Budaya Dayak Kenyah Pampang Tahun 2026 ini, Pemerintah Kota Samarinda bersama masyarakat adat berharap nilai-nilai budaya, persatuan, gotong royong, dan kearifan lokal yang diwariskan para leluhur dapat terus hidup serta menjadi kekuatan dalam membangun Samarinda yang maju, harmonis, dan berbudaya. (ASYA/KMF-SMR/FOTO: ARY-DOKPIM)

Sumber Informasi
ppid.samarindakota.go.id
Buka Sumber Asli

Apakah halaman ini bermanfaat?

Masukan Anda membantu kami memperbaiki konten.