Hak asasi manusia di Belanda
| Artikel ini adalah bagian dari seri Politik dan Ketatanegaraan Belanda |
Hak asasi manusia di Belanda dijamin dalam Konstitusi Belanda. Bersama negara-negara Eropa lain, Belanda sering menempati posisi teratas dalam peringkat kebebasan sipil dan hak politik dunia.[1] Setiap tahun tercatat sekitar 6.000 korban perdagangan manusia dan 100 kasus berujung vonis.[2][3] Meski demikian, Belanda tetap dianggap memiliki rekam jejak hak asasi manusia terbaik di dunia.
Hak konstitusional
[sunting | sunting sumber]Bab pertama Konstitusi Belanda menetapkan hak-hak bagi semua masyarakatnya, mencakup hak positif dan negatif serta hak demokratis. Di antaranya: larangan diskriminasi (Pasal 1), kebebasan beragama, kebebasan berpendapat, kebebasan berserikat dan berkumpul, serta hak atas privasi. Hak-hak sipil klasik ini menjadi batas bagi kekuasaan pemerintah dan dapat ditegakkan langsung di pengadilan. Selain itu, terdapat hak sosial seperti hak atas tempat tinggal, jaminan sosial, layanan kesehatan, pendidikan, dan pekerjaan, yang merupakan kewajiban pemerintah, meski tidak dapat digugat secara hukum. Hak demokratis mencakup hak memilih dan dipilih. Belanda juga melarang hukuman mati, baik pada masa damai maupun perang. Pengawasan terhadap konstitusi berada di bawah Kementerian Dalam Negeri dan Hubungan Kerajaan.
Masih ada beberapa undang-undang lama yang bertentangan dengan kebebasan berpendapat, seperti pasal lèse-majesté dan penistaan agama, meski yang terakhir resmi dicabut pada 1 Februari 2014.[4]
Belanda juga merupakan penandatangan berbagai instrumen internasional HAM, seperti Konvensi Eropa tentang Hak Asasi Manusia, Statuta Roma (untuk Mahkamah Pidana Internasional), Deklarasi Universal HAM, Konvensi Eropa Terhadap Penyiksaan, dan Piagam Sosial Eropa.
Praktik
[sunting | sunting sumber]Selain Mahkamah Agung, perlindungan hak asasi manusia di Belanda juga dijalankan oleh beberapa lembaga lain seperti Komisi Kesetaraan Perlakuan (non-diskriminasi), Dewan Perlindungan Data Pribadi (privasi), dan Ombudsman Nasional.
Pada tahun 2007, Amnesty International mengkritik pemerintah Belanda atas sejumlah isu HAM, termasuk dugaan kejahatan perang di Irak, perlakuan terhadap tersangka teroris, serta penahanan migran dan anak-anak, terutama terkait kebakaran di pusat detensi pencari suaka.[5] Pada tahun 2005, Departemen Luar Negeri AS juga menyoroti masalah diskriminasi dan kekerasan terhadap minoritas agama dan etnis (terutama pasca pembunuhan Theo van Gogh) serta perdagangan manusia untuk eksploitasi seksual.[6]
Perdagangan manusia
[sunting | sunting sumber]Perdagangan manusia menjadi masalah serius di Belanda. UNODC mencatat Belanda sebagai salah satu tujuan korban perdagangan manusia dunia.[7]
Diperkirakan setiap tahun terdapat 1.000–7.000 korban, sebagian besar terkait bisnis prostitusi legal, terutama di lokasi jendela kaca (window brothels).[8][9][10] Pada 2008, tercatat 809 korban, dengan 763 di antaranya perempuan, dan 60% dipaksa bekerja di industri seks. Semua korban asal Hungaria adalah perempuan yang dipaksa menjadi pekerja seks (PSK).[11][12] Menurut laporan tahun 2008, dari 8.000–11.000 PSK di Amsterdam, lebih dari 75% berasal dari Eropa Timur, Afrika, dan Asia.[13] Artikel Le Monde tahun 1997 bahkan menyebut 80% PSK di Belanda adalah warga asing dan 70% tidak memiliki dokumen imigrasi,[14][15] meskipun warga Uni Eropa sebenarnya tidak memerlukan izin khusus selain identitas resmi.
Pada tahun 2000, Belanda membentuk lembaga Pelapor Nasional Perdagangan Manusia dan Kekerasan Seksual terhadap Anak, yang mulai menerbitkan laporan tahunannya pada tahun 2002.[16]
Hingga tahun 2017, diperkirakan lebih dari 6.000 orang menjadi korban perdagangan manusia setiap tahun, sekitar 4.000 perempuan lokal untuk perbudakan dan kekerasan seksual, serta 2.000 laki-laki asing untuk kerja paksa oleh kelompok kriminal terorganisir.[17] Setiap tahun, sekitar 1.320 anak perempuan Belanda di bawah umur juga menjadi korban perdagangan seksual.[3]
Penyiksaan dan perlakuan buruk
[sunting | sunting sumber]Menurut Komite Anti-Penyiksaan Dewan Eropa, terdapat beberapa pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh pejabat Belanda.[18]
Kekerasan polisi
[sunting | sunting sumber]Pada tahun 2009, dua polisi di Bleiswijk mendekati seorang tunawisma yang sedang tidur di taman, lalu menahannya dan membawanya ke daerah utara Moerkapelle. Di sana, mereka memaksanya menggali kuburnya sendiri sambil mengancam dengan senjata api. Korban kemudian ditinggalkan begitu saja.
Kasus ini terungkap karena salah satu polisi melaporkannya kepada atasannya. Kedua pelaku kemudian dipecat dan dijatuhi hukuman enam bulan penjara.[19][20]
Kontroversi kunjungan rumah
[sunting | sunting sumber]Penerima tunjangan sosial di Belanda dapat menerima kunjungan rumah dari petugas inspeksi tanpa perlu adanya dugaan konkret terhadap kecurangan. Karena penggeledahan paksa melanggar hak privasi, petugas akan meminta izin untuk masuk. Namun, jika izin ditolak, tunjangan dapat dipotong.[21] Penduduk tidak diperbolehkan merekam video selama kunjungan tersebut, bahkan di rumah mereka sendiri. Kebijakan ini berpotensi melanggar privasi banyak warga, karena berlaku tidak hanya untuk penerima tunjangan pengangguran, tetapi juga penerima bantuan sosial lainnya.
Hukum internasional
[sunting | sunting sumber]Belanda menjadi tuan rumah bagi berbagai lembaga hak asasi manusia internasional. Kota Den Haag menampung Mahkamah Pidana Internasional (ICC), Mahkamah Internasional (ICJ), Tribunal Yugoslavia, dan Tribunal Rwanda.
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]Referensi
[sunting | sunting sumber]Umum
- Human Rights Watch webpage on the Netherlands
- Amnesty International Netherlands 2007
- U.S. Department of State Country Report on Human Rights Practices on the Netherlands, 2005
- IFEX: Freedom of expression in Netherlands
- Privacy International: Privacy and Human Rights 2003: Netherlands
- human rights policy of the Dutch Ministry of Foreign Affairs
- human rights policy of the Dutch Ministry of the Interior and Kingdom Relations
- Review of the Netherlands by the United Nations Human Rights Council's Universal Periodic Review, April 15, 2008
Spesifik
- ^ See Freedom House ranking, 2005 Diarsipkan 2006-02-17 di Wayback Machine.. Switzerland received the highest possible grade, 1, in both political rights and civil liberties. See also the Netherlands' entry in List of indices of freedom.
- ^ "Why human trafficking convictions dropped in the Netherlands". 22 August 2017.
- ^ a b "Some 6,000 people a year in the Netherlands are victims of trafficking - DutchNews.nl". 18 October 2017.
- ^ Wet van 23 January 2014 tot wijziging van het Wetboek van Strafrecht in verband met het laten vervallen van het verbod op godslastering, Stb. 2014, 39. (Law of January 23, 2014, to amend the Criminal Code in connection with the abolishment of the ban on blasphemy)
- ^ "Countries". Amnesty International. Diakses tanggal 5 October 2017.
- ^ "Netherlands, The". U.S. State Department. Diakses tanggal 5 October 2017.
- ^ "UN highlights human trafficking". BBC. March 26, 2007.
- ^ "Zoeken op BNRM English | Bureau of the Dutch Rapporteur on Trafficking in Human Beings". Diarsipkan dari asli tanggal 2012-06-29. Diakses tanggal 2012-07-08.
- ^ "Third | Bureau of the Dutch Rapporteur on Trafficking in Human Beings". Diarsipkan dari asli tanggal 2012-06-29. Diakses tanggal 2012-07-08.
- ^ "Fourth | Bureau of the Dutch Rapporteur on Trafficking in Human Beings". Diarsipkan dari asli tanggal 2012-04-08. Diakses tanggal 2012-07-08.
- ^ "Increase in human trafficking in Netherlands". Expatica.com. Diarsipkan dari asli tanggal 29 June 2012. Diakses tanggal 5 October 2017.
- ^ "Dutch authorities register 809 human trafficking victims - Crossroads Magazine". Crossroadsmag.com. 9 February 2009. Diakses tanggal 5 October 2017.
- ^ "The Times & The Sunday Times". The Times. Diakses tanggal 5 October 2017.
- ^ "Netherlands - Facts on Trafficking and Prostitution". Diarsipkan dari asli tanggal 2012-10-02. Diakses tanggal 2012-06-26.
- ^ "Human Trafficking & Modern-day Slavery - Netherlands". Gvnet.com. Diakses tanggal 5 October 2017.
- ^ Margaret Melrose; Jenny Pearce (2013). Critical Perspectives on Child Sexual Exploitation and Related Trafficking. Palgrave Macmillan. hlm. 151. ISBN 9781137294104.
- ^ "Duizenden meisjes slachtoffers mensenhandel in Nederland". 18 October 2017.
- ^ "European Committee for the Prevention of Torture and Inhuman or Degrading Treatment or Punishment (CPT)". Cpt.coe.int. Diakses tanggal 5 October 2017.
- ^ "Agenten opgepakt na vrijheidsberoving | Crimesite Camilleri". Diarsipkan dari asli tanggal 2014-01-08. Diakses tanggal 2014-01-08.
- ^ "RMF24: Zostali skazani za znęcanie się nad Polakiem. Jest odwołanie". Faktv.interia.pl. Diakses tanggal 5 October 2017.
- ^ "Eerste Kamer der Staten-Generaal - Huisbezoek voor rechtmatigheid uitkering (31.929)". Eerstekamer.nl. Diakses tanggal 5 October 2017.