Sejarah Lengkap Kota Samarinda
Sejarah Lengkap Kota Samarinda
"Sama Rendah" — sebuah filosofi kesetaraan di tepian Sungai Mahakam.
Etimologi: Filosofi "Sama Rendah"
Nama Samarinda diyakini berasal dari frasa Melayu/Banjar "Sama Rendah", merujuk pada pemukiman awal berupa rumah-rumah rakit penduduk di atas air Sungai Mahakam yang sengaja dibangun dengan ketinggian seragam. Filosofi ini mencerminkan kesetaraan derajat antar warga — sebuah prinsip egalitarianisme yang melekat sejak awal kota ini terbentuk.
Narasi Resmi: Titik Awal 1668
Menurut catatan resmi yang disahkan melalui Peraturan Daerah Kota Samarinda Nomor 1 Tahun 1988, sejarah modern Samarinda dimulai pada 21 Januari 1668. Pada tanggal itu, rombongan masyarakat Bugis Wajo yang dipimpin oleh La Mohang Daeng Mangkona berlayar meninggalkan Sulawesi pasca Perjanjian Bungaya (1667).
Atas izin Sultan Kutai Kartanegara, rombongan ini diberikan wilayah untuk menetap di kawasan yang kini dikenal sebagai Samarinda Seberang (dahulu disebut Mangkupalas). Lokasi tersebut dipilih karena memiliki:
- Posisi strategis di muara anak-anak Sungai Mahakam,
- Akses pertahanan alami,
- Potensi besar sebagai pintu perdagangan.
Tinjauan Kritis: Kontroversi Akademis
Penelitian sejarah modern, antara lain yang dipublikasikan di Jurnal Yupa FKIP Universitas Mulawarman, menyoroti bahwa nama Daeng Mangkona hanya muncul di sumber sekunder dan tersier serta tidak ditemukan dalam Salasila Bugis Kutai (catatan genealogis primer). Beberapa peneliti mengusulkan revisi narasi resmi atau setidaknya pencantuman catatan kritis.
Pemerintah Kota Samarinda — melalui ziarah resmi ke Makam Daeng Mangkona di Samarinda Seberang setiap HUT — tetap mengakui peran historis tokoh ini sebagai simbol perintisan komunitas Bugis di Mahakam, sambil membuka ruang dialog akademik tentang detail historiografis.
Garis Waktu Penting
| Tahun | Peristiwa |
|---|---|
| 1668 | Tanggal resmi berdirinya Samarinda menurut Perda 1/1988 |
| Abad 17–18 | Berkembang sebagai komunitas perdagangan Bugis-Kutai di Mahakam |
| Abad 19 | Pemerintah Hindia Belanda menanamkan pengaruh ekonomi di sepanjang Mahakam |
| 1942–1945 | Pendudukan Jepang |
| 1959 | Samarinda ditetapkan sebagai Ibu Kota Provinsi Kalimantan Timur |
| 1960 | Pembentukan Kotamadya Samarinda |
| 1968 | Hari Jadi Kotamadya Samarinda secara administratif (21 Januari) |
| 1987 | Peresmian Jembatan Mahakam (Mahkota I) oleh Presiden Soeharto |
| 2017 | Peresmian Jembatan Mahkota II (kini Jembatan Achmad Amins) |
| 2022 | UU IKN — Samarinda resmi menjadi kota penyangga Ibu Kota Nusantara |
Era Industri: Kayu, Sungai, dan Batubara
Sepanjang abad ke-20, Samarinda dikenal sebagai pusat industri perkayuan terbesar di Indonesia bagian timur. Pelabuhan dan dermaga di sepanjang Sungai Mahakam menjadi simpul ekspor kayu olahan. Memasuki akhir abad ke-20 hingga awal abad 21, fokus ekonomi bergeser ke pertambangan batubara, yang tongkang-tongkangnya hingga kini menjadi pemandangan khas di bawah Jembatan Mahakam.
Transformasi Era Modern: Kota Pusat Peradaban
Memasuki era kontemporer, Samarinda bertransformasi dari kota industri ekstraktif menuju "Kota Pusat Peradaban" — sebuah branding yang menekankan layanan publik, ekonomi jasa, dan kualitas hidup. Posisi geografisnya yang berdampingan dengan Ibu Kota Nusantara (IKN) menempatkan Samarinda sebagai:
- Hub logistik dan jasa Kaltim,
- Pusat pendidikan tinggi (Universitas Mulawarman, dll),
- Penyangga utama IKN dalam sektor SDM dan layanan publik.
Warisan yang Bertahan
Beberapa elemen sejarah yang menjadi identitas Samarinda hingga kini:
- Sarung Tenun Samarinda — warisan tenun ATBM dari perantau Bugis Wajo.
- Makam Daeng Mangkona — situs cagar budaya di Samarinda Seberang.
- Pesut Mahakam — ikon kota yang tertera di lambang daerah.
- Sungai Mahakam — urat nadi sejarah, ekonomi, dan budaya kota.
Sumber:
- Peraturan Daerah Kota Samarinda Nomor 1 Tahun 1988 tentang Hari Jadi Kota Samarinda
- Buku Profil Daerah Kota Samarinda Tahun 2025
- "Kontroversi Sejarah La Mohang Daeng Mangkona" — Jurnal Yupa FKIP Universitas Mulawarman
- Balai Pelestarian Cagar Budaya Kalimantan Timur, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan