Wastra Warisan Mahakam

Sarung Tenun Samarinda

Wastra sutra warisan perantau Bugis Wajo yang berakar di tepian Mahakam.

Asal-Usul

Sarung Tenun Samarinda lahir dari perpaduan keterampilan perantau Bugis Wajo yang menetap di Samarinda Seberang sejak abad ke-17. Bersama La Mohang Daeng Mangkona dan komunitasnya, keahlian menenun yang menjadi tradisi leluhur di Wajo, Sulawesi Selatan, dibawa dan dilestarikan di tepian Sungai Mahakam.

Hingga kini, Kampung Tenun Samarinda di Samarinda Seberang menjadi sentra produksi sekaligus destinasi wisata budaya, di mana proses tenun tradisional dapat disaksikan secara langsung.

Ciri Khas

Beberapa karakter yang membedakan Sarung Samarinda dari sarung tenun daerah lain:

  • Bahan sutra murni — secara historis didatangkan khusus dari Tiongkok.
  • Ditenun dengan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) atau disebut Gedokan.
  • Motif tradisional dengan nama-nama unik seperti Hatta, Anyam Palembang, Tabba Renni, Berre' Setanggi, dan motif kotak-kotak khas.
  • Warna kontras dan tegas — perpaduan merah, hijau, kuning, hitam, dan emas.

Satu sarung dengan kualitas baik membutuhkan waktu tenun sekitar 15 hari.

Tajong Samarinda — Motif Asimilasi

Tajong Samarinda adalah bentuk asimilasi budaya antara Bugis Wajo, Kutai, dan ukiran khas Dayak. Motif ini menjadi bukti hidup bahwa Sarung Samarinda bukan sekadar warisan satu suku, melainkan hasil dialog lintas budaya selama berabad-abad di Mahakam.

Proses Pembuatan

  1. Pemilihan benang sutra — pemilihan dan pewarnaan benang secara manual.
  2. Mounting di Gedokan — pemasangan benang lungsin (warp) ke alat tenun tradisional.
  3. Menenun — proses menyelipkan benang pakan (weft) secara manual, satu helai demi satu helai.
  4. Finishing — pencucian, penjemuran, dan pelipatan untuk pasar.

Pengrajin yang terampil dapat menghasilkan motif rumit dengan presisi tinggi, namun proses ini sangat lambat — itulah sebabnya Sarung Samarinda asli dihargai sebagai produk premium.

Sentra Produksi: Kampung Tenun Samarinda

Berlokasi di Kelurahan Baqa, Samarinda Seberang, Kampung Tenun adalah:

  • Destinasi wisata budaya yang dapat dikunjungi wisatawan untuk melihat proses tenun langsung.
  • Sentra ekonomi kreatif dengan ratusan perajin yang turun-temurun mempertahankan tradisi.
  • Pusat edukasi bagi generasi muda dan mahasiswa yang meneliti tekstil tradisional.

Nilai Ekonomi & Pelestarian

Sarung Samarinda menjadi komoditas UMKM unggulan Pemkot Samarinda, dengan dukungan berupa:

  • Pelatihan & sertifikasi kompetensi perajin,
  • Penyediaan bahan baku & pemasaran digital,
  • Promosi di pameran nasional dan internasional,
  • Penetapan sebagai Indikasi Geografis (sedang diperjuangkan sebagian asosiasi).

Tantangan

  • Generasi muda perajin yang semakin sedikit,
  • Persaingan dengan sarung tenun produksi pabrik dari luar daerah,
  • Mahalnya bahan baku sutra dan rantai pasok yang panjang,
  • Perlindungan motif dari peniruan tanpa atribusi.

Cara Mendukung

Warga dan wisatawan dapat berperan aktif dengan:

  • Membeli langsung dari perajin di Kampung Tenun,
  • Menggunakan Sarung Samarinda dalam acara resmi dan keseharian,
  • Mempromosikan motif dengan menyebut asal-usulnya,
  • Berkunjung dan belajar menenun sebagai pengalaman wisata edukatif.

Sumber:

  • Kelurahan Tenun Samarinda — kel-tenun.samarindakota.go.id
  • Tenun Samarinda, Sarung Sutra Perantau Bugis — Pesona Indonesia
  • Mengenal Sarung Tenun Samarinda, Kearifan Lokal Tepi Sungai Mahakam — Detik Kalimantan
  • Merajut Tradisi Warisan Leluhur di Kampung Tenun Samarinda — ANTARA News
  • Wikipedia: Sarung Samarinda, Kampung Tenun Samarinda
Terakhir diubah pada 24 Mei 2026
Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil
Pemerintah Kota
Samarinda
Kontak
© 2026 Pemerintah Kota SamarindaAll Rights Reserved
Dikembangkan olehEnter(Wind)