Tokoh Perintis Samarinda
La Mohang Daeng Mangkona
Tokoh yang dalam narasi resmi Pemerintah Kota Samarinda diakui sebagai perintis komunitas Bugis Wajo di tepian Sungai Mahakam, dan peletak fondasi kota Samarinda Seberang.
Latar Belakang
La Mohang Daeng Mangkona adalah seorang petinggi Bugis dari Kerajaan Wajo, Sulawesi Selatan. Ia memimpin gelombang migrasi besar masyarakat Bugis Wajo setelah ditandatanganinya Perjanjian Bungaya (1667) — perjanjian yang ditandatangani Kerajaan Gowa dengan VOC dan berdampak pada banyak kerajaan Bugis yang menolak tunduk.
Untuk menjaga kehormatan, kemerdekaan, dan tradisi leluhur, sebagian masyarakat Bugis Wajo memilih berlayar ke berbagai penjuru Nusantara. Salah satu rombongan, di bawah pimpinan Daeng Mangkona, mendarat di pesisir Sungai Mahakam.
Kedatangan di Mahakam
Pada 21 Januari 1668 (tanggal yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Samarinda), rombongan Daeng Mangkona menghadap Sultan Kutai Kartanegara dan diizinkan menetap di kawasan Mangkupalas (kini Samarinda Seberang).
Pilihan lokasi ini strategis:
- Berseberangan dengan pusat permukiman Kutai,
- Berada di tepi Sungai Mahakam (jalur perdagangan utama),
- Memiliki dataran yang cocok untuk membangun pemukiman rakit.
Pemukiman rakit dengan ketinggian seragam inilah yang diyakini melahirkan nama "Sama Rendah", cikal bakal Samarinda.
Warisan Budaya
Komunitas Bugis Wajo yang dipimpin Daeng Mangkona membawa serta tradisi yang masih hidup hingga kini:
- Tenun Sarung Samarinda — keahlian menenun dengan Alat Tenun Bukan Mesin (Gedokan) yang awalnya dipraktikkan kaum perempuan Bugis Wajo.
- Budaya maritim & perdagangan — Bugis dikenal sebagai pelaut dan saudagar ulung.
- Asimilasi dengan budaya Kutai dan Dayak — menghasilkan ragam motif khas seperti Tajong Samarinda.
Makam dan Penghormatan
Makam La Mohang Daeng Mangkona berada di Samarinda Seberang dan ditetapkan sebagai situs cagar budaya oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Kalimantan Timur (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan).
Setiap peringatan HUT Kota Samarinda (21 Januari), Wali Kota beserta jajaran pejabat melakukan ziarah resmi ke makam ini sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh perintis.
Catatan Historiografis
Beberapa peneliti modern memberikan catatan kritis terhadap narasi Daeng Mangkona:
- Nama "Mangkona" tidak ditemukan dalam Salasila Bugis Kutai (sumber primer).
- Catatan klasik menyebut La Maddukelleng — figur Bugis Wajo yang sering dikaitkan — lahir pada tahun 1700, sehingga timeline 1668 menjadi pertanyaan akademis.
Meski demikian, Pemerintah Kota Samarinda — sebagai pemegang mandat administratif — tetap merujuk pada narasi yang diatur Perda 1/1988, sembari membuka ruang dialog akademik dan kajian sejarah lanjutan.
Nilai yang Diwariskan
Terlepas dari perdebatan historiografis, sosok Daeng Mangkona melambangkan beberapa nilai inti masyarakat Samarinda:
- Keberanian merantau untuk menjaga prinsip dan martabat.
- Kerukunan lintas etnis — kemampuan berasimilasi dengan masyarakat Kutai pribumi tanpa kehilangan identitas.
- Etos perdagangan dan kerja keras yang diwariskan komunitas Bugis Samarinda hingga kini.
Sumber:
- Peraturan Daerah Kota Samarinda Nomor 1 Tahun 1988
- Balai Pelestarian Cagar Budaya Kalimantan Timur — Makam Daeng Mangkona & Bukti Keberadaan Lamohang Daeng Mangkona
- Buku Profil Daerah Kota Samarinda 2025
- Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Kota Samarinda