Kalantaka

Basis Pengetahuan Terbuka Wikipedia Indonesia
Kalantaka
Dewa penakluk waktu dan kematian
Kalantaka (atas) muncul dari lingga, lalu membunuh Yama (kanan).
Genderpria
AfiliasiSiwa
KediamanKailasa
MantraMahamrityunjaya Mantra
Senjatatrisula
Pemujaan
KepercayaanHindu
AliranSaiwa
PerayaanMahasiwaratri
Keluarga
IstriParwati

Kalantaka (Dewanagari: कालान्तक; ,IASTKālāntaka,; arti: "Penghenti waktu" atau "Penakluk kematian") adalah salah satu manifestasi atau peran Dewa Siwa dalam agama Hindu sebagai penakluk waktu atau kematian.[1] Dalam wujud Kalantaka, Siwa digambarkan sedang mengalahkan atau membunuh Dewa Yama (alias Kala, dewa kematian) untuk menyelamatkan Markandeya, pemuja setianya. Kadangkala Siwa digambarkan menari-nari di atas Yama, personifikasi dari kematian.[2]

Arti dan nama lain

[sunting | sunting sumber]

Kālāntaka merupakan kata majemuk dalam bahasa Sanskerta yang berarti "penghenti waktu". Itu berasal dari dua kata: kāla (काल) berarti "waktu", dan antaka (अन्तक) berarti "penghenti", "penghancur", "pembinasa". Kāla juga merupakan nama lain dari Yama—dewa kematian dalam agama Hindu—yang pernah dikalahkan oleh Siwa, sehingga Kālāntaka dapat berarti "penakluk dewa kematian". Selain itu, gelar Siwa yang sepadan dengan Kalantaka meliputi:

  • Kalakala (कालकाल Kālakāla): "kematian bagi kematian", maksudnya 'bisa membunuh sang kematian (Yama)'.[2]
  • Kalasanghara (कालसंहार Kālasaṃhāra): "pembunuh Kāla (dewa kematian)".
  • Kalari (कालारि Kālāri): "musuh sang kematian".
  • Kalahara (कालहार Kālahāra): "penghancur sang kematian".
  • Kalahari (कालहारी Kālahārī): "pencabut nyawa sang kematian".
  • Markandeyanugraha (मार्कण्डेयानुग्रह Mārkandeyānugraha): "pemberi anugerah bagi Markandeya".
  • Mretyunjaya (मृत्युञ्जय Mṛtyuñjaya): "berjaya atas kematian" (karena berhasil menaklukannya).

Akhiran "-murti" (wujud atau citra) dapat ditambahkan kepada nama-nama tersebut di atas, contohnya: Kalarimurti, Kalaharamurti, atau Kalantakamurti.[1]

Lukisan karya Raja Ravi Varma (1910) menggambarkan Siwa muncul dari lingga yang dipeluk Markandeya, untuk menghadapi Yama (Kala), dewa kematian yang mengendarai kerbau.

Dalam legenda Hindu dikisahkan bahwa Resi Merkanda berdoa kepada Dewa Siwa untuk memperoleh keturunan. Siwa berkenan dengan Merkanda lalu memberinya dua pilihan anugerah: seorang putra yang saleh tapi berumur sampai 16 tahun, atau seorang putra yang bodoh tapi berumur hingga 100 tahun. Merkanda memilih yang pertama, dan dia menamakan putranya "Markandeya", patronim yang berarti "keturunan Merkanda". Saat usia Markandeya menjelang 16 tahun, Dewa Brahma mengajarinya suatu mantra yang disebut Mahamrityunjaya Mantra (arti: "mantra penakluk-kematian yang hebat") agar dia bisa menghindari kematian, serta memberkatinya dengan umur yang panjang. Atas petunjuk dari Brahma, maka Markandeya memuja Siwa dengan sarana arca berupa lingga. Para dewa terkesan dengan tindakan Markandeya, lalu mereka memohon agar Siwa memperpanjang umur Markandeya.[3]

Karena sebelumnya sudah ditakdirkan untuk mati muda, maka utusan dewa kematian (yamaduta) datang menjemput Markandeya, tapi gagal akibat kekuatan mantra yang dirapalkan Markandeya. Maka dari itu, Yama (dewa kematian) sendiri yang datang untuk mencabut nyawa Markandeya. Sebelumnya, Markandeya mewanti-wanti Yama bahwa tindakan tersebut akan menimbulkan kemarahan Siwa. Namun Yama sesumbar bahwa Siwa pun tak dapat menghentikannya. Kemudian Yama melempar jerat kematian untuk mencabut roh Markandeya. Jerat tersebut tidak hanya mengenai Markandeya, tapi juga lingga. Siwa pun muncul seketika dalam keadaan marah, lalu menusuk Yama dengan trisula miliknya hingga tewas.[3]

Atas pertimbangan dari para dewa dan resi, maka Siwa menghidupkan Yama kembali. Markandeya juga diberi anugerah agar tetap hidup dengan kondisi fisik seperti berumur 16 tahun, tapi berusia hingga satu kalpa.[4] Karena Siwa pernah membunuh Yama (alias Kala) atau Sang Dewa Kematian, maka dia pun menyandang gelar "Kalantaka".

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. ^ a b Dallapiccola, Anna L. (2002). "Kalarimurti; Kalaharamurti or Kalantakamurti". Dictionary of Hindu Lore and Legend. London: Thames and Hudson Ltd. ISBN 0-500-51088-1. Diakses tanggal 16 May 2011.
  2. ^ a b The Dance of Siva: Religion, Art and Poetry in South India; David Smith; Cambridge University Press; 0 521 52865 8
  3. ^ a b Shulman, David (1984). "The Enemy Within: Idealism and Dissent in South Indian Hinduism". Dalam Eisenstadt, S. N.; Shulman, D.; Kahane, R. (ed.). Orthodoxy, heterodoxy, and dissent in India. Walter de Gruyter. ISBN 3-11-009659-5.
  4. ^ Shulman pp. 38-40

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]
Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil
Pemerintah Kota
Samarinda
Kontak
© 2026 Pemerintah Kota SamarindaAll Rights Reserved
Dikembangkan olehEnter(Wind)