Agama di Belanda
Agama di Belanda (populasi 15+) (2024)[1]
Agama di Belanda didominasi oleh Kekristenan selama berabad-abad, khususnya sejak abad ke-10 hingga abad ke-20. Pada akhir abad ke-19, sekitar 60% penduduknya adalah penganut Calvinis, 35% Katolik, dan terdapat pula komunitas Yahudi yang cukup terlihat hingga Perang Dunia II dan Holokaus. Namun, setelah perang, terjadi penurunan drastis dalam keanggotaan gereja, terutama di kalangan Protestan, sehingga Katolik sempat menjadi denominasi Kristen terbesar. Saat ini, mayoritas penduduk Belanda bersifat sekuler, meskipun tetap ada minoritas Muslim dan Hindu yang cukup signifikan.
Menurut data Statistik Belanda (CBS) pada 2015, sekitar 50,1% orang dewasa Belanda menyatakan tidak memiliki afiliasi agama. Kristen mencakup 43,8% populasi dengan rincian 23,7% Katolik, 15,5% Protestan (dari Gereja Protestan Belanda/PKN), dan 4,6% denominasi Kristen lain. Islam diperkirakan berjumlah 4,9%, Hindu 0,6%, Buddhis 0,4%, dan Yahudi 0,1%. Masyarakat Belanda umumnya berpandangan bahwa agama sebaiknya tidak berperan besar dalam politik maupun pendidikan, dan dianggap sebagai urusan pribadi yang jarang dibicarakan di ruang publik.[2][3][halaman dibutuhkan]
Konstitusi Belanda menjamin kebebasan pendidikan, artinya semua sekolah—termasuk yang berbasis agama—mendapatkan pendanaan pemerintah asalkan memenuhi kriteria kualitas. Dalam politik, terdapat tiga partai yang berbasis Kristen (CDA, CU, dan SGP). Beberapa hari raya Kristen, seperti Natal, Paskah, Pentakosta, dan Kenaikan Yesus,[4] ditetapkan sebagai hari libur nasional. Meski begitu, ateisme, agnostisisme, hingga ateisme Kristen semakin berkembang dan diterima luas. Bahkan di kalangan yang secara formal masih mengidentifikasi diri sebagai Kristen, terdapat persentase ateis, agnostik, dan ietsis yang tinggi, karena afiliasi dengan denominasi Kristen juga berfungsi sebagai identitas budaya di berbagai wilayah di Belanda.[5]
Survei tahun 2015 mencatat bahwa 82% penduduk Belanda tidak pernah atau hampir tidak pernah mengunjungi gereja, sementara 59% mengaku tidak pernah masuk gereja sama sekali. Sebanyak 24% mengidentifikasi diri sebagai ateis, naik 11% dibanding survei 2006.[6] Fenomena ietsisme (percaya pada sesuatu yang lebih tinggi tanpa mengaitkannya dengan agama tertentu) juga meningkat. Pada 2017, untuk pertama kalinya kelompok non-religius menjadi mayoritas, dengan hanya 49% penduduk berusia di atas 15 tahun yang masih mengaku beragama. Katolik tetap menjadi denominasi terbesar (24%), sedangkan Muslim 5%.[7] Data Survei Sosial Eropa 2023–2024 menunjukkan tren penurunan lebih lanjut: hanya 13% yang masih mengaku Protestan dan 11% Katolik.[8]
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]Referensi
[sunting | sunting sumber]- ^ "Daling aandeel mensen dat aangeeft bij religie te horen stagneert". CBS. 2025-04-18.
- ^ "Hoe God (bijna) verdween uit Nederland". NOS. 13 March 2016. Diakses tanggal 3 April 2016.
- ^ Donk, W.B.H.J. van de; Jonkers, A.P.; Kronjee, G.J.; Plum, R.J.J.M. (2006). Geloven in het publiek domein: verkenningen van een dubbele transformatie - 13 [Believing in the Public Domain: Explorations of a Double Transformation - 13] (PDF) (Report) (dalam bahasa Dutch). Scientific Council for Government Policy, The Hague: Amsterdam University Press. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
- ^ "Feestdagen Nederland". Beleven.org. Diakses tanggal 27 January 2010.
- ^ H. Knippenberg, "The Changing Religious Landscape of Europe", Het Spinhuis, Amsterdam 2005 ISBN 90-5589-248-3
- ^ Bernts, Tom; Berghuijs, Joantine (2016). God in Nederland 1966-2015. Ten Have. ISBN 9789025905248.
- ^ "Voor het eerst meeste Nederlanders niet religieus". nos.nl (dalam bahasa Belanda). 2018-10-22. Diakses tanggal 2022-12-24.
- ^ "And There's The Data To Show It". Religion Unplugged. 2024-08-17. Diakses tanggal 2024-10-05.