Anagarika Dharmapala

Basis Pengetahuan Terbuka Wikipedia Indonesia

Anagarika Dharmapāla
Srimath Anagarika Dharmapāla
Nama asalඅනගාරික ධර්‍මපාල
LahirDon David Hewavitarne
17 September 1864
Matara, Ceylon
Meninggal29 April 1933 (umur 68)
Sarnath, India Britania
Nama lainY.M. Sri Devamitta Dharmapala (setelah penahbisan)
PendidikanChristian College, Kotte,
St Benedict's College, Kotahena,
S. Thomas' College, Mutwal,
Colombo Academy
Dikenal atasPergerakan kemerdekaan Sri Lanka,
Kebangkitan agama Buddha,
Mewakili agama Buddha dalam Parlemen Agama-Agama Dunia (1893),
Karya misionaris buddhis di tiga benua
Orang tuaDon Carolis Hewavitharana
Mallika Dharmagunawardhana
Tanda tangan
Srimath Anagarika Dharmapala
Srimath Anagarika Dharmapala

Anagārika Dharmapāla (lahir dengan nama Don David Hewavitarne, Pāli: Anagārika, [ɐˈnɐɡaːɽɪkɐ]; Sinhala: Anagārika, harfiah, Sinhala: අනගාරික ධර්‍මපාල; 17 September 1864 – 29 April 1933) adalah seorang tokoh kebangkitan buddhis Theravāda dan penulis asal Sri Lanka. Ia terkenal karena kritiknya terhadap klaim superioritas umat Kristen, kolonialisme, serta kerja misionaris Kristen yang bertujuan melemahkan agama Buddha.

Bersama dengan Henry Steel Olcott dan Helena Blavatsky, para pencipta Perhimpunan Teosofi, ia merupakan seorang reformis dan tokoh kebangkitan utama Buddhisme Sinhala serta figur penting dalam transmisi Buddhisme ke dunia Barat. Ia juga menginspirasi pergerakan massal kelompok Dalit India Selatan termasuk suku Tamil untuk memeluk agama Buddha, setengah abad sebelum B. R. Ambedkar.[1] Pada masa tuanya, ia menjadi seorang bhikkhu dengan nama Yang Mulia Sri Devamitta Dharmapala.[2]

Kehidupan awal dan pendidikan

[sunting | sunting sumber]
Srimath Anagarika Dharmapala pada usia 29 tahun (1893)

Anagarika Dharmapala lahir pada 17 September 1864 di Kolombo, Ceylon dari pasangan Don Carolis Hewavitharana dari Hiththetiya, Matara dan Mallika Dharmagunawardhana (putri dari Andiris Perera Dharmagunawardhana), yang merupakan salah satu saudagar terkaya di Ceylon pada masa itu. Ia diberi nama Don David Hewavitarne. Adik laki-lakinya adalah Charles Alwis Hewavitharana dan Edmund Hewavitarne. Ia menempuh pendidikan di Christian College, Kotte; St Benedict's College, Kotahena; S. Thomas' College, Mutwal[3][4] dan Colombo Academy (Royal College).

Kebangkitan agama Buddha

[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1875, selama periode kebangkitan agama Buddha, Helena Blavatsky dan Henry Steel Olcott telah mendirikan Perhimpunan Teosofi di Kota New York. Keduanya sangat bersimpati terhadap apa yang mereka pahami mengenai agama Buddha, dan pada tahun 1880 mereka tiba di Ceylon, menyatakan diri sebagai umat Buddha, dan secara terbuka mengambil Tiga Perlindungan (Tisaraṇa) dan Lima Sila (Pañcasīla) dari seorang bhikkhu Sinhala terkemuka. Olcott melakukan beberapa perjalanan lanjutan ke Ceylon, tempat ia mengabdikan dirinya untuk tujuan pendidikan buddhis. Ia mendirikan banyak sekolah buddhis, yang beberapa di antaranya masih ada hingga saat ini. Pada periode inilah Hewavitharane mengubah namanya menjadi Anagarika Dharmapala.

Dharmapāla berarti "pelindung dhamma". Anagārika dalam bahasa Pāli berarti "seseorang yang tidak berumah tangga". Ini adalah status pertengahan antara bhikkhu dan umat awam. Dengan demikian, ia mempraktikkan delapan sila (aṭṭhasīla) (menghindari pembunuhan, pencurian, aktivitas seksual, ucapan yang salah, minuman memabukkan dan obat-obatan terlarang, makan setelah tengah hari, hiburan dan pakaian modis, serta tempat tidur yang mewah) seumur hidupnya. Kedelapan sila ini umumnya dipraktikkan oleh umat awam Ceylon pada hari-hari uposatha.[5] Namun, pada saat itu, bagi seseorang untuk mempraktikkannya seumur hidup adalah hal yang sangat tidak biasa. Dharmapala adalah anagārika pertama – yakni seorang pekerja purnawaktu dan selibat untuk agama Buddha – di zaman modern. Tampaknya ia telah mengambil sumpah selibat pada usia delapan tahun dan tetap setia pada sumpah tersebut sepanjang hidupnya. Meskipun ia mengenakan jubah kuning, jubah tersebut tidak mengikuti pola bhikkhu tradisional, dan ia tidak mencukur kepalanya. Ia merasa bahwa mematuhi semua aturan vinaya dapat menghambat pekerjaannya, terutama karena ia bepergian ke berbagai belahan dunia. Baik gelar maupun posisi ini tidak menjadi populer, tetapi dalam perannya ini, ia "merupakan model bagi aktivisme awam dalam modernisme Buddhis."[6] Ia juga terkadang secara longgar dianggap sebagai seorang bodhisatta di Sri Lanka.[7]

Perjalanannya ke Bodh Gaya terinspirasi dari kunjungan Sir Edwin Arnold ke sana pada tahun 1885, seorang penulis buku The Light of Asia, yang tak lama setelah itu mulai mengadvokasikan renovasi situs tersebut serta mengembalikannya ke dalam perawatan umat Buddha.[8][9] Arnold diarahkan pada upaya ini oleh Y.M. Weligama Sri Sumangala Thera.[10][11]

Atas undangan Paul Carus, ia kembali ke AS pada tahun 1896, dan lagi pada 1902–1904. Di sana, ia melakukan perjalanan dan mengajar secara luas.[12]

Dharmapala pada akhirnya memisahkan diri dari Olcott dan Perhimpunan Teosofi karena berbeda pandangan dengan Olcott mengenai keuniversalan agama-agama. "Salah satu faktor penting dalam penolakannya terhadap teosofi berpusat pada masalah universalisme ini; harga agar Buddhisme berasimilasi ke dalam model kebenaran non-Buddhis pada akhirnya terlalu mahal baginya."[13] Dharmapala menyatakan bahwa Teosofi "hanya mengonsolidasikan pemujaan Krishna".[14] "Mengatakan bahwa semua agama memiliki landasan yang sama hanya menunjukkan ketidaktahuan pembicaranya; Dhamma semata adalah yang tertinggi bagi umat Buddha."[15]

Patung Angarika Dharamapalan di Sarnath
Patung Angarika Dharmapalan di Sarnath

Di Sarnath pada tahun 1933 ia ditahbiskan menjadi seorang bhikkhu, dan ia meninggal di Sarnath pada bulan Desember tahun yang sama, dalam usia 68 tahun.

Pekerjaan keagamaan

[sunting | sunting sumber]
Surat yang ditulis oleh Srimath Dharmapala pada 23 Juni 1902 kepada seorang teman di Jepang.

Dharmapala muda membantu Kolonel Olcott dalam pekerjaannya, terutama dengan bertindak sebagai penerjemahnya. Dharmapala juga menjadi cukup dekat dengan Madame Blavatsky, yang menasihatinya untuk mempelajari bahasa Pali dan bekerja demi kebaikan umat manusia – yang mana hal itu ia lakukan. Pada saat inilah ia mengubah namanya menjadi Dharmapala (yang berarti "Pelindung Dhamma").

Pada tahun 1891, Anagarika Dharmapala melakukan ziarah ke Wihara Mahabodhi yang baru saja direstorasi, tempat Siddhattha Gotama – Sang Buddha – mencapai pencerahan di Bodh Gaya, India.[16] Di sana, ia terkejut saat mendapati bahwa wihara tersebut berada di tangan pandita Saiwa, arca Buddha diubah menjadi berhala-berhala Hindu, dan umat Buddha dilarang beribadah. Sebagai akibatnya, ia memulai suatu gerakan agitasi.[17]

Maha Bodhi Society di Kolombo didirikan pada tahun 1891 tetapi kantor-kantornya segera dipindahkan ke Kalkuta pada tahun berikutnya (1892). Salah satu tujuan utamanya adalah pengembalian kendali buddhis atas Wihara Mahabodhi di Bodh Gaya, yang merupakan tempat suci buddhis utama dari empat situs suci buddhis kuno.[18][19] Untuk mencapainya, Dharmapala memulai tuntutan hukum terhadap para pandita Brahmana yang telah memegang kendali situs itu selama berabad-abad.[18][19] Setelah perjuangan panjang, hal ini baru berhasil diwujudkan pasca kemerdekaan India (1947) dan enam belas tahun setelah kematian Dharmapala (1933), dengan pemulihan sebagian situs tersebut ke dalam pengelolaan Maha Bodhi Society pada tahun 1949. Sejak saat itu, manajemen wihara di Bodh Gaya itu dipercayakan kepada sebuah komite yang terdiri atas perwakilan umat Hindu dan Buddha dalam jumlah yang setara.[18][19] Sebuah patung Anagarika Dharmapala didirikan di College Square dekat Maha Bodhi Society Kalkuta.

Anagarika pada prangko India tahun 2014

Pusat-pusat Maha Bodhi Society didirikan di banyak kota di India, dan hal ini memberikan dampak dalam meningkatkan kesadaran masyarakat India tentang agama Buddha. Orang yang beralih agama kebanyakan berasal dari kalangan terpelajar, tetapi ada juga beberapa masyarakat India dari kasta rendah di wilayah selatan.[20]

Suara Srimath Anagarika Dharmapala / Cuplikan dari Pidato Publik.
Suara Srimath Anagarika Dharmapala / Cuplikan dari Dhamma Desana.

Berkat upaya-upaya Dharmapala, situs parinibbāna (kematian fisik) Sang Buddha di Kushinagar sekali lagi menjadi daya tarik utama bagi umat Buddha, sebagaimana halnya selama berabad-abad sebelumnya. Gerakan Mahabodhi pada tahun 1890-an menganggap pemerintahan muslim di India bertanggung jawab atas kemunduran agama Buddha di India.[16][21][22] Anagarika Dharmapala tidak ragu-ragu untuk menyalahkan kefanatikan kaum muslim sebagai penyebab utama atas kemunduran agama Buddha di India.[23]

Pada tahun 1893, Dharmapala diundang untuk menghadiri Parlemen Agama-Agama Dunia di Chicago sebagai perwakilan dari "Buddhisme Selatan" – sebutan yang pada masa itu ditujukan pada kelompok Theravāda. Di sana, ia bertemu dengan Swami Vivekananda dan menjalin hubungan yang sangat baik dengannya. Seperti halnya Swami Vivekananda, ia meraih kesuksesan besar di Parlemen tersebut dan menerima cukup banyak sorotan media. Memasuki awal usia tiga puluhan, ia sudah menjadi tokoh global, dan terus melakukan perjalanan serta memberikan ceramah dan mendirikan banyak vihāra di seluruh dunia selama empat puluh tahun berikutnya. Pada waktu yang bersamaan, ia berfokus pada pendirian sekolah-sekolah dan rumah sakit di Ceylon serta pembangunan vihāra di India. Salah satu vihara terpenting yang ia bangun berada di Sarnath, tempat Sang Buddha pertama kali mengajarkan Dhamma (ajaran Buddha). Sekembalinya ke India melalui Hawaii, ia bertemu dengan Mary E. Foster, keturunan dari Raja Kamehameha yang memiliki masalah emosional. Dharmapala memberi dukungan mental menggunakan teknik-teknik buddhis kepadanya; dan sebagai balasannya, perempuan tersebut memberinya sumbangan yang sangat besar senilai lebih dari satu juta rupee (lebih dari $2,7 juta dalam nilai dolar tahun 2010, tetapi jauh lebih bernilai karena biaya tenaga kerja yang rendah di India). Pada tahun 1897, ia mengonversi (menginisiasi) agama Miranda de Souza Canavarro ke dalam agama Buddha Theravāda, yang kemudian mengambil nama "Sister Sanghamitta" dan datang untuk mendirikan sebuah sekolah di Ceylon.

Buku harian Dharmapala yang berjumlah besar telah diterbitkan, dan ia juga menulis sejumlah memoar.

Dharmapala, sains, dan Buddhisme Protestan

[sunting | sunting sumber]

Istilah 'Buddhisme Protestan,' yang diciptakan oleh cendekiawan Gananath Obeyesekere, sering kali disematkan pada bentuk agama Buddha yang dikenalkan Dharmapala. Bentuk ini bersifat "Protestan" dalam dua pengertian. Pertama, bentuk ini dipengaruhi oleh gagasan Protestan seperti kebebasan dari institusi agama, kebebasan suara hati, dan fokus pada pengalaman batin individu. Kedua, bentuk ini pada dasarnya merupakan protes terhadap klaim superioritas umat Kristen, kolonialisme, serta kerja misionaris Kristen yang bertujuan melemahkan agama Buddha. "Karakteristiknya yang menonjol adalah signifikansi yang diberikan kepada umat awam."[24] Hal ini muncul di kalangan kelas menengah baru yang terpelajar dan berpusat di Kolombo.

Istilah 'modernisme Buddhis' digunakan untuk menggambarkan bentuk-bentuk Buddhisme yang sesuai dengan Dunia Modern, biasanya dipengaruhi oleh pemikiran modern, dan sering diadaptasi oleh umat Buddha sebagai perlawanan terhadap klaim superioritas Eropa atau Kristen. Modernisme Buddhis menekankan aspek-aspek tertentu dari Buddhisme tradisional, sementara mengurangi penekanan pada aspek yang lain.[25] Beberapa karakteristik dari modernisme Buddhis di antaranya: pentingnya peranan umat awam jika dibandingkan dengan saṅgha; rasionalitas serta kurangnya penekanan pada aspek-aspek gaib dan mitologis; kesesuaian (dan antisipasi) terhadap sains modern; penekanan pada spontanitas, kreativitas, dan intuisi; karakter demokratis dan anti-institusional; serta penekanan pada meditasi ketimbang pada aktivitas-aktivitas devosional dan seremonial.[25]

Dharmapala adalah contoh yang sangat baik untuk mendeskripsikan seorang modernis Buddhis, dan mungkin merupakan contoh paradigmatik bagi Buddhisme Protestan. Ia secara khusus berkepentingan untuk menampilkan Buddhisme sebagai hal yang selaras dengan sains, khususnya terhadap teori evolusi.[26]

Tinjauan tulisan

[sunting | sunting sumber]

Sebagian besar karya Dharmapala dikumpulkan dalam Return to Righteousness: A Collection of Speeches, Essays, and Letters of the Anagarika Dharmapala. (Disunting oleh Ananda Guruge. Kolombo, Kementerian Pendidikan dan Urusan Kebudayaan (1965)).

The World's Debt to Buddha (1893)

[sunting | sunting sumber]
Anagarika Dharmapala di Parlemen Agama-Agama Dunia.
Dari kiri ke kanan: Virchand Gandhi, Anagarika Dharmapala, Swami Vivekananda, dan Gaston Bonet Maury.

Makalah ini dibacakan di hadapan sesi Parlemen Agama-Agama Dunia yang padat di Chicago, 18 September 1893. Pada tahap awal kariernya ini, Dharmapala ingin menjadikan agama Buddha dapat diterima oleh khalayak Barat. Ceramah ini dipenuhi dengan rujukan-rujukan pada sains, Zaman Pencerahan Eropa, serta Kekristenan. Sembari mempresentasikan agama Buddha dalam istilah-istilah yang lazim tersebut, ia juga mengisyaratkan bahwa agama Buddha lebih superior dibandingkan dengan filosofi mana pun dari Barat. Selain itu, ia menghabiskan cukup banyak waktu untuk membahas sistem pemerintahan ideal buddhis di bawah kekuasaan Raja Asoka dan etika Sang Buddha yang ditujukan kepada umat awam.

The Constructive Optimism of Buddhism (1915)

[sunting | sunting sumber]

Buddhisme sering digambarkan di Barat, terutama oleh misionaris Kristen, sebagai agama yang pesimistis, nihilistik, dan pasif. Salah satu perhatian utama Dharmapala adalah untuk menepis klaim tersebut, dan kekhawatiran ini secara khusus terlihat jelas dalam esainya ini.

Message of the Buddha (1925)

[sunting | sunting sumber]

Pada tahap akhir kariernya, nada anti-Kristen Dharmapala yang lantang menjadi semakin kentara. Dharmapala harus dipahami dalam konteks kolonialisasi Inggris di Ceylon dan keberadaan para misionaris Kristen di sana. Karya ini adalah contoh yang baik dari "Buddhisme Protestan," sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya.

Evolution from the Standpoint of Buddhism (1926)

[sunting | sunting sumber]

Teori evolusi Darwin merupakan sains mutakhir di sepanjang kehidupan Dharmapala. Sebagai bagian dari upayanya untuk menunjukkan bahwa agama Buddha konsisten dengan sains modern, ia secara khusus memberikan perhatian pada evolusi biologis.

Kontribusi terhadap nasionalisme buddhis Sinhala

[sunting | sunting sumber]

Dharmapala adalah salah satu penyokong utama bagi kebangkitan agama Buddha pada abad ke-19 yang mendorong penciptaan institusi-institusi buddhis untuk menyaingi institusi-institusi misionaris Kristen (sekolah-sekolah, YMBA, dsb.), serta bagi pergerakan kemerdekaan pada abad ke-20. DeVotta mengategorikan retorikanya mencakup empat poin utama: "(i) Pujian – untuk agama Buddha dan budaya Sinhala; (ii) Menyalahkan – pada imperialis Inggris, serta mereka yang bekerja untuk kaum imperialis termasuk orang-orang Kristen; (iii) Ketakutan – bahwa agama Buddha di Sri Lanka terancam kepunahan; dan (iv) Harapan – untuk hegemoni Buddhis Sinhala yang diremajakan" (78). Ia mengilustrasikan tiga poin pertama dalam sebuah pidato publik:

Pulau yang indah dan bercahaya ini diciptakan menjadi sebuah Surga oleh kaum Arya-Sinhala sebelum kehancurannya dibawa oleh orang-orang perusak yang biadab. Penduduknya tidak mengenal ketidakpatuhan beragama... Kekristenan dan politeisme [yakni merujuk pada agama Hindu] bertanggung jawab atas praktik-praktik kasar seperti pembunuhan hewan, pencurian, pergaulan bebas, kebohongan, dan kemabukan... Orang-orang kuno yang bersejarah dan beradab itu, di bawah kekejaman paganisme yang jahat, yang diperkenalkan oleh para pengurus Inggris, kini secara perlahan sedang mengalami kemunduran.[27]

Kehidupan selanjutnya

[sunting | sunting sumber]
Yang Mulia Sri Devamitta Dharmapala

Pada tahun-tahun terakhir kehidupannya, ia mengunjungi Ceylon pada tahun 1931, yang mana pada waktu itu ia mendirikan 'Dharmapala Trust'. Pada tahun itu ia ditahbiskan menjadi seorang bhikkhu dengan nama Sri Devamitta Dharmapala. Dua tahun kemudian, ia mengambil penahbisan penuhnya. Ia meninggal dunia pada tanggal 29 April 1933 di Mulagandhakuti Viharaya di Sarnath, Uttar Pradesh, India.

Pada tahun 2014, India dan Sri Lanka merilis prangko untuk memperingati ulang tahun kelahiran Dharmapala yang ke-150, disusul oleh Bank Sentral Sri Lanka yang merilis sebuah koin peringatan.[28] Di Kolombo, sebuah jalan diberi nama dengan menyematkan kehormatannya sebagai "Anagarika Dharmapala Mawatha" (Jalan Angarika Dharmapala).[29][30]

Film biografi, Anagarika Dharmapala Srimathano, yang mengisahkan sejarah kehidupan Dharamapala dirilis pada tahun 2014, yang perannya dimainkan oleh Palitha Silva.[31]

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. ^ "Taking the Dhamma to the Dalits". The Sunday Times. Sri Lanka. 14 September 2014.
  2. ^ Epasinghe, Premasara (19 September 2013). "The Dharmapala legacy". Daily News. Diarsipkan dari asli tanggal 12 September 2014. Diakses tanggal 18 September 2014.
  3. ^ Anagarika Dharmapala – a noble son of Sri Lanka
  4. ^ Anagarika Dharmapala :The patriot who propagated Buddhism Diarsipkan 3 Juli 2013 di Archive.is
  5. ^ Harvey, hlm. 208.
  6. ^ Harvey, hlm. 205
  7. ^ McMahan, hlm. 291.
  8. ^ Harvey, hlm. 303
  9. ^ Maha Bodhi Society: Founders
  10. ^ India Revisited by Sri Edwin Arnold
  11. ^ Barua, Dipak Kumar (1981). Buddha Gaya Temple: Its History. Buddha Gaya Temple Management Committee.
  12. ^ Harvey, hlm. 307
  13. ^ McMahan, hlm. 111
  14. ^ Prothero, hlm. 167.
  15. ^ Prothero, hlm. 172
  16. ^ a b The Maha-Bodhi By Maha Bodhi Society, Calcutta, hlm. 205.
  17. ^ O'Reilly, Sean and O'Reilly, James (2000) Pilgrimage: Adventures of the Spirit, Travelers' Tales. hlm. 81–82. ISBN 978-1-885211-56-9.
  18. ^ a b c Wright, Arnold (1999) Twentieth Century Impressions of Ceylon: its history, people, commerce, industries, and resources, "Angarika Dharmapala", Asian Educational Services. hlm. 119. ISBN 978-81-206-1335-5
  19. ^ a b c Bleeker, C. J. and Widengren, G. (1971) Historia Religionum, Volume 2 Religions of the Present: Handbook for the History of Religions, Brill Academic Publishers. hlm. 453. ISBN 978-90-04-02598-1
  20. ^ Harvey, hlm. 297
  21. ^ "A Close View of Encounter between British Burma and British Bengal" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 7 Juni 2007. Diakses tanggal 27 September 2015.
  22. ^ The Maha-Bodhi By Maha Bodhi Society, Calcutta (hlm. 58)
  23. ^ Wadia, Ardeshir Ruttonji (1958). The Philosophy of Mahatma Gandhi: And Other Essays Philosophical and Sociological (dalam bahasa Inggris). University of Mysore. hlm. 483.
  24. ^ Gombrich, Richard F. (1988). Theravada Buddhism; A Social History from Ancient Benares to Modern Colombo. New York: Routledge and Kegan Paul. hlm. 174. ISBN 978-0415365093
  25. ^ a b McMahan, hlm. 4–5
  26. ^ McMahan, hlm. 91–97
  27. ^ Dharmapala, Anagarika (1965). Return to Righteousness: A Collection of Speeches, Essays, and Letters of the Anagarika Dharmapala. Anagarika Dharmapala Birth Centenary Committee, Ministry of Education and Cultural Affairs, Ceylon. hlm. 482.
  28. ^ "India, Sri Lanka issue stamp in honour". The Sunday times. 21 September 2014. Diakses tanggal 25 September 2015.
  29. ^ "Dharmapala Mawatha (Colombo)". WikiMapia. Diakses tanggal 25 September 2015.
  30. ^ "Brown's Road (Anagarika Dharmapala Mawatha)". OpenStreetMap. Diakses tanggal 25 September 2015.
  31. ^ "Cinematic revival of Buddhist revivalist". The Sunday Times. Diakses tanggal 27 Februari 2017.

Sumber yang dikutip

[sunting | sunting sumber]

Sumber bacaan

[sunting | sunting sumber]
Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil
Pemerintah Kota
Samarinda
Kontak
© 2026 Pemerintah Kota SamarindaAll Rights Reserved
Dikembangkan olehEnter(Wind)